Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 11 April 2026

Mujahadah yang terlewat: Ketika jari lebih sulit dikendalikan daripada lapar

Annisa Fitriani
Tendik Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Laptop menyala, satu persatu halaman terbuka hingga deretan tab memenuhi di bagian atas layar yang belum sempat ditutup. Kejenuhan datang diam-diam. Tanpa disadari, jari-jemari mulai bergerak naik turun tanpa henti, seolah ada sesuatu yang lebih menarik di setiap balik guliran berikutnya. Layar terus bergulir dari satu video ke video lainnya dengan menyajikan potongan informasi yang silih berganti tanpa pola. Pekerjaan yang semula mendesak, perlahan kehilangan prioritas. Beberapa jam berlalu, kesadaran akhirnya kembali. Posisi kursor masih berkedip di titik yang sama. Deretan tab yang masih penuh, tetapi tak ada satupun yang membawa pekerjaan lebih dekat menuju kata selesai. Bukan karena kita kekurangan waktu, tetapi kita yang sedang kehilangan kemampuan untuk berhenti. 

Lebih dari Sekadar Menahan Lapar

Bagi banyak orang, mujahadah sering dipahami sebatas kemampuan menahan lapar dan dahaga sejak fajar hingga senja. Padahal, mujahadah memiliki makna berusaha dengan sungguh-sungguh (al-jiddiyah), pengorbanan yang besar (tadhdhiyyah), serta mempergunakan seluruh kemampuan dengan sungguh-sungguh (badzlul juhdi) demi kebaikan. Secara luas, mujahadah merupakan ikhtiar seorang mukmin untuk mengendalikan hawa nafsu, tidak hanya dalam tindakan, tetapi juga dalam menjaga pandangan dan pikiran yang menjadi pintu masuk berbagai godaan. Di era digital, tantangan mujahadah tidak lagi sebatas menahan lapar dan dahaga. Kini, manusia juga seringkali sulit menahan hawa nafsu untuk terus mengetahui hal baru, mengikuti perkembangan terkini, dan rasa takut tertinggal informasi maupun tren (fear of missing out). Dorongan-dorongan tersebut terus membuat jari-jemari menggulir layar tiada henti, bahkan saat tubuh sebenarnya tidak lagi membutuhkan informasi baru. Disinilah mujahadah berperan penting untuk berkata “cukup” ketika jari ingin terus menggulir layar dan hati terus meminta lebih.

Jari yang Tak Pernah Berkata Cukup

Lapar itu jujur. Perut tidak akan bohong, ketika tubuh membutuhkan makanan, perut akan mengirimkan tanda-tandanya. Ia akan berbunyi, badan mulai merasa lemas, dan perut terasa kosong. Tubuh juga tahu kapan harus berhenti makan. Namun, algoritma tidak pernah memberi tahu kapan kita sudah merasa cukup. Berbeda dengan lapar, dorongan untuk terus menggulir layar tidak mengenal waktu. Ia datang tanpa aba-aba. Awalnya hanya ingin melihat satu video hiburan, lalu berganti ke video berita, hingga ke video yang sama sekali tidak direncanakan untuk dilihat. Kebiasaan tersebut dikenal sebagai doomscrolling, yaitu kecenderungan untuk melakukan tindakan scroll atau menggulir layar yang menyajikan potongan informasi secara acak tanpa adanya kendali diri untuk berhenti. Lain halnya dengan lapar, ketika perut terasa kenyang, tubuh memberi isyarat untuk berhenti. Sedangkan bergulir layar tidak ada rasa kenyang, justru akan terus merasa ketagihan untuk terus menggulir layar untuk menerima informasi-informasi baru yang bahkan belum tentu dibutuhkan oleh tubuh.  Seakan-akan di setiap guliran videonya, terasa sangat menarik sehingga membuat ketagihan tanpa adanya kendali diri. Disitulah adanya perbedaan, bahwa rasa lapar memiliki batas alami untuk berkata “cukup”, sedangkan menggulir layar nyaris tidak memiliki rem untuk berkata “cukup”. Yang dicari bukan lagi kebutuhan, melainkan kepuasan sesaat yang tidak kunjung usai. Karena itu, yang seharusnya belajar “cukup” bukanlah layar, namun diri kita sendiri. 

Semua Bisa Terjebak

Doomscrolling sering dikaitkan pada anak muda. Mereka dianggap paling rentan terhadap media sosial, paling cepat mengikuti tren, dan paling dekat dengan gadget. Padahal siapa pun dapat mengalaminya, termasuk mereka yang dituntut untuk memiliki fokus lama dalam pekerjaan, belajar, maupun ibadah. Kini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan hampir semua kelompok usia. Informasi yang disebarluaskan melalui grup-grup keluarga bahkan berita saat ini tersedia secara online di media sosial tanpa surat kabar cetak. Artinya, hampir semua orang memiliki peluang untuk menggulir layar. Karena itu, mujahadah di era digital tidak hanya persoalan usia. Ia merupakan senjata umat muslim untuk menjaga hawa nafsu mulai dari mata, perkataan, hati, maupun perilaku yang dilakukan secara berlebihan. Mujahadah bukan lagi soal berjuang menghadapi musuh yang tampak terasa, melainkan dorongan yang membuat seseorang sulit untuk mengendalikan dirinya maupun berkata “cukup” ketika sudah tidak membutuhkan informasi. Keberanian yang mampu menghentikan guliran layar, ketika hati sudah merasa cemas.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjihad/mujahadah) di jalan Kami, pasti akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)

Boleh jadi, yang seharusnya kita perlu jaga tidak hanya apa yang dikonsumsi melalui mulut, tetapi juga apa yang kita konsumsi melalui mata. Sebab, keduanya sama-sama memberikan makan untuk diri, yang satu memberi makan untuk tubuh, yang satu lagi memberi makan pikiran dan hati. 

“…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Algoritma mungkin tidak bisa kita hentikan, tetapi bagaimana cara kita menghadapinya masih dapat kita tentukan sendiri. Mujahadah di era digital tidak berarti meninggalkan teknologi, tetapi belajar menggunakan teknologi dengan tanggung jawab dan kesadaran penuh. Oleh karena itu, perubahan tidak dimulai dari layar yang kita lihat, melainkan dari diri yang berani mengatakan “cukup.” 

Sudahkah jari kita berkata “cukup” hari ini?