Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 30 Juli 2026

Keseimbangan hidup untuk mengetuk surga-Nya

Dian Nurmalita
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Pernahkah kita menatap tumpukan berkas, antrian surat yang menunggu untuk diserahkan, serta to do list  yang menunggu untuk di centang, tetapi pikiran tiba-tiba terbawa ke tumpukan pakaian di rumah yang menunggu untuk di jemur, jadwal antar jemput anak, serta anak-anak yang belum sempat untuk ditemani belajar di rumah ? 

Sebagai seorang ibu yang bekerja, kejadian seperti ini tentu sangat sering menjadi “makanan”  sehari-hari, meskipun badan remuk redam, semua pekerjaan tetap harus terselesaikan dengan apik. Tugas kita menjadi Tendik di lingkungan Fakultas tidaklah sederhana, harus menjadi roda penggerak di balik layar yang mendukung dunia pendidikan, melayani mahasiswa, mengumpulkan laporan keuangan, tetapi juga harus menjadi pemeran utama dalam dunia rumah tangga yang tiada habisnya.

Di tengah kepungan pekerjaan yang tidak ada habisnya, istilah work-life balance menjadi sebuah kemewahan yang sangat sulit untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana bisa seimbang kalau pekerjaan sehari-hari saja sering molor bahkan sampai kita bawa ke rumah, menyisihkan hak anak dan suami untuk kita temani dan kasihi. 

Bisakah sudut pandang work-life balance kita geser? Agar kita menemukan pola yang nyaman dan tentunya akan membuat beban menjadi berkah. Sebagai seorang muslim, tugas kita di kantor dan tugas kita sebagai ibu rumah tangga tentu dapat dimaknai nilai ibadah apabila kita meniatkannya dengan benar. Mengelola keseimbangan bukan lagi menjadi sebuah tren, tetapi juga dinilai sebagai dakwah dari teladan.

وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَ ۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِ ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu…” (Al-Qashash[28]:7)

Ayat di atas telah menjelaskan prinsip work-life balance dalam Islam. Sebagai seorang ibu, kita tidak dilarang untuk meraih sukses di dunia, namun kesuksesan tersebut tidak menutup jalan untuk mendapatkan kesuksesan di akhirat. Keseimbangan dalam bekerja, beribadah, juga menjadi orang tua, dan seorang istri harus terpenuhi.

Perenungan mengenai bagaimana kita mencapai work-life balance harus kita benahi dari akarnya, yaitu niat. Banyak orang berfikir bahwa urusan kerja merupakan urusan duniawi sedangkan sholat, puasa, dan sedekah merupakan urusan akhirat. Namun, urusan dunia dan akhirat sejatinya memiliki batas yang sangat tipis yaitu niat. Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya setiap amalan itu bergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Ketika kita sebagai seorang tendik melangkah menuju tempat kerja dengan niat baik untuk memberikan pelayanan terbaik bagi mahasiswa yang sedang menuntut ilmu agar kuliah berjalan lancar dan penuh kemudahan, itu merupakan perbuatan yang sangat mulia, bahkan setiap detik waktu di kantor bernilai ibadah.

Tersenyum kepada siapapun yang  kita temui dan berikan layanan dengan sepenuh hati, hal itu merupakan sedekah yang paling mudah dan murah. Sebagai seorang tendik, mungkin kita tidak berdakwah melalui podium atau mimbar masjid, namun keramahan, kejujuran, dan sikap kita yang amanah merupakan suatu teladan bagi rekan, mahasiswa, dan anak kita, itulah makna dakwah yang sesungguhnya.

Dalam bekerja dan beribadah tentunya kita tidak boleh berlebihan, tubuh kita memiliki hak istirahat, hak bahagia, dan bahkan hak merasa tentram yang harus dipenuhi. Tidak hanya itu, keluarga juga punya hak atas diri kita yang hadir secara utuh, bukan sisa-sisa tenaga yang sudah habis diperas di tempat kerja. Islam bahkan sangat melarang perbuatan berlebih-lebihan dalam segala hal. Ingatkah kita kisah tentang sahabat Salman Al-Farisi yang menegur Abu Darda karena terlalu sibuk shalat malam dan puasa siang hari hingga menelantarkan istrinya? Salman berkata:

Sesungguhnya Tuhanmu memiliki hak atasmu, dirimu memiliki hak atasmu, dan keluargamu juga memiliki hak atasmu. Maka berikanlah kepada setiap yang memiliki hak, haknya masing-masing.

Ketika kisah ini sampai kepada Rasulullah ﷺ, beliau membenarkannya dengan bersabda, “Salman benar.” (HR. Bukhari).

Maka penuhilah hak-hak kita secara utuh agar kita tidak kehilangan diri serta keluarga tidak merasa diasingkan. Lalu langkah seperti apa yang perlu kita lakukan untuk mewujudkan work-life balance ?

yang pertama, penuhi kehadiran kita secara utuh di kantor, saat jam 08.00 sampai dengan pukul 16.00 kita dedikasikan waktu, tenaga, dan pikiran kita sepenuhnya untuk pekerjaan, jangan sampai menunda-nunda pekerjaan dan lebih mementingkan bergosip, bermain media sosial, atau hal-hal lain yang tidak berfaedah. Ketika waktu kita pergunakan dengan semestinya saat jam berakhir kantor, kita bisa langsung melangkah pulang tepat waktu tanpa membawa pekerjaan dari kantor di rumah.

Langkah kedua, prioritaskan sholat tepat waktu, saat adzan berkumandang, sebisa mungkin kita segera mengerjakan sholat. Jadikan sholat sebagai alarm kita untuk jeda sejenak, memberikan hak istirahat pada tubuh kita, meregangkan tubuh kita yang sebelumnya kaku, karena terpaku oleh layar monitor.

Yang ketiga, manajemen waktu. Sebagai tendik, kita harus pandai memilah tugas mana yang harus diselesaikan segera agar tidak merugikan institusi maupun civitas akademika, dan tugas yang masih bisa dikerjakan besok. Jangan paksakan diri untuk menyelesaikan pekerjaan dalam satu waktu, dan ingatlah bahwa kita juga manusia, bukan mesin yang tidak mengenal lelah.

Ketiga teori di atas sangat terlihat mudah, namun kenyataannya tidak. Sebagai manusia biasa, tentu tidak lepas dari dinamika hidup, baik dari diri sendiri maupun dari situasi eksternal yang menguji keimanan dan kewarasan, diantaranya dijelaskan pada bahasan berikut.

Menghadapi “Klien” yang Menguji Kesabaran

Mahasiswa yang rewel, dosen yang menuntut kesempurnaan, sesama rekan kerja yang tidak bisa bekerja sama, ditambah dengan suasana hati kita yang sedang kurang baik kadang memicu emosi.

Di sinilah panggung dakwah kita digelar, ketika kita dihadapkan dengan komplain dari mahasiswa atau civitas akademika yang bernada tinggi, lantas kita membalas dengan kalimat yang lembut dan senyum yang indah, maka kita sedang mempraktikkan firman Allah dalam Surah Fushshilat ayat 34: Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.” Kesabaran Kita adalah dakwah nyata tentang keindahan akhlak Islam.

Beban Kerja Overload di Musim Tertentu

Ketika kita dihadapkan pada beban pekerjaan yang membludak, sehingga lembur merupakan satu-satunya jalan dalam menyelesaikannya, maka komunikasi adalah kunci. Komunikasikan kondisi kita pada keluarga di rumah secara jujur bahwa kita sedang menghadapi musim sibuk, mintalah riḍā dan doa dari mereka. Di sisi lain, jaga kesehatan spiritual dengan memperbanyak zikir lisan di sela-sela mengetik.  

Menebar Manfaat di Rumah: Keseimbangan yang Utuh

Work-life balance tidak akan terwujud jika kita hanya sukses di kantor, namun menjadi sosok yang asing, dingin, dan pemarah di rumah. Saat kita tiba di rumah, lepaskan title dan jabatan di kantor, ubahlah menjadi ibu yang meneduhkan, ayah yang merangkul, atau anak yang berbakti. Work-life balance bagi seorang muslim bukanlah tentang membagi waktu 50:50 secara matematis baku antara kantor dan rumah. Keseimbangan yang utuh adalah ketika kita memberikan hak proporsional kepada pekerjaan, keluarga, dan Allah SWT dengan penuh syukur dan rasa ikhlas.

Jadikan setiap ketikan, setiap senyuman, setiap sapa hangat di kantor menjadi penggugur dosa kita di masa lalu. Dan jadikan waktu pulang ke rumah menjadi momen menjemput kebahagian, ketentraman, dan keberkahan.

Esok, ayo melangkah ke kantor dengan senyuman yang indah, semangat yang membara, dan niat yang lurus. Meja kerja kita yang penuh tumpukan berkas itu dan ruangan yang riuh oleh mahasiswa yang butuh pelayanan itu, semoga Allah jadikan jalan tol menuju Surga-Nya. Āmīn.