Syi’ār

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 20 Desember 2025

Memaknai kasih sayang Ilahi saat ingin semuanya berhenti

Muhammad Novvaliant Filsuf Tasaufi
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Beban Kehidupan

Problematika kehidupan saat ini memang dirasa semakin berat dan kompleks. Ujian kehidupan menimpa individu dari berbagai sisi, seperti ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, dan semacamnya. Bentuk yang dirasakan pun bermacam-macam, seperti perasaan sendirian, ditinggalkan, kehilangan, dan kegagalan yang membuat manusia kehilangan harapan. Beban yang menumpuk dan dalam jangka waktu yang lama membuat manusia merasa menderita dan lelah, bukan hanya secara fisik, namun dapat merembet secara psikologis dan spiritual.

Seiring berjalannya waktu, beban berat yang dirasakan dapat berdampak makin buruk. Individu dapat merasa bahwa semua hal yang dilakukan adalah kesia-siaan dan tidak berguna, sehingga mulai mempertanyakan apa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup. Pikiran negatif makin menguasai dan mulai merasa bahwa tidak ada dukungan yang cukup, rasa lelah dan sakit yang makin mendera, hingga tidak ada harapan yang layak diperjuangkan lagi. Semua terasa nyata dan harus diakhiri. Sayangnya banyak yang berpikir bahwa bunuh diri menjadi jalan satu-satunya untuk mengakhiri semua penderitaan. Dengan bunuh diri, semua mata rantai yang menyiksa, dianggap akan berhenti. Banyak yang berharap akan kematian, karena beban kehidupan dirasa begitu melelahkan dan menyakitkan. Banyaknya keputusan untuk bunuh diri akibat beratnya kehidupan selaras dengan yang dikhawatirkan oleh Rasulullah SAW bahwa :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قالَ: قالَ رَسُولُ اللَّه -صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم-: «والذي نفسي بيده لا تذهب الدنيا حتى يمر الرجل على القبر، فَيَتَمَرَّغَ عليه ويقول: يا ليتني كنت مكان صاحب هذا القبر

Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda, “Demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, dunia ini tidak akan lenyap (Kiamat) sampai ada seorang laki-laki yang melewati kuburan, lalu dia berhenti di hadapannya sambil berkata, ‘Andai aku menjadi penghuni kuburan ini’, (HR Bukhari dan Muslim)

Konteks yang disampaikan oleh Rasulullah SAW adalah terdapat suatu masa di akhir zaman nanti di mana seorang laki-laki melihat kuburan, lalu ia menjatuhkan diri ke tanah sambil berguling-guling yang menunjukkan bahwa ada semacam perasaan iri terhadap penghuni kubur dan ingin berada di tempat orang yang sudah meninggal tadi karena berpikir bahwa penghuni kubur sudah tidak terbebani lagi dengan beratnya kehidupan dunia. Padahal sejatinya, kematian itu sendiri merupakan pintu menuju perjalanan abadi yang jauh lebih panjang lagi dan tempat untuk menuai amalan yang telah ditanam di alam dunia. Dalam Al-Quran surat Maryam 23 juga menceritakan bahwa berat dan sakitnya beban kehidupan dapat membuat seseorang berpikiran atau berandai-andai tentang kematian, meskipun memiliki pemahaman agama yang sangat baik.

فَاَجَاۤءَهَا الْمَخَاضُ اِلٰى جِذْعِ النَّخْلَةِۚ قَالَتْ يٰلَيْتَنِيْ مِتُّ قَبْلَ هٰذَا وَكُنْتُ نَسْيًا مَّنْسِيًّا

Rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Dia (Maryam) berkata, “Oh, seandainya aku mati sebelum ini dan menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan (selama-lamanya).” (QS Maryam 23)

Perasaan sakit dan lelah yang luar biasa hebat membuat seseorang berpikir terkait dengan kematian telah disampaikan oleh Rasulullah SAW dan tertulis di Al-Quran, ini menunjukkan bahwa perasaan tersebut merupakan hal yang dapat terjadi pada siapapun. Rasulullah sendiri mengalami penderitaan yang luar biasa hebat akibat kehilangan orang-orang yang disayangi dan menjadi sumber dukungan sosial utamanya secara beruntun, sehingga disebut dalam sirah nabawiyah sebagai tahun kesedihan atau ‘ām al-ḥuzn. Perasaan itu ada secara nyata, jika tidak ditangani lebih lanjut dapat mengarah pada tindakan yang sangat berbahaya, yakni membunuh dirinya sendiri.

Allah sayang dengan hamba-Nya

Sementara itu, Allah SWT berfirman dalam Al-Quran 29 yang berbunyi

 وَلَا تَقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيْمًا

Janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS An-Nisa 29)

Ini merupakan salah satu bentuk rasa sayang atau “rahiim” dari Allah di mana kebanyakan orang yang ingin mengakhiri hidup merasa bahwa tidak ada lagi yang mendukungnya, tidak ada lagi harapan serta tidak ada lagi sandaran untuk hidup, namun Allah SWT langsung menyampaikan bahwa Allah SWT sangat menyayangi mereka. Lalu mengapa banyak yang kesulitan merasakan kasih sayang dari Allah SWT? Mayoritas kondisi seseorang yang ingin bunuh diri sangat erat kaitannya dengan gejala depresi. Dalam konteks kognitif, penderita depresi cenderung memikirkan hal-hal negatif tentang dirinya termasuk masa depannya, sehingga kesulitan untuk merasakan hal positif seperti bagaimana Allah SWT menyayanginya meski dalam situasi yang sangat berat dan menyakitkan sekalipun. 

Anggapan bahwa semua yang dirasakan adalan negatif merupakan salah satu bentuk distorsi kognitif, karena melihat semuanya secara overgeneralized. Maka perlu ada pemahaman yang diubah dalam melihat bentuk kasih sayang Allah, sehingga dapat melihat permasalahan kehidupan dengan lebih objektif dan bijaksana. Lalu, bagaimanakah caranya dalam memaknai kasih sayang Allah SWT dalam kehidupan? terutama saat kehidupan terasa begitu berat dan menyiksa, hingga membuat hati bertanya, “kapankah pertolongan Allah itu akan tiba?”

Memaknai kasih sayang-Nya

Pertanyaan ini bahkan bisa dijumpai dalam Al-Quran surat Al-Baqarah 214 yang berbunyi

اَمْ حَسِبْتُمْ اَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُمْ مَّثَلُ الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلِكُمْۗ مَسَّتْهُمُ الْبَأْسَاۤءُ وَالضَّرَّاۤءُ وَزُلْزِلُوْا حَتّٰى يَقُوْلَ الرَّسُوْلُ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَعَهٗ مَتٰى نَصْرُ اللّٰهِۗ اَلَآ اِنَّ نَصْرَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) seperti (yang dialami) orang-orang terdahulu sebelum kamu. Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang (dengan berbagai cobaan) sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.

Ayat ini menunjukkan bahwa sejatinya pertolongan Allah itu dekat dan kasih sayang Allah itu pun nyata, hanya saja dalam bentuk yang tidak sesuai dengan harapan atau cara berpikir manusia pada umumnya. Selain itu, ujian yang diberikan merupakan bentuk perhatian yang diberikan oleh Allah SWT, karena akan memperoleh imbalan surga bagi siapa saja yang bisa melewati ujian kehidupan tersebut. Ketika seseorang mampu mengubah sudut pandang yang awalnya menganggap penderitaan hidup sebagai sesuatu yang negatif, maka diharapkan muncul rasa optimisme dan semangat dalam menjalani hidup karena menyadari bahwa ujian kehidupan merupakan cara Allah SWT untuk mengangkat derajatnya lebih dekat dengan surga yang kekal abadi. Pengubahan cara pandang ini seperti yang dilakukan oleh Imam Ali bin Abi Thalib saat beliau berkata, “Aku suka saat Allah SWT mengabulkan doaku, karena itu pilihanku; tapi aku lebih suka saat Allah SWT tidak mengabulkan doaku, karena itu berarti pilihanNya”.

Cara yang lain adalah dengan meningkatkan kesadaran bahwa sesungguhnya nikmat dan kasih sayang Allah begitu banyak dan luas, sehingga sering terlewat seperti kemampuan bersabar dalam menjalani hari-hari, kesehatan yang dirasakan, orang-orang baik yang ditemui, dan masih banyak lagi. Allah SWT sendiri menyampaikan dalam firman-Nya terkait dengan banyaknya nikmat yang diberikan kepada hambaNya.

وَاِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ لَا تُحْصُوْهَاۗ اِنَّ اللّٰهَ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An Nahl 18)

Saat memahami bahwa di tengah ujian hidup masih terdapat banyak nikmat yang bahkan tidak sanggup untuk dihitung, cara pandang terhadap masalah dapat menjadi lebih objektif. Bahwa hidup bukan hanya berisikan nikmat saja ataupun musibah saja, namun ada kombinasi dari ujian dan nikmat yang membuat kehidupan menjadi lebih berarti. Layaknya sebuah kopi yang menghangatkan hari, terdapat berbagai kombinasi rasa seperti pahit, manis, bahkan asin yang dengan takaran tepat memberikan sensasi yang lebih nikmat.