Bahas Fudhulul Nadhar, PSPI UII Ingatkan Bahaya Kecanduan Visual

Pusat Studi Psikologi Islam (PSPI) Universitas Islam Indonesia (UII) menggelar kajian hadits bertajuk “Racun Hati: Terlalu Banyak Melihat” di Mushola Baitul Hadi, Gedung Soekiman Wirjosandjojo, Kamis (27/11/2025). Kegiatan yang dihadiri oleh dosen dan tenaga kependidikan ini menghadirkan Dr. Ahmad Rusdi, S.Psi., S.Sos.I., M.A., Si., yang mengupas tuntas bahaya Fudhulul Nadhar atau pandangan mata yang tidak terkendali bagi kesehatan spiritual manusia.

Ahmad Rusdi menyoroti relevansi pengendalian pandangan dalam konteks kehidupan modern yang lekat dengan gawai. Menurutnya, konsep menundukkan pandangan saat ini tidak hanya berkaitan dengan aurat lawan jenis, tetapi juga pembatasan screen time yang berlebihan.

Istilah Fudhulul Nadhar menjadi sorotan utama karena sering kali dianggap remeh namun berdampak fatal. Perilaku menyibukkan diri dengan hal-hal mubah secara berlebihan (Al ishtighal bi al mubahat) ternyata mampu meracuni kejernihan hati.

“Apabila matanya rusak melihat hal-hal yang rusak dan jelek, maka jelek juga hatinya,” tegas Ahmad Rusdi saat menjelaskan korelasi antara mata dan hati. Ia menambahkan bahwa hati yang terkontaminasi visual negatif akan menjadi seperti tempat sampah dan sulit menerima marifatullah.

Pasalnya, seseorang yang terlalu sering mengumbar pandangan akan mengalami fase Al-istihsan atau termanipulasi oleh keindahan semu. Objek yang ditonton terus-menerus akan terinternalisasi ke dalam hati, menciptakan imajinasi yang melenakan, dan akhirnya memicu berbagai kerusakan batin.

Sebaliknya, kemampuan mengendalikan pandangan justru akan mendatangkan cahaya dan ketajaman intuisi bagi seorang mukmin. Hati yang terjaga dari visual yang tidak perlu akan lebih mudah menerima nasihat kebaikan dan memiliki firasat yang tajam dalam mengambil keputusan.

“Kendalikanlah pandanganmu dan kemaluanmu maka itu lebih baik bagimu,” pesan Ahmad Rusdi mengutip salah satu dalil sebagai solusi praktis. Pengendalian diri ini dinilai jauh lebih efektif untuk menjaga kesehatan mental dan spiritual dibandingkan membiarkan mata liar tanpa batasan.

Kegiatan ini ditutup dengan doa bersama untuk civitas akademika UII, termasuk mendoakan kesembuhan bagi yang sakit dan husnul khatimah bagi yang telah berpulang. Kajian ini diharapkan menjadi sarana perbaikan amal sekaligus pengingat agar bijak dalam berinteraksi dengan dunia visual. (yp)

The 6th Extended Learning Program: Family Strength In Our Challenging Time

Prophetic Leadership: Riset dan Implementasi

Krisis kepemimpinan yang sudah ada sejak dulu masih belum selesai hingga saat ini. Gaya kepemimpinan kenabian (sidik, amanah, tabligh, fatanah) mungkin bisa menjadi solusi untuk menjawab atau mengatasi krisis kepemimpinan tersebut. Demikian pengantar yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Rusdi, S.Psi., S.Sos.I., MA.Si. pada  kegiatan webinar bertajuk Prophetic Leadership: Riset dan Implementasi yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Psikologi Islam (PSPI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Sabtu, 18 Safar 1443 H/25 September 2021. Kegiatan menghadirkan Dr. Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai pemateri. Read more

Kajian Psikologi Islam : “Prophetic Leadership: Riset dan Implementasi”

Pusat Studi Psikologi Islam, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya UII mempersembahkan Webinar Psikologi Islam dengan tema :

“Prophetic Leadership: Riset dan Implementasi” Read more

Psikologi UII Agendakan Seleksi KIMPSI 2020

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Dalam rangka membangun sinergitas dan silaturrahmi mahasiswa antar program studi Psikologi di Indonesia, ikutilah:

Kompetisi Ilmiah Mahasiswa Psikologi (KIMPSI) Universitas Islam 2020 dengan timeline kegiatan sebagai berikut : Read more

Pusat Studi Psikologi Islam Kaji Psikoterapi Ghazalian

Psikoterapi Islam: Ghazalian Psychotherapy. Demikian tema yang diangkat dalam webinar kajian Psikologi Islam yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Psikologi Islam, Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia, Sabtu, 25 Juli 2020. Kegiatan yang dilakukan secara daring (online) ini menghadirkan perintis Psikologi Ghazalian, Ricky Firmansyah, S.Psi. dalam rangka mengenalkan salah satu model dalam psikoterapi Islam kepada dosen dan mahasiswa magister profesi psikologi UII. Read more

MAPPRO Gelar Workshop Internasional : Kaji Intervensi Psikologi Islami

Beragam perspektif dikemukakan oleh para ahli terkait dengan pembentukan perilaku manusia. Ada yang meyakini bahwa dasar perilaku manusia terbentuk semata sebagai respon atas stimulus lingkungan (perspektif behaviorisme), ada yang meyakini bersumber dari pikiran dan keyakinan yang dimilikinya (perspektif kognitif), ada juga sebagian yang meyakini bersumber dari pengalaman masa lalu yang mengendap dalam ingatan bawah sadarnya (psikoanalisis), dan juga ada yang meyakini bahwa manusia bebas berkehendak dalam memilih suatu perilaku (perspektif humanisme). Namun demikian, dari berbagai perspektif yang ada tersebut, pada dasarnya sepakat terhadap nilai-nilai empirisme dan positivisme yang berkonsekuensi bahwa manusia akan dilihat sebatas makhluk material tanpa dikaitkan dengan spiritualitas atau dengan kata lain meminggirkan peran Tuhan (agama) dalam pembicaraan psikologi.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari perguruan tinggi yang meyaikini adanya peran Tuhan (Allah SWT) dalam berbagai aspek kehidupan manusia (perspektif Islam), MAPPRO FPSB UII secara khusus menyelenggarakan workshopIntervensi Psikologi Islam dengan mengundang Presiden Asosiasi Psikolog Muslim Internasional (International Association of Muslim Psychologists-IAMP), Prof. Rahmatullah Khan sebagai pemateri, Jumat, 4 Shafar 1438 H/ 4 November 2016 di Gedung Moh. Hatta (Perpustakaan Pusat) Kampus Terpadu UII dengan tujuan untuk menguatkan pengembangan intervensi psikologi dalam perspektif Islam (secara konsep dan aplikasi/intervensi).

 

Di hadapan peserta workshop yang terdiri dari para akademisi, praktisi psikolog, dan juga mahasiswa itu, Prof. Rahmatullah Khan menyampaikan materi Islamic Behavior Therapy (i-CBT) yang sedang ia kembangkan dan merupakan modifikasi dari Cognitive Behavior Theray (CBT) yang berkembang dalam tradisi sains Barat. Beliau mengawali paparannya dengan menyampaikan beberapa kontribusi besar yang diberikan oleh para ilmuwan muslim di dunia sains, termasuk psikologi. Menurutnya, intervensi Psikologi Islam memang sangat dibutuhkan dalam mewujudkan kualitas hidup yang lebih baik.

 

Beberapa penelitian intervensi menggunakan pendekatan Psikologi Islam pun telah terbukti efektif, seperti terapi zikir untuk meningkatkan resiliensi penderita gangguan low back pain-LBP (Khairiyah, 2012), terapi zikir Al-Fatihah untuk meningkatkan kesejahteraan subjektif rehabilitasi narkoba (Muzkiyyah, Nashori, Sulistyarini, 2015), efektivitas penghayatan dan zikir Surat an-Naas untuk mengurangi gejala obsessive-compulsive disorder (Fakhruddiana, 2011), efektivitas pelatihan mendengarkan Al-Qur’an dalam menurunkan kecemasan menghadapi masa depan pada remaja (Utami & Urbayatun, 2015), pengaruh mendengarkan murattal Al-Qur’an dalam menurunkan tingkat insomnia mahasiswa Program Studi Psikologi (Wulandari, 2012), efektivitas pelatihan tadabbur al-Qur’an untuk menurunkan stres penderita diabetes milletus (Habibah, 2015), efektivitas terapi Tadabbur Al-Qur’an untuk mengurangi kecemasan menghadapi persalinan pertama (Prapto, Nashori, & Rumiani, 2015) dan beberapa intervensi shalat ternyata juga terbukti efektif dalam menurunkan stres dan perilaku yang negatif. 

Quran Sebagai Sumber Ilmu Jiwa (Psikologi)

Al Quran adalah sumber ilmu. Apalagi yang terkait dengan ilmu jiwa. Banyak sekali ayat yang berbicara tentang jiwa di dalam  Al Quran. Demikian ungkap Doktor baru Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Qurotul Uyun, S.Psi., M.Si., Ph.D., Psikolog saat memberikan Kuliah Perdana pada Mahasiswa Baru Program Magister Psikologi Profesi (MAPPRO) FPSB UII angkatan XII, Jumat, 11 September 2015 di Auditorium FPSB UII. Selain bu Uyun (panggilan akrab Qurrotul Uyun), turut hadir juga mantan Ketua HIMPSI Pusat, Dra. Retno Suhapti, SU sebagai pemapar materi, khususnya mengenai sejarah diselenggarakannya program Magister (S-2) bidang Psikologi.

Selain menegaskan Al Quran sebagai sumber ilmu (khususnya ilmu jiwa), bu Uyun menegaskan pentingnya mencari pengalaman/banyak belajar dalam rangka meningkatkan kualitas diri seraya mengingatkan perlunya kesadaran seorang psikolog atas keterbatasan kemampuan yang memang sudah menjadi sunatullah sebagai manusia disamping kelebihan yang dimilikinya.

“Menjadi psikolog bukan berarti kita harus bisa menyelesaikan setiap masalah. Kalau ada yang lebih ahli (saat kita tidak bisa menyelesaikan tugas/intervensi pada klien), maka kita perlu merujuk pada yang lebih ahli tersebut.  Anda harus banyak belajar, belajar dan belajar. Semakin banyak Anda menangani kasus,  maka akan semakin banyak pengalaman yg didapatkan. Dan yang paling penting adalah sebelum mengobati orang, obatilah diri kita sendiri dulu!”, paparnya.

Bu Uyun juga mengajak para mahasiswa baru untuk menjadikan Allah SWT sebagai pusat kendali. Hal tersebut dikarenakan memang seorang psikolog sunatullah-nya adalah hanya berusaha dan bukan sebagai penentu kesembuhan. “Sunatullah Anda adalah diminta utk berupaya. Allah-lah yang menggerakan (baca: menyembujkan) hati”, tegas bu Uyun.

Sementara Bu Hapti juga menengaskan perlunya membenahi niat atas tujuan intervensi yang dilakukan. “Kita harus hati-hati selalu karena tujuannya untuk kesejahteraan pasien. Kalau kita menjadi psikolog, ya harus membawa manusia lebih sejahtera, lebih nyaman”, ungkap Bu Hapti.
Beliau juga mengingatkan pada mahasiswa yang ingin membuka biro setelah mereka lulus kelak, ada baiknya melakukan kerja magang dulu di biro konsultasi yang lebih besar/baik dengan harapan akan banyak mendapat pengalaman/jam terbang.

“Jangan cepet2 pengin buka praktek sendiri. Jam terbang sangat mempengaruhi”, tegas bu Hapti yang juga diiyakan oleh bu Uyun. “Betul,  jam terbang itu penting. Kita butuh banyak sekali pengalaman terkait banyak juganya permasalahan hidup yg ada di masyarakat. Dan dengan keyakinan   Islam itu sebenarnya tidak bertentangan, tapi untuk menguatkan dari berbagai penelitian yang sudah dilakukan.  Pendekatan yang dilakukan dengan terapi religius maupun bukan semuanya mempunyai potensi yg sama”, pungkas bu Uyun.