Psikologi UII Sambut Pimpinan Baru Prodi Periode 2026-2030

 

Foto bersama Pimpinan Fakultas Psikologi beserta jajaran Pimpinan Prodi periode lama dan periode baru. (dari Kiri ke Kanan) Dr. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog (Dekan FP UII), Sonny Andrianto, S.Psi., M.Si., Ph.D (Wadek bidang Keuangan dan Sumber Daya), Annisaa Miranty Nurendra, S.Psi., M.Psi. Psikolog (Sekjur Psikologi), Dr. Nita Trimulyaningsih, S.Psi., M.Psi, Psikolog (Kaprodi lama Magister Psikologi), Uly Gusniarti, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog (Kaprodi baru Prodi Pendidikan Profesi Psikolog Program Profesi/PSP5), Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A. (Sekprodi baru Prodi Sarjana Psikologi), Thobagus Moh.Nu’man, S.Psi., M.A., Psikolog (Kaprodi baru Prodi Sarjana Psikologi), Dr. Ahmad Rusdi, S.Psi., S.Sos.I., M.A.Si (Wadek bidang Akademik, Riset, dan Rekognisi). Foto: Shatrani Zareeva M.A. (marcomm)

 

 

Fakultas Psikologi UII menggelar acara Pisah Sambut Pimpinan Jurusan dan Prodi di Auditorium Soekiman Wirdjosanjojo Sleman. Agenda pada Selasa (01/09/2026) ini menandai estafet kepemimpinan periode 2022-2026 dan 2026-2030.

Kegiatan khidmat tersebut dihadiri oleh jajaran dekanat, dosen, tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa. Acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh mahasiswi Hana Fortuna Sakban.

Dekan Fakultas Psikologi UII, Dr. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog, memberikan sambutan hangat. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para pimpinan unit periode sebelumnya.

Dalam pesannya, Dr. Sus Budiharto mengajak seluruh civitas akademika untuk terus berbenah. Ia menekankan pentingnya membaca peluang serta tantangan zaman berbasis nilai keislaman.

Sementara itu, Plt. Ketua Jurusan periode 2025-2026, Annisaa Miranty Nurendra, turut menyampaikan refleksinya. Ia menyampaikan rasa terima kasih atas kerja sama seluruh pihak selama empat tahun pengabdian.

Annisaa mengungkapkan keberhasilan berbagai program pengembangan dosen dan kelembagaan secara berkelanjutan. Ia berharap kepemimpinan baru dapat melanjutkan program strategis yang belum terselesaikan.

Pada kesempatan sama, pergantian kepemimpinan Program Studi Sarjana Psikologi juga resmi diperkenalkan. Thobagus Moh. Nu’man, S.Psi., Psi., kini resmi menjabat sebagai Ketua Program Studi Sarjana.

Thobagus didampingi oleh Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A., yang mengemban amanah Sekretaris Program Studi. Pasalnya, duet kepemimpinan ini akan berfokus pada penguatan kurikulum berbasis OBE.

Kepemimpinan baru berkomitmen mengawal akreditasi serta evaluasi pembelajaran secara maksimal. Kesiapan kurikulum yang matang menjadi kunci utama peningkatan kualitas akademik lulusan.

Selain itu, estafet kepemimpinan juga berlangsung pada Program Studi Magister Psikologi. Dr.rer.nat. Dian Sari Utami, S.Psi., M.A., resmi menggantikan Dr. Nita Trimulyaningsih, S.Psi., M.Psi.

Dian Sari menyatakan kesiapannya melanjutkan capaian positif prodi magister periode sebelumnya. Ia memohon dukungan seluruh civitas akademika dalam menjalankan amanah barunya.

Di sisi lain, Program Studi Pendidikan Profesi Psikologi juga memperkenalkan pimpinan baru. Uly Gusniarti, S.Psi., M.Si., Ph.D., kembali dipercaya memimpin prodi profesi tersebut.

Uly Gusniarti akan dibantu oleh Dian Febriany Putri, S.Psi., M.Psi., selaku Sekretaris Prodi. Sinergi kepemimpinan ini diharapkan mampu memperkuat mutu layanan pendidikan profesi.

Momen Pisah Sambut dilanjutkan penyerahan kenang-kenangan secara simbolis. Penyerahan buket anggrek penuh warna melambangkan rasa apresiasi serta semangat pengabdian.

Dekan beserta pimpinan periode sebelumnya memberikan kenang-kenangan kepada pejabat lama. Suasana kehangatan dan rasa kekeluargaan sangat terasa menyelimuti seluruh jalannya acara.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Hariz Enggar Wijaya. Doa melantunkan harapan agar amanah baru senantiasa mendatangkan keberkahan bagi lembaga.

Seluruh peserta memohon petunjuk Allah SWT dalam menjalankan tugas catur darma perguruan tinggi. Nilai keislaman dan prinsip Rahmatan lil ‘Alamin selalu menjadi pijakan utama institusi.

Acara diakhiri dengan sesi foto bersama antara jajaran pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan. Kebersamaan ini memperkuat komitmen Fakultas Psikologi UII untuk terus tumbuh dan berkembang.

Penguatan kerja sama internal diharapkan mampu merespons berbagai tantangan pendidikan masa depan. Fakultas Psikologi UII siap memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu serta masyarakat.

Semangat baru pengelola diharapkan membawa fakultas meraih berbagai prestasi akademik unggul. Tatanan kepemimpinan anyar ini menjadi modal berharga menuju kejayaan serta kemajuan institusi.

Dengan mengusung tagline melayani kemanusiaan, seluruh pengelola fakultas optimis menebar kebaikan. Inovasi dan kolaborasi akan terus ditingkatkan demi kebaikan bangsa serta nilai agama.

Komitmen bersama ini mempertegas langkah Fakultas Psikologi UII menjadi lembaga berkualitas internasional. Integrasi nilai-nilai keislaman tetap menjadi landasan utama setiap karya dan pelayanan.

Semua pihak menyambut masa depan institusi dengan optimisme tinggi serta integritas kokoh. Sinergi berkelanjutan antarelemen menjadi pilar utama keberhasilan setiap program strategis fakultas. (yp)

Fakultas Psikologi UII Lepas Wisudawan Sarjana Periode VI 2026

Sambutan perwakilan wisudawan oleh Hidayah Ananta Putri. Foto: Clearesta O.S., Rija A., Lutfiatul Mazidah A.E.P. (Marcomm)

 

 

Fakultas Psikologi UII menyelenggarakan pelepasan wisudawan sarjana periode VI secarakhidmat. Acara ini berlangsung di Auditorium Gedung Soekiman Wirdjosandjojo pada Sabtu(22/08/2026). Kegiatan tersebut bertujuan menyerahkan kembali lulusan kepada orang tua masing-masing.

Pasalnya, para wisudawan telah berhasil menyelesaikan studi di kampus tercinta. Mereka kini siap mengabdi sepenuhnya ke tengah masyarakat luas.

Dr. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi UII hadir memberikan sambutan yang begitu hangat. Beliau berpesan agar keilmuan psikologi harus didasari dengan kekuatan iman.

Hal ini sangat sejalan dengan nilai Islami kampus tersebut.”Ilmu psikologi harus didasari iman.” Demikian kutipan langsung dari pesan inspiratif Bapak Dekan tersebut.

Selain itu, setiap lulusan diharapkan menjadi penyembuh bagi alam semesta. Senyuman tulus menjadi langkah paling awal dalam proses penyembuhan tersebut.

Beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga integritas diri setiap saat. Sikap jujur wajib dipegang teguh oleh setiap wisudawan Psikologi UII.

Sementara itu, perwakilan wisudawan turut memberikan sambutan yang sangat mengharukan. Hidayah Ananta Putri didapuk resmi mewakili seluruh teman-teman angkatannya.

Ananta menceritakan perjuangan hebatnya berjualan mochi selama masa kuliah berlangsung. Bisnis kecilnya itu mendapat dukungan penuh dari para dosen.

“Suatu kehormatan bagi saya bisa diamanahkan dan berdiri di depan ini.” Kata-kata ini diucapkan Ananta dengan penuh rasa haru mendalam.

Kendati demikian, perjalanan hidup Ananta tidak selalu berjalan dengan mulus. Ia harus pandaibmembagi waktu antara jadwal kuliah dan bisnis.

Ia juga kehilangan sang ibu tercinta saat pertengahan masa kuliah. Kesedihan mendalam itu tidak menyurutkan semangatnya meraih gelar sarjana.

Di sisi lain, perwakilan orang tua mahasiswa juga memberikan pesan. Bapak Faturahman Gazalibberkenan naik ke atas mimbar utama.

Bapak Faturahman menyampaikan rasa terima kasih yang amat sangat mendalam. Ia bersyukurbputrinya mendapat bekal keilmuan yang sangat bermanfaat.

Beliau berprofesi sebagai hakim di sebuah lembaga resmi Pengadilan Agama. Profesi ini kerap kali menghadapi sengketa rumah tangga suami istri.

Menurut beliau, ilmu psikologi sangat penting untuk mendamaikan berbagai perselisihan. Psikologi diyakini mampu menenangkan jiwa yang sedang bergejolak hebat.

“Andai kata saya ini dahulu sarjana psikologi UII, mungkin tidak pusing-pusing menghadapi mereka itu.” Ujar Bapak Faturahman jujur di hadapan seluruh peserta acara.

Dalam acara ini, pihak fakultas memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik. Wisudawan berprestasi akademik tingkat terbaik diraih olehSaudari Dia Sofia.

Dia Sofia sukses meraih nilai Indeks Prestasi Kumulatif sebesar 3,89. Ia merupakan putri kebanggaan langsung dari Bapak Faturahman Gazali.

Fakultas juga sangat mengapresiasi wisudawan berprestasi gemilang di kancah nasional. Saudari Fatimah Azzahra berhasil mengharumkan nama besar universitas kita.

Ia menjuarai ajang bergengsi Musabaqah Tilawatil Quran tingkat internasional. Prestasinya membuktikan keunggulan sejati mahasiswa Fakultas Psikologi UII.

Acara pelepasan ini turut diwarnai momen persembahan lagu sangat spesial. Wisudawan bernyanyi khusus untuk menghibur para keluarga yang hadir.

Fitria Nurizza Maulidah menyumbangkan suara emasnya dengan sangat indah sekali. Lagu tersebut sukses mengundang isak tangis bahagia segenap hadirin.

Kegiatan ini juga dilengkapi dengan sesi doa bersama yang khidmat. Wakil Dekan Bidang Akademik, Riset dan Rekognisi Bapak Dr. Ahmad Rusdi, S.Psi., S.Sos.I., M.A.Si memimpin langsung sesi doa penutup tersebut.

Doa dipanjatkan untuk senantiasa memohon keberkahan ilmu para sarjana muda. Harapannya, setiap lulusan senantiasa dilindungi oleh rahmat Allah SWT.

Lulusan diharapkan mampu mengabdi sesuai dengan nilai luhur Rahmatan lil ‘Alamin. Ilmu yang didapat harus membawa kemaslahatan nyata bagi masyarakat.

Acara ini ditutup dengan proses pembagian Surat Keterangan Pendamping Ijazah. Para lulusan tertib mengambil dokumen penting di meja registrasi.

Sesi foto bersama akhirnya menjadi penutup rangkaian acara bahagia ini. Senyum ceria terus menghiasi wajah seluruh peserta kegiatan tersebut.

Seluruh civitas akademika turut merasa bangga atas pencapaian gemilang lulusan. Wisudawan Psikologi UII kini bersiap menyongsong masa depan cerah.

Bekal ilmu psikologi berbasis Islami akan menjadi senjata utama mereka. Mereka kini siap bersaing di dunia kerja secara profesional.

Kampus terus berkomitmen kuat mencetak generasi penerus bangsa yang unggul. Kualitas pendidikan selalu menjadi sasaran prioritas utama universitas ini.

Fakultas Psikologi UII sangat berharap para alumni selalu menjaga nama baik. Jalinan silaturahmi dengan kampus tercinta ini harus terus dirawat abadi.

Semoga keberkahan selalu menyertai langkah panjang para sarjana baru ini. Kiprah nyata merekadi tengah masyarakat sangat dinantikan saat ini.

Dekan UII turut membagikan pengalaman pribadinya saat memilih jalan karir. Beliau mengakui profesi dosen sebenarnya bukanlah cita-cita hidup awalnya.

Namun, beliau meyakini hal tersebut adalah ketetapan takdir jalan Allah. Ketetapan Allah pasti membawa banyak kebaikan di dunia dan akhirat.

Pesan ini turut memotivasi lulusan yang masih mencari peluang pekerjaan. Kesabaran selalu menjadi kunci utama dalam menghadapi setiap bentuk ujian.

Lulusan diminta jangan putus asa saat menghadapi penolakan dunia kerja. Segala kesulitan hidup pasti akan membuahkan hasil manis kelak.

Selain itu, semangat pantang menyerah harus tertanam di dada wisudawan. Mahasiswa sudah dilatih menghadapi berbagai tantangan selama kuliah berlangsung.

Kebersamaan selama empat tahun kuliah turut menorehkan kenangan sangat indah. Lingkungan suportif sangat membantu mahasiswa melewati masa sulit perkuliahan.

“Tarik napas sejenak, inhale, exhale.” Demikian ucapan Ananta saat mencoba menenangkan haru di mimbar.

Teknik relaksasi pernapasan tersebut merupakan bekal ilmu dasar psikologi praktis. Mahasiswa kerap mempraktikkannya untuk mengelola kondisi emosi diri sendiri.

Fakultas Psikologi UII memang serius membekali keterampilan nyata bagi mahasiswa. Ilmu tersebut sangat relevan digunakan untuk kebutuhan hidup harian.

Para pimpinan fakultas juga tampak kompak hadir mendampingi Bapak Dekan. Mereka memberikan dukungan moral yang penuh kepada para sarjana muda.

Kehadiran para orang tua menambah kesakralan prosesi pelepasan sarjana ini. Dukungan keluarga adalah pilar paling penting bagi kesuksesan para mahasiswa.

Perwakilan orang tua sangat menyadari beratnya perjuangan para dosen pengajar. Mereka memohonkan maaf tulus atas segala khilaf dari anak-anaknya.

Doa restu orang tua turut menyempurnakan kebahagiaan para wisudawan hari ini. Momen pelukan hangat mengiringi linangan air mata bahagia keluarga.

Lulusan kini secara resmi menyandang gelar kehormatan sarjana psikologi penuh. Tanggung jawab sosial yang besar kini telah menanti mereka.

Wisudawan sarjana ini adalah calon agen perubahan unggul di masyarakat. Kontribusi positif mereka akan selalu dinantikan oleh bangsa Indonesia.

 

HINDARI HUSTLE CULTURE : PENTINGNYA TAWAZUN DALAM BEKERJA

OLeh : Annisaa Miranty Nurendra, S.Psi., M.Psi.—

Akhir-akhir ini di kalangan generasi milenial muncul fenomena hustle culture. Hustle culture dapat didefinisikan sebagai budaya gila kerja atau workaholic. Orang yang terjebak dalam hustle culture merasa bahwa dirinya harus bekerja keras demi mencapai kesuksesan. Mereka menganggap satu-satunya jalan untuk mencapai keberhasilan hanya dengan bekerja secara terus menerus. Hustle culture juga tampak melalui adanya kebiasaan yang menganggap bahwa bekerja lebih penting diatas segalanya.

Ciri-ciri hustle culture dapat dilihat dari individu maupun dari budaya yang ada di tempat kerja. Menurut beberapa sumber, ciri dari individu yang menganut hustle culture dan terjebak menjadi workaholic memiliki ciri sebagai berikut: selalu memikirkan kerja dan tidak punya waktu santai, merasa bersalah ketika beristirahat dari bekerja, memiliki target yang tidak realistis, sering mengalami burnout atau kelelahan dalam bekerja, serta tidak puas dengan hasil kerja. Ciri lain dari hustle culture adalah anggapan bahwa bekerja lembur sebagai hal yang normal, begitu juga dengan persepsi bekerja secara rutin di akhir pekan sebagai hal biasa serta merasa bersalah jika tidak menambah jam kerja. Padahal, dari tinjauan manajemen kerja, seorang pekerja mestinya memiliki waktu istirahat yang cukup. Pemerintah pun sebetulnya sudah mengatur bahwa jam kerja normal maksimal adalah 40 jam per pekan.

Dampak dari adanya hustle culture ini cukup berbahaya bagi kesehatan mental dan juga kesehatan fisik. Terjadinya fatigue atau keletihan yang ekstrim adalah dampak yang umum terjadi karena adanya workaholisme dalam bekerja. Banyak studi menunjukkan workaholisme berkaitan dengan penyakit jantung, serta sakit pada leher dan punggung. Pada beberapa  kondisi yang lebih buruk, kelelahan tersebut dapat menyebabkan kematian, bahkan pada usia yang relatif muda. Telah banyak pula riset yang menunjukkan bahwa workaholisme menimbulkan depresi, kecemasan, insomnia, dan banyak gangguan terhadap kesehatan mental.

Bekerja, tentu saja merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat secara finansial, psikologis dan sosial. Dengan bekerja, seorang individu mampu mengaktualisasikan potensi dirinya, memperoleh pendapatan untuk menikmati kehidupan yang sehat dan layak, serta mendapatkan status sosial yang baik dalam masyarakat. Meski demikian, dari tinjauan kesehatan, bekerja tidak boleh berlebihan karena dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Dalam bidang psikologi juga telah lama disampaikan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan kerja dan kehidupan personal. Menurut penelitian, ketika seorang individu terlalu banyak bekerja, produktivitas yang dicapai justru malah lebih rendah dan justru akan merusak bidang kehidupan lainnya.  Sebaliknya ketika individu mampu mengelola waktu yang seimbang untuk bekerja dan untuk melakukan kegiatan lainnya maka produktivitasnya akan makin meningkat.

Beberapa manfaat lain dari memiliki keseimbangan kehidupan kerja adalah individu akan lebih sehat, baik secara fisik maupun secara mental. Seiring dengan baiknya tingkat kesehatan, maka individu juga akan memiliki performa kerja yang baik. Individu yang memiliki keseimbangan kehidupan kerja juga cenderung memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap kehidupan kerjanya maupun terhadap bidang kehidupan lainnya, misalnya kehidupan keluarga, kehidupan sosial, dan sebagainya.

Pentingnya memiliki keseimbangan kehidupan kerja ini juga berlaku bagi seorang muslim. Kewajiban muslim selain bekerja adalah juga beribadah, selain melakukan aktivitas personal lain untuk mendukung kehidupannya. Islam tentunya juga memiliki solusi agar keseharian seorang muslim dapat seimbang.

Prinsip Bekerja dalam Islam

Sebagai agama yang paripurna, Islam juga memiliki pandangan tersendiri mengenai aktivitas bekerja. Dalam Islam, bekerja adalah sebuah kegiatan yang mulia, yang memiliki nilai ibadah dan juga jihad, sebagaimana dalam ayat-ayat berikut ini :

 “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum”ah : 10).

“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk : 15).

“Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.” (QS. Al-Muzzammil: 20).

Islam sangat menganjurkan seorang muslim bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan tidak meminta-minta kepada orang lain. Bahkan, karena sifat wajb dari aktivitas kerja, bekerja juga dapat menggugurkan dosa. Beberapa hadist tentang keutamaan bekerja antara lain :

 ‘Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut.” (HR. Imam Tabrani).

“Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.” (HR Ahmad).

Islam juga mengajarkan bahwa bekerja tidak boleh serampangan. Ada beberapa etika kerja yang perlu diperhatikan, misalnya pentingnya menjaga kualitas hasil kerja dan mengedepankan profesionalitas.  Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan.” (HR Thabrani).

 Pekerjaan juga dapat dianggap sebagai sebuah amanah. Dalam konteks ini, seorang muslim perlu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sebuah amanah sampai tuntas. Ketika pekerjaan tidak diselesaikan dengan baik, sama artinya dengan tidak amanah dan memiliki sikap khianat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui.” (QS Al Anfal : 27)

Tawazun sebagai Solusi

Walaupun seorang muslim harus menampilkan kinerja terbaiknya, bersungguh-sungguh, dan amanah, akan tetapi Islam juga mengajarkan mengenai pentingnya keseimbangan. Seorang muslim boleh saja bekerja keras, akan tetapi waktu bekerja tersebut juga harus seimbang dengan waktu untuk beribadah. Dalam Al Quran, Allah berfirman bahwa bekerja penting untuk mencapai kebahagiaan di dunia, namun demikian seorang muslm juga tidak boleh melupakan upaya untuk mencapai kebahagiaan di akhirat sebagaimana dalam ayat berikut :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al Qashas : 77).

Lebih luas lagi, tawazun juga berarti memiliki pengaturan waktu yang seimbang dan memperhatikan berbagai aspek dalam kehidupan. Ini karena tawazun tidak mungkin terwujud tanpa adanya pembagian waktu yang baik, seperti alokasi waktu untuk bekerja, alokasi untuk beribadah, alokasi waktu untuk istirahat, dan sebagainya. Pengelolaan waktu yang baik juga merupakan hal yang didorong dalam Islam, sebagaimana hadist berikut ini:

“Gunakan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum masa matimu,” (HR Al-Hakim).

Lantas, bagaiamana cara mengaplikasikan sikap tawazun? Yang pertama, sebagaimana yang sudah disampaikan diatas, meskipun bekerja itu adalah suatu hal yang penting, tetapi seorang muslim perlu memiliki mindset pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan dan tidak berlebih-lebihan dalam bekerja. Hal ini dapat dibangun dengan cara memahami bahwa terlalu berlebihan dalam bekerja sesungguhnya malah akan membawa kerugian dibandingkan dengan kebermanfaatan. Selain itu, perlu diingat juga, bahwa jika ingin aktivitas kerja mendatangkan keberkahan dan mengharapkan ridha Allah, maka jangan sampai aktivitas kerja tersebut justru menyebabkan kelelahan dan sakit secara fisik dan mental, atau justru mengakibatkan konflik dengan keluarga.

Yang kedua, mengelola waktu. Pengelolaan waktu yang perlu dipikirkan seorang muslim, selain waktu untuk bekerja, untuk keluarga, untuk rekreasional, juga perlu mengalokasikan waktu yang cukup untuk beribadah. Pentingnya memiliki waktu untuk beribadah selain berkaitan dengan kewajiban sebagai muslim, adalah berkaitan dengan prinsip keseimbangan itu sendiri. Seorang muslim tidak mungkin berharap aktivitas kerjanya mendatangkan berkah dan ridha dari Allah jika ia melupakan waktu untuk beribadah. Selain itu, memiliki waktu beribadah akan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Pekerja yang memiliki religiusitas dan kehidupan spiritual yang baik, menurut penelitian akan memiliki kehidupan kerja yang lebih memuaskan. Selain itu, mereka juga cenderung memiliki sikap kerja yang lebih positif. Mereka biasanya lebih termotivasi dalam bekerja karena bekerja tidak semata-mata demi aktualisasi diri atau mengharapkan gaji, tetapi juga menganggap bekerja adalah bagian dari habluminannas. Orang-orang dengan religiusitas yang tinggi cenderung lebih mudah dalam bekerjasama dan membantu rekan kerjanya, mereka juga berkomitmen dalam penyelesaian tugas-tugas mereka sendiri.

Yang ketiga, konsisten dalam pengelolaan waktu. Jika sudah tiba waktu istirahat, gunakan waktu untuk istirahat. Jika sudah tiba waktu ibadah, gunakan waktu untuk ibadah. Banyak orang yang mungkin tidak menyadari jika waktu ibadah di sela waktu luang jam kerja, justru memiliki banyak manfaat. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Simon Webley pada tahun 2011 menunjukkan bahwa ketika karyawan memiliki kesempatan untuk beribadah di tempat kerja, stres kerja menurun, dan kesejahteraan psikologis mereka meningkat. Karyawan yang dapat menyalurkan kebutuhan spiritualnya juga memiliki sikap kerja yang lebih ramah kepada pelanggan. Menariknya, hal ini tidak hanya berlaku untuk agama Islam saja, tetapi juga agama lain. Sampai-sampai dalam penelitian tersebut disarankan bahwa menyediakan fasilitas untuk beribadah bagi karyawan di tempat kerja adalah bagian dari praktik baik etika kerja.

Kesimpulan

Hustle culture, alih-alih meningkatkan produktivitas, justru malah akan menimbulkan berbagai problem kesehatan fisik dan mental bagi individu. Islam telah memberi arahan bahwa dalam menjalankan kehidupannya, seorang muslim tidak boleh sampai terjebak pada gaya hidup workaholic. Meskipun seorang muslim diperintahkan untuk bekerja dengan itqan,  professional dan menjaga amanah, prinsip tawazun atau keseimbangan harus penting diperhatikan. Tawazun dalam kehidupan kerja dan ibadah juga telah dinyatakan berkali-kali dalam beberapa ayat dan hadist. Cara mewujudkan sikap tawazun adalah dengan memiliki pengelolaan waktu yang baik dalam bekerja maupun dalam beribadah. Dengan memiliki sikap tawazun, seorang muslim akan lebih sehat secara fisik dan mental, lebih produktif, serta lebih puas dengan kehidupannya, dan tentu saja setiap aktivitas yang dilakukan akan lebih berkah dan tidak melupakan aktivitas bekerja dan beribadah untuk mendapatkan ridha Allah. Insya Allah.

Pertajam Dakwah Digital, FPSB Gelar Pelatihan Menulis Artikel Dakwah

Salah satu cara menghidupkan Islam adalah dengan memperkenalkan Islam kepada publik secara terus menerus. Memperkenalkan nilai-nilai yang menurut Islam sebagai kebaikan maupun keburukan. Jangan sampai nanti ada generasi yang tidak tahu bahwa sesuatu yang dilakukannya adalah suatu keburukan. Dan mestinya yang menjadi panduan atau rujukan adalah Al Quran dan Hadits.  Semangatnya adalah ber-amar ma’ruf nahi munkar. Read more

Dosen Psikologi UII Masuk 100 Ilmuwan Sosial Top Indonesia

Sebagai salah satu perguruan tinggi swasta kategori terbaik di Indonesia, Universitas Islam Indonesia (UII) banyak menorehkan prestasi di kancah nasional maupun internasional. Mengawali tahun 2022 ini, kabar baik kembali menghampiri UII dengan masuknya seorang dosen Prodi Psikologi (Psi) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) dalam 100 Ilmuwan Sosial Top Indonesia menurut lembaga pemeringkatan dunia AD Scientific Index (Alper-Doger Scientific Index). Dosen tersebut adalah Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog yang menempati urutan 17. Selain Fuad Nashori, Sonny Andrianto, S.Psi., M.Si., Ph.D. juga berhasil masuk dalam urutan 55 dosen UII yang masuk dalam jajaran ilmuwan top. Read more

Pengabdian Masyarakat: FPSB Gelar Workshop bersama Gerakan Indonesia Beradab dan Yayasan Rumah Teduh

Hope (Harapan) tertinggi itu jelek karena akan kehilangan kewaspadaan. Ketika hope tidak memiliki kewaspadaan, maka akan terjadi ekspektansi. Jika ekspektasi tidak sesuai, maka akan hancur. Yang benar adalah balance. Tidak optimis dan tidak pesimis. Ada keyakinan bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan, dibalik kegagalan ada pelajaran dan seterusnya. Read more

Sambut PKM 2022, FPSB UII Studi Banding ke FISIP Universitas Brawijaya

Dalam rangka mengoptimalkan capaian keikutsertaan dalam ajang bergengsi Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) tahun 2022, Wakil Dekan Bidang Keagamaan, Kemahasiswaan dan Alumni (KKA) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universita Islam Indonesia (UII), Dr.Phil. Emi Zulaifah, M.Sc., beserta 24 peserta yang terdiri dari Tenaga Kependidikan serta perrwakilan dosen dan mahasiswa dari Program Studi yang ada di di lingkungan FPSB UII secara khusus melakukan kunjungan studi banding ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB), Malang, Rabu, 12 Januari 2022. Dipilihnya Universitas Brawijaya tak lain karena Universitas ini cukup memiliki banyak prestasi bidang kemahasiswaan khususnya pada program PKM. Read more

FPSB UII Sambut Doktor Baru

Di penghujung akhir tahun 2021 atau tepatnya 31 Desember 2021, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar proses penyambutan 6 Doktor Baru secara daring. Keenam Doktor baru yang dimaksud adalah Susilo Wibisono, S.Psi., M.A., Ph.D., (Prodi Psikologi), Iwan Awaludidn Yusuf, S.IP., M.Si., Ph.D. (Prodi Ilmu Komunikasi), Dr. Zaki Habibi, S.I.P., M.Comms., (Prodi Ilmu Komunikasi), Dr. Herman Felani, S.S., M.A., (Prodi Ilmu Komunikasi), Puji Rahayu, S.Pd., MLST., Ph.D (Prodi Pendidikan Bahasa Inggris), dan Hasbi Aswar, S.I.P., M.A., Ph.D . (Prodi Hubungan Internasional). Read more

Meningkatkan Kematangan Beragama

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog—-

Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam dikenal sebagai bangsa yang religius. Religiusitas bangsa Indonesia ini tampak dari keyakinan akan adanya Tuhan, ritual agama yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, maupun dari perilaku sosial-moral yang didasarkan pada ajaran agama yang dianutnya. Sebagai masyarakat yang religius, bangsa Indonesia menempatkan keimanan dan ketakwaan (imtak), di samping ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), sebagai kualitas yang diperjuangkan perwujudannya. Penempatan religiusitas sebagai hal yang penting tampak dari kebijaksanaan nasional sebagaimana yang diamanatkan oleh dasar negara, perundang-undangan, dari harapan-harapan masyarakat, maupun dari harapan-harapan individu yang ada dalam masyarakat. Read more

Prodi Psikologi Gelar Konferensi Internal Tahun 2021

Upgrading Your Performing Academic Skill. Demikian tema yang diangkat pada kegiatan Konferensi (internal) Mahasiswa Psikologi, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu, 11 Desember 2021. Kegiatan yang dikhususkan untuk Mahasiswa Prodi Psikologi angkatan 2021 ini menjadi ajang belajar dalam melakukan penelitian dengan tema bebas ilmiah bidang psikologi, baik perseorangan maupun secara kelompok. Mereka pun belajar untuk melakukan presentasi hasil karya ilmiahnya. Dari kegiatan tersebut, diambil beberapa pemenang untuk kategori best paper dan best presenter. Read more