Fakultas Psikologi UII Hadiri Seminar Maskulinitas Rifka Annisa

Momen diskusi mendalam pada Seminar Hybrid “Beyond ‘Be Strong’: Maskulinitas dan Kesehatan Mental Laki-laki” yang diselenggarakan oleh Rifka Annisa Women’s Crisis Center. (Kiri) Indiah Wahyu Andari, Psi pemateri ketiga, (Tengah) Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M. (HR), Ph.D pemateri kedua, dan (Kanan) Arka Nareswari, S.Psi., M.A. selaku Moderator sekaligus konselor Rifka Annisaa WCC. (Foto: Yopa/UPKH)
Perwakilan Fakultas Psikologi UII menghadiri seminar hibrida guna membahas kesehatan mental laki-laki pada Jumat(04/09/2026). Acara gagasan Rifka Annisa ini terselenggara melalui wadah telekonferensi Zoom dan tatap muka langsung. Kegiatan luring tersebut bertempat di Kantor Rifka Annisa Women’s Crisis Center (WCC), Daerah Istimewa Yogyakarta.
Seminar ini merupakan rangkaian pra-konferensi menuju perhelatan internasional yang akan digelar Februari 2027 mendatang. Kegiatan ini bertujuan membedah norma kerentanan maskulinitas untuk mencegah kekerasan berbasis gender secara terstruktur.
Pemateri pertama yang membahas materi Laki-laki, Maskulinitas, dan Kesehatan Mental, Aditya Putra Kurniawan, MSH.Couns, menyoroti keengganan pria dalam mencari dukungan ahli saat menghadapi tekanan psikologis. “Laki-laki itu sangat sedikit yang kemudian ketika punya masalah dia berusaha mencari dukungan psikologis,” tegas Dosen Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) tersebut.
Pasalnya, masyarakat kerap menuntut kaum adam menjadi sosok tangguh yang dilarang menunjukkan sisi emosional. Hambatan kultural tersebut membatasi akses pria untuk mendapatkan pemulihan kesehatan mental laki-laki secara tepat waktu.
Akibatnya, banyak laki-laki mengalami fenomena penundaan perawatan atau treatment delay yang memperburuk kondisi kejiwaannya. Penolakan atas kerentanan diri justru membuat akumulasi masalah mental menjadi jauh lebih berisiko dan kronis.
Sementara itu, pemateri kedua yang membahas materi Maskulinitas dan Kekerasan Berbasis Gender, Direktur/Ketua Pusat Kajian Law, Gender and Society sekaligus Dosen Departemen Hukum Pidana Fakultas Hukum (FH) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M.(HR)., Ph.D., menjelaskan bahwa tuntutan maskulinitas turut memicu perilaku agresif. Ia menyebut, laki-laki kerap merasa berhak menormalisasi tindak kekerasan terhadap kelompok yang dianggap memiliki posisi lebih rendah.
Kendati demikian, Sri Wiyanti menegaskan tidak seluruh kaum pria selalu menjadi pelaku tindak kekerasan. “Padahal ada tujuh puluh lima persen laki-laki lain yang belum tentu melakukan kekerasan,” paparnya.
Namun, nilai hegemonik telah diinternalisasi sejak usia dini melalui pembagian peran secara kaku. Pemahaman keliru ini perlahan melegitimasi anggapan bahwa kekuasaan absolut merupakan hak mutlak seorang pria.
Oleh karena itu, masyarakat perlu segera mempromosikan nilai positif sebagai alternatif pencegahan kekerasan struktural. “Kita harus juga mulai mengubah cara pandang si laki-laki sendiri,” tegas perempuan disapa Iyi.
Di sisi lain, Direktur Rifka Annisaa Women’s Crisis Center yang juga alumni Psikologi UII Yogyakarta, Indiah Wahyu Andari, Psi menjelaskan, individu yang terus-menerus menekan emosi biasanya akan melampiaskan amarah tersebut kepada pasangan hidupnya sebagai dampak dari beban maskulinitas pada sebuah hubungan asmara.
Indiah mengingatkan bahwa trauma masa kecil tidak boleh dijadikan tameng pembenaran atas tindak kekerasan. “Memahami luka seseorang tidak berarti membenarkan tindakannya,” tegasnya.
Lebih lanjut, upaya mencapai keadilan gender mutlak membutuhkan keterlibatan aktif dari para laki-laki. Mereka harus dilatih untuk mengelola konflik tanpa kekerasan demi mewujudkan relasi asmara yang sehat.
Keberhasilan transformasi perilaku ini akan selalu diukur melalui evaluasi kesejahteraan partner atau pasangannya. “Jadi berempatinya itu tetap disertai dengan akuntabilitas mengakui dampak perilaku,” pesan Indiah terkait proses perubahan.
Selain itu, sinergi lintas institusi pendidikan seperti Fakultas Psikologi UII memiliki andil penting dalam edukasi publik. Penyebaran wawasan setara gender ini selaras dengan nilai keislaman untuk menghadirkan manfaat secara luas.
Kegiatan seminar hybrid ini turut menyinggung persoalan minimnya fasilitas layanan konseling yang ramah pria. Akses infrastruktur pendukung yang memadai amat dibutuhkan untuk menyelamatkan kesehatan mental laki-laki masa kini.
Semua elemen bangsa dituntut bekerja sama menurunkan stigma buruk terkait upaya pencarian bantuan psikologis. Kesadaran kolektif ini dipercaya mampu memutus mata rantai penderitaan mental yang dialami banyak individu.
Setiap manusia memiliki hak prerogatif untuk menyuarakan kerentanan jiwanya tanpa harus merasa dihakimi lingkungan. Langkah sederhana ini merupakan fondasi awal guna membentuk peradaban bermasyarakat yang jauh lebih aman.
Jika Anda butuh teman untuk bercerita, jangan ragu untuk segera membagikan beban tersebut. Mencari pertolongan profesional bukanlah simbol kelemahan, melainkan bentuk keberanian tertinggi dalam merawat akal sehat.
Rifka Annisaa WCC mengajak semua gender, terutama para wanita, untuk berani bersuara melawan segala bentuk kekerasan. Bungkamnya para korban hanya akan melanggengkan dominasi oknum yang memanfaatkan celah ketidaksetaraan relasi kuasa.
Jangan biarkan rasa takut membelenggu hak Anda untuk mendapatkan keadilan dan perlindungan hukum. Hubungi segera lembaga penyedia layanan psikologis tepercaya jika Anda ingin melaporkan kasus kekerasan.























