Ilmiah

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 10 April 2026

Lupa: Kelemahan atau Anugerah?

Fani Eka Nurtjahjo
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Manusia tempatnya lupa.

Pernah dengar kalimat tersebut? Terdengar familiar dan tentu saja setiap kita pernah mengalami lupa, baik yang segera disadari maupun yang tidak. Fenomena lupa sangat terkait dengan memori manusia. Bicara tentang memori, tentu tidak bisa lepas dari membicarakan juga tentang cara kerja otak manusia. Melalui tulisan ini, mari kita bahas sekelumit fenomena lupa dalam kacamata Islam dan psikologi.

Ketika berkumpul dengan teman lama dalam sebuah acara reuni sekolah, kita mungkin saja ingat wajah teman namun lupa namanya. Sebaliknya, terkadang kita juga mengingat nama yang cukup familiar namun lupa fitur wajah yang bersangkutan. Kita bisa datang ke sebuah mall dan lupa dimana menyimpan karcis parkir saat hendak keluar. Terkadang kita masuk sebuah ruangan dengan maksud tertentu, namun saat sampai di ruangan tersebut tiba-tiba kita lupa apa yang hendak dilakukan. Lalu kita putuskan untuk menyusuri kembali jalan yang tadi dilalui sembari mengingat hal apa yang kita lupakan. Demikianlah memori manusia bekerja, terkadang kita mengingat sebagian memori yang kita anggap penting. Namun saat tidak lagi fokus pada kejadiannya, kita seperti ‘kehilangan jejak’ memori yang pada akhirnya membutuhkan upaya lebih keras untuk ‘memanggil’ kembali akses ke ingatan tersebut.

Menariknya, pada kejadian-kejadian penting dalam hidup, kita juga bisa lupa pada proses yang sudah dilalui. Orang yang hidupnya berkelimpahan selama bertahun-tahun, sangat mungkin ia lupa bagaimana rasanya dulu saat hidupnya kekurangan. Seorang ibu yang melahirkan anak bertahun-tahun lalu, mungkin sudah lupa bagaimana dulu beratnya proses melahirkan. Perkataan orang lain yang menyakiti hati juga bisa perlahan memudar saat seseorang belajar memaafkan. Lalu muncul pertanyaan, jika manusia mampu mengingat semua hal dengan sempurna, apakah hidup akan menjadi lebih baik? Atau barangkali, lupa yang dialami manusia ini bukan merupakan kelemahan cara kerja otak dan memori, melainkan mekanisme luar biasa yang Allah berikan sebagai salah satu bentuk rahmat-Nya pada kita.

Lupa dalam pandangan psikologi dan neurosains

Jika ada pertanyaan, pada usia berapa Anda saat membaca artikel ini? Sebagian mungkin masih dalam kisaran usia 20-an, sebagian lagi di rentang 30-an, dan mungkin juga ada yang berusia 40-an sampai 50 tahunan keatas. Bayangkan, selama bertahun-tahun sejak memori manusia mulai menetap diatas usia 3 tahun, sudah berapa banyak hal yang kita lalui dan membentuk diri kita saat ini. Bayangkan jika otak tidak memiliki mekanisme ‘lupa’ dan semua ingatan sejak kecil tersimpan secara detail dalam otak kita. Maka betapa sulit bagi kita untuk memilah hal yang benar-benar penting dan signifikan. Otak yang sehat justru harus mampu melupakan. Mengapa? Karena informasi yang tidak relevan harus dibuang. Kemudian bayangkan sebuah komputer yang memiliki kapasitas memori tertentu dipaksa untuk menyimpan memori yang hampir mendekati limit, tentu pemrosesan informasi akan membutuhkan waktu lebih lama. Begitu juga kita sebagai manusia yang memiliki kapasitas terbatas, otak kita membutuhkan ruang untuk dapat memproses informasi dan memori yang lebih baik. 

Dalam konteks belajar manusia, Ormrod (2016) telah memaparkan beberapa bentuk lupa, diantaranya decay, interference and inhibition, repression, failure to retrieve, dan beberapa lainnya. Decay merupakan proses dimana informasi mengenai ingatan perlahan memudar karena jarang diakses/ digunakan. Kemudian seseorang juga mungkin mengalami lupa karena ingatannya bercampur saat mempelajari beberapa konsep yang mirip (interference and inhibition). Hal ini menurut Solso et al. (2014) sangat mungkin terjadi karena cara kerja memori kita membentuk jejaring seperti sarang laba-laba, dimana satu informasi sangat mungkin berkaitan/ dikaitkan dengan informasi lainnya (human associative memory). Repression adalah kondisi dimana seseorang sulit mengingat peristiwa menyakitkan dimasa lalu karena akan menimbulkan ketegangan atau kecemasan yang dipersepsi sebagai ancaman bagi dirinya. Failure to retrieve adalah kondisi ketika kita lupa informasi penting di saat yang dibutuhkan karena ada situasi lain yang mengalihkan fokus kita. Sebagai contoh, saat melakukan wawancara penting kita lupa menyalakan perekam, atau saat gugup menghadapi pertemuan penting dengan klien, kita segera turun dari mobil tanpa mematikan mesin. Bukan karena kita tidak ingat bahwa hal tersebut penting, namun disaat yang bersamaan ada situasi lain yang seolah mengharuskan kita untuk fokus pada satu hal. Pada intinya, konsep lupa merupakan mekanisme kerja otak yang dapat dijelaskan secara ilmiah. 

Dalam pandangan neurosains, saat kita lupa, bukan berarti jejak memori tersebut hilang selamanya dari otak, melainkan hanya tidak dapat diakses karena kurangnya petunjuk (cue) yang tepat dalam lingkungan kognitif kita saat itu (Tulving, 1974). Otak memiliki mekanisme “pembersihan memori” aktif yang bekerja secara sistematis, terutama saat tidur, untuk menghapus memori yang dianggap tidak relevan guna mencegah kelebihan beban pada sistem saraf (Hardt et al., 2013). Hal ini tentu saja merupakan kabar baik dan sekali lagi menunjukkan bahwa lupa adalah bagian proses penciptaan manusia. 

Lalu bagaimana dengan memori tidak menyenangkan seperti trauma? Mengapa jika otak memiliki mekanisme penghapusan memori secara otomatis, tetapi ingatan yang menyakitkan justru cenderung melekat dan sulit dilupakan? Dalam kasus PTSD (Post Traumatic Stress Disorder), memori traumatis (flashback) dapat dikatakan unik karena dialami seolah-olah kejadian tersebut sedang terjadi kembali saat ini, yang menunjukkan adanya gangguan pada persepsi waktu dalam ingatan tersebut (Brewin, 2018). Cara kerja ingatan kita seperti potongan-potongan film yang disebut sebagai episodic memory (Ormrod, 2016; Solso et al., 2014). Pengalaman hidup yang tidak menyenangkan memiliki emosi yang kuat, sehingga jalur menuju memori tersebut lebih mudah diakses (effortless) daripada pengalaman hidup yang muatan emosinya sedang. Saking kuatnya emosi yang melekat, terkadang seseorang memutar potongan memori tersebut berulang-ulang di dalam kepalanya, baik disengaja maupun tidak. Hal ini tentu memiliki konsekuensi psikologis, sehingga proses memaafkan sangat dibutuhkan untuk melepas kemelekatan emosi dengan peristiwa dimasa lalu (Noreen & MacLeod, 2021). Konsep ini dikenal dengan intentional forgetting yang dilakukan secara sengaja untuk mengurangi beban emosional seseorang, melalui optimalisasi fungsi pre-frontal cortex (Anderson & Hulbert, 2020; Fawcett et al., 2024).

Hal baik yang muncul dalam penelitian ilmiah terkait cara kerja otak dan memori adalah bahwa kita juga memiliki fitur adaptif yang berguna untuk mengoptimalkan cara kerja otak. “Tujuh dosa memori” (seperti mudah lupa atau distorsi ingatan) sebenarnya bukanlah cacat desain otak, melainkan efek samping dari fitur adaptif memori yang berguna agar pikiran kita tidak dipenuhi oleh informasi lama yang sudah tidak akurat (Schacter, 2022). Bayangkan jika otak kita tidak mampu melupakan setiap detail yang kita lihat dan dengar sejak pertama membuka mata di hari ini, tentu tidak harus menunggu sampai malam hari, otak kita akan mengalami overload karena harus memproses begitu banyak informasi yang tidak relevan. Begitu juga dalam konteks belajar dan proses berpikir kreatif, dimana kita membutuhkan kemampuan untuk melupakan ide-ide lama yang salah atau menyesatkan, agar seseorang bisa keluar dari kebuntuan mental (fixation) dan menemukan solusi baru (Storm et al., 2011). Berdasarkan berbagai temuan ilmiah ini, ternyata fenomena lupa memiliki begitu banyak manfaat baik secara fisiologis maupun psikologis.

Lupa dalam pandangan Islam

Dalam al-Qur’an, kata yang semakna dengan lupa memiliki beberapa istilah dan semuanya berbeda makna dan konteks. Lupa yang terjadi secara alami dimana hilangnya sesuatu dalam ingatan yang sebelumnya ada disebut dengan nisyān (نسيان). Istilah lupa yang berarti berpaling dari tujuan yang sebenarnya dan lalai dari mengingat kebenaran disebut dengan ghaflah (غفلة). Ada juga kata yang menggambarkan lupa sebagai kelalaian sementara yang menyebabkan ia melewatkan sesuatu disebut dengan sahwu (سهو). Manusia juga mengalami lupa akibat adanya peristiwa yang mengguncang jiwanya, disebut dengan dzuhūl (ذهول). Namun ada juga kalanya seseorang berpura-pura lupa atau tidak mengingat sesuatu karena alasan tertentu, entah untuk mengabaikan atau tidak menanggapi sesuatu yang dalam bahasa Arab disebut dengan tanāsī (تناسي). Satu sudut pandang yang menarik saat membahas istilah dalam al-Qur’an secara etis adalah bagaimana membuat al-Qur’an ‘berbicara’ dan menafsirkan konsep-konsepnya sendiri melalui analisis struktur semantik bahasa yang digunakan didalamnya (Izutsu, 2002). 

Lupa yang serupa dengan kata nisyān (نسيان) digambarkan dalam surat surat Thaha (20: 115) untuk menggambarkan peristiwa lupanya nabi Adam ‘alaihi salam akan larangan Allah saat termakan bujuk rayu setan untuk memakan buah dari pohon terlarang. Istilah lupa yang serupa dengan kata ghaflah (غفلة) didalam al-Qur’an pada surat Al-‘Araf (7: 179) untuk menggambarkan kalangan jin dan manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga yang tidak digunakan untuk memahami, melihat, dan mendengar ayat-ayat Allah, sehingga dikatakan lalai. Istilah selanjutnya, yaitu sahwu (سهو) ada dalam surat Al-Ma’un (107: 5) untuk menggambarkan orang-orang yang lalai atau meremehkan perkara sholat/ menunda-nunda hingga lewat waktunya. Kemudian istilah dzuhūl (ذهول) digambarkan didalam al-Qur’an dalam surat Al-Hajj (22: 2) ketika seorang ibu lalai terhadap anak yang disusuinya karena dahsyatnya goncangan hari kiamat. Istilah tanāsī (تناسي) tidak disebutkan dalam al-Qur’an namun ada dalam khasanah sastra Arab untuk menggambarkan kondisi saat seseorang berpura-pura lupa terhadap kesalahan orang lain untuk menjaga kerukunan. Sikap ini adalah kesengajaan yang dipilih secara sadar untuk tujuan yang lebih baik. Dengan demikian, lupa memiliki berbagai konteks, baik yang mendekati sifat tercela hingga yang bermakna baik. 

Al-qur’an telah menggambarkan dengan baik bagaimana sifat-sifat manusia beserta panduan menyikapi kelemahan dan kelebihan yang telah Allah berikan. Terkait fenomena lupa, bahkan Nabi pun melakukan kesalahan dan diberi sifat lupa sebagai bagian kelemahannya sebagai makhluk. Artinya, lupa sendiri dalam pandangan Islam adalah by-design yang Allah sertakan saat proses penciptaan manusia. Pertanyaannya kini, mengapa Allah ciptakan manusia dengan sifat pelupa?

Refleksi

Setelah memahami pandangan Islam tentang lupa dan juga bagaimana otak bekerja dalam perspektif psikologi dan neurosains, kini saatnya kita bertanya: mengapa Allah menciptakan manusia dengan kemampuan untuk lupa? Bayangkan bila manusia selalu mengingat semua peristiwa tidak menyenangkan dalam hidupnya, baik itu rasa sakit, trauma, maupun kesedihan yang pernah menimpa dimasa lalu. Mungkin saat ini kita tidak lagi sanggup untuk menjalani hari-hari dengan semangat. Proses pemulihan jiwa kita mungkin akan terasa berat dan lama. Disinilah lupa menjadi rahmat yang telah Allah berikan kepada manusia. Bukan berarti semua luka dan peristiwanya hilang begitu saja dari ingatan, tetapi Allah izinkan intensitas emosinya memudar. Hal ini Allah gambarkan dalam sebuah hadist shahih:

“Pada hari kiamat didatangkan orang yang paling nikmat hidupnya sewaktu di dunia dari penghuni neraka. Lalu ia dicelupkan ke dalam neraka sejenak. Kemudian ia ditanya: “Hai anak Adam, pernahkah kamu melihat suatu kebaikan, pernahkan kamu merasakan suatu kenikmatan?” maka ia menjawab: “Tidak, demi Allah, ya Rabb.” Dan didatangkan orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia dari penghuni surga. Lalu ia dicelupkan ke dalam surga sejenak. Kemudian ditanya: “Hai anak Adam, pernahkan kamu melihat suatu kesulitan, pernahkah kamu merasakan suatu kesengsaraan?” Maka ia menjawab: “Tidak, demi Allah, ya Rabb. Aku tidak pernah merasakan kesulitan apapun dan aku tidak pernah melihat kesengsaraan apapun.” (Hadist Riwayat Muslim: 5018)

Merenungi makna dari hadist ini sangatlah dalam dan membawa penghiburan bagi kita, terutama saat kita berada dalam titik rendah hidup. Allah berikan penghiburan melalui Rasulullaah bahwa senang dan sedih di dunia hanyalah sementara. Nilainya bergantung pada apakah keduanya membawa kita semakin dekat kepada Allah ﷻ, atau justru menjauhkan kita dari-Nya. Jika demikian, maka yang seharusnya kita khawatirkan bukanlah lupa terhadap berbagai urusan dunia, melainkan lupa terhadap tujuan hidup kita.

Janganlah kita menjadi tercela seperti yang telah disebutkan dalam surat Al-Hasyr (59: 19), yaitu melupakan Allah , sehingga Allah jadikan manusia lupa kepada diri mereka sendiri. Allah memang memaafkan sebagian sifat lupa manusia sebagai bagian dari penciptaan-Nya. Namun sebagai manusia, kita juga perlu ingat bahwa ada jenis lupa yang berbahaya, yaitu yang menjadikan hati kita lalai dari mengingat Allah. Dzikir yang kita lakukan setiap hari bukan sekedar mengingat dengan otak semata, melainkan menghadirkan Allah dalam kesadaran kita melalui hati, lisan, serta perilaku. Semakin banyak kita berdzikir, semakin besar pula peluang kita untuk selalu ingat pada Allah ﷻ, dan semakin kecil peluang tenggelam dalam kelalaian. Sebagai ikhtiar agar hati senantiasa terjaga dari kelalaian, Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kepada kita doa-doa berikut, sekaligus mengingatkan kita melalui firman-Nya:

“Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa.” (QS. Al-Baqarah: 286)

“Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’rāf: 205)

“Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya.” (Shahih Abu Dawud 1522, An-Nasā’ī, dan Ahmad)

Mungkin selama ini kita memandang lupa sebagai musuh yang harus dilawan. Padahal, bisa jadi sebagian lupa adalah anugerah yang Allah titipkan agar hati manusia tidak hancur oleh setiap luka, agar akalnya tidak sesak oleh setiap detail, dan agar hidupnya tetap mampu melangkah ke depan. Karena itu, janganlah terlalu bersedih ketika kita lupa meletakkan kunci, lupa nama seseorang, atau lupa rasa sakit yang pernah melukai. Yang paling perlu kita khawatirkan bukanlah lupa yang terjadi pada ingatan, tetapi lupa yang menetap di hati, ketika kita masih mampu mengingat begitu banyak urusan dunia, tetapi mulai lalai mengingat Allah. Wallãhu a’lam bis shawãb. 

Referensi

Anderson, M. C., & Hulbert, J. C. (2020). Active forgetting: Adaptation of memory by prefrontal control. Annual Review of Psychology, 72, 13.1-13.36. https://doi.org/10.1146/annurev-psych-072720-094140

Brewin, C. R. (2018). Memory and forgetting. Current Psychiatry Reports, 20(10). https://doi.org/10.1007/s11920-018-0950-7

Fawcett, J. M., Taylor, T. L., Megla, E., & Maxcey, A. M. (2024). Active intentional and unintentional forgetting in the laboratory and everyday life. Nature Reviews Psychology, 3(10), 652–664. https://doi.org/10.1038/s44159-024-00352-7

Hardt, O., Nader, K., & Nadel, L. (2013). Decay happens: The role of active forgetting in memory. Trends in Cognitive Sciences, 17(3), 111–120. https://doi.org/10.1016/j.tics.2013.01.001

Izutsu, T. (2002). Ethico Religious Concepts in the Quran. McGill-Queen’s University Press. https://traditionalhikma.com/wp-content/uploads/2015/02/Ethico-Religious-Concepts-in-the-Quran-by-Toshihiko-Izutsu.pdf

Noreen, S., & MacLeod, M. D. (2021). Moving on or deciding to let go? A pathway exploring the relationship between emotional and decisional forgiveness and intentional forgetting. Journal of Experimental Psychology: Learning, Memory, and Cognition, 47(2), 295–315. https://doi.org/https://doi.org/10.1037/xlm0000948

Ormrod, J. E. (2016). Human Learning (7th edition). Pearson.

Schacter, D. L. (2022). The seven sins of memory: An update. Memory, 30(1), 37–42. https://doi.org/10.1080/09658211.2021.1873391

Solso, R. L. ., MacLin, O. H. ., & MacLin, M. Kimberly. (2014). Cognitive Psychology. Pearson.

Storm, B. C., Angello, G., & Bjork, E. L. (2011). Thinking can cause forgetting: Memory dynamics in creative problem solving. Journal of Experimental Psychology: Learning Memory and Cognition, 37(5), 1287–1293. https://doi.org/10.1037/a0023921

Tulving, E. (1974). Cue-dependent forgetting: When we forget something we once knew, it does not necessarily mean that the memory trace has been lost; it may only be inaccessible. American Scientist, 62, 74–2. https://doi.org/https://www.jstor.org/stable/27844717