Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 24 Juni 2026

Allah selalu dekat, sudahkan kita mendekat?

Sonny Andrianto
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah [2]: 186)

Kehidupan masing-masing muslim berbeda dalam banyak hal. Ada yang tumbuh di lingkungan religius, ada yang baru belajar mengenal Islam ketika dewasa, bahkan ada yang hingga kini belum menemukan jati dirinya sebagai seorang muslim. Ada yang mendalami Islam melalui pendidikan formal, ada yang belajar sedikit demi sedikit dari pengajian, buku, atau pengalaman hidup. Ada yang tekun beribadah sejak usia dini, ada pula yang pernah jauh dari Allah sebelum akhirnya menemukan jalan kembali. Perbedaan ini adalah kenyataan yang tidak dapat disangkal. 

Namun, di balik semua perbedaan tersebut, ada satu kesamaan yang dimiliki hampir setiap muslim, apapun latar belakangnya, tingkat pengetahuannya, maupun perjalanan hidupnya. Ada fitrah yang menyatukan kita sebagai seorang muslim, yakni keyakinan bahwa hanya Allah tempat bergantung. Setiap manusia memiliki kebutuhan mendasar untuk memiliki tempat bergantung, yang dalam Islam fitrah tersebut hanya tertuju pada Allah. Ketika semua pintu terasa tertutup, hanya kepada-Nya hati berharap. Ketika kebahagiaan dunia terasa tidak lagi cukup, hanya mengingat Allah yang mampu menenangkan jiwa. Allah berfirman, “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28)

Manusia bukan hanya hanya membutuhkan kebahagiaan, namun juga ketenangan batin. QS. Ar-Ra’d [13]: 28 mengisyaratkan bahwa hidup tidak akan selalu mudah. Ketenteraman tidak selalu berasal dari keadaan, tetapi dari kedekatan dengan Allah. Kegelisahan hati bukan karena keterbatasan materi, namun karena keberjarakan dengan Allah. Hati yang terhubung dengan Allah lah yang lebih mampu menjawab persoalan hidup. 

Keragaman Menjadikan Keberkahan

Layaknya pengalaman hidup yang berbeda-beda, masing-masing manusia pun memiliki cara yang berbeda untuk dekat dengan Allah. Seseorang yang pernah kehilangan orang yang sangat dicintai mungkin menemukan Allah melalui kesabaran. Orang lain yang pernah merasakan kegagalan berkali-kali mungkin mengenal Allah melalui tawakal. Ada pula yang menemukan kedekatan dengan Allah justru ketika diberi nikmat yang berlimpah, lalu belajar bersyukur.

Dalam psikologi sosial, manusia dipahami sebagai individu yang berkembang melalui pengalaman hidup, lingkungan, relasi sosial, dan proses belajar. Dua orang yang sama-sama beriman dapat memiliki pengalaman spiritual yang berbeda karena mereka menjalani perjalanan hidup yang berbeda pula. Perbedaan pengalaman melahirkan perbedaan jalan. Islam memberikan ruang yang luas bagi keberagaman amal kebaikan. Rasulullah pernah menjelaskan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini menunjukkan bahwa yang terpenting bukan hanya banyaknya amal, tetapi kesinambungan dan keikhlasannya. Sebagai seorang muslim, kedekatan dengan Allah secara default terjalin dalam ibadah wajib sholat 5 waktu. Rutinitas ibadah wajib ini “pilar” yang menjaga hidup manusia tetap berada di jalan yang lurus. In syā’ Allāh.

Sebagian muslim yang lain menemukan kehangatan hubungan dengan Allah melalui ibadah sunnah. Qiyām al-lail ketika semua orang masih lelap dalam tidurnya, membaca Al-Qur’an beberapa halaman dalam hari-harinya, berdzikir dan sholat ḍuḥā di sela kesibukan, berpuasa sunnah, bersedekah dengan sembunyi-sembunyi, dan beragam lainnya. Amalan-amalan kecil dan sederhana yang mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi justru menjadi ruang dialog paling pribadi antara seorang hamba dengan Rabb-nya serta berat timbangan pahalanya.

Ada pula yang merasa lebih dekat kepada Allah ketika melayani sesama. Mengajarkan anak-anak mengaji, mengajar di kelas, melayani keperluan orang lain, merawat orang tua, menghibur sahabat yang sedang berduka, atau mengabdikan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat. Mereka memahami bahwa mencintai makhluk karena Allah juga merupakan bagian dari mencintai Sang Pencipta. Ada pula orang-orang yang pertama kali mengenal Allah melalui perantara orang lain. Karena melihat kesabaran seorang ibu, kejujuran seorang guru, ketulusan seorang sahabat, atau kebijaksanaan & akhlak terpuji seorang pemimpin. 

Islam memberikan ruang yang leluasan bagi setiap muslim untuk beramal saleh. Namun, jangan sampai disalahartikan bahwa setiap cara dapat dibenarkan. Jalan untuk dekat pada Allah haruslah tetap berada pada tuntunan Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah. Keragaman hanyalah pada gerbang masuk menuju terbukanya pintu hati pada diri setiap muslim, sedangkan tujuan dan prinsip dasarnya tentunya hanya Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah.

Refleksi Kehidupan

Manusia sering kali lebih disibukkan membandingkan dirinya dengan orang lain daripada memahami dirinya sendiri. Walaupun tidak dapat dipungkiri, perbandingan sosial (social comparison) memang merupakan kecenderungan alami manusia. Dalam kadar tertentu, membandingkan dengan orang lain dapat memotivasi diri. Namun jika tidak dikelola, membandingkan dengan orang lain justru dapat mengaburkan tujuan utama seorang muslim, yaitu mencari ridha Allah, bukan mengejar pengakuan manusia. Islam menegaskan bahwa untuk urusan dunia, seorang muslim hendaknya melihat pada saudara-saudaranya yang kurang beruntung, sehingga akan menghadirkan rasa bersyukur. Sedangkan untuk urusan ibadah, hendaknya seorang muslim mencontoh dan berlomba-lomba dengan saudaranya yang lebih sholeh, hingga menghadirkan motivasi dan perilaku menjadi orang yang dicintai Allah. 

Allah tidak meminta setiap hamba memiliki perjalanan yang sama. Yang Allah lihat bukan sekadar bentuk amal, melainkan iman, niat, ketakwaan, dan kesungguhan hati. Karena itu, pertanyaan yang lebih penting adalah: “Dalam kehidupanku saat ini, jalan apa yang paling membuatku semakin dekat kepada Allah?” Sebagai seorang muslim yang juga seorang pembelajar, kita tidak perlu menemukan jalan terindah. Seorang muslim memerlukan satu jalan untuk selalu ingat dan kembali pada Allah. Selanjutnya, menjaga ke-istiqomah-an hingga akhir kehidupan. In syā Allāh.