Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 15 Juli 2026

Hari ini kamu masih hidup? Bersyukurlah, berbahagialah

Hepi Wahyuningsih
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Kadangkala, saat hidup dihadapkan dengan masalah, rasanya sangat berat untuk dapat tersenyum atau berbahagia. Bagaimana dapat berbahagia jika didatangi debt collector karena tidak punya uang untuk membayar hutang yang telah jatuh tempo?! Bagaimana dapat berbahagia ketika anak sulit untuk dinasehati dan terus membuat masalah?! Bagaimana dapat berbahagia saat atasan marah karena pekerjaan yang telah dikerjakan susah payah dianggap tidak sesuai target?! Dan masih banyak lagi masalah yang sering kali menjadi sulit untuk dapat merasakan bahagia. Adalah hal yang rasanya sangat aneh jika berbahagia padahal sedang menghadapi banyak masalah. Rasanya aneh sekali jika harus berbahagia padahal anak terus menerus membuat masalah dan sulit dinasehati. 

Tetapi seorang ulama terkenal, Gus Baha mengajarkan kepada kita untuk tetap “seneng” meskipun banyak masalah yang sedang kita hadapi, bahkan Gus Baha menyarankan kita untuk memaksakan diri untuk “seneng” sebagai bentuk perlawanan kepada setan. Bagaimana agar bahagia saat banyak menghadapi masalah hidup atau menghadapi masalah hidup yang berat? Gus Baha menyuruh kita untuk datang ke kuburan atau makam. Untuk apa? Untuk melihat bahwa satu keinginan semua orang-orang yang telah dikubur adalah keinginan untuk sekali lagi dihidupkan agar mereka dapat bertobat dan berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya. Dengan berziarah ke kubur, kita menjadi orang yang dapat bersyukur karena masih diberi kesempatan oleh Allah untuk bertobat, untuk berbuat baik sebanyak-banyaknya sebagai bekal di akhirat. Dengan rasa syukur ini, maka kita akan dapat berbahagia meskipun kita memiliki masalah yang banyak atau memiliki masalah yang berat. Dengan kita berbahagia meskipun ada masalah, kita menjadikan setan tidak memiliki kesempatan untuk menggoda kita untuk mengeluhkan takdir Allah.

Apakah maksud berbahagia adalah tertawa lepas? Dalam Islam, berbahagia digambarkan dengan hati yang tenang karena keyakinannya pada kasih sayang Allah. Tenang meskipun punya masalah karena yakin akan kasih sayang Allah dan yakin bahwa di saat yang sama Allah akan memberikan kemudahan dan pertolongan saat Allah memberi masalah. Dalam tafsir surat al-Insyirah ayat 5 dan 6, satu kesulitan yang diberikan ke kita, Allah akan membersamainya dengan dua kemudahan. Ini menunjukkan sebuah kepastian; adalah sebuah sunnatullah bahwa saat Allah memberikan kesulitan bersama kesulitan itu Allah memberikan dua kemudahan, jadi pasti insya Allah setiap masalah akan ada jalan keluarnya. 

Kita sebagai seorang muslim sebenarnya telah diajari untuk senantiasa bersyukur, untuk senantiasa berbahagia saat mengawali aktivitas kita di setiap harinya. Kapan itu? Yaitu saat kita bangun tidur setelah semalaman tidur. Yang pertama kali perlu kita lakukan saat bangun tidur adalah berdoa dengan doa khusus bangun tidur, yaitu “Alhamdulillāhilladzī aḥyānā ba‘da mā amātanā wa ilaihin-nusyūr” (“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali setelah mematikan kami, dan kepada-Nya kami akan dibangkitkan”). Doa ini merupakan doa yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari. Bila kita cermati, doa ini mengisyaratkan bahwa saat kita tidur, kita seperti dalam kondisi mati. Bahkan ada beberapa kasus dimana orang yang tadinya tidur tidak bangun lagi saat tidur karena meninggal dunia. Adalah sebuah kenikmatan saat kita dapat bangun tidur setelah tidur semalaman, sehingga saat bangun tidur kita diajarkan untuk berdoa yang didahului dengan ucapan syukur kepada Allah yang telah memberi nikmat “Alhamdulillāhilladzī aḥyānā ba‘da mā amātanā”. 

Mengapa dapat bangun tidur merupakan sebuah kenikmatan? Seperti yang telah disebutkan di atas, dengan kita masih dapat membuka mata di pagi hari, artinya kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk melanjutkan kehidupan. Kita masih diberi kesempatan oleh Allah untuk memperbaiki diri, menunaikan kewajiban-kewajiban yang boleh jadi kemarin kita lalai menunaikannya. Kita masih diberi kesempatan untuk banyak mengumpulkan amal sholeh sebagai bekal di kehidupan akhirat kelak. Kesempatan inilah yang sangat didambakan oleh orang-orang yang sudah meninggal dunia karena mereka tidak dapat lagi menambah amal kebaikan, mereka tidak lagi dapat bertobat, mereka tidak dapat lagi meminta maaf kepada orang-orang, mereka tidak dapat lagi memperbaiki kesalahan.

Jadi, berbahagialah, hadapilah masalah yang ada di depan kita sebagai wasilah bagi kita untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Jadikan setiap masalah yang kita hadapi sebagai sarana untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik, menjadi pribadi yang lebih santun. Jadikan setiap masalah yang kita hadapi untuk semakin dekat dengan keluarga, dengan anak, dengan pasangan kita, ataupun dengan orang tua kita dan saudara-saudara kita. Dengan demikian saat kita dipanggil oleh Allah, tidak akan banyak penyesalan. Berbahagialah meskipun kita punya masalah, jangan menunggu sampai masalah yang kita hadapi selesai karena sepanjang kita hidup pasti akan selalu muncul masalah. Hidup tidak pernah sempurna seperti yang kita inginkan sehingga cobalah tetap berbahagia. Niatkan untuk menerima setiap masalah yang menghampiri kita sebagai ridho kita atas takdir yang Allah tetapkan pada kita. Yakinkan pada diri kita bahwa Allah Maha Baik, kebaikannya melebihi kebaikan orang tua pada anaknya. Jadi pasti ada kebaikan dari Allah di setiap masalah yang kita hadapi. Semoga Allah anugerahkan kemudahan dan pertolongan pada kita dalam setiap urusan kita. Aamiin.