Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 2 Juni 2026

Hadapi masalah hidup dengan sabar dan salat

Hepi Wahyuningsih
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Orang hidup tidak pernah bebas dari masalah karena begitulah hidup. Siapa pun orangnya, baik presiden maupun penjual es potong, baik dosen maupun mahasiswa, baik orang yang punya uang 100 Milyar maupun orang yang  punya uang hanya 100 perak, baik orang yang punya hutang maupun orang yang tidak punya hutang, muslim maupun non muslim, anak-anak maupun orang dewasa. Semua pasti punya masalah, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang bebas dari masalah. Hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al Balad: 4)

Jadi, semua orang pasti punya masalah, bahkan orang yang wajahnya selalu ceria seakan tak ada beban hidup di pundaknya, sesungguhnya dia juga punya masalah. Lalu kenapa dia tetap berwajah tenang atau ceria? Bukankah seharusnya kalau orang sedang punya masalah, minimal berwajah cemberut atau malah marah-marah?  

Semua orang memang pasti punya masalah, tetapi ada yang tetap tenang atau ceria menghadapi masalah sedangkan yang lain cemberut saat punya masalah. Jadi apa yang membuat keduanya berbeda? Ya, kalau dalam perspektif psikologi mungkin bisa dijawab bahwa cara pandang orang terhadap masalahlah yang membuat keduanya berbeda saat menghadapi masalah. Orang yang berwajah cemberut atau masam biasanya memandang masalah dari POV yang negatif. Seperti apa POV yang negatif itu? POV yang negatif itu misalnya masalah dianggap sebagai sebuah beban hidup, masalah dianggap sebagai hukuman dari Allah SWT, masalah datang karena orang lain yang membuat masalah. 

Lantas apakah orang yang berwajah tenang atau ceria memandang masalah dengan POV yang selalu positif? Memang ada orang yang punya masalah wajahnya tetap ceria karena dia “cuek” terhadap masalah atau “masa bodoh” dengan masalah yang menghampirinya. Tetapi, sebagian besar dari orang yang berwajah tenang saat punya masalah, dikarenakan dia memandang masalah yang dihadapi dari sudut pandang positif. POV yang positif itu misalnya memandang masalah sebagai sebuah hal keniscayaan yang perlu dihadapi orang untuk menjadi semakin dewasa.

Jadi, bagaimana seharusnya saat kita sebagai seorang muslim menghadapi masalah? Memandang masalah dari POV negatif atau POV positif atau cuek saja? Berbahagialah kita sebagai seorang muslim karena Islam adalah way of life, Islam mengajarkan kepada kita cara hidup termasuk cara menghadapi masalah agar kita selamat. Islam telah memberikan tuntunan kepada kita bagaimana seharusnya saat kita menghadapi masalah. Dalam al-Qur’an  Allah SWT berfirman:


وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ

“Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya salat itu benar-benar berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu.” (QS Al Baqarah: 45)

Kok bisa ya, dengan sabar dan salat masalah jadi terpecahkan? Rasanya sangat tidak logis sebuah masalah hidup yang kadang sangat berat hanya dihadapi dengan sabar dan salat jadi bisa terpecahkan. Harusnya masalah itu ya dihadapi, dicoba dipecahkan dengan berbagai alternatif cara pemecahan masalah, bukan malah bersabar dan salat. Memang rasanya seperti tidak logis, tapi logika mana dulu yang kita pakai, sehingga mengatakan bahwa sabar dan salat tidak logis? 

Kalau logika iman yang kita pakai, maka bersabar dan salat adalah cara pemecahan masalah sangat paling logis yang dapat kita lakukan. Apa itu logika iman? Logika iman adalah istilah yang dipakai oleh Gus Baha dalam salah satu pengajian yang didengar penulis dari Youtube. Berdasarkan penjelasan Gus Baha, penulis memahami bahwa saat kita berpikir kita perlu menggunakan iman kita (Iman kepada Allah, Iman kepada malaikat-malaikat Allah, Iman kepada kitab-kitab Allah, Iman kepada rasul-rasul Allah, Iman kepada hari akhir, Iman kepada qada dan qadar), untuk memahami sesuatu termasuk memahami masalah yang sedang kita hadapi. 

Bagaimana cara menghadapi masalah dengan sabar dan salat? Salat dulu atau sabar dulu? Sepertinya tidak ada ketentuan yang pasti salat dulu atau sabar dulu. Hanya saja, jika dilihat dari al-Qur’an  surat Al Baqarah ayat 45 di atas, maka sabar nampaknya merupakan reaksi yang perlu dilakukan sesaat setelah kita menghadapi masalah. Untuk dapat bersabar, kita perlu menggunakan logika keimanan kita. Masalah yang datang menghampiri kita pasti memang ditakdirkan Allah untuk kita hadapi. Tujuannya menaikkan derajat kita di sisi Allah dan insya Allah kita akan dapat menghadapinya karena Lā yukallifullāhu nafsan illā wusahā (QS Al Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”). 

Kita tahu bahwa kita makhluk yang lemah, maka kita yakin Allah SWT pasti akan menolong kita dengan malaikat-malaikat-Nya. Kita yakin semua orang pasti menghadapi masalah, pun demikian dengan Rasul-Rasul utusan Allah yang dapat kita dapati ceritanya dalam al-Quran. Semua sukses menghadapi masalah dengan pertolongan Allah. Dengan keyakinan ini, insya Allah kita akan dapat lebih bersabar dan memahami bahwa sabar tidak pernah ada batasnya. 

Lalu bagaimana cara kita meminta pertolongan Allah SWT? Ya betul, dengan berdoa, dengan mendirikan salat. Apakah salat hanya sekedar berdoa meminta pertolongan Allah? Ternyata, jika kita mempelajari lebih dalam tentang salat kita akan memahami bahwa banyak sekali manfaat dari salat. Sebelum salat kita berwudhu, air yang membasuh anggota tubuh kita juga membersihkan diri kita baik secara lahir maupun batin. Secara lahir, air wudhu yang mengenai kita akan dapat menenangkan kita, menurunkan hormon stress sehingga kita dapat berpikir lebih jernih. Secara batin, air wudhu meluruhkan dosa-dosa kita yang kadangkala menghalangi kita dari mendapatkan solusi dari permasalahan. Saat salat, gerakan salat adalah gerakan yang sangat bermanfaat baik secara lahir maupun batin. Misal saat sujud, secara lahir, aliran darah kita akan secara maksimal sampai ke otak sehingga akan membuat kita jadi lebih mampu berpikir maksimal untuk menemukan berbagai solusi dari permasalahan yang sedang kita hadapi.  Secara batin, saat kita sujud,  beban berat yang ada di pundak kita lepaskan, kita pasrahkan pada Allah, sehingga selesai salat rasanya permasalahan yang dihadapi menjadi lebih ringan. 

Bagaimana wujud pertolongan Allah SWT terhadap permasalahan yang sedang kita hadapi? Banyak sekali ragam wujud pertolongan Allah. Seperti yang sudah disebutkan di atas, ketenangan hati setelah kita salat, adalah wujud dari pertolongan Allah sehingga kemudian kita bisa lebih tenang menghadapi masalah dan kemudian mendapatkan ilham atau petunjuk solusi dalam menyelesaikan masalah. Selain ketenangan, wujud pertolongan Allah dapat berupa hal yang tidak kita sangka-sangka, misalnya kita dipertemukan orang baik yang membantu kita dalam menyelesaikan masalah. Dapat juga berupa sebuah peristiwa yang hadir di depan kita dan dari peristiwa itu kita akhirnya dapat memperoleh solusi dari permasalahan kita. Orang baik atau peristiwa yang mengantarkan kita pada solusi permasalahan kita tentu tidak ada yang datang kebetulan, semua itu adalah pertolongan Allah. Tidak ada yang kebetulan di muka bumi ini, semua terjadi atas izin Allah. Semoga kita selalu mendapatkan pertolongan Allah, aamiin Ya Rabbal’alamiin.

Wallahu a’lam.