Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 19 Juni 2026

Curhat di Media Sosial: Mencari Pengakuan atau Kehilangan Martabat?

Mira Aliza Rachmawati
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Pengantar

“Saya sedang sedih nih, gara-gara teman yang biasanya aku ajak main kesana kemari gak mau diajakin main lagi. Taunya kemarin dia habis ketemuan sama rivalku, jangan-jangan ia udah kena pelet rivalku yaa….Apa yang harus aku lakukan? padahal dia sohibku sejak duduk di bangku SMA dan kami sering banget bareng-bareng kesana kemari….hiks3…..”
Diatas adalah salah satu contoh cuplikan curhat seseorang yang didapatkan dari salah satu media sosial. Selain contoh diatas, masih banyak fenomena curhat yang didapatkan dari media sosial entah itu Instagram, X, threads, tiktok, status whatsapp dan sebagainya. Bahkan setiap kali scroll media sosial, tidak terhitung lagi curhatan itu masuk di beranda. 

Masalah yang dimunculkan di media sosial sangatlah beragam, dari masalah sepele hingga masalah kompleks, dari masalah sehari-hari hingga masalah besar, dari masalah pertemanan hingga percekcokan dalam keluarga baik dengan suami, mertua, orangtua maupun anak dan masalah-masalah lainnya. 

Ternyata media sosial bukan hanya tempat untuk berbagi berita bahagia namun juga berbagi kesedihan yang dibuat oleh pembuat akun. Media sosial bukan hanya sebagai tempat berbagi aktivitas maupun berbagi foto namun banyak orang yang menggunakan media sosial sebagai sarana untuk mencurahkan isi hati. Melihat fenomena tersebut, timbul suatu pertanyaan apakah benar apabila sedang menghadapi masalah kemudian diumbar ke ranah publik? Apa tujuan dari mengumbar masalah di publik? apakah agar mendapatkan dukungan? Atau sekedar mendapatkan simpati? atau agar mendapatkan rasa lega?. Kemudian muncul pertanyaan lagi apakah kira-kira ketika masalah yang diumbar di publik akan menghasilkan rasa lega pada dirinya? apakah akan sebanding dengan dampak yang akan didapatkan?

Mengapa Curhat di Media Sosial?

Manusia merupakan makhluk sosial dan dalam kehidupan sehari-hari ada keinginan pada diri manusia untuk dapat terhubung dengan orang lain. Dalam istilah ilmu psikologi disebut dengan self disclosure. Self disclosure merupakan kebutuhan dasar bagi manusia yang fungsinya adalah untuk mendapatkan validasi sosial, mendapatkan dukungan,  mencari empati, ingin mendapatkan solusi, maupun sekedar mendapatkan pembelaan dari orang lain. Curhat di media sosial juga sebagai salah satu bentuk self disclosure yang dilakukan oleh manusia, dikarenakan melalui media sosial orang akan lebih mudah mendapatkan respon yang sifatnya instan, mendapatkan empati dan simpati dari orang lain, mendapatkan like serta merasa tidak sendirian di dunianya. Memang pada saat manusia curhat ke media sosial maka respon yang akan didapatkan adalah secara instan, baik melalui komentar maupun like yang diberikan oleh netizen.  Namun demikian, apakah respon yang didapatkan dari media sosial akan mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi? melalui respon yang didapatkan melalui digital akankah mampu memberikan solusi dan penyelesaian masalah yang efektif atas masalah yang sedang dihadapinya?

Bagaimana Pandangan Islam mengenai Curhat di Media Sosial?

Setiap manusia tidak akan terlepas dari masalah dalam kehidupannya. Masalah yang ditemui oleh mahasiswa bisa berkaitan dengan kehidupan akademik, organisasi, pertemanan dan sebagainya. Bagi individu yang sudah berkeluarga, masalah yang dihadapi berkaitan dengan masalah tentang anak, hubungan suami istri, hubungan dengan orangtua maupun mertua dan sebagainya. Bahkan masalah paling sederhana pun juga akan selalu ditemui oleh setiap manusia. Oleh karena itu, setiap masalah yang dihadapinya manusia membutuhkan adanya solusi yang efektif untuk meringankan beban yang dihadapinya. 

Ada banyak cara yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan solusi atas masalah yang dihadapinya yaitu dengan mengeluh kepada orang lain maupun media sosial. 

Islam memandang bahwa ketika manusia sedang menghadapi permasalahan dan masalah tersebut diumbar ke ranah publik melalui media sosial akan sangat banyak bahaya yang didapatkannya, diantaranya adalah 

  1. Membuka aib diri sendiri, padahal ada kehormatan yang harus dijaga oleh dirinya. 
  2. Membuka aib orang lain, misalkan keluarga, pasangan, teman, orangtua, atasan, guru dan sebagainya, padahal seharusnya mereka memiliki hak atas nama baik yang dimilikinya. 
  3. Jejak digital sulit untuk dihapus karena sekali kita mengunggah informasi di media sosial maka akan tersimpan dan menghasilkan jejak digital yang akan mudah untuk ditelusuri, dan bahkan akan dengan mudah disebarluaskan ke orang lain yang tidak bertanggung jawab dan pada akhirnya menjadi konsumsi publik. 
  4. Memunculkan fitnah dan ghibah yang pada akhirnya membuat netizen berkomentar yang bisa jadi memunculkan fitnah dan provokasi akan unggahan yang disebarkan oleh kita. 

Banyak cara yang dapat dilakukan agar manusia tidak terpenjara dalam permasalahan, adapun yang dapat dilakukan adalah:

  1. Curhat kepada Allah 

Jelas sekali dalam Al Qur’an surat Yusuf ayat 86 yang berisi doa Nabi Yakub pada saat bersedih yang artinya “Dia (Ya‘qub) menjawab, “Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku. Aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui”.

Oleh karena itu Allah tempat mengadu yang paling utama pada saat kita sedang menghadapi kesusahan maupun kesedihan yaitu melalui doa yang kita panjatkan, sholat yang kita tegakkan, serta dzikir yang kita lafalkan secara rutin. Allahlah sebaik-baik pemberi solusi atas semua masalah yang dihadapi oleh manusia. 

  1. Curhat kepada orang yang amanah 

Curhat bisa dilakukan pada orang terdekat yang kita anggap paham dengan kondisi dan masalah yang dihadapi, diantaranya adalah dengan orangtua, pasangan maupun sahabat yang bijaksana, ustad, psikolog maupun konselor. Tidak ada salahnya apabila kita curhat kepada orang lain bukan berarti kita kurang iman, namun merupakan salah satu bentuk ikhtiar yang kita lakukan untuk mendapatkan solusi terbaik atas masalah yang sedang dihadapi. 

  1.  Apabila curhat dilakukan pada media sosial, alangkah lebih baik apabila dilakukan secara bijak, misalkan tidak membuka identitas diri, tidak mempermalukan diri sendiri, tidak memancing fitnah serta mengutamakan pembelajaran daripada sensasi. 

Namun demikian, yang perlu dipertimbangkan ketika curhat di media sosial adalah lakukan dengan bijak, setiap tulisan ada pertanggungjawabannya. Tanyakan pada diri sebelum mengunggah curhatan di media sosial, apakah tulisan yang saya buat akan menghasilkan banyak manfaat atau justru banyak kemudharatan yang didapatkannya?Apakah tulisan yang saya buat akan mendekatkan saya pada Allah atau justru akan membuat banyak penyesalan pada diri?


Tidak semua masalah wajib diketahui oleh banyak orang, masalah cukup disampaikan kepada Allah atau disampaikan kepada orang yang mampu menjaga amanah. Dengan harapan kita akan mendapatkan kemuliaan karena mampu menjaga kehormatan diri sendiri dan orang lain.