Syi’ār

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 12 Mei 2026

Membangun jiwa percaya diri anak dalam bingkai iman dan kasih sayang

Hazhira Qudsyi
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Peran orang tua dalam pendidikan anak sangat penting karena mereka adalah pendidik pertama dan utama bagi anak. Dalam pandangan Islam, peran ini merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…..” (QS. At-Tahrim: 6). 

Keterlibatan orang tua secara aktif membantu membentuk karakter, nilai-nilai, dan kebiasaan belajar anak sejak dini, yang berdampak besar pada keberhasilan akademik dan perkembangan sosial-emosional anak. Termasuk di dalamnya, peran orang tua sangat krusial dalam membentuk kepercayaan diri anak sejak dini. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka…..” (HR. Bukhari, No. 893, dan Muslim, No. 1829). 

Orang Tua sebagai Pendidik dan Teladan

Orang tua berperan sebagai pendidik, pembimbing, dan teladan bagi anak-anak mereka. Mereka memberikan dasar pengetahuan awal, membentuk sikap positif terhadap belajar, dan mengarahkan anak dalam mengatasi berbagai tantangan pendidikan. Dalam Al-Qur’an, Allah Subhanahu wa ta’ala menegaskan pentingnya keteladanan:

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu….” (QS. Al-Ahzab: 21). 

Anak belajar dari sikap, tutur kata, dan perilaku orang tua. Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk menjaga konsistensi antara perkataan dan perbuatan. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, orang tua dapat: (1) berbicara dengan nada positif di hadapan anak, (2) menghargai usaha anak, bukan hanya hasilnya, (3) memberikan pujian yang tulus, dan (4) menunjukkan rasa hormat dan mendengarkan anak.

Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam memberikan teladan dengan penuh kasih sayang. Beliau bersabda:

“Bukanlah termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil dan tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. Ahmad, No. 5445, dan Tirmidzi, No. 1921).


Mengapa Kepercayaan Diri Penting?
 

Kepercayaan diri adalah fondasi penting bagi perkembangan psikologis anak. Kepercayaan diri sebagai fondasi kesehatan mental dan sosial anak. Anak yang percaya diri memiliki peluang lebih besar untuk menjadi pribadi yang optimis, resilien, dan memiliki keterampilan sosial yang baik. Sebaliknya, jika tidak, anak akan mudah diliputi kecemasan, keraguan, dan isolasi sosial.  Dalam Islam, kepercayaan diri yang sehat bersumber dari keyakinan bahwa segala potensi adalah anugerah Allah yang harus disyukuri dan dikembangkan. Kepercayaan diri tumbuh dari kesadaran bahwa setiap anak diciptakan Allah dengan fitrah dan potensi terbaik. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. A-Tin: 4). 

Oleh karena itu, penting bagi orang tua mendidik dan mengajarkan anaknya untuk dapat mensyukuri kemampuan yang dimiliki dan berusaha sebaik mungkin untuk mengoptimalkan potensi dan kemampuannya. Rasulullah  Sholallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan bahwa kepercayaan diri harus disertai semangat, usaha, dan tawakal kepada Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan. Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim, No. 2664). 

Lingkungan yang Penuh Kasih dan Dukungan emosional

Lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan dukungan akan meningkatkan rasa aman dan percaya diri anak. Anak yang didukung oleh orang tua cenderung lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan baru.  Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: 

“Dan Kami jadikan di antara mereka rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar-Rum: 21). 

Secara praktis, orang tua dapat: (1) membantu anak memahami nilai-nilai keluarga, (2) mengajarkan keterampilan beradaptasi dengan lingkungan, (3) mendorong anak menghadapi tantangan dengan sikap positif, dan (4) melibatkan anak dalam aktivitas yang menumbuhkan rasa keberhasilan. 

Dukungan emosional dari orang tua juga sangat penting untuk menumbuhkan rasa aman dan kepercayaan diri kepada anak. Ini meliputi pemberian pujian yang tulus, dorongan, dan kasih sayang yang hangat. Rasulullah  Sholallahu ‘alaihi wa sallam dikenal sangat lembut terhadap anak-anak, memanggil mereka dengan nama baik, dan menghargai perasaan mereka. 

Selain tindakan nyata, doa orang tua juga merupakan bentuk dukungan spiritual yang mendalam. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tiga doa yang mustajab tanpa keraguan di dalamnya: doa orang tua, doa orang yang berpuasa, dan doa orang teraniaya.” (HR. Tirmidzi, No. 1905). 

Doa menjadi kekuatan batin yang meneguhkan kepercayaan diri anak, karena ia tumbuh dalam lingkungan yang penuh keberkahan dan cinta. 

Kerjasama dengan Sekolah

Kerjasama antara orang tua dan sekolah sangat penting untuk memastikan perkembangan anak yang seimbang. Orang tua perlu terlibat dalam kegiatan sekolah, berkomunikasi dengan guru, serta memantau perkembangan akademik dan perilaku anak di sekolah. Kolaborasi ini menunjukkan kesungguhan orang tua dalam menjalankan amanah pendidikan sebagaimana ditegaskan Islam: mendidik anak dengan ilmu, adab, dan akhlak. Dalam Islam, orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak. Tanggung jawab ini menuntut kolaborasi yang sinergis antara keluarha dan sekolah agar anak tumbuh dengan ilmu, adab, dan akhlak mulia, sebagaimana sabda Nabi Sholallahu ‘alaihi wa sallam:

“Tidak ada pemberian orang tua yang lebih utama kepada anaknya selain adab yang baik.” (HR. Tirmidzi, No. 1952). 

Membangun Hubungan yang Harmonis

Hubungan yang harmonis antara orang tua dan anak akan dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak karena mereka merasa diterima, dihargai, dan dicintai. Anak akan lebih percaya diri menghadapi tantangan. Hubungan yang hangat dapat dibangun melalui: (1) meluangkan waktu khusus setiap hari untuk berbicara dengan anak, (2) mendengarkan cerita atau keluhan mereka tanpa menghakimi, (3) melibatkan anak dalam aktivitas bersama seperti bermain, membaca, atau beribadah. 

Dalam Al-Qur’an, doa orang tua yang sholeh menggambarkan harapan yang penuh kasih terhadap anak-anaknya:

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (qurrata a’yun), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan: 74). 

Tantangan dan solusi

Tantangan yang dihadapi orang tua dalam mendukung pendidikan anak meliputi keterbatasan waktu, pengetahuan, dan sumber daya. Solusinya termasuk mencari bantuan dari sumber daya pendidikan atau ahli profesional (seperti, psikolog atau konselor), mengikuti seminar atau pelatihan parenting Islami, bergabung dalam komunitas orang tua yang saling menguatkan, dan menjaga komunikasi yang terbuka dengan anak serta guru. 

Penutup

Dalam Islam, mendidik anak adalah ibadah dan amanah yang sangat mulia. Dengan kasih sayang, keteladanan, dan doa yang tulus, orang tua akan membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan tetap dalam keimanan kepada Allah. Rasulullah  Sholallahu ‘alaihi wa sallam mencontohkan bahwa pendidikan yang lembut, menghargai, dan penuh cinta akan melahirkan generasi berjiwa kuat, percaya diri, dan berakhlak mulia. Insya Allah. 

Wallahu’alam bish showab.