Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026

Tanggal Terbit 28 April 2026

Mengecilkan masalah mempermudah jalan hidup

Dian Nurmalita
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Pernahkan kita merasa dunia tidak baik-baik saja hanya gara-gara chat tidak direspon, pasangan lupa bawa titipan, atau kerabat melontarkan candaan yang agak kebablasan?

Awalnya hal tersebut terlihat sebagai hal yang sepele, tetapi karena dipikirkan terus, digaung-gaungkan di kepala, akhirnya berubah menjadi prasangka buruk, emosi meledak, dan hubungan dengan sesama menjadi renggang.

Padahal drama kehidupan dalam hubungan kita dengan sesama terjadi bukan karena masalahnya yang besar, tetapi kita yang lupa untuk mengecilkan masalah.

Kenapa Masalah Sesama Manusia Harus Dikecilkan?

Manusia tempatnya salah dan lupa, jika kita menuntut orang lain untuk selalu sempurna dan sesuai dengan apa yang kita harapkan, siap-siaplah untuk kecewa.

Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang pemaaf dan tidak suka memperpanjang urusan sepele. Allah SWT berfirman:

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raf: 199)

Mengecilkan masalah kepada sesama bukan berarti kita selalu mengalah dan memendam ketidaknyamanan di hati secara terus menerus, tetapi sebagai bentuk kedewasaan diri dan iman agar silaturahmi kita terjaga dengan baik dihindarkan dari hati yang kotor dan benci yang berlebihan.

Lalu bagaimana cara kita untuk mengecilkan masalah dalam hubungan antar sesama?

Pertama, Kita Berpikir Husnudzon.

Tidak mudah memang untuk berprasangka baik kepada sesama yang menyakiti kita,  tetapi dalam QS. Al-Hujurat: 12 jelas Allah menyuruh kita untuk berhusnudzon karena, husnudzon merupakan benteng utama untuk menjaga hubungan baik antar sesama.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَب مَّعْضُكُم بَعْضًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain…” (QS. Al-Hujurat: 12)

Saat ada orang yang menyakiti kita, kita cari cara memakluminya misal dengan berpikir “Mungkin dia lagi capek,” “Mungkin dia punya masalah berat di rumah,” atau “Mungkin dia tidak sengaja.” Hati kita langsung jauh lebih tentram.

Kedua, Ingat Kebaikannya, Lupakan Kesalahannya

Saat ada orang yang membuat hati kita tidak nyaman, tarik nafas dalam-dalam lalu kita ingat kebaikan-kebaikan yang telah mereka lakukan kepada kita. Sangat tidak bijak jika kebaikan yang telah mereka lakukan terhapus seketika gara-gara satu kesalahan yang mungkin tidak sengaja dilakukan.

Ketiga, Pilih Kedamaian daripada “Menang-Menangan”

Sering kali  di tengah obrolan keluarga, kantor, atau lingkaran pertemanan, tiba-tiba terbesit pikiran:

“Kenapa sih cuma aku yang paham? Kenapa orang-orang tidak mengerti? Cuma aku yang kerja keras di sini, mereka mah santai-santai aja!”

Sadar atau tidak, kita semua pernah  terjebak dalam dua sindrom ini: merasa paling benar dan merasa paling capek.

Awalnya kelihatan biasa saja, tapi kalau dipelihara, dua perasaan ini seperti racun. Perlahan mereka merusak ketenangan hati, mengikis rasa empati, dan bikin hubungan dengan sesama manusia jadi makin renggang.

Oleh karena itu, kita harus menukar ego untuk menang menjadi empati dan kembalikan lelah kita kepada Allah SWT. Lelah itu wajar, tetapi jangan sampai lelah menjadikan kita haus akan pengakuan manusia. Cukup Allah SWT yang tahu seberapa keras kita berusaha dan ingat bahwa kesempurnaan dan kebenaran hanya milik Allah SWT.

Terakhir, Lapangkan Hati dan Mudahkan Urusan

Hidup sebagai manusia tentu tidak luput dari salah dan dosa. Dalam jalan menuju Surga-Nya tentu kita mengharap ampunan dan kasih sayang dari Allah SWT. Untuk itu mulailah kita memaafkan dan mengecilkan kesalahan orang lain kepada kita.

Bahkan dalam sebuah riwayat ketika sahabat Abu Bakar r.a. berniat menghentikan nafkah kepada kerabatnya (Mistah) yang telah menyebarkan fitnah tentang putrinya, Aisyah r.a. Allah menegur dan memberikan petunjuk yang sangat menyentuh:

وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: “Dan hendaklah mereka memaafkan dan lapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)

Allah SWT telah menyampaikan rumus kemudahan bagi kita. Jika kita ingin langkah hidup kita dipermudah oleh Allah SWT, diampuni dosa-dosa kita, dan dirahmati, maka mudahkanlah urusan orang lain dengan cara memaafkan dan berlapang dada.

Jadi, kalau esok ada hal kecil yang menggelitik hati kita untuk menjadi kesal, marah dan, jengkel, ingat selalu rumus di atas, lalu tarik nafas dalam, kemudian bisikan dalam hati, “ ah ini hanya masalah kecil, mungkin dia tidak sengaja melakukannya, hubungan kita jauh lebih berharga”.

Semoga Allah selalu memudahkan kita untuk melapangkan dada, menjaga tali silaturahmi, dan mengampuni kita.