Budaya Organisasi Keluarga sebagai Jangkar Pembentukan Karakter

OLeh : Dian Febriany Putri, S.Psi., M.Psi., Psi ———–

 

Harta yang paling berharga adalah keluarga…

Istana yang paling indah adalah keluarga…

Puisi yang paling bermakna adalah keluarga…

Mutiara tiada tara adalah keluarga… Read more

Mengapa Sulit Memberi dan Meminta Maaf?

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.psi., M.Si., M.Ag., Psikolog—–

Beberapa orang, dalam satu dan lain hal merasakan sukar baik untuk memberi maaf dan meminta maaf. Secara psikologis, apakah ada penjelasan  untuk hal ini? Demikian pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya di suatu kesempatan. Read more

Kegagalan-Sukses yang Tertunda

OLeh : Dwi Pranita, S.E., M.M.—- Kegagalan itu merupakan suatu hal yang kadang kita sesali, kita ratapi, dan kita tangisi. Apakah benar kegagalan merupakan sukses yang tertunda? Mengapa demikian? Sebelum membahas tentang kegagalan, ada baiknya kita kembali mengingat firman Allah dalam Surat Ar Rad ayat 11 Read more

SEHABIS SUBUH: JANGAN TIDUR, BERGERAKLAH!

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog ———

Salah satu anjuran Nabi Muhammad adalah tidak tidur sehabis waktu subuh. Nabi Muhammad bersabda: “Seusai shalat fajar (subuh), janganlah kamu tidur sehingga melalaikan kamu untuk mencari rizki” (HR Thabrani). Para ulama, sebagaimana diungkapkan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, sampai-sampai menempatkan hukum tidur sehabis subuh sebagai makruh. Makruh berarti sesuatu itu kurang direkomendasikan, bahkan tidak direkomendasikan, sekalipun tidak terlarang. Ada apa dengan subuh sehingga kita sebaiknya dalam keadaan sadar bahkan lebih baik dalam keadaan beraktivitas?

Menyegerakan Diri untuk Memulai Tidur

Sebelum menjawab pertanyaan di atas, perlu dipahami aturan umum dalam hidup, yaitu  gunakan siang untuk berkarya dan manfaatkan malam hari untuk beristirahat tidur. “Dan Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat dan (menjadikan) siang terang benderang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar” (QS Yunus, 10:67). Di ayat lain, Allah berfirman dengan pesan yang senada: Dan Kami jadikan tidurmu untuk beristirahat, dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (An-Naba’, 78: 9-11).

Kita pun diminta untuk tidak berlama-lama dalam keadaan sadar dan beraktivitas sehabis shalat isya. Para sahabat Nabi Muhammad tidak mengobrol di malam hari, namun segera tidur. “Disebutkan dalam Riwayat Abdurrahman bin Qasim dari ayahnya dari Aisyah ra, dia berkata: ‘Rasulullah saw tidak tidur sebelum isya’ dan tidak begadang setelah isya’.” Merujuk apa yang dilakukan Nabi Muhammad dan para sahabat beliau, kita dianjurkan untuk tidak tidur terlalu larut. Mestinya kita sudah naik ke tempat tidur kita sekitar pukul 22 atau satu jam sebelumnya (pukul 21).

Para ahli kesehatan memberi penguat mengapa manusia harus tidur lebih awal dan tidak tidur terlalu malam. Pada sekitar pukul 21 malam, tubuh manusia secara alamiah melakukan detoksifikasi. Dimulai dengan detoksifikasi kelenjar getah bening atau sistem antibodipada pukul 21, dilanjutkan dengan detoksifikasi hati atau liver mulai  pukul 23 malam, dan dituntaskan dengan detoksifikasi empedu itu mulai pukul 1 pagi hingga lebih kurang pukul 3 pagi. Semua proses detoksifikasi alamiah ini mensyaratkan manusia dalam keadaan beristirahat total. Karenanya, siapa yang tidur lebih awal dan bangun sekitar pukul 3 dalam keadaan nyenyak, maka dia meraih proses pembersihan diri paling sukses. Racun-racun berlomba keluar dari tubuhnya.

Ada sebagian ahli kesehatan yang tidak mempermasalahkan manakala seseorang tidak tidur di malam hari asalkan menggantinya atau mengkonversinya dengan tidur di esok harinya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh dokter Ari Fahrial Syam dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (Mitos Tidur Larut Malam, Benarkah Ganggu Proses Detoksifikasi Alami Tubuh? (suara.com). Akan tetapi, ini hanya berlaku karena faktor keterpaksaan. Disebabkan seseorang harus bekerja di malam hari, seperti halnya dokter jaga malam dan para satpam, dengan penuh keterpaksaan mereka tidak tidur di waktu malam. Sekaliun demikian, fakta ini tidak dapat dipakai untuk membenarkan pandapat bahwa tidak ada masalah kalau seseorang membiasakan diri begadang di malam hari. Bahkan dokter Ari juga berpandangan tidak baik membiasakan diri bekerja atau beraktivitas saat jam tidur, karena “tubuh tetap butuh metabolisme normal dengan tidur di malam hari.” Karenanya, rekomendasi terbaik untuk orang yang berharap hidup secara sehat adalah mulai tidur di awal waktu (sekitar pukul 21-22) dan segera bangun di sepertiga terakhir malam (sekitar pukul 3-4 pagi). Tantangannya adalah menggeser pola tidur dari tidur sekitar pukul 23-24 hingga pukul 5-6 menjadi tidur mulai pukul 21-22 hingga pukul 3-4. Akan banyak kebaikan bagi siapa saja yang mengikuti pola hidup gaya Nabi Muhammad ini.

Setelah beristirahat secara cukup sekitar 6 jam, kita diminta untuk segera bangun ketika fajar menjelang atau selambat-lambatnya pukul 4 pagi. Nabi Muhammad mengajarkan dan sekaligus memberi contoh kehidupan bangun pada waktu di sepertiga terakhir malam ini.  Ternyata apa yang dicontohkan Nabi Muhammad ini akan menghasilkan kebaikan bagi kehidupan manusia. Berbeda dengan detoksifikasi-detoksifikasi sebelumnya, detoksifikasi paru-paru berlangsung sekitar pukul 3 hingga pukul 5. Dengan tidur saja, dengan catatan udara dalam rumah terhubung dengan udara di luar ruangan, proses detoksifikasi paru-paru sudah berlangsung. Lebih afdhol lagi kalau seseorang mengoptimalkannya dengan mengakses langsung udara bersih di luar rumah. Karenanya, siapa yang berangkat ke masjid dan berjalan kaki dalam udara segar yang sangat bersih, maka proses pembersihan paru-paru akan berlangsung optimal. Dalam situasi pandemic covid-19 seperti saat ini, memiliki paru-paru yang sehat adalah memiliki kekayaan yang sangat berharga untuk bisa bertahan dari kemungkinan terkena gangguan atau serangan covid-19.

Irama Sirkadian

Para ahli berkonsep tentang irama sirkadian (circadian rhythm). Melalui konsep ini dipercayai bahwa manusia memang memiliki jam biologis yang mengatur kapan manusia tidur dan kapan manusia sadar. Jam tidur dan jam sadar ini berporos dari otak manusia. Bila manusia menjalani hidupnya dengan mengikuti irama ini, maka manusia dapat terpelihara diri dan kesehatannya. Sebaliknya, bila manusia hidup dengan irama yang tak sesuai dengan irama sirkadian, maka akan terjadi kerugian bahkan kekacauan pada kondisi fisik dan psikologisnya. Karenanya, kalau waktunya tidur, tidurlah. Kalau waktunya sadar dan berkarya, maka berpikir dan bertindaklah yang optimal.

Irama sirkadian yang mengatur manusia untuk tidur di malam hari dan bangun saat pagi hingga awal malam sesungguhnya searah dengan irama semesta ini. Para ahli fisika, sebagaimana dijelaskan Osly Rachman dalam The Science of Shalat, alam semesta ini mengalami pergantian waktu sebanyak empat kali. Satu waktu, yaitu tengah malam, manusia diminta dalam keadaan istirahat (tidur). Di tengah siang, manusia diperkenankan untuk tidur sejenak di antara aktivitasnya yang memuncak. Di dua waktu lain, yaitu sehabis subuh dan sebelum maghrib, manusia diminta untuk berada dalam keadaan bangun dan sepenuhnya sadar. Bahkan, dikarenakan sedemikian pentingnya manusia sadar dan waspada saat di dua waktu, Allah memerintahkan manusia dalam keadaan sadar-sesadarnya dengan “berzikir sebanyak-banyaknya di waktu pagi dan petang” (QS al-Ahzab, 33:41-42). Nabi Muhammad mengajari kita untuk berzikir khusus di pagi dan petang dengan bacaan zikir al-ma’tsurat. Mengapa manusia harus dalam keadaan tersadar sehabis subuh dan juga antara asar hingga maghrib?

Benturan Warna dan Gelombang

Dijelaskan oleh fisikawan Osly Rahman bahwa pada waktu pagi sehabis subuh dan sore hari menjelang mashrib, terjadi pergantuan waktu yang lebih keras dibanding waktu malam dan siang. Pergantian waktu ditandai oleh meningkatkanya pergerakan warna dan gelombang di alam semesta. Warna dan gelombang bertemu dan bertabrakan secara lebih keras di dua waktu ini. Warna dan gelombang yang bertabrakan sangat keras dapat menyebabkan manusia mengalami bias. Dalam tingkatan yang ekstrim, apa yang semestinya terlihat bisa berubah menjadi tak terlihat. Apa yang semestinya tak terlihat bisa berubah menjadi terlihat. Sedemikian besarnya gejala pergantian alam ini, orang-orang bijak di masa lalu menganjurkan kita untuk berhenti sejenak dalam perjalanan saat maghrib tiba. Alam sedang menggeliat dan manusia diminta dalam keadaan sadar dan penuh kewaspadaan.

Tidak hanya fenomena fisika yang sedang berlangsung ketika jelang maghrib. Peristiwa metafisika juga sedang terjadi. Nabi Muhammad menyebut dalam hadis yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai “setan-setan berkeliaran ketika matahari terbenam”. “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Apabila sore hari menjelang malam tiba, tahanlah (di dalam rumah) anak-anak kecil kalian, karena pada saat itu setan berkeliaran. Apabila permulaan malam sudah tiba, diamkanlah anak-anak kalian di dalam rumah, tutuplah pintu-pintu (termasuk jendela) kalian dengan terlebih dahulu menyebut nama Allah karena setan tidak akan dapat membuka pintu yang terkunci dengan menyebut nama Allah sebelumnya, dan ikatlah kendi-kendi air kalian (qirab adalah jama dari qurbah yakni tempat air yang terbuat dari kulit dan di ujungnya biasa diikat dengan tali untuk menghalangi kotoran masuk) sambil menyebut nama Allah, tutuplah bejana-bejana atau wadah-wadah kalian sambil menyebut nama Allah meskipun hanya ditutup dengan sesuatu alakadarnya dan matikanlah lampu-lampu kalian (kalau mau tidur),” (HR. Bukhari Muslim). Sikap terbaik menghadapi setan yang berkeliaran adalah dalam keadaan sadar. Tentu saja sadar yang terbaik adalah dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya (mindfulness) dengan cara shalat dan berzikir.

Sadar dan Waspada Subuh Hingga Matahari Terbit

Ada apa dengan tubuh kita sehingga kita perlu dalam keadaan sadar dan waspada sehabis subuh hingga matahari terbit?

Ada makrokosmos, ada mikrokosmos. Ada jagad besar, ada jagad kecil. Ternyata alam semesta (makrokosmos, jagad besar) dan diri manusia (mikrokosmos, jagad cilik) diminta untuk  melangkah secara seirama. Saat alam menggeliat, manusia diminta untuk sadar dan waspada. Karena tubuh sendiri sedang menggeliat.

Inilah yang terjadi pada tubuh manusia sehabis subuh hingga matahari terbit. Bila manusia tidur sehabis subuh, pembuluh darah ke otak cenderung menyempit. Ini mengakibatkan aliran darah ke organ tubuh berkurang. Sel-sel trombosit dalam pembuluh darah berangkulan, mengumpul, dan menggumpal menjadi trombus. Trombus menyebabkan gangguan serebroveskuler yang relatif tetap, yaitu gangguan penyempitan pembuluh darah di otak dan jantung manusia. Kalau manusia membiasakan diri tidur sehabis subuh, maka secara tidak disadari manusia sedang membuat pembuluh darah mengalami proses penyempitan. Untuk orang-orang yang sudah bermasalah pembuluh darahnya, maka tidur pagi dapat menghadirkan horor, yaitu manusia dapat mengalami serangan jantung dan terkena stroke.

Ada suatu zat yang dapat mencegah terbentuknya trombus dan melebarkan pembuluh darah, yaitu nitrit oksida (NO). Zat ini hanya aktif bila tubuh manusia bergerak. Berjalan ke masjid, ruku’, sujud, berjalan-jalan kaki sehabis subuh, membereskan barang di rumah, dapat meningkatkan aktivitas nitrit oksida. Saat nitrit oksida eksis, pasokan oksigen ke otak lancar dan pembuluh darah otak melebar. Hasilnya pikiran jadi terang, jernih, dan berfungsi penuh.

Hal sebaliknya, bila manusia tidur, maka nitrit oksida tidak diproduksi. Akibatnya, oksigen ke otak tidak mengalir lancar dan pembuluh darah ke otak menyempit. Akibatnya, lama kelamaan otak menjadi bebal. Otak menjadi bebal berarti ada proses yang melemahkan kemampuan berpikir kita. Kalau ini terjadi, celakalah kita karena salah satu modal penting sukses dunia akhirat kita melemah. Kemampuan mengingat berkurang (termasuk hafalan, pengetahuan umum maupun khusus, dsb), kemampuan menganalisis menumpul, kemampuan memecahkan masalah terhambat, kemampuan berpikir kreatif turun. Dampak lainnya adalah jantung menjadi lemah.

Bisa jadi awalnya seseorang dalam keadaan sehat-sehat saja. Namun, kebiasaan tidur sehabis subuh jelas tidak baik untuk otak dan jantungnya. Ibnu Qayyim al-Jauziyah bahkan menempatkan status sehabis shalat subuh sebagai perbuatan yang makruh, sesuatu yang semestinya dihindari. Makanya, jangan tidur habis subuh, dan ayo bergerak.

Ada yang spesial saat manusia bergerak di waktu subuh, terutama saat kita shalat. Ketika seseorang sedang shalat, tubuh bergerak dan aktif dengan kualitas yang meningkat. Ketika shalat yang dijalankan seseorang sangat khusyuk (tertuju ke satu titik atau mindful), maka pergerakan itu  minimal mengantarkan otak manusia berada gelombang Alfa, dan semakin meningkat kualitas atau kekhusyukannya ketika ada di gelombang Teta dan terus meningkat mencapai puncak kekhusyukan saat otak berada di gelombang Delta. Bahkan kondisi ini mampu membangun “Keseimbangan Kimiawi Tubuh” yang sangat dibutuhkan manusia.  Gelombang-gelombang itu didapat di antaranya di dalam sholat. Karenanya, ketika seseorang suka melakukan shalat tahajud dan witir di akhir malam serta menutupnya dengan shalat subuh, maka dampak yang diperolehnya adalah keseimabngan kimiawi dalam tubuh. Sebaliknya, ketika seseorang bergerak di luar shalat, maka yang dirasakan hanya gelombang Beta (gerakan biasa di luar salat). Nitit oksida tetap didapat, namun  kualitasnya tidak selevel dengan  gelombang-gelombang di atas. Wallahu a’lam.

 

RAMUAN KEBAHAGIAAN: Meraih Puncak Intelektual dan Moral

Oleh: Dr. Ahmad Rusdi, MA.Si. ———–

Arus hidup materialisme telah menghancurkan banyak nilai kehidupan, sehingga menyebabkan manusia mengalami kehampaan hidup (Sukring, Rahman, Musthan, & Saadi, 2016). Suatu penelitian mengungkap bahwa pola hidup materialisme justru berdampak buruk pada kesejahteraan subjektif, sulit merasakan kepuasan psikologis, dan justru membuat orang menjadi depresi (Wang, Liu, Jiang, & Song, 2017). Orientasi kebahagiaan yang bersifat kesenangan, terbukti merupakan orientasi yang paling rendah pengaruhnya dengan kepuasan hidup seseorang (Park, Peterson, & Ruch, 2009). Maka, merubah orientasi kebahagiaan nampaknya menjadi hal yang penting bagi diri kita.

Rasulullah SAW memberikan arahan bagaimana menyikapi dunia dan akhirat, keduanya bukan hal yang bertenta Read more

Religiosity and Forgiveness

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog —-

Religious people are forgiving. That is what we believe. What about the findings of contemporary psychology on this issue?

So far, we believe that people who understand and (try) to practice Islam are people who are easy to forgive. They know Allah ‘Azza wa jalla is very forgiving and encourages forgiveness (al’ afwu, forgiveness). “Indeed, Allah is All-Merciful, Most Forgiving” (QS al-Hajj: 60). “Be forgiving and tell people to do what is good, and turn away from those who are ignorant” (QS al-A’raf: 199). There are about 33 other verses in the Koran that command forgiveness and because of that, Muslims would take the position of forgiveness if one day they are hurt based on their religious beliefs.

There is a cross-cultural study that links religiosity and forgiveness which supports the above view. This research does not specifically analyze forgiveness but seeks to portray some of the strengths of the characters of various ethnic groups in Indonesia (Nurwianti & Oriza, 2010). The research conducted on 1,066 people (540 men, 526 women) aged 18-55 in Javanese, Sundanese, Betawisese, Minangese, Batakese and Bugisese ethnic groups showed that the Minangese people had the highest forgiveness score compared to the other ethnic groups. another. I once asked the two researchers directly during a presentation at the International Conference on Indigenous and Cultural Psychology 2010 about what makes Minang people more forgiving? They replied, the Minangese people openly put religion as the foundation of their life. As is well known, one of the mottos believed by the Minangese community is the custom of basandi syara ‘, Kitabullah (Sharia-based custom and holy book-based Sharia). The holy book-in this case is al-Qur’an and al-Hadith-shows the command that the individual forgives others who do wrong.

Research with Muslim subjects has also been conducted. Nashori, Iskandar, Setiono, and Siswadi’s (2020) research involving 50 male and female students shows that religiosity is a factor that affects forgiveness. Some of the things that make a person able to forgive are the belief of Allah ‘Azza wa jalla as a source of strength that makes it easy to forgive, Allah’s attribute who is all-forgiving and removes sins, a view that unpleasant events are tests from Allah, good prejudice against Allah, forgiveness will make close to Allah, as well as religious guidance to forgive.

One of the important questions that can be asked is whether the influence of religiosity on forgiveness is direct or through a mediator?

Religiosity and Forgiveness: Is There a Mediator?

The contemporary positive psychologist, McCullough (2001), is one who voices the importance of the role of religiosity in forgiveness. Like most of us, he is of the view that religious values – in addition to cultural values – motivate many people to forgive. Even so, he argues that the effect of religiosity on forgiveness must go through a mediator called kindness and emotional stability. That is, being religious brings kindness to life (agreeableness trait) and emotional stability (emotional stability trait), which make it easy for individuals to forgive.

A study published in the same year (2001) turned out to show different results from McCullough’s. This study is the effect of religiosity on forgiveness of Catholics and Protestants. The results show that there is a direct effect, namely, religiosity has a direct effect on forgiveness. Research conducted by Krause and Ingersoll-Dayton (2001) on the elderly white and black Americans, amounting to 129 Catholics and Protestants, show that the religious elderly are easy to forgive. They believe God is all-forgiving and commands humans to give forgiveness to those who violate their rights.

I tried to research to answer whether religiosity, in this case, religious practice, influenced forgiveness. This study involved 109 male and female Muslim students in Yogyakarta. The results showed that the quality of dhikr – which is a form of worship or religious practice – has a direct influence on improving students’ ability to forgive. Recitation softens the heart, with a soft heart a person can easily empathize with others. Empathy, on the other hand, makes forgiveness easy (Nashori, 2005). The results of this research confirm that the practice of religion, in this case, zikr, makes it easy for someone to forgive. Why is that? The reasoning used is dhikr that leads people to be soft in the heart so that it makes it easier for them to forgive.

On the one hand, I believe the results of the research above. However, on the other hand, I also see the reality of people who do not forgive and even take revenge even though they understand and practice religious teachings. They are religious but hostile to other people, even people of their kind. I have read studies of people who commit violence in the name of their religion.

Not satisfied with that, I conducted several studies on whether religiosity has a direct or indirect effect on forgiveness. The research I conducted in Maduranese ethnicity shows that the effect of religiosity on forgiveness is indeed indirect and requires a mediator called agreeableness and emotional stability (Nashori et al, 2019). I obtained the same results when researching Javanese ethnicity Mancanegari subculture, Javanese who live in Surabaya, Malang, and Mojokerto (Nashori et al, 2020a), and Javanese ethnicity Negarigung subculture who live in Yogyakarta (Nashori et al, 2020b). Why is that? The reason is that being religious leads people to grow their good qualities and mature their emotions, making it easier for them to forgive. Religion encourages the growth of rahmatan lil alamin, which is love for anyone, regardless of religion, ethnicity, race.

Religiosity Enviates Compassion

Research related to religiosity and forgiveness was conducted by Webb, Chickering, Colburn, Heisler, and Call (2005). The research, which was conducted by 280 students of public universities and Christian universities, shows that there is a positive correlation between the concept of God who loves and forgiveness and there is a negative correlation between the concept of God controlling and forgiveness. In essence, if a person is dominated by the understanding that God loves humans, then they also develop feelings of love – or affection – towards others. Love for others is what makes it easier for them to forgive.

There is a relevant perspective. This appreciation of who God is ultimately leading someone to easily forgive or not. In looking at God, some view God with a Jamal perspective and some view God with a Jalal perspective. Included in the group of characteristics of jamal are Most Compassionate (ar-Rahman), Most Merciful (ar-Rahiim), Most Provider of Welfare (as-Salam), Most Forgiving (al-‘Afuw), Most Forgiving (al-Ghaffar), Most Forgiving (al-Ghafur), Most Extensive (al-Basith), Most Extensive (al-Wais’), Most Wise (al-Hakim), Most Glorifying (al-Mu’iz), Most Gentle (al-Lathif ), etc. Including the traits of jalal are Owner of Greatness (al-Jalal), Most Forcing (al-Qohhar), Most Ruling (al-Malik), Most Regulating (al-Muhaimin), Most Mighty (al-‘Aziz), Owner of Strength (al-Jabbar), Most Narrowing (al-Qabidh), Most Giving of Calculation (al-Hasib), Most Deadly (al-Mumitu), and so on. When a person sees God as having a stronger physical character, then people will be overwhelmed with compassion and that makes it easier for him to forgive. If someone views God as stronger in his jalal nature, then that person will be overwhelmed with assertiveness, courage, which makes him prefer to punish wrongs and uphold justice, so as not to put forgiveness as the main thing in life with other people.

In essence, let us follow Islam properly. When we become forgiving, people also become forgiving. Thereby.

The author is an Associate Professor in Islamic Psychology and Social Psychology at the Islamic University of Indonesia, Founder and Council of Experts of the Association of Islamic Psychology, Indonesia.

References

Krause, N. & Ingersoll-Dayton, B. (2001). Religion and The Process of Forgiveness in Late Life. Review of Religious Research, 42 (3), 252-276.

McCullough, M.E. (2001). Forgiveness: Who Does It and How Do They Do it? Current Directions in Psychological Science, 10 (6), 194-197.

Nashori, H. F. (2005). Hubungan Kualitas Dzikir dan Pemaafan pada Mahasiswa. Jurnal Psikologi (Undip), 9, 27-35.

Nashori, H.F, Iskandar, T.Z., Setiono, K., & Siswadi, A.G.P. (2011). Forgiveness among Muslim Student University. The Roles of Islamic Psychology in the Effort of Increasing Life Quality: Proceeding International Conference on Islamic Psychology and the Third of Congress of Association of Islamic Psychology. Malang: Faculty of Psychology State Islamic University Malang.

Nashori, H. F., Wijaya, H.E., Diana, R.R., Herawati, N. (2019). Forgiveness Among Maduranese Ethnic: The Relation Between Religiosity, Interpersonal Attachment, and Personality Trait. Advanced Science Letters, 25 (1), 155-157.

Nashori, F., Gusniarti, U., Subandi, M.A., Diana, R.R., & Saputro, I. (2020a). Forgiveness among Javanese Ethnicity Mancanegari Subculture: A Case Study in Indonesia International. Journal of Psychosocial Rehabilitation, 24 (7), 8765-8776.

Nashori, F., Iskandar, T.Z., Setiono, K., Siswadi, Andriansyah, Y. (2020b). Religiosity, interpersonal attachment, and forgiveness among Javanese population. Mental Health, Religion, and Culture, 23 (2), 99-112.

Nurwianti, F. & Oriza, I.D. (2010). Explorative Study of Character Strengths on Indonesian People (Javanese, Sundanese, Minangese, Betawisese, Bugisese, and Batakese). Paper presented on The First International Conference of Indigenous and Cultural Psychology, Faculty of Psychology, Gadjah Mada University, July 24-27.

Tim Penerjemah Al-Qur’an dan Terjemahannya. (2012). Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementrian Agama RI.

Webb, M., Chickering, S.A., Colburn, T.A., Heisler, D. & Call, S. (2005). Religiosity and Dispositional Forgiveness. Review of Religious Research, 46 (4), 355-370.

 

Membangun Sains Islam

Salah satu tugas universitas Islam, baik UII maupun universitas Islam lainnya, adalah menghasilkan dan mengajarkan sains Islam (Islamic sciences). Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Hamid Hasan Bilgrami dan Sayid Ali Asyraf dalam bukunya yang berjudul The Concept of Islamic University. Kedua penulis di atas mengungkapkan bahwa sejumlah ciri universitas Islam. Di samping ciri-ciri konsep pendidikan yang berdasar tauhid, staf pengajar yang menjunjung tinggi nilai Islam, mahasiswa yang terseleksi secara moral dan akademis, pimpinan dan staf yang berdedikasi, salah satu ciri yang penting universitas Islam adalah mengembangkan dan mengajarkan sains yang berlandaskan al-Qur’an dan al-Hadits. Pertanyaan yang diajukan dalam tulisan ini: apakah yang dimaksud dengan sains Islam dan bagaimana mewujudkannya? Read more

MENGINTEGRASIKAN NILAI ISLAM DALAM PERKULIAHAN

Oleh : Dr.H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag. Psikoloog–

Beberapa tahun terakhir saya mendapat kehormatan untuk berbagi pengalaman dengan dosen sejumlah perguruan tinggi Islam tentang strategi memasukkan nilai Islam dalam perkuliahan. UIN Semarang, UMS Solo, UM Purwokerto, UIN Pekanbaru, Universitas Islam Riau, IAIN Jambi adalah beberapa universitas Islam yang bersemangat dan berbagi sharing dengan saya. Read more

MENGAPA DAN BAGAIMANA MENGHINDARI PRASANGKA BURUK (SU’UDZON)?

Oleh : Dr. Rina Mulyati, S.Psi., M.Psi., Psikolog (Dosen Prodi Psikologi)

Interaksi manusia, baik antar individu (si A dan si B), maupun antar kelompok (kelompok Y dan kelompok Z) tidak dapat dilepaskan dari proses kognitif. Apa yang kita lihat dari orang lain, atau apa yang dilihat orang lain dari kita adalah sebuah “informasi”. Ia masuk ke dalam sebuah proses kognitif yang kemudian diproses oleh mekanisme berpikir kita untuk melahirkan sebuah kesimpulan. Kesimpulan ini bisa berupa penilaian yang dapat diukur dalam kerangka positif vs negatif. Misalnya kita punya teman yang cara bicaranya kasar. Cara bicara ini adalah sesuatu yang kita tangkap dari dia, kemudian kita proses dalam sistem berpikir kita, dan akan menghasilkan kesimpulan tertentu. Katakanlah kemudian kita menyimpulkan bahwa “oh teman saya ini orangnya pemarah”. Proses antara informasi tentang cara berbicara yang kasar hingga memunculkan penilaian bahwa subjek adalah orang yang pemarah adalah sebuah proses yang berlangsung di dalam kesadaran pikiran kita. Read more

Meraih Kebahagiaan Sejati

Oleh :  Yulianti Dwi Astuti (Dosen Prodi Psikologi)—

Pandemi COVID-19 yang dialami masyarakat di hampir seluruh belahan dunia sejak akhir tahun 2019 merupakan ancaman bagi kebahagiaan keluarga. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pemerintah masing-masing negara dalam mengatasi pandemi ini seperti lockdown maupun Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) telah menimbulkan perubahan dalam kehidupan sehari-hari setiap individu maupun keluarga. Orang-orang dewasa yang biasanya bekerja di kantor atau di luar rumah tiba-tiba harus menjalani Kerja dari Rumah atau bahkan dirumahkan tanpa dapat melakukan pekerjaan rutinnya karena tempat kerjanya (pabrik, mall, hotel, tempat-tempat wisata dll) harus ditutup selama pandemi. Read more