Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 9 April 2026
Birrul walidain: Jalan bakti yang menumbuhkan jiwa
Resnia Novitasari
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Pertambahan peran anak dalam merawat orang tua sering menghadirkan banyak dinamika dalam kehidupan keluarga. Anak yang bertumbuh dewasa acapkali mendapatkan tanggung jawab untuk mendampingi orang tua yang telah berusia lanjut. Proses penurunan dan degenerasi di semua aspek perkembangan lansia terkadang menghadirkan tantangan tersendiri. Terlebih lagi, jika terdapat isu-isu lain yang menyertai, misalnya orang tua yang memiliki penyakit kronis, isu kesehatan mental, ataupun gangguan kognitif.
Anak yang telah tumbuh dewasa juga memiliki tanggung jawab dan peran yang semakin beragam. Peran tersebut bervariasi mulai dari peran di keluarga, pekerjaan, organisasi, hingga masyarakat yang lebih luas. Peran yang saling beririsan tersebut tidak jarang mengalami irisan hingga benturan satu sama lain. Oleh sebab itu, peran dalam merawat orang tua terkadang belum dapat dilakukan secara optimal oleh sebuah keluarga.
Beban Pengasuhan (Caregiver Burden) pada Lansia
Sebagian besar riset di psikologi banyak berfokus pada sisi perawatan orang tua yang menjadi beban dan berdampak negatif bagi individu maupun keluarga. Beban pengasuhan dapat diartikan sebagai serangkaian respons negatif yang muncul saat menjalankan peran sebagai pengasuh utama. Respons negatif tersebut mencakup dampak yang bersifat subjektif maupun objektif. Penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor penyebab beban pengasuh adalah sumber daya keuangan yang tidak memadai, konflik akibat tanggung jawab ganda, dan kurangnya aktivitas sosial.
Beban pengasuhan kepada orang tua yang mengalami Alzheimer ternyata berdampak negatif pada kualitas hidup pengasuhnya (Lin dkk., 2025). Dampak negatif ini dirasakan oleh pengasuh pada semua domain mulai dari fisik, psikologis, relasi sosial, hingga lingkungan. Walaupun demikian, ternyata tidak otomatis beban tersebut terjadi pada diri individu yang terlibat. Karakteristiknya cenderung moderat dan banyak dipengaruhi oleh faktor individu, faktor diri lansia, hingga sosial ekonomi (Biran dkk., 2022). Dalam sebuah riset yang lain, beban pengasuhan pada lansia cenderung ringan dan banyak dipengaruhi oleh kondisi dan status kesehatan lansia (Wahab dkk., 2024). Oleh sebab itu, perlu kehati-hatian dalam merumuskan dampak dari perawatan orang tua kepada pengasuhnya, sebab ternyata ada banyak faktor yang mempengaruhinya.
Keutamaan Berbakti kepada Orang Tua
Islam mengutamakan sikap hormat dan bakti kepada orang tua sebagai jalan penghambaan. Seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an pada surat berikut ini:
وَوَصَّيْنَا الْاِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ اِحْسَانًا ۗحَمَلَتْهُ اُمُّهٗ كُرْهًا وَّوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۗوَحَمْلُهٗ وَفِصٰلُهٗ ثَلٰثُوْنَ شَهْرًا ۗحَتّٰىٓ اِذَا بَلَغَ اَشُدَّهٗ وَبَلَغَ اَرْبَعِيْنَ سَنَةًۙ قَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَصْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِنِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ
“Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim” (Q.S. Al-Ahqaf: 15).
Berdasarkan pengertiannya, birrul walidain dimaknai sebagai berbuat baik kepada orang tua (Herman, 2025). Cakupannya pun luas, mulai dari mendoakan orang tua, bersikap santun dan penuh hormat, merawat beliau ketika telah bertambah uzur, hingga melanjutkan kebaikannya saat beliau sudah wafat. Bahkan, anjuran untuk berperilaku baik kepada orang tua juga dilakukan pada saat orang tua berbeda aqidah, tentunya dengan tetap berpegang teguh pada agama. Keutamaan ini juga tampak pada hadits yang membahas tentang penghormatan kepada orang tua. Salah satunya, di dalam hadits Shahih Bukhori nomor 5515 disampaikan bahwa izin orang tua dalam berjihad adalah hal yang sangat penting, dan kedudukan berbakti pada orang tua sama dengan jihad itu sendiri.
Selain itu, perspektif islam melampaui relasi antar manusia semata. Islam memandang keutamaan dari berbakti kepada orang tua sebagai salah satu jalan keutamaan. Pengabdian kepada orang tua dimaknai sebagai jalan untuk berkhidmat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala demi mendapatkan ridho-Nya. Setiap apapun yang dilakukan, jika itu demi kebutuhan orang tua, maka dipandang sebagai anak tangga untuk mengalami peningkatan spiritual. Interaksi dengan orang tua adalah lahan yang subur untuk melatih kesabaran, penerimaan, maupun kelapangan dada. Pada saat anak belajar merendahkan suara atau mendengarkan dengan penuh rasa hormat di sanalah benih-benih kerendahan hati tumbuh dengan subur.
Setiap hal yang diperintahkan oleh orang tua selama itu baik dan tidak melanggar syariat, dapat dimaknai sebagai langkah untuk berkhidmat kepada-Nya. Fokus diri tidak hanya pada orang tua sebagai manusia, melainkan kepada Allah sebagai Maha Pencipta. Oleh sebab itu, cara pandang ini dapat membantu dalam pemberian makna yang lebih mendalam atas relasi anak dan orang tua.
Berbakti pada Orang Tua sebagai Proses Pertumbuhan Jiwa
Di dalam Psikologi, beberapa dekade terakhir muncul pandangan yang lebih positif tentang perawatan orang tua. Apabila di awal disampaikan adanya beban perawatan orang tua, maka di satu sisi ada yang disebut sebagai caregiver gains. Konsep ini menawarkan sisi positif dari proses merawat dan mendampingi orang tua. Individu memandang bahwa proses merawat orang tua akan memberikan dampak yang positif dalam kehidupannya.
Dalam sebuah riset literatur oleh Hunt (2004), ditemukan bahwa proses perawatan keluarga memiliki beberapa perspektif. Perspektif negatif menemukan bahwa proses perawatan itu memberikan beban dan stres sehari-hari, serta tanggungan peran yang beragam. Perspektif yang positif mencakup temuan bahwa proses perawatan dapat membantu harga diri pengasuh, kepuasan diri, penemuan makna, dan pengalaman positif lainnya. Sementara, perspektif yang lebih netral menunjukkan adanya peran dari penilaian pribadi sebagai pembeda antar perspektif tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ada potensi bahwa pendampingan orang tua tidak serta merta hanya berdampak negatif. Ada potensi untuk pertumbuhan jiwa di sana apabila proses yang dialami betul-betul dihayati.
Temuan yang lain juga mendukung adanya potensi untuk pertumbuhan diri ini. Cheng dkk. (2016) dalam risetnya pada individu yang mendampingi pasien dengan demensia, menemukan ada dampak positif dari proses tersebut. Terdapat 10 hal positif yang didapatkan yakni: pemahaman tentang demensia, tujuan hidup, perasaan bersyukur, keterampilan praktis dalam perawatan, kesabaran dan toleransi, pemaknaan positif dan humor, latihan untuk pelepasan (letting go), hubungan yang lebih dekat dengan lansia, serta sumber dukungan sosial. Hal ini menarik untuk dikaji lebih lanjut, sebab ada proses belajar yang melampaui keterbatasan diri hingga mampu menggali potensi kemanusiaan yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, sisi positif dari perawatan orang tua ini seiring sejalan dengan nilai-nilai islam. Bahwa, terdapat banyak kebaikan, hikmah, dan manfaat di dalam proses berbakti kepada orang tua. Walaupun demikian, tidak serta merta kemudian menafikan tantangan maupun kendala yang mungkin dihadapi sebagian besar keluarga. Justru hal ini menjadi peluang bagaimana peran dari psikologi islam dalam mengkaji dinamika psikologis dari bakti kepada orang tua dalam pertumbuhan diri manusia.
Wallahu’a’lam bishawab
Referensi:
Biran, R. M. P. Y., Setyawati, M. B., & Siwi, A. S. (2022). Family caregiver burden of elderly with dementia: A literature review. Jurnal Berita Ilmu Keperawatan, 15(1), 93–103. https://doi.org/10.23917/bik.v15i1.17043
Cheng, S. T., Mak, E. P. M., Lau, R. W. L., Ng, N. S. S., & Lam, L. C. W. (2016). Voices of Alzheimer caregivers on positive aspects of caregiving. The Gerontologist, 56(3), 451–460. https://doi.org/10.1093/geront/gnu118
Herman. (2025). Birrul walidain: Tanggung jawab moral dan spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Al-Tadabbur: Jurnal Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, 10(1), 155–172. https://doi.org/10.30868/at.v10i01.8429
Lin, C.C., Marques, I. V. P., Junio, J. R. A. do N., Lyra, C. R., da Silva, E. Q., & de Oliveira, D. V. (2025). Caregiver burden among caregivers of older adults with alzheimer’s disease impairs their quality of life: A cross-sectional study in Brazil. Salud Mental, 48(4), 213- 221. https://doi.org/10.17711/ SM.0185-3325.2025.014
Wahab, P A., Talib, N. A. A., Hatta, N. N. K. M., Saidi, S., Mulud, Z. A., Wahab, M. N. A., & Pairoh, H. (2024). The caregiving burden of older people with functional deficits and associated factors on Malaysian family caregivers. The Malaysian Journal Of Medical Sciences : MJMS, 31(1), 161–171. https://doi.org/10.21315/mjms2024.31.1.14


