Opini
Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 27 Juli 2026
Sakit hati jangan dibawa mati
Thobagus Mohammad Nu’man
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Ketersinggungan merupakan keniscayaan dalam kehidupan sosial. Keterlibatan dalam interaksi sosial memungkinkan kita untuk terlibat dalam konflik. Penelitian psikologi menunjukkan bahwa interaksi sosial bagaikan mata uang, di satu sisi menyediakan sumber daya sosial, di sisi yang lain dapat menjadi sumber perselisihan. Tidak jarang perselisihan antar personal menyebabkan perasaan sakit hati pada orang-orang yang terlibat.
“Sampai kapanpun aku tidak akan memaafkanmu….”, “sakit hati ini akan ku bawa sampai mati…” ungkapan-ungkapan yang senada seringkali kita dengar dari mulut seseorang saat mereka merasa tersakiti ataupun tersinggung oleh perkataan ataupun perbuatan orang lain. Bukan hal yang jarang kita temui, anak yang merasa tersinggung dengan perkataan orang tua, seorang istri yang merasa dikhianati oleh pasangannya, antar saudara yang bermusuhan. Pengalaman-pengalaman yang menyakiti tersebut seringkali terbawa dalam waktu yang tak terbatas. Ada orang yang masih menangis saat mengingat peristiwa yang menyinggung perasaannya 20 tahun yang lalu. Ada orang yang belum bisa memaafkan saudaranya meskipun sang saudara sudah meninggal dunia. Ada seorang suami atau istri yang masih belum bisa berdamai dengan pasangannya meskipun sudah membangun rumah tangga baru. Mengapa luka yang telah lama terjadi masih terasa hidup meskipun kita sudah melewati beberapa fase kehidupan?
Istilah sakit hati merupakan istilah yang umum dipakai dalam masyarakat Indonesia untuk menggambarkan berbagai pengalaman emosional akibat konflik interpersonal. Menurut KBBI, sakit hati didefinisikan sebagai merasa tidak senang (dendam, benci, dan sebagainya) karena dihina (dilukai hatinya). Dalam literatur psikologi belum ada padanan kata yang memiliki makna sama persis dengan istilah sakit hati yang sering kita dengar. Sakit hati lebih merujuk pada berbagai pengalaman emosional dampak dari konflik interpersonal yang bersifat luas, sedangkan dalam literatur psikologi seringkali memiliki definisi operasional yang lebih spesifik. Secara psikologis, sakit hati dapat dijelaskan dengan beberapa konsep psikologis yang saling berkaitan diantaranya social pain dan hurt feelings, ruminasi, dan dendam (resentment).
Sakit hati seringkali diawali dari pepristiwa interpersonal transgression, seperti penolakan, pengkhianatan, penghinaan, pengabaian atau perlakuan tidak adil. Peristiwa-peristiwa tersebut tidak jarang akan menimbulkan konflik antar individu bahkan berlangsung berkepanjangan. Konflik tersebut dapat mengancam kebutuhan dasar manusia akan rasa memiliki satu dengan yang lain (need to belong) (Baumeister & Leary, 1995). Saat kita mengalami konflik interpersonal tidak jarang akan menimbulkan perasaan hurt feelings, perasaan ini muncul sebagai tafsir atas tindakan orang lain sebagai bentuk dari relational devaluation, yaitu penurunan nilai dirinya di mata orang lain (MacDonald & Leary, 2005). Relational devaluation terjadi karena individu merasa dirinya sudah tidak lagi dihargai, dicintai, diterima, atau dianggap penting dalam sebuah hubungan. Keadaan emosi seperti malu, memalukan, cemburu, dan rasa bersalah dapat juga dikatakan sebagai indikasi bahwa seseorang hidup tidak sesuai dengan standar yang dihargai orang lain. Kondisi emosi tersebut juga dinilai sebagai bentuk dari social pain.
Ancaman terhadap nilai diri dalam relasi sosial (hurt feelings) menyebabkan seseorang mengalami penderitaan akibat terganggunya pengalaman sosial yang bermakna, yaitu social pain, rasa sakit sosial yang mengacu pada reaksi emosional tertentu terhadap persepsi bahwa seseorang dikeluarkan dari hubungan yang diinginkan atau didevaluasi oleh pasangan atau kelompok yang diinginkan (MacDonald & Leary, 2005). Social pain dapat berakar dari penolakan, kematian dari orang yang dicintai, atau perpisahan yang dipaksakan. Rasa sakit yang ditimbulkan oleh interpersonal trangression, tidak hanya rasa sakit hati dalam makna konotatif namun juga berkaitan dengan makna sakit sesungguhnya secara fisik. Studi yang dilakukan oleh Eisenberger, dkk (2003) bahwa sakit hati seringkali tumpeng tindih dengan rasa nyeri fisik. Otak yang memproses rasa sakit sosial menggunakan sistem saraf yang sama dengan nyeri fisik, khususnya pada bagian Anterior Cingulate Cortex (ACC). Sakit hati yang disimpan tidak hanya berpotensi mengancam pada kondisi psikologis seseorang namun juga bisa menimbulkan rasa sakit fisik. Rasa sakit tersebut menjukkan adanya fungsi evolusioner sebagai peringatan dini, bahwa rasa sakit sosial mestinya sebagai penanda agar individu memperbaiki hubungan sosialnya. Bukan malah memelihara rasa sakit itu yang selanjutnya mengancam kesejahteraan psikologis maupun kesehatan fisik seseorang.
Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan perasaan sakit hati seringkali kembali terbayang setiap dihadapkan pada peristiwa sejenis atau kondisi yang memicu seseorang mengingat pengalaman tersebut. Dalam psikologi dikenal dengan istilah ruminasi, yaitu mengacu pada kecenderungan memikirkan kembali pengalaman negatif secara berulang tanpa menghasilkan penyelesaian yang adaptif. Individu terus mengulang peristiwa yang sama, mempertanyakan alasan kejadian tersebut, membayangkan berbagai kemungkinan alternatif, atau menghidupkan kembali emosi yang pernah dirasakan. Saat seseorang selalu mengingat peristiwa yang menyakitkan, maka akan sulit untuk memaafkan peristiwa tersebut. Rasa sakit yang dirasakan tidak lagi bersifat obyektif namun lebih pada representasi mental yang diciptakan dari sebuah peristiwa. Ruminasi membuat seseorang lebih sulit untuk mengatasi rasa sakit hati, luka yang dirasakan selalu terasa segar dalam ingatan. Energi mental akan semakin menipis saat kita selalu mengingat peristiwa yang menyakitkan karena kita terlalu fokus pada konflik masa lalu. Ruminasi akan mendorong lahirnya perasaan dendam (resentment).
Dendam dapat dipandang sebagai respon normatif saat seseorang menghadapi serangan interpersonal. Namun dendam sebagai sebuah perasaan yang bertahan lama, merusak dan menyakitkan dipandang berbahaya bagi kesejahteraan fisik dan mental seseorang (Krause & Hayward, 2015). Dendam lahir dari ketidakmampuan kita untuk mengatasi pelanggaran interpersonal dengan baik, sehingga menimbulkan luka emosional yang berkepanjangan. Kondisi ini sering kali memicu respon diam, penarikan diri (detachment), agresi, atau apati (Almeida & Cunha, 2023). Dampak dari dendam bisa berkaitan dengan fisik diantaranya, peningkatan detak jantung, tekanan darah, dan sistem kekebalan tubuh. Selain itu juga berdampak pada kesejahteraan psikologis semisal menetapnya emosi negatif (munculnya rasa sedih, marah, kecewa hingga rasa dikhianati), meningkatkan resiko depresi, kecemasan dan phobia serta rusaknya hubungan sosial dan kecenderungan agresi. Islam mengajarkan kepada kita untuk dijauhkan dari rasa dendam terhadap orang yang beriman, sebagaimana termaktub dalam QS. Al-hasyr:10.
وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا
Dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami kedengkian terhadap orang-orang yang beriman (QS. 59:10).
Selain itu, Allah menggambarkan dalam al-qur’an bahwa orang-orang bertakwa saat di Surga akan dicabut perasaan dendamnya saat di dunia, sehingga mereka akan merasakan perasaan bahagia dan gembira sebagai sahabat dan saudara.
وَنَزَعْنَا مَا فِيْ صُدُوْرِهِمْ مِّنْ غِلٍّ اِخْوَانًا عَلٰى سُرُرٍ مُّتَقٰبِلِيْنَ
Kami mencabut segala rasa dendam yang ada dalam hati mereka. Mereka bersaudara (dan) duduk berhadap-hadapan di atas dipan. (QS.15:47).
Menghilangkan rasa dendam akan menciptakan perasaan bahagia dan juga memperbaiki hubungan kita sebagai sebagai sesama manusia, yang oleh Allah digambarkan perasaan bahagia sebagai saudara dan sahabat.
Bagaimana kita mengobati rasa sakit hati kita? Pemaafan merupakan satu konsep yang seringkali dikaitkan dengan upaya untuk mengurangi rasa sakit hati. Perasaan sakit hati yang ditimbulkan oleh adanya relational devaluation dan selanjutnya menumbuhkan rasa dendam berkepanjangan dapat dikurangi dengan menumbukan rasa maaf. Pemaafan dapat berfungsi sebagai transformasi emosional yang mengubah emosi negatif seperti denadan dan marah menjadi rasa kasih sayang, mengasihani, atau empati. Pemaafan tidak hanya mengubah reaksi emosi negatif, namun juga memfasilitasi pengurangan ruminasi (siklus pikiran berulang yang menyakitkan). Dengan pemaafan individu dapat melepaskan beban emosional yang merusak dan memberi makna baru atas pengalaman pahit di masa lalu serta meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis.
DAFTAR PUSTAKA
Almeida, B., Cunha, C. Time, Resentment, and Forgiveness: Impact on the Well-Being of Older Adults. Trends in Psychol. 33, 1189–1208 (2025). https://doi.org/10.1007/s43076-023-00343-2.
Eisenberger, N. I., Lieberman, M. D., & Williams, K. D. (2003). Does rejection hurt? An fMRI study of social exclusion. Science, 302, 290 –292.
Krause, N., & Hayward, R. D. (2015). Aging, forgiveness, and health. In L. L. Toussaint, E. L. Worthington, & D. R. Williams (Eds.), Forgiveness and health (pp. 205–220). Springer. https:// doi. org/ 10.1007/ 978- 94- 017- 9993-5_ 14
Macdonald G, & Leary MR. (2005). Why does social exclusion hurt? The relationship between social and physical pain. Psychol Bull., 131(2), 202-23. doi: 10.1037/0033-2909.131.2.202. PMID: 15740417.
Baumeister, R. F., & Leary, M. R. (1995). The need to belong: Desire for interpersonal attachments as a fundamental human motivation. Psychological Bulletin, 117, 497–529.


