Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 1 Mei 2026

Hati anti ambyar dengan istighfar

Fenny Sri Rahayu
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Saat hati selalu diliputi keresahan karena urusan dunia, sakit hati karena cinta, ambisi mengejar jabatan, keinginan memperoleh pengakuan manusia, merasa tidak bergelimang harta hingga hilangnya rasa bahagia, serta lebih sibuk menuntut hak daripada melaksanakan kewajiban kepada Allah Swt. Bukankah semua itu menjadi tanda bahwa hati terlalu bergantung pada kehidupan dunia sehingga mudah kecewa ketika harapan tidak sesuai dengan kenyataan?

Pada masa kini, Fenomena tersebut sering diungkapkan dengan istilah hati ambyar. Istilah ini menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa hancur, rapuh, kehilangan semangat, atau sulit menemukan ketenangan akibat berbagai persoalan kehidupan.. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ambyar berarti hancur, bercerai-berai, atau tidak lagi utuh. Merasa ambyar sejenak untuk merenungi kesalahan bukanlah suatu masalah. Meskipun demikian, dalam perspektif Islam, hati yang rapuh bukanlah akhir dari perjalanan seorang hamba, melainkan isyarat untuk kembali memperbaiki hubungan dengan Allah Swt. 

Setiap kesulitan atau ujian yang datang pada kehidupan dunia merupakan bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, namun tidak semua hamba memandang ujian adalah bentuk kasih sayang dari Allah. Sering kali ketika ujian datang malah mempertanyakan “Mengapa Allah mengujiku jika Dia menyayangiku?” atau “Kenapa kasih sayang Allah bentuknya adalah ujian?” dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang membuat seorang hamba mempertanyakan kenapa hanya aku yang diuji atau kenapa ujian ini harus aku yang terima. 

Padahal, bukan hanya kesulitan yang menjadi ujian, sering kali nikmat yang datang pada hati yang lalai untuk ibadah adalah ujian, harta yang berlimpah tapi tidak digunakan untuk jalan kebaikan adalah ujian, kondisi kesehatan yang tidak disyukuri dan tidak dijaga pun juga merupakan ujian. Sayangnya, banyak yang keliru dan menyalahartikan bahwa setiap kenikmatan pasti merupakan kebaikan, sedangkan setiap ujian pasti merupakan keburukan. Padahal, keduanya sama-sama menjadi sarana untuk menguji keimanan seorang hamba.

Allah Swt berfirman dalam Q.S. Al-Ankabut: 2-3 yaitu,

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنۡ يُّتۡرَكُوۡۤا اَنۡ يَّقُوۡلُوۡۤا اٰمَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَـنُوۡنَ

 وَلَقَدۡ فَتَـنَّا الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِهِمۡ‌ فَلَيَـعۡلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيۡنَ صَدَقُوۡا وَلَيَعۡلَمَنَّ الۡكٰذِبِيۡنَ 

Artinya: 

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? “. “Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta”

Kedua ayat tersebut menunjukkan bahwa ujian merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan seorang mukmin. Keimanan bukan hanya diucapkan melalui lisan, tetapi juga dibuktikan melalui kesabaran, keteguhan, dan ketaatan ketika menghadapi berbagai keadaan. Dengan demikian, hadirnya ujian bukanlah tanda bahwa Allah membenci hamba-Nya, melainkan kesempatan untuk membuktikan kualitas iman sekaligus meningkatkan derajat di sisi-Nya. Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya besarnya pahala tergantung pada besarnya ujian. Apabila Allah mencintai suatu kaum, Dia akan menguji mereka. Siapa yang rida, maka baginya keridhaan Allah, dan siapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (At-Tirmiżī, No. 2396; Ibnu Mājah, No. 4031).

Hadits tersebut diatas menegaskan setiap ujian adalah bentuk kasih sayang Allah Swt, tapi dengan syarat kita harus ridha menerimanya. Selanjutnya, apakah akan semudah itu kita ridha dengan setiap ujian yang datang? Secara manusiawi bagi seorang hamba yang merasa hatinya ambyar sering kali menutup pintu-pintu kebaikan di dalam dirinya karena mudah berprasangka buruk sehingga sulit melihat sisi positif dari setiap kejadian dan merasa dunia tidak lagi berpihak kepadanya, bahkan merasa tidak ada seorang pun yang memahami dirinya. Padahal, semakin jauh seseorang dari Allah, semakin terasa sempit pula hatinya. Saat hati terasa ambyar karena harapan yang belum tercapai, keadaan yang tidak menentu atau berbagai ujian kehidupan maka sebaiknya semua hal tersebut dijadikan sebagai pengingat untuk kembali mendekat kepada Allah Swt. Alih-alih terus menyalahkan keadaan, bisa saja hati yang terasa sempit merupakan dampak dari dosa dan maksiat yang pernah dilakukan sehingga mengurangi kepekaan hati dalam merasakan nikmat serta kasih sayang Allah.

Besarnya kasih sayang Allah Swt memberikan harapan bahwa tidak ada satu pun ujian yang dibiarkan tanpa jalan keluar. Sebagaimana setiap penyakit memiliki obat, setiap kegelisahan hati pun memiliki penawar. Dalam Islam, salah satu amalan yang dianjurkan untuk memperoleh ketenangan hati adalah memperbanyak istighfar dalam setiap keadaan. Rasulullah Saw bersabda: “Barang siapa yang senantiasa beristighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kesedihan, kelapangan dari setiap kesempitan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” (Abū Dāwūd, No. 1518; Ibnu Mājah, No. 3819; Aḥmad, No. 2234). Selain itu, ada juga Hadits Rasulullah Saw yang menjelaskan bahwa “Apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka akan muncul noda hitam di dalam hatinya. Jika ia bertobat, meninggalkan dosa tersebut, dan beristighfar, niscaya hatinya akan kembali bersih.” (At-Tirmiżī, No. 3334; Ibnu Mājah, No. 4234).

Kedua hadits tersebut diatas menunjukkan bahwa setiap muslim yang senantiasa memperbanyak istighfar dengan penuh keyakinan kepada Allah Sang Maha Pengampun, maka apapun kesulitannya, kesedihan, kekecewaan, dan apapun ketidaknyamanan hati, pasti akan Allah Swt ganti dengan rezeki yang tidak disangka-sangka dan pastinya hati menjadi anti ambyar karena lebih tenang dan bersih dari dosa. Oleh karena itu, ketika hati mulai terasa ambyar, jangan biarkan ia semakin jauh dari Allah. Sebaliknya, jadikan setiap luka sebagai jalan untuk kembali mengingat-Nya, memohon ampun kepada-Nya, dan memperbaiki hubungan dengan-Nya. Sebab, ketenangan sejati tidak lahir dari hilangnya masalah, melainkan dari hadirnya Allah di dalam hati seorang hamba.

Mari sadari, jika menginginkan kemudahan dalam setiap urusan, beristighfarlah kepada Allah.

Jika menginginkan hati yang bersih, beristighfarlah kepada Allah.

Jika menginginkan kelapangan hati, beristighfarlah kepada Allah.

Dan jika menginginkan hati anti ambyar, beristighfarlah kepada Allah.

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ، وَأَتُوبُ إِلَيْهِ