Tag Archive for: Psikologi Islam

Prof Suleyman Derin Ungkap Dua Dimensi Psikologi

Mahasiswa menyimak pemaparan materi oleh Prof. Dr. Suleyman Derin dari Marmara University, Istanbul, Turki. Foto: Surya

 

 

Fakultas Psikologi UII mengkaji pemikiran Al-Ghazali bersama Prof. Suleyman Derin pada Jumat (22/5/2026). Kuliah tamu di Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo ini bertujuan memadukan sains dengan nilai Islam.

Kegiatan akademik ini merupakan wujud implementasi visi dan nilai keislaman di lingkungan fakultas. Pasalnya, kajian psikologi Islam terus dikembangkan agar mampu menjawab tantangan masyarakat modern.

Dalam paparannya, Profesor asal Marmara University ini menyoroti keterbatasan teori psikologi modern. Ia menilai pendekatan Barat kerap melupakan aspek fundamental manusia yang berupa jiwa.

Konsep Islam justru menawarkan keseimbangan hidup yang utuh antara dunia dan dimensi ketuhanan. Islamic psychology has two dimensions vertical as well as horizontal but modern psychology is only horizontal,” tegasnya.

Sementara itu, pimpinan fakultas sangat menyambut baik diskusi ilmiah yang mendalam ini. Mahasiswa diharapkan mengeksplorasi ilmu perilaku dengan tetap berpegang teguh pada spiritualitas.

Kendati demikian, disiplin keilmuan psikologi Islam tidak lantas mengabaikan pembuktian empiris. In Islamic psychology, the truth lies in your heart,” pungkas Prof Derin.(yp)

FP UII Sambut Kunjungan Sekolah Perdana MAS Husnul Khotimah

Siswa Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat berfoto bersama Pimpinan Fakultas Psikologi. Foto: Zeva (Marcom)

 

 

Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) menerima kunjungan sekolah perdana yaitu Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Husnul Khotimah Kuningan. Acara tersebut berlangsung pada Rabu (6/5/2026) di Auditorium Lantai 3 Gedung Dr. Soekiman Wirjosandjojo.

Kunjungan ini bertujuan mengenalkan program studi psikologi UII kepada para siswa sekolah tersebut. Pasalnya, pemahaman ilmu psikologi dinilai amat penting untuk mempelajari perilaku manusia sehari-hari.

Dekan Fakultas Psikologi UII, Dr. Uyun, menyambut kedatangan rombongan siswa beserta guru pendamping. Ia memaparkan keunggulan program studi UII yang selalu mengintegrasikan ilmu umum dan agama.

“Jadi psikologi yang berkembang selama ini di luar sana adalah psikologi barat,” ungkap Dr. Uyun. Ia menegaskan bahwa mahasiswa Fakultas Psikologi UII akan turut mempelajari ilmu psikologi Islam.

Sementara itu, Kepala MAS Husnul Khotimah, Ustaz Alfar, sangat mengapresiasi sambutan hangat fakultas. Ia menilai ilmu kejiwaan ini sangat relevan untuk dipelajari oleh siswa jurusan IPS.

“Kenapa tepat untuk belajar psikologi ya tadi karena banyak manfaatnya soal psikologi ini ya,” tuturnya. Manfaat tersebut mencakup perbaikan manajemen diri hingga penyelesaian berbagai permasalahan sosial masyarakat.

Kendati demikian, rangkaian agenda kunjungan tidak sekadar berpusat di dalam ruangan auditorium kampus. Para siswa turut diajak mengenal kekayaan sejarah yang ada di sekitar lingkungan universitas.

Di akhir acara, para siswa diajak berkeliling melihat langsung peninggalan Candi Kimpulan. Situs candi bersejarah tersebut terletak tepat di dalam area bangunan Perpustakaan UII.

Bahas Fudhulul Nadhar, PSPI UII Ingatkan Bahaya Kecanduan Visual

Pusat Studi Psikologi Islam (PSPI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kajian hadits bertajuk “Racun Hati: Terlalu Banyak Melihat” di Mushola Baitul Hadi, Gedung Soekiman Wirjosandjojo, Kamis (27/11/2025). Kegiatan yang dihadiri oleh dosen dan tenaga kependidikan ini menghadirkan Dr. Ahmad Rusdi, S.Psi., S.Sos.I., M.A., Si., yang mengupas tuntas bahaya Fudhulul Nadhar atau pandangan mata yang tidak terkendali bagi kesehatan spiritual manusia.

Ahmad Rusdi menyoroti relevansi pengendalian pandangan dalam konteks kehidupan modern yang lekat dengan gawai. Menurutnya, konsep menundukkan pandangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan aurat lawan jenis, tetapi juga pembatasan screen time yang berlebihan.

Istilah Fudhulul Nadhar menjadi sorotan utama karena sering kali dianggap remeh namun berdampak fatal. Perilaku menyibukkan diri dengan hal-hal mubah secara berlebihan (Al ishtighal bi al mubahat) ternyata mampu meracuni kejernihan hati.

“Apabila matanya rusak melihat hal-hal yang rusak dan jelek, maka jelek juga hatinya,” tegas Ahmad Rusdi saat menjelaskan korelasi antara mata dan hati. Ia menambahkan bahwa hati yang terkontaminasi visual negatif akan menjadi seperti tempat sampah dan sulit menerima marifatullah.

Pasalnya, seseorang yang terlalu sering mengumbar pandangan akan mengalami fase Al-istihsan atau termanipulasi oleh keindahan semu. Objek yang ditonton terus-menerus akan terinternalisasi ke dalam hati, menciptakan imajinasi yang melenakan, dan akhirnya memicu berbagai kerusakan batin.

Sebaliknya, kemampuan mengendalikan pandangan justru akan mendatangkan cahaya dan ketajaman intuisi bagi seorang mukmin. Hati yang terjaga dari visual yang tidak perlu akan lebih mudah menerima nasihat kebaikan dan memiliki firasat yang tajam dalam mengambil keputusan.

“Kendalikanlah pandanganmu dan kemaluanmu maka itu lebih baik bagimu,” pesan Ahmad Rusdi mengutip salah satu dalil sebagai solusi praktis. Pengendalian diri ini dinilai jauh lebih efektif untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual dibandingkan membiarkan mata liar tanpa batasan.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama untuk civitas akademika UII, termasuk mendoakan kesembuhan bagi yang sakit dan husnul khatimah bagi yang telah berpulang. Kajian ini diharapkan menjadi sarana perbaikan amal sekaligus pengingat agar bijak dalam berinteraksi dengan dunia visual. (yp)