Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 20 Juli 2026
Hajj 2026. I’m coming home. For a journey of a lifetime
Wanadya Ayu Krishna Dewi
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Saat pertama kali menerima kabar kami masuk list cadangan untuk berangkat haji, respon pertama kami adalah, wait, is this serious..? Karena tahun 2025 adalah tahun penuh ujian bagi kami berdua. Pada tahun ini, suami diuji dengan sakit pasca operasi besar. Saya diuji keridhoannya. Kami berdua sama-sama diuji tawakalnya. Kami merasa belum siap dan belum pantas. Namun sebuah nasihat mampir, “Dipenuhi semua syaratnya saja Pak, semoga bisa masuk ke daftar porsi tahun 2026 ini.” Nothing to lose, kita penuhi, tapi juga berserah pada keputusan akhir dari Allah. Just go with the flow. Just trust Allah.
Dalam sebuah pertemuan manasik pembimbing mengingatkan, “Boleh jadi kita dipanggil untuk berhaji karena banyaknya amalan baik kita. Atau boleh jadi karena banyaknya dosa kita. Sehingga Allah beri kesempatan besar untuk kita bertaubat.” Saya langsung tertunduk menangis. Either way, Allah amat sayang pada kita. Teringat sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Sesungguhnya, Rahmat-Ku mendahului Kemurkaan-Ku.” Begitulah bahasa cinta Allah. Labbaik ya Abdi. Aku di sini hamba-Ku. Pulanglah ke Rumah-Ku. Penuhi Panggilan-Ku. Perbaiki dirimu semata-mata karena-Ku.
Banyak tumpukan dosa yang kita lakukan kepada Allah, suami, istri, anak, orang tua, orang lain dan diri sendiri. Tapi Allah tak pandang itu. Allah tetap pilih kita untuk menjadi versi terbaik diri kita dengan memberi undangan itu. MasyaAllah, undangan yang sangat agung.
Persiapan keperluan, rumah dan anak-anak sudah selesai. Suami mendudukkan saya di ruang tamu ba’da subuh untuk bicara hati ke hati berdua. Beliau mengingatkan, “Bunda, kita diundang ke Baitullah niy, ke rumahnya Allah. Maka kita harus menjadi tamu-Nya yang baik dan santun di tanah suci-Nya. Jagalah niat kita. Jangan menyerobot. Jangan merusak. Jangan mengotori. Jangan menyakiti.”
Betul sekali. Kita kesini karena Allah, dan untuk Allah. Maka jangan merusak amal ibadah kita dengan menyakiti orang lain dan lingkungan sekitarnya. Jangan pula mudah dan sibuk menghakimi kekurangan orang lain. Fokuslah pada kesalahan diri sendiri. Toh, kita sendiri tidak benar-benar tahu niat dan motif orang lain melakukan “kesalahan” tersebut.
Menapaki kota suci Madinah, tempat beristirahatnya kekasih hati, Rasulullah SAW. Setiap sudut kota, mengingatkanku pada beliau. Seribu empat ratus tahun lalu, sedang apa Engkau di sudut ini ya Rasulullah..? I really want to know. Setiap memandang kubah hijau itu, hati bergetar hebat, kaki lemas, dan air mata mengalir tiada henti. Kerinduan yang tak terbendung lagi.
Di dalam kubah hijau itu, tubuhku begitu tenang. Sujudku tak lagi digerakkan oleh otak, tapi oleh setiap sel, jaringan dan saraf tubuh yang begitu tunduk di hadapan keagungan Allah SWT dan merasakan syukur serta kerinduan yang mendalam pada Rasulullah SAW. Saya datang tidak untuk mencari pahala, saya datang hanya karena merindukanmu Ya Rasul. Berdekat-dekat dengan Engkau membuatku merasa seperti pulang dan merasa aman.
Saya berjalan keluar, kupandangi terus kubah hijau itu, sampai tak terlihat oleh pandangan mataku lagi. Otot dada terasa ditarik satu per satu sambil berpamitan pada beliau SAW. InsyaAllah aku akan kembali lagi. Oh my dearest Rasulullah.. Please wait for me.
Haji adalah perjalanan seumur hidup demi Kekasih Hati sepanjang hidup, Allah Azza wa Jalla. Ya Allah, adalah Nama-Mu yang kami seru di setiap kebahagiaan, harapan, kesedihan dan ketakutan kami. I’m coming home. To the place where I belong. Where Your Love has always been enough for me.
Tibalah hari agung yang dinanti-nanti, wukuf di Arafah. Kami, saya dan suami berendah diri sebagai sepasang hamba yang fakir, dhaif dan hina di hadapan Kemuliaan dan Keagungan Cinta-Nya. Tangis saya deras seperti gelombang air yang datang bertubi-tubi. Ampunilah kami. Terimalah haji kami. Saya memuliakan Keagungan-Nya, dengan memohon yang mustahil bagiku, tapi amat mungkin dan mudah bagi-Nya. I asked for the impossible. Saya memuji Tuhanku, sebesar, seagung nama-nama-Nya. Tuhanku sungguh Maha Besar, maka hamba ini meminta permohonan-permohonan yang besar juga. Khazanah yang ada di sisi Allah tidak akan pernah berkurang untuk dibagi ke seluruh makhluk-makhluk-Nya.
Haji memaksa kita menjawab dengan jujur pada diri sendiri. Siapakah yang sebenar-benarnya kita sembah? Who are our idols? Apakah itu suami, istri, anak, orangtua, jabatan, pekerjaan, popularitas, keturunan, kesehatan, kekayaan, atau validasi orang lain? Haji bukanlah akhir dari ibadah. Justru ini adalah awal dari permulaan yang baru. Terdapat janji yang diperbaharui kepada Allah. Haji adalah upskill training yang akan menjadi fondasi untuk mencapai tujuan. Dan tujuan utama haji adalah untuk membentuk pribadi yang bertaqwa, berkasih sayang-welas asih (compassionate), dan berakhlak mulia (akhlakul karimah) kepada seluruh makhluk-Nya.
Nasehat untuk diriku sendiri, haji bukanlah gelar dan jangan menganggap tugas telah usai. Bawalah sifat-sifat ketaatan dalam berhaji, ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Inilah yang disebut sebagai haji yang mabrur. Mundak Apike. Semoga istiqomah, hingga Allah memanggil kita pulang untuk terakhir kalinya.
Jadikan perjalanan haji ini sebuah janji pada diri sendiri. Berjuanglah memprioritaskan Allah. Jangan pernah kehilangan diri sendiri karena makhluk. Dan jadikan ia pengingat untuk lebih eling (mindfull) dan penuh welas asih dan kasih sayang terhadap sesama. Karena ukuran sempurnanya iman terletak pada sejauh mana kita semakin welas asih kepada umat manusia sebagaimana Rasulullah diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Karena “Sesungguhnya tidak ada yang lebih berat di timbangan mizan, selain akhlakul karimah.”
Ya Allah, ampunilah kami karena tidak mampu menyembah-Mu sebagaimana Engkau layak dan pantas untuk disembah. Ya Allah, aku tahu bahwa aku adalah hamba yang payah dalam mencintai-Mu. Aku mungkin akan terus melakukan kesalahan. But I love You, Ya Allah. Aku tahu yang aku lakukan ini sangat kecil Ya Allah, tetapi aku telah berusaha sebaik mungkin dengan seluruh kemampuan dan kapasitas yang aku miliki untuk mencintai-Mu.
Jannah itu indah, tapi tidak ada yang lebih indah daripada kesempatan untuk dapat memandang Wajah-Mu dan bertemu dengan Rasul-Mu. Please let me come home for the very last time and let death reaches me, only when You are Pleased with me. Aaamiiin..
With all my heart,
Medina-Mecca
June 2026



