Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 27 Mei 2026

Muhasabah di tengah quarter-life crisis: seni menenangkan jiwa di tengah ketidakpastian masa depan

Nindita Saheka Ramadhani
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Periode usia dua puluhan identik dengan periode yang penuh energi, kebebasan, dan peluang tanpa batas. Namun di satu sisi, bagi sebagian besar anak muda yang menuju fase dewasa awal seringkali berbanding terbalik. Mereka justru kerap menghadapi permasalahan krusial yang dipenuhi kecemasan, kehilangan arah, dan tuntutan sosial yang semakin hari semakin bertambah. Fenomena ini sering disebut dengan quarter-life crisis, sebuah periode krisis emosional dimana kecemasan, kebingungan, dan keraguan akan arah hidup dialami oleh manusia pada fase dewasa awal atau rentang usia 20 hingga 30 tahun. Banyak anak muda yang merasa gagal dan kehilangan arah hidup ketika dihadapkan dengan tuntutan untuk segera memperoleh pekerjaan, mandiri dan stabil secara finansial, tuntutan segera menikah, dan berbagai tuntutan sosial lainnya. Sosial media yang dipenuhi pencapaian orang lain turut memperparah kondisi tersebut sehingga memicu keraguan akan masa depan mereka sendiri yang terlihat semakin tidak jelas dan menakutkan.

Secara psikologis, perubahan emosi dalam fase quarter-life crisis erat kaitannya dengan penurunan keyakinan suatu individu terhadap kemampuannya mengendalikan masa depan. Fenomena ini terlihat pada orang-orang berusia 20-29 tahun yang sedang melakukan transisi dari kehidupan yang nyaman menuju kehidupan yang berpijak pada realitas, yang biasanya menimbulkan rasa cemas dan khawatir tentang masa depan. Masalah yang berkaitan dengan quarter-life crisis dapat disebabkan oleh pengaruh eksternal disamping dinamika internal suatu individu. Quarter-life crisis adalah akibat dari sejumlah ekspektasi, baik dari dalam maupun luar individu. Beberapa respon terhadap quarter-life crisis muncul dalam bentuk emosi tertentu seperti marah, ketakutan, merasa tidak berdaya, merasa tidak memiliki tujuan dalam hidup, dan lain-lain. Hal tersebut tentu saja dapat mempengaruhi berbagai aspek suatu individu salah satunya kehidupan sosial.

Beberapa gejala dari quarter-life crisis seperti stress dan kecemasan secara umum dapat berdampak pada kesejahteraan seseorang. Menurut penelitian dari American Psychological Association, orang yang mengalami quarter-life crisis lebih rentan mengalami kesedihan mendalam, kecemasan, dan gangguan stress pasca trauma (PTSD). Hal tersebut dapat terjadi karena individu pada fase dewasa awal biasanya terdampak oleh ketidakpastian dalam hal karir, percintaan, dan pencapaian hidup mereka. Akibatnya, orang-orang mulai meragukan identitas dan nilai dalam diri mereka sendiri.

Di sinilah Islam berperan penting dalam proses pemulihan spiritual yang mendalam melalui muhasabah. Dalam konteks menghadapi fase quarter-life crisis, muhasabah adalah sebuah seni mengambil jeda dari banyaknya kebisingan duniawi. Ketika dunia luar memaksa anak muda yang sedang dalam fase dewasa awal untuk terus berlari dan berkompetisi, muhasabah menjadi ruang jeda yang memungkinkan untuk seseorang menenangkan diri dan menelaah kondisi batinnya. Dalam perspektif Islam, manusia memiliki kewajiban untuk berikhtiar secara optimal namun tetap menyadari keterbatasannya sebagai makhluk Allah. Melalui muhasabah, individu mendapatkan kesempatan untuk mengevaluasi lagi orientasi hidup, niat, dan kesesuaian antara tujuan yang dikejar dengan nilai-nilai yang diyakininya.

Proses muhasabah merupakan pendekatan efektif dalam membangun ketahanan mental dan spiritual individu yang menghadapi quarter-life crisis.  Al-Qur’an menegaskan pentingnya refleksi diri sebagai sarana untuk meraih ketenangan jiwa dalam menghadapi masa depan.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr:18)

Saat mengalami fase quarter-life crisis kita seringkali terjebak dalam pemikiran penuh tanya seperti: “Kenapa hidupku  begini-begini saja?” atau “Bagaimana masa depanku nanti apabila terus seperti ini?”. QS. Al-Hasyr ayat 18 mengajarkan kita untuk mengubah kecemasan tersebut menjadi suatu evaluasi. Kebingungan di usia 20-an bukanlah suatu kegagalan, melainkan momen bagi jiwa untuk berhenti sejenak dan menengok ke belakang melihat apa saja yang sudah dilakukan dan apa saja yang perlu diperbaiki. Langkah pemulihan dengan muhasabah ini dapat disertai dengan tawakal dan ridha.

Fase quarter-life crisis sejatinya merupakan momen dimana Allah SWT mengingatkan umat manusia bahwa ikhtiar tetap memiliki batas dan disitulah manusia sebaiknya menyerahkan segalanya kepada Allah ta’ala. Tawakal bukan berarti menyerah tanpa berusaha, melainkan bentuk kedewasaan dimana kita berani melepaskan hasil akhir kepada Allah SWT setelah melakukan usaha terbaik kita. Dengan meniatkan setiap proses belajar dan bekerja sebagai bagian dari ibadah kepada Allah SWT, ketidakpastian masa depan tidak lagi dirasakan sebagai ancaman melainkan sebagai kesempatan untuk terus tumbuh menjadi pribadi yang jauh lebih baik.

Referensi

Permana, F. B., & Sulastri, A. (2025). Quarter life crisis pada masa emerging adulthood. Psikostudia, 14(2), 187–195. http://dx.doi.org/10.30872/psikostudia.v14i2

Hasyim, F. F., Setyowibowo, H., & Purba, F. D.(2024).Factors Contributing to Quarter Life Crisis on Early Adulthood:A Systematic Literature Review, Psychology Research and Behavior Management. https://doi.org/10.2147/PRBM.S438866

Ilman, M. H., & Nurjannah. (2025). Menghadapi quarter life crisis: Peran konseling Islam dalam ketahanan mental dan spiritual. Al Amiyah: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, 2(1). 

Alfiesyahrianta, H., Syakarofath, N. A., & Anwar, Z. (2019). Peran religiusitas terhadap quarter-life crisis (QLC) pada mahasiswa. Gadjah Mada Journal of Psychology, 5(2), 129–138.