FPSB Gelar Tadarus ‘khusus’

Semoga Allah SWT memberi kekuatan pada UII dalam menghadapi cobaan yang diberikan ini dan orangtua yang ditinggalkan putra-putranya (baca: peristiwa Diksan Mapala) diberi ketabahan. Demikian harapan yang disampaikan  oleh Dekan Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII), Dr.rer.nat. Arief Fahmie, M.A., Psikologi sesaat usai memimpin tadarus ‘khusus’ dan doa bersama pagi ini,  Kamis, 26 Januari 2017 di Mushola Baitul Hadi FPSB UII.

 

Tadarus yang diikuti oleh dosen, tenaga kependidikan dan juga mahasiswa FPSB dilakukan dengan penuh khidmat/khusyuk. Semoga Allah mengabulkan permohonan/doa segenap keluarga besar FPSB UII khususnya dan doa dari segenap keluarga besar UII pada umumnya. Aamiin… 

AMI dan Perbaikan

“Audit sudan rutin kita lakukan sebagai penerapan ajaran Islam bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan tahun depan harus lebih baik dari tahun ini. Audit ini ingin menemukan peluang untuk memperbaiki diri. Oleh krn itu, pola diskusi menjadi jalan pemahaman kita bersama”. Demikian diungkapkan oleh Farham HM. Saleh selaku auditor Audit Mutu Internal (AMI) UII dalam acara penutupan AMI di FPSB  UII, Rabu, 18 Januari 2017. AMI di FPSB UII sendiri sudah dimulai sejak 13 Januari 2017.

 

Pak Farham dalam kesempatan tersebut menambahkan bahwa antara auditor dan auditee memang harus memiliki pemahaman yang sama. Hal itu penting agar proses audit lebih objektif. Beliau juga menekankan agar perbaikan yang dilakukan nantinya benar-benar mendetail, sehingga bisa membawa kebaikan di masa mendatang.

Dekan FPSB UII, Dr. Arief Fahmi, S.Psi., MA., Psikolog dalam kesempatan itu menegaskan akan melakukan upaya-upaya perbaikan yang dibutuhkan. “Temuan itu penyikapannya adalah bukan kesalahan. Tapi peluang untuk perbaikan. Tidak ada yang sempurna, tapi kita mesti saling mengingatkan untuk perbaikan yang akan datang”, ungkapnya.

AMI sendiri memang diselenggarakan secara rutin sebagai upaya untuk menjaga mutu pendidikan, 

Awal Tahun 2017, Dua Ponpes Modern Silaturrahmi ke FPSB UII

Awal tahun 2017 atau tepatnya pada bulan Januari 2017 Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII)  mendapat kunjungan silaturrahmi dari 2 pondok pesantren  (ponpes) modern yang menyelenggarakan pendidikan setingkat SLTA , yakni Pondok Pesantren Assa’adah Banten pada 10 Januari 2017 dan Pondok Pesantren eLKISI Mojokerto pada 17 Januari 2017.

 

Kunjungan kedua ponpes tersebut bermotivasi sama, yakni ingin memberikan tambahan pengetahuan/ wawasan tentang perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Kedua pengelola pun sangat berharap agar para santri (siswa/i) nantinya mau dan bisa melanjutkan ke perguruan tinggi, khususnya perguruan tinggi Islam seperti halnya UII. Oleh karena itu, Tim Marketing and Communication (Marcom) FPSB UII yang memang bertugas menerima kedua kunjungan  tersebut memberikan gambaran seputar UII, baik dari sejarah UII, proses seleksi masuk sebagai calon mahasiswa, UKM maupun beasiswa yang bisa diakses setelah diterima sebagai mahasiswa dan juga peluang kerja setelah lulus  dari UII.

Kedua rombongan pun merasa sangat terbantu dengan informasi yang disampaikan dan sangat terkesan dengan penerimaan yang diberikan. 

FPSB Kehilangan Salah Satu Mahasiswa Teladan

Fanni. Demikian nama panggilan akrab dari Zulfanni Asiva, salah satu mahasiswa Program Magister Psikologi Profesi (MAPPRO) Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) Universitas Islam Indonesia (UII) yang telah dipanggil Allah SWT dalam sebuah kecelakaan di Jl. Kaliurang Km.12 Yogyakarta. Korban bersama rekannya (mahasiswa D3 Kimia UII) yang baru saja keluar dari SPBU Pedak terlibat kecelakaan berat dengan salah satu siswa SMP N 5 Yogyakarta (inisial: DFN) yang mengendarai sepeda motor berkapasitas mesin besar -Kawazaki Ninja- saat berusaha mendahului kendaraan roda empat di depannya. Dalam kecelakaan ini, Fanni yang baru saja mengikuti perkuliahan selama 4 bulan di MAPPRO FPSB UII langsung meninggal di lokasi kejadian. Sedangkan rekannya dan DFN harus menjalani perawatan di RS. Panti Nugroho dan RS. Dr. Sardjito akibat luka serius yang diderita.  

 

Kepergian alumnus (S1) Fakultas Psikologi Universitas Medan Area ini ternyata meninggalkan kesan mendalam di kalangan dosen dan juga teman-teman  kuliahnya, termasuk Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., Psikolog selaku ketua ketua Program MAPPRO FPSB UII. “Fanni sendiri adalah seorang pembelajar sejati. Di kelas, ia tampak cukup menonjol. Ia suka tersenyum, menanggapi, dan bertanya. Sore itu (sebulan lalu) sekitar pukul 17, Fanni sedang berbicara sambil berdiri dengan seorang staf. Ketika saya melihatnya ia berbeda dibanding saat di kelas atau saat berpapasan. Saya melihat ia lebih jernih dan senyumnya lebih sejuk. Auranya sangat positif. Semoga ini isyarat kebersihan dirinya. Sekali lagi ini subjektif. Semoga dia termasuk syahidah, husnul khatimah. Wallahu a’lam bi ash-shawab”, ungkap Pak Fuad. “Anaknya kritis, atentif kalau di kelas,” tambah Rumiani, M.Psi, Psikolog, sebagai dosen pembimbing praktikumnya.

Sementara salah satu dosen mata kuliah Kepemimpinan Kenabian, Dr. Faraz mengatakan bahwa korban mempunyai motivasi belajar yang sangat tinggi. “Sejak pertama kali saya mengenalnya, saya menyimpulkan Fanni mahasiswa luar biasa, paling menonjol di kelas. Hari selasa 10 Januari lalu adalah kuliah kami yg terakhir. Fanni giliran presentasi tentang sifat Nabi. Dia menyampaikan dengan semangat sekali,” ungkapnya.

Kesan mendalam lain datang dari teman seniornya di MAPPRO, Muh. Arif Rizki, S.Psi dimana sejak awal masuk MAPPRO (September 2016) almarhumah sudah berpartisipasi aktif mengajar di huntap (hunian tetap korban erupsi G. Merapi). “Jujur saya merasa kehilangan. Beliau adalah salah satu relawan pengajar di huntap bersama mas Yogi dkk. Satu hal yang bisa saya teladani adalah almrhumah memang punya motivasi untuk berbuat baik yang cukup tinggi. Dari mas Yogi saya tahu kalo almarhumah tidak ada motor, tapi beliau ternyata sering ngajar tpa di atas. Mungkin motor yang dipakai merupakan motor pinjaman. Beliau rela di tengah kesibukan aktivitas di awal2 perkuliahan MAPPRO”, ungkapnya. .

Dari peristiwa maut tersebut, Pak Fuad mengajak para orangtua, polisi dan juga sekolah untuk lebih serius menyikapinya. “Siswa SMP secara psikologis masih memiliki emosi yang belum stabil. Saat berada di jalan mereka termasuk kelompok yang rentan. Kemampuan emosi yang belum matang menjadikan mereka kesulitan ketika berada dalam suasana tegang. Karenanya, orangtua, polisi, dan guru untuk memberi edukasi adab dan pengetahuan berkendara di jalan raya. Secara teknis orangtua harus melarang mereka berkendaraan di jalan raya”, pintanya.

Pak Fuad juga menambahkan sebuah kisah nyata dimana sepasang suami istri yang keduanya berprofesi dokter membelikan sepeda motor Kawazaki Ninja pada anaknya sebagai hadiah kelulusan. Dengan perasaan penuh kebahagiaan, anak itu pun mencoba mengendarainya. Namun malang, justeru anak tersebut menabrak dinding seberang rumah tepat disaksikan kedua orangtuanya. Setelah mengalami koma selama 2 hari, anak itu pun akhirnya meninggal dunia. “Bisa dibayangkan bagaimana perasaan ibu bapaknya saat menyaksikan kecelakaan tersebut, saat merawat anaknya di ICU dan akhirnya meninggal dunia. Setelah bertahun-tahun berlalu nereka masih menyesal”, pungkasnya.