Opini

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 1 Juni 2026

Demi Masa

 Tri Sihono, A.Md.
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Andi datang ke kampus untuk mengikuti UAS ganjil, sampai di tempat parkir tampak antrian mengular. Sambil jantung berdegup melihat jam di tangan kiri, yang menunjukkan pukul 07.55 WIB, belum perjalanan menuju ruang ujian yang berada di lantai 3. Padahal tinggal 5 menit lagi ujian segera dimulai. Konsekuensi terlambat lebih dari 5 menit adalah pengurusan keterlambatan di Divisi administrasi Akademik yang maksimal keterlambatan 3x, selebihnya hak peserta UAS akan gugur. Andi sudah mengetahui rentang waktu menghadapi ujian yang dimaksud, namun kurang memperhitungan waktu secara seksama, sehingga menimbulkan kerugian secara hak sebagai peserta ujian bila dilakukan berulang kali.

Waktu pengiring aktifitas kita dalam menjalani masa, dimana proses berlangsung untuk mencapai hasil akhir. Terlepas hasilnya maka waktu diperlukan sebagai bagian tak terpisahkan dari proses masa. Sering kita mendengar istilah jam karet dalam konteks acara yang dimulai molor atau terlambat sehingga mengakibatkan kegiatan yang telah direncanakan menjadi ngaret. Disinilah arti pentingnya dalam menghargai waktu, misalkan (personal) musti berdisplin merealisasikan rencana dengan memperhitungkan waktu agar tercapai, terstruktur,terencana sehingga terlaksana sesuai perencanaan sejak awal.

Tepat waktu perlu dibiasakan karena akan menjadikan biasa, tentu kuncinya disiplin. Selagi kita bisa melakukan suatu pekerjaan tanpa menunda-nunda waktu, maka dari itu akan memperluas kita dalam menghargai. Dan itu akan mengarah pada proses kegiatan apapun baik memanfaatkan waktu rutin keseharian maupun yang kegiatan secara mendesak(insidental). Sehingga pembiasaan ini akan sangat mempengaruhi kebiasaan kita dalam menghargai waktu.

 

Waktu Beribadah

Dengan seringnya kita melakukan ibadah (tepatnya:sholat) tepat pada waktunya atau berjamaah, maka ketepatan waktu sholat akan bisa ditegakkan secara konsisten. Akan beda apabila salat dilakukan secara sendiri, yang biasanya selalu mundur tertunda oleh kesibukan dan kegiatan rutin yang selalu dikejar waktu.

Dalam Islam, waktu sangatlah berharga hingga Allah sering bersabda di dalam Al-Qur’an.

Diantara ayat-ayat utama yang menjadi pedoman menghargai waktu dan menggunakannya dengan bijak adalah Surat Al-‘Ashr (103): 1-3. Ayat ini adalah landasan utama tentang pentingnya waktu. Allah menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan kesabaran.

Surat Al-Baqarah (2): 148 Allah memerintahkan umat Islam untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat). Ini mengajarkan urgensi untuk segera bertindak dan tidak membuang waktu.

Surat Al-Insyirah (94): 7-8 Allah menegaskan kedisiplinan hidup: jika selesai mengerjakan suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain, dan hanya kepada Allah hendaknya berharap.

Surat Al-Isra’ (17): 11 dalam surat ini mengingatkan bahwa manusia sering terburu-buru dalam berdoa memohon keburukan sebagaimana ia memohon kebaikan, yang secara filosofis mengajarkan pentingnya kesabaran dan tidak menyia-nyiakan kesempatan.

Menyia-nyiakan waktu akan memicu penyesalan mendalam, menghambat produktivitas, dan menyebabkan stres kronis akibat tugas yang terus tertunda. Dalam pandangan spiritual, kebiasaan ini dianggap merugikan karena melalaikan potensi diri dan menjauhkan seseorang dari tujuan hidup yang hakiki.

Berikut adalah beberapa dampak utama dari membuang-buang waktu:


Penyesalan di Masa Tua

Sering merasa tidak menghasilkan apa-apa dan tertinggal jauh oleh pencapaian orang lain. Yang pertama kan mengakibatkan rasa penyesalan hubungan, dimana dan kenapa dahulu saya kurang waktu dalam memanfaatkan waktu dengan keluarga. Untuk kedua penyesalan keberanian, kenapa dulu saya tidak berani mencoba. Ketiga penyesalan dalam menjaga kesehatan dimana dahulu kenapa saya tidak peduli dalam menjaganya, kesehatan adalah investasi masa depan. Keempat penyesalan dalam memanfaatkan waktu, dulu kemana aja waktu saya habiskan selama itu sampai sekarang. Terakhir penyesalan spirit/hati, dulu kenapa saya jadi orang yang keras dan pendendam.

Tips agar tidak menyesal dikemudian hari dengan cara yang bisa dilakukan diantaranya. Pertama Tabungan Hubungan, yakni dengan meluangkan waktu bersama orang yang kamu sayang, bangun komunikasi dengan orang tua, jangan lupa main dengan anak/cucu, berkencan atau pacaran dengan pasangan hidup. Sedang yang kedua Tabungan Kesehatan, yakni merutinkan berolahraga selama tidak kurang dari 30 menit per hari, melakukan cek kesehatan secara rutin, beristirahat yang cukup, dan mengurangi konsumsi gula. Yang ketiga Tabungan Keberanian, dengan melakukan satu hal yang ditakuti tapi penting tiap tahun yaitu minta maaf, dengan memulai suatu tindakan usaha. Mempelajari ketrampilan/skill baru. Berani bilang tidak pada hal yang menguras energi. Terakhir keempat dimasa tua kita tidak akan menyesal karena gagal. Kita menyesal karena tidak pernah mencoba. Kita tidak menyesal karena kerja keras, kita menyesal karena lupa hidup.

Stres dan Kecemasan

Kebiasaan menunda-nunda (prokrastinasi) memicu penumpukan pekerjaan, yang berujung pada kecemasan. Dimana stres adalah reaksi tekanan dari luar. Adapun ciri-ciri stres yaitu pemicu jelas karena akan tuntutan pekerjaan, kemacetan, anak rewel, konflik, kantong kosong. Bersifat sementara, kalau masalah selesai maka stres mereda. Rasanya yakni tegang, gampang marah, sakit kepala, insomnia, jantung berdebar. Kecemasan adalah rasa takut yang belum tentu dengan ciri-ciri pemicu tidak jelas, seperti bagaimana kalau nanti gagal, bagaimana kalau saya sakit. Sifat memutar terus, selalu ddpikirkan berulang-ulang walaupun masalahnya belum terjadi. Bagaimana rasanya, yakni khawatir berlebihan, gelisah, gemetar, nafas pendek, perut mulas, susah fokus, pikiran gimana kalau kalau.

Kehilangan Peluang Emas

Waktu yang terlewat tidak akan pernah bisa diputar kembali untuk mengambil kesempatan yang ada, memiliki tiga ciri utama yakni pertama langka dan tidak datang tiap hari, bisa sekali seumur hidup seperti lowongan pekerjaan. Kedua akan berdampak besar, dimana kalau diambil bisa mengubah hidup, baik karier, finansial, maupun relasi. Ketiga ada batas waktu kalau ditunda lewat, seperti peluang itu seperti Bis. lewat satu, masih ada bis yang lain, tapi rute yang berbeda. Jangan berdiri di halte sambil menyalahkan bis yang sudah lewat. Lihat ke depan, bis selanjutnya mau datang.

Kerugian Spiritual

Menurut para ulama, menyia-nyiakan waktu lebih buruk daripada kematian karena dapat menjauhkan diri dari Sang Pencipta dan kehidupan akhirat. Kerugian Spritual tidak kelihatan tetapi efeknya nyata. Pertama seperti mental, gampang stres, cemas, percaya diri yang berlebihan, insomnia atau susah tidur. Kedua Hubungan, seperti gampang tersinggung, susah memaafkan, rumah tangga dingin. Ketiga keputusan, mengambil keputusan dari ego/nafsu, bukan dari nilai, akhirnya menyesal. Keempat Kekosongan, sudah memiliki semuanya, tapi masih ada saja yang kurang dan kurang, berarti bernama kurang bersyukur. Wallahualam bissawab, Dan Allah lebih mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.