Opini

Volume 2 Edisi 1 2026
Tanggal Terbit, 25 Juni 2026

Seni bertengkar sehat: Mengubah konflik menjadi koneksi dalam keluarga

Irwan Nuryana Kurniawan
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Islam Inodonesia

Pengantar 

Bayangkan sepasang suami istri muda di hiruk-pikuk Jakarta. Keduanya adalah pengacara hebat, mapan, dan tampak serasi dari luar. Namun, setelah seharian bergelut dengan macetnya jalanan dan tekanan pekerjaan yang menguras energi, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru berubah menjadi medan tempur. Hubungan mereka akhirnya kandas di meja hijau hanya karena masalah yang terdengar sepele: seekor kucing.

Si istri merasa kesepian karena suami sering dinas luar kota dan memutuskan mengadopsi kucing tanpa persetujuan penuh suaminya. Bagi si suami yang sudah lelah memikirkan target kantor, kucing itu hanyalah beban tambahan. Mereka terjebak dalam siklus pertengkaran yang sama: bukan lagi soal pakan kucing, tapi soal siapa yang lebih dominan dan siapa yang tidak dihargai. Puncaknya, kucing tersebut buang kotoran tepat di bawah meja kerja si suami. Keduanya bersikeras tidak mau membersihkannya sebagai bentuk “perlawanan” diam.

Kotoran itu mengering dan membatu, persis seperti hubungan mereka yang akhirnya retak. Pelajaran berharganya: bukan kucing yang membunuh cinta mereka, melainkan cara mereka bertengkar yang penuh duri. Di balik kotoran kucing itu, ada “Mimpi yang Tidak Terpenuhi”—si istri merindukan kehadiran keluarga yang hangat, sementara si suami mendambakan kebebasan dan rasa hormat atas kerja kerasnya. Karena gagal membicarakan mimpi tersebut, mereka hanya saling melempar granat kata-kata.

Kita mencintai pasangan kita dan ingin membangun masa depan bersama yang indah di Indonesia yang penuh nilai kekeluargaan yang guyub, dan kita sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk kebahagiaan bersama. Tetapi sering kali tekanan hidup dan perbedaan kecil berubah menjadi “bom” kata-kata yang membuat kita terjebak dalam emosi meluap (flooding) dan saling menyakiti.

Oleh karena itu, kita perlu belajar “Seni Bertengkar yang Benar” (Fight Right) agar setiap unek-unek dan konflik justru menjadi jalan tol menuju pemahaman yang lebih dalam dan koneksi yang adem ayem.

Miskonsepsi besar: “Keluarga bahagia itu tidak pernah berantem?”

Banyak dari kita tumbuh dengan mitos bahwa pertengkaran adalah tanda kegagalan. Riset Dr. Gottman justru menunjukkan fakta sebaliknya: 69% masalah dalam hubungan adalah “masalah abadi” (perpetual problems) yang berakar pada perbedaan kepribadian. Masalah ini tidak akan pernah hilang, tapi bisa dikelola.

Mitos Fakta
Pasangan bahagia tidak pernah ribut. Pasangan paling bahagia pun bertengkar; mereka hanya tahu cara “mendarat” dengan selamat.
Marah adalah tanda cinta sudah hilang. Marah adalah “emosi mendekat” (approach emotion) yang berarti kita masih peduli dan ingin memperbaiki keadaan.
Semua masalah harus ada solusinya sekarang juga. 69% masalah tidak ada solusinya secara permanen; kuncinya adalah dialog, bukan resolusi mutlak.
Konflik dipicu oleh masalah besar saja. Konflik sering kali adalah tentang “Mimpi yang Tersembunyi” (seperti kebutuhan akan rasa aman atau dihargai).

“Empat penunggang kuda”: Sistem peringatan dini

Sebelum kita masuk ke teknik, kita harus mengenali empat perilaku beracun yang disebut Gottman sebagai The Four Horsemen of the Apocalypse. Jika keempatnya sering muncul, hubungan kita berada dalam bahaya besar. Pertama, kritik (criticism). Menyerang karakter pasangan, bukan perilakunya (Contoh: “Kamu itu pemalas!”). Kedua, penghinaan (contempt). Inilah pembunuh hubungan nomor satu. Melibatkan ejekan, sarkasme, atau memutar bola mata. Ini adalah upaya untuk membuat pasangan merasa tidak berharga. Ketiga, sikap defensif (defensiveness). Memasang tameng dan menyerang balik (Contoh: “Bukan salahku, kamu sendiri yang mulai!”). Terakhir, stonewalling. Membangun tembok, diam seribu bahasa, dan memutus kontak total saat pasangan bicara.

Sains di balik pertengkaran: “Angka keramat 5:1”

Di Love Lab, peneliti menemukan konsep Magic Ratio. Untuk menjaga hubungan tetap awet, setiap 1 interaksi negatif saat bertengkar harus diimbangi oleh minimal 5 interaksi positif. Marah itu boleh—karena marah adalah tanda kita ingin mendekat (approach)—asalkan tidak dibarengi dengan penghinaan. Berikut adalah interaksi positif sederhana untuk meredam tensi di rumah tangga kita: Sentuhan ringan di bahu saat tensi mulai meninggi. Hal lain adalah mengangguk dan menatap mata untuk menunjukkan kita mendengarkan. Yang lainnya adalah memberikan senyum kecil atau humor ringan (bukan ejekan). Dapat juga dengan mengatakan, “Aku mengerti poinmu, meskipun kita berbeda pendapat”.

Tiga menit pertama yang menentukan nasib

Tahukah Anda bahwa cara kita memulai pembicaraan dalam 3 menit pertama menentukan 96% hasil akhir diskusi? Jika kita memulai dengan “Awalan Kasar” (Harsh Start-up), apalagi saat kita baru pulang kantor dalam kondisi lelah dan terkena macet, diskusi tersebut hampir pasti berakhir dengan luka.

Hindari kata-kata “selalu” dan “tidak pernah” karena itu adalah serangan langsung ke karakter pasangan. Ingat, di balik setiap keluhan yang kasar, biasanya ada Mimpi yang Tidak Terpenuhi. Saat kamu marah soal piring kotor, mungkin mimpi aslimu adalah ingin merasa didukung sebagai tim dalam mengurus rumah tangga.

Senjata rahasia: Rumus “softened start-up” (awalan lembut)

Untuk mengubah cara bicara kita, gunakanlah rumus “Awalan Lembut”. Fokuslah pada apa yang kita rasakan, bukan pada kesalahan pasangan.

“Aku merasa [Perasaan] + tentang [Situasi] + dan aku butuh [Kebutuhan Positif].”

Mari kita lihat perbandingannya dalam kasus rumah tangga di Indonesia:

Masalah Sebelum (Awalan Kasar) Sesudah (Awalan Lembut)
Masalah Mertua “Ibu kamu selalu ikut campur, kamu nggak pernah bela aku!” “Aku merasa tidak nyaman saat pola asuh kita dikritik di depan umum. Aku butuh kita kompak dalam hal ini.”
Uang Belanja “Kamu boros banget, tabungan kita habis buat hobi nggak jelas!” “Aku merasa cemas melihat pengeluaran bulan ini. Aku butuh kita duduk bareng untuk mengatur budget lagi.”
Pekerjaan Rumah “Kamu pemalas banget, semua harus aku yang kerjain!” “Aku merasa kelelahan setelah pulang kerja dan melihat rumah berantakan. Aku butuh bantuanmu beresin dapur malam ini.”

Mengenali “banjir emosi” (flooding) dan cara meredamnya

Saat jantung berdetak di atas 100 BPM, otak rasional kita “mati”. Kita masuk ke mode fight or flight. Jika ini terjadi, jangan lanjutkan bicara. Lakukan langkah ini: Pertama, minta istirahat (time-out). Katakan dengan sopan, “Aku merasa sangat emosional. Bisa kita istirahat 20 menit?”. Kedua, kepastian kembali. Berikan kepastian kapan akan lanjut bicara agar pasangan tidak merasa di-stonewalling. Terakhir, aturan emas istirahat. Selama 20 menit tersebut, DILARANG memikirkan argumen balasan atau mengingat kesalahan pasangan. Fokuslah sepenuhnya pada relaksasi: dengarkan musik, mengatur napas, atau jalan santai. Memikirkan kesalahan pasangan hanya akan membuat Anda kembali ke medan tempur dengan kondisi lebih panas.

Penutup

Sebagaimana pesan Gottman, jika orang tua bertengkar tanpa cara yang benar, maka “tidak akan ada mentari di dalam rumah.” Konflik bukanlah tanda akhir dari cinta, melainkan “jalan tol kerajaan” untuk saling mengenal lebih dalam. Di balik setiap kemarahan, ada kerinduan yang mendalam untuk dipahami.

Mari kita ubah setiap pertengkaran menjadi kesempatan untuk berkata, “Aku ingin memahami duniamu lebih baik lagi.” Bertengkarlah dengan kasih sayang, karena rumah yang indah bukanlah rumah tanpa badai, melainkan rumah yang tahu cara menemukan pelangi setelah badai berlalu. Karena di akhir hari, hubungan yang kuat dibangun bukan oleh mereka yang tidak pernah jatuh, tapi oleh mereka yang selalu tahu cara memperbaiki diri bersama.

Daftar Pustaka

Gottman, J.S., & Gottman, J.M. 2024. Fight right: How successful couples turn conflict into connection. LLC, New York: Harmony Books

Gottman, J.M., & DeClaire, J. 2001. The relationship cure: A 5 step guide to strengthening your marriage, family, and friendships. LLC, New York: Harmony Books

Gottman, J.M., Gottman, J.S., & DeClaire, J. 2006. Ten lessons to transform your marriage. LLC, New York: Harmony Books