Prodi Psikologi Kaji Program Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ)

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Desa Siaga Sehat Jiwa (DSSJ) merupakan pengembangan dari konsep Desa Siaga yang pernah digulirkan ataupun ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 574/MENKES/SK/IV/2000. Desa Siaga sendiri merupakan gambaran masyarakat yang sadar, mau dan mampu mencegah dan mengatasi berbagai ancaman terhadap kesehatan masyarakat pada umumnya seperti kurang gizi, bencana alam, termasuk didalamnnya gangguan jiwa, dengan menafaatkan potensi masyarakat setempat secara bergotong royong. Sedangkan Desa Siagam Sehat Jiwa merupakan suatu pelayanan keperawatan kesehatan jiwa komunitas. Demikian diungkapkan oleh Herlini Utari, S.Psi., M.Psi (Psikolog Puskesmas Kalasan, Sleman, Yogyakarta) saat menyampaikan materi kolokium bidang Psikologi Klinis bertema ‘Peran Psikologi dalam Program DSSJ yang diselenggarakan oleh Prodi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Jumat, 26 Juni 2015.

Lebih lanjut Herlina Utari menjelaskan tentang keterlibatan dan juga peran dari setiap komponen pendukung pelaksana program DSSJ, seperti keterlibatan dan peran Kader Kesehatan Jiwa (KKJ), keterlibatan dan peran tokoh masyarakat serta keterlibatan dan peran Tim Pemegang Program Jiwa Puskesmas (perawat, psikolog, dokter, bidang desa) termasuk pola rekrutmen seorang kader kesehatan jiwa. Khusus untuk Kader Kesehatan Jiwa (sifatnya sukarela) menurut Herlini Utari yang diutamakan adalah mereka yang mau. “Kadang banyak yang mampu, tapi mereka tidak mau”, ungkapnya.

Adapun ciri-ciri/perilaku seseorang dikatakan mengalami gangguan kejiwaan diantaranya ditandai dengan sedih berkepanjangan dalam waktu lama, berkurangnya kemampuan dalam berkatifitas sehari-hari (makan, minum, bersih-bersih), malas, marah-marah tanpa sebab, bicara atau tertawa sendiri, mengamuk, menyendiri, tidak mau bergaul, atau bahkan sampai dengan mencoba untuk bunuh diri.

Oleh karenanya, untuk menekan atau mencegah timbulnya penyakit ganggan kejiwaan tersebut, DSSJ melakukan serangkaian aktifitas/pelatihan pada kelompok-kelompok beresiko, seperti pada kelompok prolanis, kelompok Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular-POSBINDU PTM, kelompok masyarakat dengan kejadian bunuh diri, konseling kelompok korban KDRT, dan juga konseling pada kelompok remaja beresiko.

Sesi tanya jawab seputar DSSJ menjadi penutup kolokium.

Puasa Harus Tetap Produktif dalam Bekerja

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Puasa jangan membuat kita menjadi malas dalam bekerja (beraktivitas). Puasa harus membuat kita tetap produktif (baca: bekerja dengan penuh semangat). Bekerja sebenarnya ikatannya bukan sekedar transaksional, tapi lebih kepada kekeluargaan ataupun menjalin silaturrahmi. Dan orang yang senang menjalin silaturrahmi maka Allah akan memanjakannya (baca: memudahkan urusannya). Nikmati pekerjaan yang dijalani sebagai rekreasi yang menyenangkan dalam hidup. Demikian kiranya beberapa pesan pentingnya yang disampaikan oleh dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., SMF dalam acara ‘Padusan Rohani’ Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Senin, 15 Juni 2015 di Mushola Baitul Hadi FPSB UII.

Diawal ceramahnya, dr. Agus Taufiqurrahman, Sp.S., SMF mengapreasi kegiatan (majelis pengajian jelang Ramadhan) yang diselenggarakan seraya menyampaikan kabar gembira dari Nabi Muhammad SAW, dimana Nabi pernah memberikan kabar gembira kepada siapa saja yang senang mengaji atau menghadiri majelis ilmu akan mendapat kemudahan dari Allah SWT jalan ke surga. “Baru menuntut ilmu saja sudah dimudahkan, apalagi kalau ilmu tersebut diamalkan. Karena salah satu amal jariyah adalah ilmu yang bermanfaat. Di kehidupan ini yang paling penting adalah bisa diterima oleh orang lain (bermanfaat bagi banyak orang). Kalau kita tidak bisa menyenangkan orang lain, maka minimal kita tidak membuat orang lain sedih”, ungkapnya.

Dalam ceramahnya, dokter Agus juga mengingatkan agar kedatangan bulan suci Ramadhan disambut dengan penuh rasa senang dan persiapan. Beliau juga mengingatkan agar kita tidak terjebak memaknai Ramadhan itu hanya sebagai rutinitas semata. “Ramadhan ini harus kita persiapkan. Saya senang dengan nasehat : Siapa tahu in Ramadhan terakhir bagi kita. Karena kematian itu datangnya bisa kapan saja. Kematian itu adalah sesuatu yang paling dekat. Songsong Ramadhan ini dengan baik. Karena jangan-jangan ini Raamadhan terakhir bagi kita. Masing-masing punya target. Misal saya punya target jangan sampai ada perbuatan yang merusak puasa. Puasa tidak dinodai perilaku-perilaku yang dapat menghilangkan pahala puasa. Termasuk yang berat adalah menahan marah. Saat kita puasa maka dijaga agar betul-betul menahan marah ”, imbuhnya.

Terkait dengan amarah, dokter Agus yang memang memiliki kompetensi di bidang syaraf mengingatkan bahaya amarah bagi kesehatan. Menurutnya saat seseorang marah, maka kondisi tersebut bisa memicu pecahnya plak dalam darah yang akan terbawa ke aliran (kecil) darah ke otak dan mengakibatkan penyumbatan. Ini yang biasa disebut sebagai stroke. Selain itu, seseorang yang melampiaskan kejelekan (seperti marah) sesudah berbuka puasa, maka orang tsb termasuk dalam golongan orang-orang yang tidak mendapat apa-apa dari puasa yang dilakukan.

Menjadi Psikolog yang “Berciri Khas”

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Program Magister Psikologi Profesi (MAPPRO) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) kembali menggelar prosesi Sumpah Profesi Psikolog untuk Periode XIV, Sabtu, 13 Juni 2015 di R. Auditorium. Dalam prosesi ini, ada 6 orang lulusan yang diambil sumpahnya, yakni Putri Winda Priastuti, S.Psi., Isnaini Oktaverina, S.Psi., Itto Nesya Nasution, S.Psi., Herlyna Aris Primadani, S.Psi., Mulianti Widanarti, S.Psi., dan Andi Wijaya, S.Psi. Prosesi sumpah disaksikan oleh Ketua Program Magister Psikologi Profesi, Dr. H. Fuad Nashori., M.Si., Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat Arief Fahmie, MA., ketua HIMPSI Wilayah Yogyakarta, Drs. Helly P. Sutjipto, MA, dan Rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc.

“Saya berharap para Psikolog baru ini bisa benar-benar menjadi psikolog yang sangat khas yakni menjadi seseorang (psikolog) yang mampu mencapai keimanan dan dapat melakukan amal saleh sesuai dengan apa yang diupayakan. Hindari (dalam bekerja) untuk meraih surganya Allah SWT, tapi meraih kedekatan dengan Allah SWT. Banyak diantara kita yang melakukan kebodohan dengan merasa memiliki Allah hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi. Seharusnya kita adalah milik Allah SWT, sehingga kita menerima dengan ikhlas apapun yang diberikan Allah SWT pada kita”. Demikian nasehat yang disampaikan oleh ketua HIMPSI Wilayah Yogyakarta, Drs. Helly P. Sutjipto, MA kepada 6 orang psikolog baru usai diambil sumpahnya.

Sedangkan rektor UII, Dr. Ir. Harsoyo, M.Sc dalam kesempatan tersebut mengingatkan akan tugas berat para psikolog baru dalam turut serta membenahi mentalitas bangsa Indonesia yang sampai saat ini relatif masih kurang baik, seperti masih adanya pejabat bermental koruptif maupun pejabat-pejabat negara yang membuat keputusan yang aneh-aneh, misalnya impor garam yang sebenarnya tidak perlu dilakukan mengingat kita adalah negara dengan pantai terpanjang di dunia yang secara otomatis seharusnya mampu memproduksi garam/swasembada garam.

“Kondisi negara kita saat ini memerlukan psikolog-psikolog tangguh khususnya berasal dari UII yang tidak hanya mendapatkan keilmuan psikologi, tapi juga keagamaan, etika dan moral. Peran psikolog sangat penting untuk mendidik mental bangsa kita. Mulai dari diri kita, lingkungan kita dan peran kita untuk memperbaiki mentalitas bangsa kita. Mental-mental yang ilahiyah dan mengarah kepada Allah SWT”, pungkasnya.

IKI UII Kaji Kebahagiaan Ibu di Masa Tua

Ibuku sayang, ibuku bahagia. Demikian tema pertemuan rutin Ikatan Keluarga Ibu-Ibu (IKI) Universitas Islam Indonesia (UII) yang pada periode Juni 2015 ini (tepatnya 12 Juni 2015) difasilitasi oleh Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) UII dengan menghadirkan Hj. Ratna Syifa’a Rachmahana, S.Psi., M.Si., Psikolog sebagai pemateri.

Dalam paparannya, sosok yang akrab disapa sebagai Bu Ratna Syifa’ ini mengajak para peserta untuk lebih mempersiapkan diri dalam menghadapi masa tua/lansia sebagai seorang ibu. “Meski usia harapan hidup berbeda-beda, masalah yang dihadapi pada umumnya adalah sama. Menginjak usia tertentu lansia akan menghadapi berbagai gangguan kesehatan yang biasa dikenal dengan 8b, yakni botak, blereng (mudah silau), budek (pendengaran kurang), bingungan (mudah bingung), bawel (cerewet)/bisu, bungkuk, buyutan (lemah, gemetaran), beseren (sering buang air besar/kecil)”, ungkapnya.

Lebih jauh dalam kesempatan tersebut Bu Ratna Syifa’ mengajak keluarga besar IKI UII untuk mengenali lebih dini sekaligus dalam rangka mencegah demensia/pikun dan juga gangguan persendian. Menurutnya, pikun bisa terjadi karena berbagai sebab, seperti penyakit Alzheimer, gangguan pembuluh darah otak, parkinson, trauma kepala, kekurangan hormon tiroid, kekurangan vitamin B12 maupun ketidakseimbangan kadar kalsium.

Adapun 10 gejala awal yang perlu diwaspadai adalah (1) gangguan daya ingat (sering lupa janji, lupa nama orang-teman-keluarga, tidak bisa mengingat kejadian-pembicaraan, bertanya berulang-ulang untuk hal yang sama), (2) kesulitan dalam melakukan aktivitas sederhana (aktivitas sehari-hari), (3) bermasalah dengan komunikasi/bahasa (gangguan keterlibatan dalam berbicara, gangguan pengertian, gangguan kelancaran dan gangguan dalam mencari dan menemukan kata yang tepat), (4) disorientasi (gangguan mengenal waktu, tempat, lingkungan bahkan orang lain), (5) penampilan memburuk (tidak memperhatikan penampilan, salah berpakaian), (6) kesulitan dalam melakukan perhitungan sederhana, (7) salah/lupa meletakkan barang, curiga sesorang telah mencurinya, (8) perubahan kepribadian (perubahan emosi secara drastis, tidak sabar, mudah putus asa, menyalahkan orang lain, cemas), (9) Hilangnya minat dan inisiatif (berkurangnya aktivitas kesenangan pribadi, meninggalkan hobi yang biasa dinikmati), dan (10) gangguan visuospasial (sulit membaca, mengukur jarak, menentukan jarak, tidak tepat dalam menuangkan air ke dalam gelas-tumpah, tidak mengenali wajahnya sendiri di depan cermin, dll).

Demensia sendiri memiliki beberapa dampak baik di lingkungan keluarga ataupun lingkungan masyarakat, seperti frustasi, sedih, mengganggu kelancaran organisasi (jika menjadi anggota organisasi masyarakat, kecelakaan/kebakaran akibat lupa mematikan kompor, dan lain-lain.

Lantas, bagaimana cara untuk mencegah atau setidaknya untuk menundanya ?

Berikut beberapa aktivitas yang menurut Bu Ratna Syifa’ bisa mencegah atau menunda demensia, seperti bernyanyi, menari, membaca koran, membaca majalah, membaca Al Quran, mengerjakan teka-teki silang, senam, berkebun, bermain catur, halma, monopoli, senam pernapasan, dan beberapa aktivitas lainnya. Aktivitas-aktivitas tersebut hendaknya dilakukan secara rutin. Tubuhpun hendaknya tetap mendapatkan asupan gizi/vitamin yang baik.

Penangan demensia sejak dini dimungkinkan akan membawa banyak dampak positif, seperti tetap dibutuhkan dan terlibat aktif dalam keluarga, mampu berperan aktif di masyarakat, dan juga mampu menolong sesama yang membutuhkan.

Selain demensia atau pikun, Bu Ratna Syifa juga mengajak untuk mengenali gangguan persendian yang biasanya juga dialami oleh mereka yang memasuki masa senja. Gangguan tersebut menurutnya banyak disebabkan karena peradangan akibat kesalahan pola makan, makanan, lingkungan, udara, maupun tanah yang semakin hari semakin terkontaminasi toksin. Gangguan persendian yang umumnya terjadi adalah rhematoid (rematik), osteoporosis (kekeroposan tulang), dan gout arthritis (penumpukan asam urat).

Bagaimana pencegahannya?

Pencegahan permasalahan gangguan persendian bisa diawali dengan pola makan, yakni dengan mengkonsumsi makanan secara pas (tidak berlebihan) dan tidak mengkonsumsi makanan yang kaya akan purin (jeroan, ampela, kikil, usus, dll). Sedangkan untuk mengurangi rasa sakit ataupun pengobatan bisa dilakukan dengan beberapa cara, seperti mengkonsumsi satu sendok teh bubuk kulit kayu manis ke dalam 1 sendok makan madu sebelum sarapan pagi selama 1 bulan, menggunakan garam epsom (garam Inggris yang kaya magnesium dalam mengolah makanan, mengkonsumsi minyak ikan cod (1-2) sendok teh setiap hari, melakukan aktivitas peregangan secara lembut, dan juga memenuhi kebutuhan gizi (gizi seimbang) selama lansia.

Dari sisi psikologis maka para lansia perlu berpeilaku yang baik, yakni pandai bersyukur, tidak suka marah-murung-putus asa, suka bergaul-bersilaturrahmi, suka beraktivitas, mendekatkan diri pada Tuhan, mengembangkan hobi, dan makan minum secara teratur. Kiat secara umum dirumuskan dalam 7 B, yakni banyak makan buah, bekerja dengan semangat, berolahraga secara rutin, berisitirahat yang cukup, belajar terus, banyak maunya dan berbahagia.

 

Alumni FPSB dapat Bekal Teknik Komunikasi dan Negosiasi

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Teknik komunikasi efektif dan juga teknik negosiasi menjadi tambahan pengetahuan yang diperoleh oleh para wisudawan/wisudawati Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) yang diwisuda pada hari Sabtu, 13 Juni 2015. Para alumni mendapatkan kedua materi tersebut dalam sebuah acara pembekalan calon alumni satu hari jelang wisuda atau tepatnya hari jumat, 12 Juni 2015. Materi disampaikan oleh salah satu alumni Prodi Psikologi FPSB UII yang juga masih tercatat sebagai mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi FPSB UII, Walid Jumlad, S.Psi.

Dalam paparannya, pemilik sapaan Walid tersebut banyak menceritakan pengalamannya selama menjadi staf HRD pada sebuah perusahaan bonafit di Pulau Batam. Menurutnya, dibutuhkan teknik-teknik berkomunikasi yang baik dan juga kemampuan negosiasi yang mumpuni untuk memperoleh hasil atau mencapai sebuah tujuan. Jika keduanya bisa dikuasai, maka bisa dipastikan juga akan memperkecil potensi konflik yang bisa terjadi pada sebuah perusahaan atau bahkan di luar perusahaan.

Sedangkan untuk manajemen konflik, Walid lebih mengedepankan proses pencegahan daripada musyawarah atau hukum. Namun demikian, musyawarah juga masih menjadi alternatif terbaik untuk menyelesaikan konflik dibanding dengan menempuh jalur hukum.

Syahrul Badri Gantikan Riananda Putri Kinanti Pimpin FMP-PIO Periode 2015-2016

Syahrul Badri Resmi gantikan Rr. Riananda Putri Kinanti (Riri) sebagai ketua Forum Mahasiswa Pecinta Psikologi Industri dan Organisasi (FMP-PIO) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) untuk periode 2015-2016. Prosesi serah terima kepengurusan yang berlangsung sederhana dilaksanakan pada hari Rabu, 10 Juni 2015 di Auditorium FPSB UII. Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat Arief Fahmie, MA yang turut hadir dalam acara tersebut berpesan agar FMP-PIO bisa berkiprah di level ASEAN.

 

“Wawasan Anda jangan hanya di Indonesia, tapi ASEAN. Semoga FMP-PIO periode ini bisa memiliki kegiatan ke-ASEAN. Masalah biaya, kalau kita mau mencari (berusaha) maka insya Allah akan ada. Yang penting jangan terkungkung dengan pemikiran kalau biaya itu harus dari orangtua atau dari fakultas. Banyak hibah-hibah besar yang bisa anda gunakan. Namun demikian, Anda juga perlu hati-hati dengan maraknya agen-agen travel yang mengurus pertukaran pelajar”, ungkap Pak Arief.

Sementara ketua FMP-PIO periode 2014-2015, Riri berpesan agar pengurus FMP-PIO yang baru dapat membawa organisasi lebih maju/baik lagi, baik dari sisi program kerja maupun dari struktur organisasi. “Berusahalah semaksimal mungkin dan jangan mudah menyerah. Buatlah program kerja yang tidak terlalu banyak, tapi berkualitas. Temen2 adalah orang-orang yang kami percaya mampu menjalankan tugas kepengurusan dengan baik. Selamat bertugas dan jangan mengeluh. Nikmati setiap prosesnya”, pesannya. Riri sendiri dalam kesempatan tersebut juga menyampaikan rasa bahagia dan beruntungnya bisa mendapat banyak ilmu serta pengalaman melalui organisasi FMP-PIO.

Harapan Pak Arief dan Riri disambut baik oleh Syahrul Badri yang bertekad akan berusaha semaksimal mungkin memajukan FMP-PIO dengan bantuan (kerjasama) semua pengurus serta lembaga kemahasiswaan FPSB UII (DPM-LEM). Syahrul Badri sendiri tercatat sebagai mahasiswa Prodi Psikologi FPSB UII angkatan 2012 asal Riau.

Prosesi serah terima kepengurusan sendiri secara simobolik ditandai dengan penyerahan buku kas dan sejumlah uang dari saldo kepengurusan periode 2014-2015. Perlu diketahui bahwasannya FMP-PIO memang memiliki divisi usaha yang diberinama FORMASTA. Divisi ini bertugas menggali dana melalui proyek-proyek dari luar UII.

 

FUSI UI Silaturrahmi ke Jafana FPSB UII

Pengurus Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) Forum Ukhuwah dan Studi Islam (FUSI) Fakultas Psikologi (Psi) Universitas Indonesia (UI) lakukan kunjungan silaturrahmi ke Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) Jamaah Fathan Mubina (Jafana) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa, 9 Juni 2015. Kehadiran rombongan yang dipimpin langsung oleh ketua Fusi Periode 17, Gesang Ridho Subhan disambut hangat oleh Kepala Unit Bidang KADIPKH, Nur Widi Asmara, S.Psi., M.Psi bersama hampir seluruh pengurus aktif Jafana di Auditorium FPSB UII.

 

Dalam forum hangat tersebut, masing-masing pengurus lembaga saling memperkenalkan dapur masing-masing, seperti sumber dana atau pendanaan, struktur kepengurusan dengan bidang-bidang atau departemen-departemen yang ada, maupun program kerja bersama dengan implementasinya.

Silaturrahmi ditutup dengan dengan mengunjungi perpustakaan UII, Museum UII dan Candi Kimpulan yang berada di lokasi Gedung Perpustakaan UII.

 

UNPATTI – Ambon Studi Laboratorium ke Prodi Komunikasi FPSB UII

Dua orang utusan Universitas Pattimura-Ambon secara khusus bertandang ke Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Rabu, 3 Juni 2015. Mereka adalah Drs. Yusuf Madubun, M.Si (Dekan FISIP) dan Drs. H. Yunus Rahawarin, MA. Kehadiran keduanya disambut hangat oleh Dekan FPSB UII (Dr.rer.nat. Arief Fahmie, MA), Wakil Dekan FPSB UII, (Dr. Hepi Wahyuningsih, M.Si.), Ketua Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII (Muzayyin Nazaruddin, S.Sos., MA.), mantan Ketua Prodi Ilmu Komunikasi (Anang Hermawan, S.Sos., M.A.), Sekretaris Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII (Puji Hariyanti, S.Sos., M.I.Kom) beserta laboran dan staf prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII.

 

Dalam penyampaiannya, Dekan FISIP Universitas Pattimura Ambon, Drs. Yusuf Madubun, M.Si secara berterus terang menyampaikan maksud dan tujuannya untuk melakukan studi banding laboratorium di Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII. Hal itu dilakukan terkait dengan rencana pembukaan fakultas/prodi/jurusan Ilmu Komunikasi di Universitas Pattimura Ambon.

Setelah berdiskusi sesaat, kedua tamu segera diajak untuk melihat-lihat kondisi laboratorium yang ada di prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII, khususnya laboratorium TV, dan laboratorium Radio. Selain melihat kedua laboratorium tersebut, keduanya juga menyempatkan diri untuk melihat lebih dekat Pusat Data dan Media Alternatif (PDMA) NADIM milik Prodi Ilmu Komunikasi FPSB UII. “Kami berharap kelak bisa melakukan kerjasama dengan Prodi Ilmu Komunikasi UII ini’, ungkap Drs. Yusuf Madubun, M.Si.

 

HI Kaji Diplomasi Multilateral Indonesia

Masih dalam rangka memberikan gambaran yang lebih riil tentang proses dan teknik berdiplomasi antar negara (multilateral) kepada mahasiswanya, Program Studi Hubungan Internasional (HI) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) secara khusus mengundang Dirjen Multilateral Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Republik Indonesia (RI), Hasan Kleib untuk menjadi pemateri kuliah pakar ‘Diplomasi Multilateral Indonesia’ yang digelar Rabu, 3 Juni 2015 di Gedung Perpustakaan Pusat UII-Gedung Moh. Hatta UII. Dekan FPSB UII, Dr.rer.nat Arief Fahmie, MA.HRM tampak hadir dalam acara yang dibuka oleh Wakil Rektor I UII, Dr.Ing.Ir. Ilya Fadjar Maharika, MA., IAI tersebut.

Dalam sambutannya, Dekan FPSB UII berharap agar usai pelatihan nantinya mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh kelak saat menjadi seorang diplomat dengan tetap mengedepankan nilai-nilai Islam di kancah regional maupun internasional serta dalam setiap aktivitas yang dilakukan.

Hal tersebut juga senada dengan harapan yang disampaikan oleh Hasan Kleib. Beliau berharap agar kelak para mahasiswa lulusan Prodi HI UII yang mendapat amanah sebagai seorang diplomat mampu memberi warna Islam di kancah pergaulan regional maupun internasional. Dalam kesempatan tersebut, Hasan Kelib juga memberikan gambaran tentang struktur organisasi di tubuh PBB yang dinilainya cukup demokratis maupun kondisi Dewan Keamanan PBB yang dinilainya sangat tidak demokratis. Hasan Kleib juga banyak menyampaikan pengalamannya sebagai seorang diplomat saat menghadiri sidang-sidang penting di tingkat ASEAN maupun dunia (PBB) dengan mengemban kepentingan negara (RI).

Bahkan, Hasan Kleib juga berbagi tips-cara dalam mengambil sebuah pilihan pada ‘voting yang rumit’ (baca: voting yang dipaksanakan karena kondisi tertentu oleh pemimpin sidang sementara kita sebagai perwakilan-diplomat belum mendapat amanat-petunjuk dari kementerian ataupun Presiden). “Dalam kondisi demikian, maka ‘abstain’ menjadi pilihan yang terbaik sembari menunggu mandat atau petunjuk dari kementerian-presiden. Jika mandat sudah didapatkan, maka keputusan ‘abstain’ tersebut bisa disodorkan kembali (baca: revisi). Hal ini lebih elegan dibanding dengan kita memilih pilihan yang ternyata tidak sesuai dengan kepentingan negara kemudian berniat mengganti/membatalkan pilihan tersebut. Jika ini terjadi, maka kita akan dianggap inkonsistensi atau plin-plan”, ungkapnya.

Hasan Kleib juga mengingatkan kepada peserta bahwa Indonesia adalah negara yang sangat diperhitungkan oleh dunia. Indonesia adalah negara besar yang sangat berpengaruh. “Jadi, jika kelak Anda menjadi diplomat dan harus menghadiri sidang regional-internasional, Anda tidak perlu minder. Anda mewakili negara yang besar”, tambahnya. Terkait dengan isu teorisme, Hasan Kelib menyampaikan bahwa definisi terorisme sampai saat ini belum menemui titik temu-titik sepakat. Contohnya adalah kasus Hamas-Israel. Bagi negara barat, Hamas bisa jadi dianggap sebagai teroris, tapi bagi negara lain maka Hamas adalah pejuang kemerdekaan bagi negaranya.

 

FPSB Gathering ke Bromo-Malang

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;}

Dalam rangka mempererat ataupun menjalin silaturrahmi antar anggota keluarga (dosen dan karyawan), Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) memilih obyek wisata Gunung Bromo dan Malang sebagai tujuan wisata pada tanggal 29 Mei-1 Juni 2015. Pemilihan kedua obyek wisata tersebut merupakan hasil polling yang dilakukan pada Maret 2015 silam. Sedangkan Travel Agent Maratours berhasil memenangkan tender sebagai penyelenggara.

Dalam pelaksanaannya terdapat 2 titik keberangkatan rombongan pada hari Jumat pagi, 29 Mei 2015 tersebut, yakni di Kampus Terpadu UII bagi yang menghendaki berangkat dengan menggunaka moda trasportasi Bus dan Stasiun Kereta Api Lempuyangan bagi yang menghendaki berangkat dengan moda transportasi kereta api.

Pada Jumat sore (29 Mei 2015) rombongan tiba di Hotel Purnama dan Bromo view untuk beristirahat. Khusus untuk rombongan yang memilih wisata ke Gunung Bromo, mereka hanya menikmati istirahat sejenak karena harus segera melanjutkan perjalanan menuju Gunung Bromo pada tengah malam. Sedangkan yang memilih wisata di seputar kota Malang, baru memulai perjalanan wisata pada hari ke-2/keesokan harinya (Sabtu) dengan tujuan Jatim Park 1 hingga sore hari. Pada malam hari ke-2 itu juga diadakan acara ramah tamah, permainan, pembagian doorprize dan juga melepaskan lampion ke udara.

Pada hari ke-3 (Ahad), rombongan secara bersama-sama melanjutkan perjalanan ke obyek wisata Jatim Park 2, Museum Angkut dan langsung bertolak kembali ke Jogjakarta. Senin, 1 Juni 2015 seluruh rombongan tiba kembali ke Jogjakarta dengan selamat. Alhamdulillah..