Ilmiah
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 20 Mei 2026
Gen Z dan Krisis Empati
Mira Aliza Rachmawati
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Pengantar
Siswa baru sudah mulai kembali lagi masuk sekolah. Ada yang baru masuk di bangku TK, ada juga yang baru masuk di bangku SD, SMP maupun SMA. Sekolah memberikan pengenalan kepada semua siswa melalui orientasi awal yang disebut dengan MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Pemerintah melalui aturan Permendikdasmen nomor 12 tahun 2026 membuat aturan mengenai kegiatan MPLS di sekolah. Adapun tujuan diselenggarakan kegiatan MPLS adalah membentuk karakter siswa serta memperkenalkan aspek penting bagi siswa baru diantaranya adalah berkaitan dengan minat dan bakat, kurikulum, lingkungan sekolah (sarana dan prasarana sekolah), serta perkenalan guru dan tenaga kependidikan. Harapannya melalui kegiatan MPLS dapat menjadi pijakan dasar bagi sekolah untuk menciptakan sekolah yang aman, nyaman dan bebas dari kekerasan serta tindakan perundungan dan siswa baru merasa diterima di lingkungan sekolah dan bebas dari diskriminasi. Kegiatan ini biasanya berlangsung selama lima hari atau minggu awal ketika siswa mulai masuk tahun ajaran baru.
Idealnya kegiatan MPLS ini dapat membekas pada siswa dan berdampak pada terbentuknya karakter positif pada siswa baik di sekolah regular maupun inklusi. Diperkuat dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kunaenih dan Nadiah (2020) pada 10 sekolah di Jakarta yang diperoleh hasil sebesar 43% MPLS berpengaruh terhadap perundungan apabila kegiatan MPLS tersebut dikelola dengan baik. Akan tetapi data di lapangan masih ditemukan perilaku perundungan, cyberbullying, kekerasan di sekolah, perilaku diskriminatif pada siswa di sekolah inklusi masih banyak bermunculan di berita online maupun media sosial. Berdasarkan data yang ada (https://data.goodstats.id/statistic/kasus-kekerasan-di-satuan-pendidikan-indonesia-2020-2025-6J8Dl) menunjukkan adanya peningkatan yang cukup tajam perilaku perundungan di sekolah dari tahun ke tahun. Salah satu kasus terbaru adalah perundungan yang terjadi pada salah satu siswa SD di sebuah daerah, dampaknya adalah korban perundungan mengalami penurunan pendengaran karena sering mendapatkan bentakan atau suara keras dari pelaku. Perilaku perundungan tidak hanya terjadi pada anak normal, namun juga terjadi pada anak berkebutuhan khusus di sekolah inklusi. Fenomena perundungan pada salah satu siswa di SMP Negeri di kota Depok terjadi pada siswa berkebutuhan khusus. Dampak dari perilaku perundungan menyebabkan trauma yang mendalam pada siswa tersebut. Siswa itu mengalami cedera fisik dan trauma secara psikologis sehingga membuat siswa itu tidak mau melanjutkan sekolah. Dari sekian fenomena yang terjadi di dunia pendidikan muncul sebuah pertanyaan besar yaitu bagaimana siswa yang notabene paling terkoneksi dengan internet maupun media sosial namun justru mengalami kesulitan dalam memahami perasaan orang lain?Ternyata kemajuan teknologi tidak selalu diimbangi dengan perkembangan sosial dan emosional yang memadai.
Mengapa Gen Z Rentan dengan Krisis Empati?
Siapakah gen Z itu?berbagai tokoh memberikan pengkategorisasian rentang tahun usia yang berbeda. Berdasarkan dari berbagai sumber setidaknya anak yang terlahir di tahun 1997-2012 termasuk generasi Z. Notabene anak generasi Z saat ini sedang duduk di bangku SMP hingga Perguruan Tinggi serta ada yang sudah memasuki dunia kerja. Oleh karena itu apabila dilihat dari teori perkembangan, generasi Z termasuk dalam kategori remaja hingga dewasa awal. Akan tetapi fokus pada tulisan ini adalah generasi Z yang masih dalam kategori remaja. Apabila ditilik berdasarkan teori psikologi perkembangan, usia remaja memiliki ciri masih berada pada tahap pencarian identitas, sensitif terhadap penerimaan teman sebaya, emosi yang cenderung masih labil serta perkembangan fungsi eksekutif yang masih belum matang. Generasi Z dengan perkembangan sebagaimana yang telah dijelaskan diatas yang tumbuh dengan kemudahan akses internet, media sosial dan banyak berinteraksi dengan layar akibatnya mereka lebih banyak berinteraksi melalui dunia maya dan cenderung minim untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Berdasarkan pengamatan yang ditemukan di lapangan, banyak remaja generasi Z berinteraksi dengan temannya melalui gawai dan mereka lebih banyak menghabiskan waktunya untuk scroll media sosial jika dibandingkan dengan interaksi secara langsung dengan lingkungannya. Hal ini menjadi sebuah kewajaran dikarenakan mereka hidup dalam dunia dimana teknologi berkembang dengan pesat. Namun demikian, kondisi ini berdampak pada rendahnya empati yang dimiliki oleh generasi Z. Padahal, perkembangan empati tumbuh melalui interaksi secara langsung bersama dengan lingkungannya bukan melalui dunia maya. Empati juga tumbuh melalui pengalaman langsung yang didapatkan bersama dengan lingkungan sekitarnya. Disamping itu, empati tumbuh melalui kemampuannya dalam mengambil perspektif taking orang lain. Namun ironisnya, generasi Z yang terkenal dengan istilah PoV (Point of View) di media sosial, belum mampu melakukan perspektif taking yang mendalam. Video yang ditampilkan di media sosial melalui PoV hanya fokus untuk “melihat” dari sebuah sudut pandang tertentu namun belum mampu “menempatkan diri atau membayangkan” pikiran, perasaan maupun perilaku orang lain yang berada dalam situasi tersebut dalam sudut pandang yang berbeda. Ketika interaksi lebih banyak dilakukan di dunia maya akibatnya adalah generasi Z kurang mampu melihat bahasa tubuh, ekspresi wajah serta emosi dari lawan bicara secara langsung. Padahal kemampuan ini sangat dibutuhkan untuk dapat menumbuhkan empati dalam dirinya. Sering terpaparnya generasi Z dengan dunia maya maka berdampak semakin banyak generasi Z yang memiliki kemampuan empati yang rendah.
Dampak Krisis Empati di Dunia Pendidikan serta Peran Sekolah dan Guru dalam Menumbuhkan Empati Siswa
Sekolah bukan hanya tempat untuk pengembangan kemampuan akademik namun juga sebagai sarana pembentukan karakter, sarana untuk berkolaborasi, pengembangan kemampuan sosial serta sarana pengendalian emosi bagi siswa. Namun demikian, sekolah juga tempat terjadinya kekerasan fisik, verbal maupun sosial serta perundungan yang terjadi pada siswa. Disinilah krisis empati itu muncul yang nampak dari perilaku pengucilan, kurangnya kemampuan dalam bekerja sama dengan teman karena memiliki kondisi yang berbeda dengan dirinya, kurangnya toleransi terhadap perbedaan fisik, sosial maupun budaya, perundungan yang terjadi di dunia maya, dan sebagainya. Selain keluarga, sekolah juga memiliki peranan yang signifikan dalam membentuk kemampuan empati pada siswa. Oleh karena itu, perlu kiranya sekolah memberikan contoh positif untuk menumbuhkan perilaku empati pada siswa. Berdasarkan pendekatan sosial kognitif dari Bandura, salah satu cara untuk menumbuhkan empati adalah melalui pemberian contoh serta role model positif serta penguatan positif yang dapat dilihat oleh siswa di sekolah. Apabila sekolah kurang mampu memberikan contoh positif bagi siswa maka kemampuan empati kurang dapat berkembang dengan maksimal. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wahirdi dan Khairuman (2024) dimana model role playing dapat meningkatkan kemampuan empati pada siswa SDN 007. Guru juga memiliki peranan yang signifikan dalam pembentukan empati pada siswa. Guru dengan sikap positif dan memiliki empati yang baik kepada orang lain, maka siswa akan mengikuti yang dilakukan oleh guru. Guru sebagai model sekaligus fasilitator bagi siswa dan ketika hubungan antara guru dan siswa positif ternyata meningkatkan kemampuan empati pada siswa. Hal ini dikuatkan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Wang, dkk (2026), bahwa empati kognitif berkorelasi positif dengan hubungan guru dan siswa yang positif. Diperkuat juga oleh hasil penelitian yang dilakukan oleh Xiang, dkk (2022) bahwa hubungan guru-siswa yang positif memprediksi empati pada siswa perempuan. Penelitian ini juga menghasilkan bahwa kecerdasan emosional siswa dapat menjadi cara yang efektif untuk meningkatkan empati pada siswa. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hubungan guru-siswa yang positif dapat meningkatkan kemampuan empati pada siswa sekolah.
Daftar Pustaka
Kunaenih & Nadiah. (2020). Hubungan MPLS dalam mengurangi kasus bullying di sekolah wilayah Jakarta Timur provinsi DKI Jakarta. KORDINAT Vol. XIX No.1 Tahun 2020 ISSN 1411-6154 | EISSN 2654-8038.
Wahirdi & Khairuman. (2024). Penerapan model role playing dalam menumbuhkan sikap empati siswa SDN 007 PKL. Gondai. EduSpirit : Jurnal Pendidikan Kolaboratif – Vol. 1 No. 1 (Mei 2024) pp, 144-149. https://10.0.223.167/eduspirit.v1i1.17
Wang, X., Kong, Q., & Ouyang, M. (2026). Teacher-Student relationships, empathy, and prosocial behaviors: Examining between- and within-person relationship. J. Youth Adolescence 55, 624–640 (2026). https://doi.org/10.1007/s10964-025-02236-2.
Xiang,D., Qin, G & Zheng, X (2022) The influence of student teacher relationship on school-age children’s empathy: The mediating role of emotional intelligence, psychology research and behavior management, , 2735-2744. https://doi.org: 10.2147/ PRBM.S380689.



