Syi’ar

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit, 11 Juli 2026

Konsep Diri Pemuda Muslim

Farhan Al Farizi
Tenaga Kependidikan Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Memasuki tahun 2026, kita semakin sering dihadapkan pada fenomena homoseksual yang kian terang-terangan. Praktik ini tidak lagi sekadar dilakukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan mulai berani ditunjukkan di ruang publik, didukung oleh ruang digital yang memfasilitasi kampanye LGBT dan berbagai tayangan podcast yang memberi mereka panggung. Di sisi lain, kemerosotan moral juga tercermin dari maraknya kasus kekerasan, penganiayaan, hingga pembunuhan anak terhadap orang tua hanya karena tuntutan yang tak dipenuhi akibat keterbatasan ekonomi. Padahal, sebagai seorang muslim sekaligus bangsa yang sejatinya menjunjung tinggi adab ketimuran, kita telah memiliki batasan serta panduan yang jelas untuk berinteraksi, khususnya dalam hubungan anak terhadap orang tua. 

Salah satu faktor yang menyebabkan kejadian-kejadian diatas yaitu memang sudah terkikisnya adab ketimuran yang dipegang masyarakat serta semakin jauhnya dari syariat agama Islam. Jika kita melihat kepada 3 generasi emas di awal peradaban Islam, maka kita akan tersadarkan betapa jauhnya jarak generasi saat ini dengan mereka pada masa itu. Hal yang paling berbeda dari zaman 3 generasi awal dengan generasi saat ini adalah adab mereka terhadap ilmu. Orang terdahulu sangat menghargai ilmu, mereka memperhatikan cara mengambil ilmunya, bagaimana menjaga ilmu tersebut hingga merasa perlu untuk mengajarkan ilmu itu kembali agar tetap terjaga dengan baik. Ada b terbaik ini juga sangat dipengaruhi oleh perasaan cinta dan butuh terhadap ilmu. Perasaan ini menjadikan mereka merasa lebih membutuhkan ilmu dibandingkan makanan. 

Mengenai hal diatas, Imam Ibnu Jama’ah dalam kitab klasiknya, Tadzkirotus Sami’ wal Mutakallim, mengutip perkataan dari Imam Ahmad bin Hanbal yang sangat masyhur: “Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada makan dan minum. Karena makan dan minum hanya dibutuhkan satu atau dua kali sehari, sedangkan ilmu dibutuhkan sebanyak embusan nafas seseorang.” Pengibaratan ini yang dipegang teguh oleh generasi awal Islam, di mana mereka menaruh adab dan rasa lapar akan ilmu di atas segalanya. 

Adab yang melahirkan kecintaan dan kebutuhan terhadap ilmu yang menjadi benteng kuat terjaganya adab ketimuran dan kokohnya syariat ditegakkan sedikit demi sedikit terkikis. Hal ini bukan disebabkan ilmu tidak sampai kepada kita, bahkan ilmu sampai kepada kita jauh lebih cepat dan lebih banyak dibandingkan dengan 3 generasi awal keemasan yang penulis sebutkan tadi. Tetapi ilmu yang sampai seringkali tidak diiringi dengan adab sebagai penuntut ilmu yang baik. Lalu apa akibatnya dari ilmu yang sampai dengan tidak dibarengi dengan adab yang baik? 

Akibatnya adalah ilmu tersebut kehilangan keberkahannya. Ilmu hanya menjadi sesuatu yang dibangga-banggakan serta hanya menjadi hafalan semata. Jika hanya menjadi kebanggaan dan hafalan semata, maka tentu kita tidak bisa berharap ilmu tersebut akan bermanfaat. Jika ilmu kehilangan keberkahan maka ilmu tersebut juga tidak bisa menjadi penopang dalam setiap gerak-geriknya. Karena setiap amal dan perbuatan akan kokoh dan Allah SWT terima sebagai amal baik jika landasannya kuat sebagaimana firman Allah SWT : 

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌ ۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًۭا ٣٦

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Q.S. al-Isra [17]: 36)

Ayat diatas mengajarkan kita bahwa apa yang akan kita kerjakan hendaknya memiliki dasar ilmu yang kuat. Selain tidak banyak membawa manfaat, ilmu tanpa keberkahan juga menjadikan pemuda kita sulit untuk menentukan arah hidupnya dan kebingungan dalam mencari panutan seperti apa yang pantas untuk diikuti. Agar lebih mudah dipahami, katakanlah pemuda saat ini kehilangan standar nilai yang diperlukan. Kehilangan standar nilai membuat mereka berusaha menggantikannya dengan menggunakan barang-barang branded, yang terasa lebih nyata dan menurut mereka itu lebih bermakna. Serta membuat mereka lebih mudah diterima oleh komunitas yang diharapkan.

Setelah kehilangan keberkahan ilmu, hal yang juga penting dan semakin marak serta memperkuat kebiasaan diatas adalah pemuda muslim seringkali menjadikan artis-artis kafir sebagai panutan. Hal ini menjadi masalah karena nilai yang dianut tentu bukanlah nilai Islam. Gaya hidup yang dijalani seringkali menyelisihi gaya hidup seorang muslim. Bahkan hal yang lebih mengerikan adalah apa yang disampaikan oleh Nabi SAW : 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:«لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ، شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِي جُحْرِ ضَبٍّ لَاتَّبَعْتُمُوهُمْ» قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: «فَمَنْ؟».

Diriwayatkan dari Abu Sa’īd Al-Khudriy -raḍiyallāhu ‘anhu-, Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Kalian pasti akan mengikuti kebiasaan orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta. Bahkan jika mereka memasuki sarang kadal gurun sekalipun, kalian akan tetap mengikuti mereka.” Kami lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” [Sahih] – [Muttafaq ‘alaih] – [Ṣaḥīḥ Muslim – 2669] 

Hadits diatas menunjukkan bahwa, setiap muslim yang tidak berilmu pada akhirnya akan mengikuti tradisi umat sebelum mereka. Di sinilah ilmu yang diberkahi mengambil peranan penting. Ilmu tersebut bisa menjadi rambu-rambu dalam memilih arah hidup, mana yang dicintai oleh Allah SWT dan mana yang dibenci. Namun ilmu seperti apa yang dijadikan rambu dalam kehidupan? Tentu saja, ilmu yang dibarengi dengan adab oleh penuntutnya. Setelah itu, ilmu tersebut menjadi pedoman dalam tingkah laku individu dan bermasyarakatnya. Dengan ilmu yang seperti ini, maka atas izin Allah SWT akan dapat menjadi pelindung bagi si pemiliknya dan akan Allah SWT angkat derajatnya.

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَـٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ ١١

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, ‘Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu,’ maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. Al-Mujadilah [58]: 11)

Kesimpulannya, ketika jiwa seseorang gersang dari nilai-nilai adab dan fondasi ilmu, akan lahir individu-individu yang dengan mudah terjerumus dalam tindakan kriminal akibat desakan ekonomi, ataupun terjebak dalam gaya hidup hedonistik demi mengejar kepemilikan barang mewah. Kita semua tentu berharap agar senantiasa dikaruniai hidayah oleh Allah SWT untuk menjadi para pembelajar yang menjunjung tinggi keadaban. Dengan demikian, sebuah tatanan kehidupan yang jauh lebih mulia dan bermartabat dapat kita wujudkan bersama. Wallahu a’lam.

Pada akhirnya, jiwa yang kering akan adab serta ilmu akan menumbuhkan manusia-manusia yang tidak segan bertindak kriminal karena ekonomi maupun menganut gaya hidup hedon demi barang branded. Semoga kita semua Allah berikan hidayah untuk menjadi penuntut ilmu yang beradab. Sehingga dengan itu kehidupan yang lebih bermartabat bisa tercapai. Wallahu a’lam.