Opini

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 16 Juli 2026

Manajemen tidur agar prestasi belajar anak optimal

Fuad Nashori
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Manajemen Durasi Tidur

Terlalu banyak tidur dan terlalu sedikit tidur sama tak baiknya. Yang baik adalah tidur yang cukup dengan catatan untuk remaja butuh waktu sekitar 8 jam. Saya termasuk yang tidak setuju dengan pandangan sementara agar manusia, terutama remaja, mempersedikit tidur. Tidur harus cukup. Untuk remaja masih ditoleransi tidur 7 jam per hari. Kalau pun harus dilakukan pemotongan waktu tidur itu, sesungguhnya masih ada kompensasi dengan tidur di siang hari. 

Bagaimana dengan Rasulullah SAW yang setiap hari bangun di akhir malam? Kemungkinan Rasulullah SAW bangun sekitar pukul 02.00 atau pukul 03.00 pagi. Seperti kita ketahui, dalam suatu riwayat yang disampaikan oleh istri Rasulullah SAW bernama Aisyah Ra, Rasulullah SAW tidak begadang sehabis salat isya. Saya perkirakan Rasulullah SAW tidur sekitar pukul 20.00 atau pukul 21.00 malam. Kalau Rasulullah SAW bangun pukul 02.00 pagi, itu artinya Rasulullah SAW sudah tidur sekitar 6 jam. Orang dewasa seperti Rasulullah SAW cukup tidur 6 jam.

Dalam konteks khusus, ada anjuran agama agar saat bulan Ramadhan, orang (termasuk anak muda) menghidupkan malam dengan beribadah kepada Allah SWT. Itu karena begitu mulianya malam Ramadhan. Karenanya, agar durasi tidur 8 jam tercapai mereka diperkenankan untuk tidur di siang hari. Dengan tidur di siang hari, utang tidur langsung dapat dilunasi. Itu sebabnya, tidur siang dapat pahala karena digunakan untuk menyiapkan energi agar dapat beribadah secara optimal di malam hari. Di malam hari, sebenarnya shalat tarawih bisa diselesaikan pukul 20.00 atau paling lambat pukul 21.00 malam. Kalau tidur pukul 21.00 malam, kemudian bangun pukul 03.00 pagi sudah cukup bagi orang dewasa (sudah 6 jam). Untuk anak muda, mereka bangun pukul 04.00 (berarti sudah 7 jam). 

Hanya saja, realitanya, anak muda kita memulai tidurnya lebih dari pukul 21.00 malam. Umumnya tidur sekitar pukul 22.00-23.00 malam. Kalau waktu tidurnya seperti ini, maka pelajar hanya tidur 4-6 jam dalam sehari, artinya tidur pelajar tidak cukup. Realita ini akan menghadirkan dampak. Intinya, tidur yang sukses di malam hari akan berdampak terhadap konsentrasi, energi, suasana hati, kinerja, atau prestasi siswa. Kalau kurang tidur, maka energi dan konsentrasi menurun, mood rendah, dan selanjutnya prestasi juga akan turun. 

Bila situasi, kondisi, kebijakan, atau pola asuh mampu membuat anak muda tidur lebih awal, yaitu sekitar pukul 21.00 malam, maka mereka akan tidur dengan jumlah cukup. Bila mereka diharuskan berangkat ke sekolah sekitar pukul 06.00 pagi (karena pelajaran sekolah dimulai pukul 07.00 pagi), maka mereka sudah siap. Itu karena mereka sudah tidur dengan durasi 7 jam. Konsentrasi, mood, dan kesiapan belajar akan optimal. 

Namun, bila mereka diharuskan bangun pukul 03.00 pagi, berangkat sekolah sekitar pukul 04.00 pagi dan masuk kelas pukul 05.00 pagi, maka mereka belum siap. Mereka baru tidur sekitar 6 jam. Konsentrasi, mood, dan kesiapan belajar belum optimal. Untuk saat ini saya tidak yakin orang tua dan pimpinan sekolah bisa memaksa anak-anak muda yang sedang menempuh studi ini langsung terbiasa dengan pola baru ini (masuk sekolah pukul 05.00 pagi). Pola tidur adalah pembiasaan yang dipenuhi dengan begitu banyak tantangan. 

Mungkinkah Sekolah Dimulai Pukul Lima Pagi?

Kebijakan pemerintah Nusa Tenggara Timur yang menetapkan sekolah dimulai pukul 05.00 menimbulkan pertanyaan mengenai kesehatan dan kesiapan pelajar. Remaja membutuhkan tidur sekitar 7–8 jam, sementara banyak yang baru tidur pukul 22.00 atau 23.00 malam. Karena itu, saya tidak mendukung sekolah dimulai pukul 05.00 pagi. Jam masuk pukul 07.00 pagi lebih realistis, bahkan sejumlah negara memulai sekolah pukul 08.00 pagi. Siswa seharusnya datang dalam kondisi bugar dengan tidur yang cukup.

Jika kebijakan pukul 05.00 pagi tetap diterapkan, diperlukan persiapan matang. Siswa harus mengubah pola tidur dengan tidur sekitar pukul 20.00 malam agar dapat bangun pukul 04.00 pagi. Orang tua perlu diberi edukasi untuk mendukung kebiasaan tersebut, sedangkan sekolah harus melakukan sosialisasi dan pendampingan secara bertahap. Pemerintah juga perlu menyediakan sarapan agar siswa siap belajar, serta transportasi bagi siswa yang kesulitan mencapai sekolah tepat waktu. Kebijakan ini sebaiknya dipersiapkan selama 1–2 tahun dan melibatkan semua pihak. Terlepas dari pro dan kontra, kebijakan tersebut menyadarkan kita bahwa banyak remaja masih memiliki kebiasaan tidur terlalu larut.

Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Bagaimana menurut Anda?