Psikologi UII Bahas Kesehatan Mental Pemuda Lewat ISCIP 2026

Moderator Beserta Pemateri Seminar 6th ISCIP 2026. Foto: Zoom Meeting

 

Program Studi Psikologi UII menggelar seminar Internasional Student Conference on Islamic Psychology (ISCIP) ke-6 melalui media daring Zoom, Sabtu (18/07/2026) pagi. Agenda tahunan ini mengangkat tema kesejahteraan mental pemuda guna merespons tantangan tantangan era digital saat ini.

Dekan Fakultas Psikologi UII, Dr. Sus Budiharto, secara resmi membuka konferensi internasional yang dihadiri pakar mancanegara tersebut. Ia menyatakan bahwa jiwa manusia dirancang secara inheren untuk memiliki keteraturan, regulasi, dan juga harmoni.

Ketua Program Studi Psikologi UII, Hazhira Qudsyi, turut memberikan pesan motivasi bagi para peneliti muda. Ia menekankan bahwa konferensi ini merupakan wadah belajar yang sangat berharga bagi para mahasiswa.

Research is not about being perfect, it is about being willing to learn, receive feedback, and continue growing,” tegas Hazhira. Pasalnya, ide dan solusi riset mahasiswa sangat bermanfaat bagi individu, keluarga, sekolah, hingga komunitas luas.

Sementara itu, Dr. Arooj Arshad menyoroti tanggung jawab pengasuhan sebagai kunci utama menjaga kesehatan mental anak. “Instead of asking what’s wrong with our children let’s just ask how we fulfilled our responsibility,” tuturnya.

Dr. Ruhaya Hussin juga memaparkan integrasi nilai spiritual guna memperkuat resiliensi psikologis dalam menghadapi tantangan hidup. “When it comes to talidic framework of coping we have our ultimate support which is our creator,” pungkasnya.

Konferensi ini memfasilitasi puluhan mahasiswa internasional untuk mempresentasikan hasil riset orisinal mereka secara paralel. Kendati demikian, agenda utama tetap berfokus pada pengembangan riset psikologi yang berbasis pada nilai-nilai keislaman.

 

Dorong Perubahan Sosial, Mahasiswa Psikologi Gelar KREASI 2026

Konferensi Riset Mahasiswa Psikologi (KREASI) 2026 digelar secara daring melalui Zoom Meeting yang diikuti sekitar 859 peserta. Foto: Zoom Meeting

Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia menggelar Konferensi Riset Mahasiswa Psikologi (KREASI) 2026 pada Jumat (2/1/2026). Kegiatan daring ini memberdayakan pemuda lewat riset guna mendorong perubahan sosial masyarakat.

Acara ini merupakan bentuk kolaborasi antara UII dengan tiga universitas mitra lainnya. Mitra tersebut mencakup UHAMKA Jakarta, Universitas Mulawarman, serta Universitas Islam Riau.

Empat pakar psikologi hadir sebagai narasumber utama untuk membagikan ilmu mereka. Mereka adalah Abu Bakar Fahmi, Dr. Hairani Lubis, Bahril Hidayat, dan Sonny Andrianto.

Sementara itu, Thobagus Mohammad Nu’man memandu jalannya sesi seminar sebagai moderator. Panitia juga melibatkan mahasiswa aktif sebagai petugas acara demi kelancaran kegiatan.

MC acara menyampaikan sambutan hangat kepada para tamu undangan di awal sesi. “Kami ucapkan selamat datang kepada seluruh narasumber seminar nasional pada pagi hari ini,” tuturnya.

Para peserta mempresentasikan hasil penelitian melalui unggahan video di kanal YouTube. Sistem tanya jawab dilakukan secara asinkron guna menjaga interaksi antar peneliti muda.

Panitia menyiapkan berbagai kategori penghargaan untuk mengapresiasi karya riset terbaik mahasiswa. Kategori tersebut meliputi Best Presenter, Best Paper, hingga Favorite Presentation bagi peserta.

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas riset mahasiswa di tingkat nasional. Pasalnya, pemikiran kritis mahasiswa sangat dibutuhkan untuk memecahkan masalah sosial saat ini.

Penyelenggaraan KREASI 2026 mencerminkan komitmen UII dalam mengembangkan ilmu pengetahuan bermanfaat. Kendati demikian, seluruh proses tetap mengedepankan integritas akademik dan nilai kemanusiaan.

Talkshow Fakultas Psikologi UII: Mengupas Mental Health Dewasa Awal

(Kiri) Dr.rer.nat. Dian Sari Utami, S.Psi., M.A. Selaku Moderator duduk bersama Abdul (Tengah) Azeez E P, PhD sebagai pemateri pertama dan (Kanan) Wanadya Ayu Krishna Dewi, S.Psi., M.A. Pemateri kedua. foto: Dok. Panitia

Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar wicara daring membahas kesehatan mental, Sabtu (13/12/2025). Forum ini menyoroti dinamika kesejahteraan psikologis pada fase dewasa awal dalam perspektif lintas budaya.

Dua akademisi lintas negara hadir sebagai pembicara kunci untuk mengupas isu krusial tersebut. Mereka adalah Abdul Azeez E P, PhD dari Vellore Institute of Technology dan Wanadya Ayu Krishna Dewi, S.Psi., M.A. selaku Dosen Fakultas Psikologi UII.

Abdul Azeez E P, PhD dalam paparannya menyoroti bahwa emerging adulthood merupakan periode perkembangan yang unik sekaligus kritis. “Culturally constructed- not universal,” tegas Azeez merujuk pada lintasan fase kedewasaan dalam materinya.

Pasalnya, setiap individu menghadapi ekspektasi sosial dan pola hubungan orang tua yang berbeda-beda. Hal ini secara langsung mempengaruhi pembentukan identitas serta resiliensi mental seseorang saat beranjak dewasa.

Azeez lantas memaparkan definisi kesejahteraan sebagai sebuah konstruksi multidimensi yang mencakup pertumbuhan personal manusia. “Environmental mastery, and positive relations with others,” tambahnya mengutip materi presentasi yang ditampilkan.

Sementara itu, diskusi juga menyentuh berbagai faktor risiko yang kerap menghantui generasi muda saat ini. Ketidakstabilan hidup dan kurangnya dukungan sosial disebut sebagai pemicu utama munculnya kecemasan.

Kendati demikian, fase transisi ini tetap menawarkan peluang besar bagi individu untuk memperbaiki lintasan hidupnya. Kuncinya terletak pada pengembangan growth mindset dan kemampuan regulasi emosi yang mumpuni.

Peserta diajak memahami bahwa status kesehatan subjektif dan gaya hidup sehat adalah prediktor positif kesejahteraan. “All link to stronger mindset,” jelas Azeez mengenai korelasi antara kesehatan fisik dan mental.

Kegiatan ini berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari partisipan yang memadati ruang virtual Zoom. Acara ini menjadi wujud komitmen UII dalam memberikan edukasi psikologi yang relevan bagi masyarakat.

Diharapkan, wawasan lintas budaya ini dapat membantu peserta merefleksikan diri demi pertumbuhan mental yang positif. Diskusi ini sekaligus menutup rangkaian agenda akademik akhir tahun di lingkungan Fakultas Psikologi UII. (yp)

Dosen Psikologi UII Bedah Isu Mental dan Hukum

Para peserta sangat antusias dan fokus dalam menyimak pemaparan para dosen pemateri. foto: Najwa Defiandra S (JJ)

Fakultas Psikologi Universitas Islam Indonesia (UII) sukses menggelar Seminar Diseminasi Karya Dosen. Acara akademik ini bertempat di Auditorium Dr. Soekiman Wirjosandjojo Lantai 3, Jumat (5/12/2025).

Tiga dosen pakar hadir membedah isu krusial mulai dari kesehatan mental remaja hingga psikologi forensik. Diskusi mendalam ini menyoroti peran vital keluarga dan ahli profesi dalam menyelesaikan masalah sosial.

Read more

IICIP 2024 Sukses Digelar Secara Virtual, Mengangkat Tema “Faith & Compassion As The Basis of Resilience”

Sejak 14 Agustus hingga 20 Agustus 2024, Prodi Psikologi menyelenggarakan The 6th International Intensive Course In Islamic Psychology (IICIP) 2024 bertema “Faith & Compassion As The Basis of Resilience”. Acara yang digelar secara daring melalui Zoom Meeting ini menghadirkan para pakar dan peneliti terkemuka dari berbagai negara untuk membahas pentingnya psikologi Islam dalam menghadapi tantangan masa kini.

Rangkaian diskusi yang berlangsung sepanjang seminggu ini menawarkan pemikiran menarik tentang relevansi psikologi Islam dalam konteks kehidupan kontemporer. Beberapa topik utama yang diangkat antara lain:

  • Opening Lecture: The Relevance of Islamic Psychology for the Current Condition of The Ummah (Prof. Suleyman Derin, Marmara University, Turkiye)

  • Islamic World View: Its Urgency for Islamic Psychology (Prof. Abdelaziz Berghout, International Islamic University Malaysia (IIUM))

  • Understanding the Human Faculties to Become a More Resilient Human Being (Prof. Zuleyha Keskin, Charles Sturt University, Australia)

  • From Integration to Application of Islam and Science (Prof. Ilya Fajar Mahardika, UII)

  • Human in Islamic Psychology Perspective (Dr. Agus Abdul Rahman, UIN Sunan Gunung Djati, Bandung)

  • Resilience and Compassion in Islamic Psychology (Prof. Subandi, Universitas Gadjah Mada (UGM)

  • Measurement of Islamic Psychological Constructs (R. Sumedi P. Nugraha, MA., M,Sc., M.Ed., Ph.D & Dr. Ahmad Rusdi, S.Psi., S.Sos.I., M.A.Si Dosen Psikologi UII)

  • Shabr in Time of Calamity (Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psikolog Dosen Psikologi UII)

  • Building Children’s Compassion in School (Assoc. Prof Masturah Badzis, Ph.D. , International Islamic University Malaysia (IIUM)

  • Family with Special Children: The Role & Impact of Patience & Resilience. (Dr. Ahmad Hidayat & Dr. Lisfarika Napitulu, Universitas Islam Riau (UIR)

  • Religion in Workplace “(Dr.rer.soc.oec. Jaya Addin Linando, UII)

IICIP 2024 diharapkan mampu memberikan kontribusi positif dalam mengembangkan pemahaman dan aplikasi psikologi Islam untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dan berakhlak mulia. Acara ini didukung oleh Prodi Psikologi UII, International Institute of Islamic Thought, International Association of Muslim Psychologists dan IIUCP Forum.

 

 

Lulusan FPSB UII Dibekali Strategi Hadapi Persaingan Dunia Kerja Modern

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) menyelenggarakan acara pelepasan alumni dan seminar karir bertajuk “Strategi Menghadapi Persaingan Dunia Kerja Modern” pada Selasa, (21/05/2024)  di Auditorium Lantai 3 gedung FPSB UII. 

Dalam sambutannya, Dekan FPSB UII, Dr.Phil. Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si., berpesan kepada para wisudawan untuk menjadi insan Ulil Albab yang mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan umat. Beliau juga menekankan pentingnya adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan fokus pada pengembangan potensi diri.

“Mengenali potensi diri, fokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan, serta tetap rendah hati dan bersyukur dalam setiap keadaan merupakan kunci meraih kesuksesan di era modern ini,” tutur beliau.

Sesi seminar karir menghadirkan Agus Dzuriana Putra, S.Hub.Int., seorang alumni Hubungan Internasional UII yang sukses merintis lembaga kursus Bahasa Inggris. Agus membagikan pengalaman dan strateginya dalam membangun karir dari nol, termasuk bagaimana ia memanfaatkan teknologi untuk mencapai kesuksesan.

“[Merintis karir] harus dimulai dengan mengenali minat dan bakat, lalu menggabungkannya menjadi sebuah profesi yang potensial,” ujar Agus. “Jangan terjebak dalam siklus mencari pengalaman kerja, tapi fokuslah untuk membangun portofolio dan menunjukkan karya nyata.”

Agus juga menekankan pentingnya membangun jejaring melalui platform digital. “Aktif di media sosial, menghadiri seminar dan acara, serta bergabung dengan komunitas adalah beberapa cara efektif untuk memperluas koneksi dan peluang,” tambahnya.

Menariknya, Agus juga membagikan pengalamannya memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) dalam menyelesaikan pekerjaan administratif. Menurutnya, AI dapat membantu meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja.

“Namun, jangan lupa untuk terus mengembangkan soft skill karena hal itu tetap menjadi pembeda utama antara manusia dan AI,” pungkas Agus.

Acara ditutup dengan sesi tanya jawab dan permainan tebak gambar yang interaktif. Para alumni tampak antusias mengikuti seminar ini dan mendapatkan banyak insight berharga untuk menghadapi persaingan dunia kerja modern.

Kebebasan Berekspresi di Era Digital: Mitos atau Realitas? Komnas HAM dan UII Gelar Diskusi Panel

Kebebasan berpendapat dan berekspresi, hak fundamental yang dijamin konstitusi, diuji di era digital. Apakah internet benar-benar membebaskan atau justru menjadi alat baru untuk membungkam suara kritis? Pertanyaan ini menjadi fokus diskusi panel yang digelar oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia (Komnas HAM RI) dan Universitas Islam Indonesia (UII) pada Rabu, (04/10/2024).

Galileo Galilei hingga UU ITE: Refleksi Kebebasan Berekspresi

Dalam pidato kuncinya, Ketua Komnas HAM RI, Atnike Nova Sigiro, menyinggung kasus Galileo Galilei yang dihukum karena teorinya dianggap menentang dogma. “Tanpa kebebasan berekspresi, tujuan mulia kemanusiaan sulit dicapai,” tegas Atnike. Dia juga menyoroti banyaknya pengaduan terkait pelanggaran kebebasan berekspresi, terutama yang berkaitan dengan UU ITE.

Panelis: Mengawal Kebebasan di Tengah “Musim Dingin” Demokrasi

Lima panelis dari berbagai latar belakang memaparkan perspektif mereka tentang dinamika kebebasan berekspresi di Indonesia. Herlambang P. Wiratraman (KIKA & UGM) secara daring menyoroti tekanan terhadap kebebasan akademik, baik dari internal maupun eksternal kampus. Abdul Haris Semendawai (Wakil Ketua Komnas HAM RI) mengajak masyarakat sipil untuk aktif mengadvokasi kebijakan yang membatasi kebebasan.

Fatia Maulidianti (FIDH & KontraS) mengingatkan tentang civic shrinking space dan berbagai bentuk pembungkaman, termasuk melalui UU Ormas dan stigma “antek asing”. Suparman Marzuki (UII) menekankan korelasi antara kebebasan dan kualitas manusia serta bangsa. Masduki (UII & Forum Cik Ditiro) menyajikan data yang menunjukkan bahwa internet bukanlah ruang yang sepenuhnya bebas dan Indonesia hanya dikategorikan sebagai partly free oleh Freedom House. Dia juga menyoroti fenomena kekerasan digital terhadap jurnalis dan aktivis.

Sesi Tanya Jawab: Mahasiswa UII Pertanyakan Peran Komnas HAM dan Masa Depan Demokrasi

Mahasiswa UII aktif menyuarakan pertanyaan kritis, mulai dari respon Komnas HAM terhadap serangan di media sosial, kasus Prabowo Subianto dan aksi Kamisan, hingga strategi merawat demokrasi di tengah tantangan. Panelis memberikan jawaban yang lugas dan inspiratif, mengajak mahasiswa untuk tetap kritis dan berani bersuara.

“Berpendapat dan Berekspresilah!” – Seruan untuk Melawan Pembungkaman

Diskusi panel ini ditutup dengan seruan inspiratif dari para panelis. “Berpendapat dan berekspresilah, tidak ada cara lain!” tegas Suparman Marzuki. “Mari kita tetap berada di luar rumah, bersuara dan berekspresi untuk melawan otoritarianisme,” seru Masduki. Fatia Maulidianti menambahkan, “Jika kita takut, kita berkontribusi pada pembungkaman.”

Diskusi panel ini menjadi pengingat penting bahwa kebebasan berpendapat dan berekspresi, meskipun dijamin konstitusi, tetap rentan terhadap pelanggaran. Peran aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk mahasiswa dan akademisi, sangat dibutuhkan untuk mengawal dan merawat demokrasi di era digital.

 

FPSB UII Tuan Rumah CRCEP 2017

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sos ial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menjadi tuan rumah penyelenggaraan ‘Cross Cultural Research Collaboration Exchange Program atau disingkat dengan CRCEP’ pada bulan Oktober 2017 ini atau tepatnya tanggal 9-11 Oktober 2017. Untuk perguruan tinggi peserta CRCEP tahun ini adalah UII, Ubaya, Zhejiang University dan HIST University. Read more

Dosen dan Mahasiswa FPSB Ikuti Aktivitas CRCEP di China

Implementasi kerjasama antara Universitas Islam Indonesia (UII) yang diwakili oleh Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB), bersama Universitas Surabaya (Ubaya), Zhejiang University (China) dan Zhokou Normal University (China) dalam bidang kolaborasi riset atau Cross-cultural Research, Collaboration, and Exchange Program (CRCEP), terus dilakukan. Setelah pada bulan Agustus 2016 lalu aktivitas kolaborasi riset dilakukan di Indonesia (Ubaya dan UII), pada bulan Desember 2016 ini atau tepatnya tanggal 3-9 Desember 2016 aktivitas dilakukan di China (Zhejiang dan Zhokou Normal University) yang diikuti oleh 15 orang dari UII (dosen dan mahasiswa), 15 orang dari Ubaya (dosen dan mahasiswa), dan sekitar 25 dari China (dosen dan mahasiswa).

“Selain mencakup aktivitas kolaborasi penelitian antara peneliti di masing-masing universitas, kegiatan CRCEP ini juga terdiri atas aktivitas konferensi internasional dan ekskursi budaya. Tidak hanya difokuskan pada kuliah pakar dan diskusi riset”, ungkap Hazhira Qudsyi, S. Psi.,MA., salah dosen Prodi Psikologi FPSB UII yang ikut ke China.

Secara lebih detil Hazhira Qudsyi mengatakan bahwa kegiatan CRCEP diawali dengan mengikuti ekskursi budaya di  Wu Zhen, West Lake, dan Hefang pada 4 Desember 2016. Baru kemudian pada 6 Desember 2016 acara ceremony yang dihadiri oleh beberapa tenaga pengajar, pimpinan Zhejiang University of Techonology, dan mahasiswa Master dan Ph.D internasional (selain tentunya mahasiswa Zhejiang yang terlibat dalam penelitian kolaborasi) dibuka secara resmi oleh Prof. Ma Jianhong yang kemudian dilanjutkan dengan kuliah pakar bersama salah satu dosen muda Zhejiang University,  Hui Chen, Ph.D yang baru menyelesaikan studinya dari Amerika. Topik yang disampaikan  berjudul “Seeing is Not Remembering”, yang secara umum memaparkan hasil-hasil penelitiannya dalam kajian Psikologi Kognitif, khususnya eksperimen dalam hal ingatan manusia.

“Sesi kuliah pakar ini disajikan dengan cukup menarik, mengingat metode yang digunakan juga relative baru bagi peserta. Peserta juga cukup antusias mengikuti kuliah pakar ini yang ditunjukkan dengan cukup banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada pembicara. Setelah itu rombongan diajak berkunjung ke Tongde Hospital of Zhejiang Province, yakni rumah sakit khusus layanan kejiwaan yang bertempat di Provinsi Zhejiang.  Dalam kunjungan ini, peserta diajak untuk melakukan observasi dan wawancara di 2 bangsal, yakni di bangsal pasien Schizophrenia dan di bangsal pasien Alzheimer”, tambah Hazhira Qudsyi.

Tanggal 7 Desember aktivitas bergeser ke Zhokou Normal University, dimana opening ceremony dilakukan langsung oleh President of the Zhokou Normal University. Disini kegiatan berlanjut dengan seminar yang diisi dengan presentasi materi oleh beberapa pembicara (keynote speech), seperti Dr.rer.nat. Arief Fahmi (dari FPSB UII) dengan materi berjudul “Forgiveness in Organization” yang membicarakan tentang peran dan pentingnya dari pemaafan dalam situasi organsisasi, Ananta Yudhiarso, M.Sc (dari Ubaya) dengan materi “A cross cultural study on panic attack” dengan kajiannya yang banyak mengupas tentang kondisi panik yang umum dialami oleh individu pada situasi-situasi tertentu, Prof. Ma Jianhong (dari Zhejiang University) dengan materi berjudul “Emotion Arousal moderates the impact of social norm on prosocial behavior” yang secara umum membahas tentang situasi-situasi seperti apakah yang akan membuat individu dapat melakukan perilaku prososial dan bagaiman kondisi emosi yang menyertainya serta Prof. Wei Junfeng (dari Zhokou Normal University) yang menyampaikan materi berjudul “Relationship between social support and life satisfaction in left-behind children: Multiple mediation effects of hope and coping style”. Materi ini membahas tentang  keterkaitan antara dukungan sosial dan kepuasan hidup pada anak-anak terlantar, yang dimediasi oleh perasaan harapan dan gaya coping dari anak tersebut.

Diskusi panel menjadi agenda selanjutnya. “ Dalam diskusi panel ini, peserta saling berdiskusi dengan rekan peneliti dari tim China tentang perkembangan penelitian kolaborasi yang sudah dilakukan. Diskusi ini dimaksudkan juga untuk mempersiapkan peserta untuk presentasi hasil penelitiannya pada keesokan harinya”, imbuh Hazhira Qudsyi.

Tanggal 8 Desember, kegiatan diawali dengan pembukaan konferensi internasional oleh Dekan School of Education Science, Xueling Tian. Konferensi diselenggarakan dalam 2 sesi utama dengan mempresentasikan sebanyak 23 naskah hasil penelitian.

Tanggal 9 Desember, peserta melanjutkan aktivitas ekskursi budaya dengan mengunjungi Shaolin Temple sebelum akhirnya rombongan UII bertolak menuju stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Fudan University, Shanghai. Setibanya di Fudan University, rombongan diterima oleh Prof. John X. Zhang, dari Department of Psychology, School of Social Development and Public Policy.

Masih menurut Hazhira bahwa kunjungan ke Fudan University tersebut tidak termasuk dalam rangkaian kegiatan CRCEP, namun merupakan aktivitas tambahan yang dilakukan oleh rombongan UII (kunjungan edukatif). Dalam kunjungan edukatif tersebut rombongan mengikuti sesi kuliah pakar bersama Prof. Zhang yang menyampaikan tentang penerapan metode PAD classroom, dimana metode banyak digunakan di Amerika. Oleh Prof. Zhang, metode tersebut coba diadaptasi di China. Dalam paparannya, Prof. Zhang menyampaikan hasil penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan metode PAD classroom tersebut di China.

Selain itu, rombongan juga sempat berdiskusi banyak dengan Prof.Zhang tentang kemungkinan-kemungkinan kerjasama antar institusi. Tidak hanya itu, pembicaraan juga membahas tentang kemungkinan kolaborasi penelitian antara Prof. Zhang dengan Psikologi UII.

Mendekati kepulangannya ke Tanah Air, rombongan berkesempatan menghadiri pertemuan dan makan siang bersama Konsulat Jenderal Indonesia di Shanghai. Rombongan UII diterima dengan sangat baik di Restoran Bumbu, restoran Indonesia di Shanghai. Dalam sesi tersebut, pembicaraan lebih banyak kepada tujuan rombongan datang ke China, kegiatana pa saja yang dilakukan selama di China, dan pembahasan tentang kemungkinan kerjasama antara UII dengan Konjen Indonesia-Shanghai.

“Harapan saya secara pribadi, bahwa kegiatan ini dapat terus dilakukan pada tahun-tahun berikutnya. Lebih lagi jika perguruan tinggi yang terlibat di dalamnya bertambah lebih banyak, sehingga peluang untuk menjalin kolaborasi penelitian dan kerjasama antar peguruan tinggi menjadi lebih banyak. Adapun masukan yang bisa saya berikan berkaitan dengan kegiatan ini adalah konferensi internasional yang diselenggarakan dapat menghasilkan publikasi yang terindeks, minimal publikasi yang ber-ISBN, kegiatan kolaborasi penelitian yang dilakukan harus pro-aktif diantara anggota CRCEP, dan kegiatan kunjungan edukatif perlu diperbanyak, terutama kunjungan yang berkaitan dengan sistem pembelajaran, fasilitas pembelajaran, dan lain-lain, karena hal tersebut dapat menjadi media untuk belajar”, pungkas hazhira Qudsyi.

Rombongan bertolak kembali ke Tanah Air pada 12 Desember 2016.