Syi’ār
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 18 Juni 2026
Bersyukur atas nikmat yang sering terlupa
Danang Rohmadi
Tendik Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Di tengah ramainya lalu lalang kendaraan yang melintas di jalanan kota, terdapat kisah yang luput dari perhatian. Bukan kisah tentang kemewahan atau kesuksesan seseorang, melainkan tentang perjuangan seseorang yang berjuang hidup di tengah segala keterbatasannya. Dari kisah sederhana inilah kita belajar bahwa semangat hidup tidak selalu ditentukan oleh apa yang dimiliki, tetapi oleh keberanian dan kepercayaan diri untuk terus melangkah dan keyakinan kepada Allah SWT.
Di suatu pagi yang cerah, di tepi jalan seberang sebuah SPBU, seorang pemuda dengan keterbatasan penglihatan menjajakan makanan ringan untuk mencari rezeki. Meskipun tidak dapat melihat, ia tidak pernah menjadikan kondisinya sebagai alasan untuk menyerah. Sebaliknya, ia bekerja dengan penuh semangat, sabar, dan tekun.
Ia meyakini bahwa setiap rezeki telah ditetapkan oleh Allah SWT. Tugas manusia hanyalah berusaha (berikhtiar) dengan sebaik mungkin, sedangkan hasil akhirnya kita diserahkan sepenuhnya kepada dzat tempat berserah diri. Dari raut wajahnya terpancar ketenangan dan rasa syukur yang begitu mendalam.
Pemandangan sederhana ini menjadi pengingat bahwa kebahagiaan tidak selalu ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melimpahnya harta dan kemewahan. Justru, tidak sedikit orang yang hidup dalam keterbatasan mampu menunjukkan rasa syukur yang lebih besar dibandingkan mereka yang hidup dengan berbagai kemudahan. Pemuda tersebut mengajarkan bahwa di balik setiap keadaan selalu terdapat nikmat yang layak disyukuri. Sebagaimana di bawah langit yang cerah selalu tersimpan harapan baru. Birunya cakrawala mengingatkan kita bahwa setelah badai berlalu, selalu ada keindahan yang menanti untuk disyukuri.
Dari kisah diatas mengajak kita merenungkan hakikat syukur. Syukur bukan sekadar mengucapkan Alhamdulillah, tetapi merupakan kesadaran bahwa setiap nikmat berasal dari Allah SWT. Kesadaran inilah yang melahirkan kerendahan hati, ketundukan kepada-Nya, serta dorongan untuk memanfaatkan setiap nikmat sesuai dengan kehendak dan keridhaan-Nya.
Dalam buku Psikologi Islam karya Ust. Hamdani Bakran Adz-Dzakiey dijelaskan bahwa syukur adalah ungkapan rasa terima kasih kepada Allah SWT atas seluruh anugerah yang diberikan, baik yang bersifat lahiriah maupun batiniah, yang tampak maupun yang tidak tampak. Nikmat tersebut meliputi kesehatan, kemampuan melihat, mendengar, mencium, mengecap, dan meraba. Selain itu, Allah SWT juga menganugerahkan nikmat berupa makanan, minuman, keluarga, ilmu pengetahuan, kecukupan rezeki, hingga berbagai karunia lain yang tidak mungkin dapat dihitung satu per satu.
Ironisnya, manusia sering kali baru menyadari betapa berharganya sebuah nikmat setelah nikmat itu berkurang atau bahkan hilang. Pemuda yang kehilangan penglihatannya justru mengingatkan kita untuk lebih menghargai nikmat melihat yang setiap hari kita gunakan tanpa pernah benar-benar memikirkannya. Begitu pula nikmat kesehatan, waktu, keluarga, kesempatan bekerja, dan kesempatan beribadah. Semua itu merupakan karunia Allah SWT yang sering dianggap biasa, padahal kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim: 7)
Ayat tersebut menegaskan bahwa syukur bukan hanya bentuk penghormatan kepada Allah SWT, tetapi juga menjadi sebab bertambahnya nikmat dan keberkahan hidup. Sebaliknya, mengingkari nikmat serta melupakan rasa syukur dapat menjadi penyebab hilangnya keberkahan, meskipun seseorang memiliki harta dan berbagai kemudahan.
Mensyukuri nikmat Allah SWT dapat diwujudkan melalui ucapan, perbuatan, dan sikap hidup. Dengan lisan, seorang hamba senantiasa memuji Allah SWT atas segala karunia-Nya. Dengan perbuatan, ia menggunakan setiap nikmat untuk melakukan kebaikan dan hal-hal yang diridhai-Nya. Dengan hati, ia menerima setiap ketetapan Allah SWT dengan penuh keikhlasan, kesabaran, dan prasangka baik (husnudzon). Ketiga bentuk syukur tersebut akan menghadirkan ketenangan jiwa, menumbuhkan kebahagiaan, serta mendekatkan seseorang kepada Allah SWT.
Rasa syukur juga dapat ditumbuhkan dengan membiasakan diri berpikir positif terhadap setiap peristiwa yang terjadi. Orang yang bersyukur tidak hanya terpaku pada apa yang belum dimilikinya, tetapi lebih banyak memandang berbagai nikmat yang telah Allah SWT anugerahkan. Dengan cara pandang seperti itu, seseorang akan lebih mudah menerima keadaan, menghargai setiap karunia, serta menjalani kehidupan dengan hati yang lapang dan penuh optimisme.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, No. 2999)
Kisah pemuda penjual makanan ringan tersebut menjadi bukti nyata bahwa rasa syukur tidak bergantung pada banyak atau sedikitnya nikmat yang dimiliki. Syukur lahir dari cara seseorang memandang setiap pemberian Allah SWT merupakan takdir terbaik yang diberikan kepada hamba-Nya. Maka ketika hati dipenuhi rasa syukur, keterbatasan tidak akan menghalangi seseorang untuk tetap berusaha, menaruh harapan, dan merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, tanpa rasa syukur, limpahan nikmat pun sering kali terasa tidak pernah cukup.
Dari kisah sederhana itu mengajak kita untuk berhenti sejenak dan merenungkan berbagai nikmat yang selama ini mungkin terlupakan. Mata yang dapat melihat, tubuh yang sehat, keluarga yang mendampingi, pekerjaan yang dijalani, kesempatan menuntut ilmu, hingga kemampuan menghirup udara setiap hari merupakan anugerah yang tidak ternilai harganya. Semakin kita menyadari besarnya nikmat tersebut, semakin tumbuh pula rasa syukur dalam hati, dan semakin dekat pula kita kepada Sang Pemberi Nikmat.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersyukur, mampu melihat nikmat di balik setiap keadaan, serta menjadikan setiap pekerjaan, profesi, dan aktivitas sebagai bentuk ibadah yang dilandasi keikhlasan, mahabbah, dan ihsan sesuai dengan syariat Allah SWT dan tuntunan Rasulullah SAW. Aamiin.



