Syiar

Volume 2 Edisi 1, 2026
Tanggal Terbit 13 Juli 2026

Olahraga, Etika dan Keadilan

Faraz
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Pertandingan sepak bola seharusnya berakhir ketika peluit panjang dibunyikan. Namun, peluit panjang wasit François Letexier dalam momen akbar FIFA 2026 tidak berhasil “menghentikan pertandingan” antara Mesir VS Argentina, sebaliknya justru membuka babak baru berupa perdebatan yang mungkin akan berlangsung lama hingga waktu yang belum dapat dipastikan tergantung dari respon pengurus FIFA. Kontroversi dalam pertandingan Mesir melawan Argentina tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana keputusan wasit memunculkan perdebatan luas tentang keadilan dan fair play. Terlepas dari benar atau salahnya keputusan wasit asal Perancis itu, yang pasti fenomena tersebut mengingatkan kita bahwa olahraga tidak pernah sekadar tentang menang dan kalah, melainkan juga tentang kepercayaan terhadap nilai-nilai etika.

Filosofi Sepak Bola

Secara filosofi, sebenarnya FIFA bukan sekadar penyelenggara turnamen sepak bola terbesar di dunia, tetapi penjaga nilai-nilai universal olahraga. Karena itu, Piala Dunia idealnya bukan hanya menghasilkan juara, melainkan juga memperlihatkan kualitas peradaban manusia. Hal ini sesuai dengan apa yang tertulis dalam Statuta FIFA yang terbaru 2025, menyatakan bahwa FIFA tidak hanya menyelenggarakan kompetisi, tetapi juga mempromosikan sepak bola di seluruh dunia; mempromosikan integritas; fair play; menghormati hak asasi manusia; dan menolak diskriminasi. Khusus bagi pemain, maka konsep fair play sangat patut untuk diterapkan. Dalam statuta FIFA dijelaskan bahwa fair play posisinya lebih tinggi daripada sekadar menaati aturan. Fair play berarti jujur, menghormati lawan,  tidak mencari keuntungan melalui tipu daya seperti melakukan diving dan sejenisnya, dan menerima hasil pertandingan dengan lapang dada. Oleh karena itu, fair play adalah etika, bukan hanya sekedar regulasi. Yang juga menjadi tuntutan bagi pemain maupun wasit dalam statuta FIFA adalah integritas.  Integritas berarti  tidak ada ruang bagi praktik suap, pengaturan skor, konflik kepentingan, manipulasi, dan penyalahgunaan kekuasaan.

Nilai etika dan keadilan menjadi penting dalam sepak bola, karena tanpa keadilan sebuah pertandingan kehilangan makna. Keadilan harus hadir dalam keputusan wasit; penggunaan VAR; dan pemberian sanksi. Tanpa keadilan, hasil pertandingan kehilangan legitimasi. Kompetisi dunia harus dipercaya oleh seluruh bangsa. Pendiri Olimpiade Modern, Pierre de Coubertin, menegaskan bahwa olahraga bukan hanya bertujuan untuk menghasilkan juara tetapi juga membentuk karakter manusia. Pertanyaannya, mengapa kecurangan sering terjadi di dunia olahraga terutama sepak bola? Baik yang dilakukan, pemain, wasit maupun pengurus FIFA sendiri.

Banyak pemerhati sepak bola senior yang berkesimpulan bahwa pertandingan sepak bola telah mengalami pergeseran dari “the beautiful game” menjadi “the efficient game”. Pada era Pele, tahun 1958-1970, sepak bola dunia dikenal dengan keindahannya. Gaya bertanding “Jogo Bonito” artinya permainan indah atau cantik, sangat melekat pada tim Brazil. Banyak penonton dunia mengidolakan Pele karena permainannya yang luar biasa. Pada usia 17 tahun, seorang Pele dengan nama lengkap Edson Arantes do Nascimento, sudah berhasil berkontribusi bagi negaranya untuk memboyong Piala Dunia tahun 1958. Keberhasilan tersebut bahkan ia ulangi pada tahun 1962 dan 1970, praktis sebanyak 3 kali Pele membawa Brazil sebagai Juara, sebuah prestasi yang belum pernah terpecahkan hingga kini, meskipun Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo sama-sama sudah mengikuti 6 kali ajang sepak bola dunia FIFA. Cuma Messi yang berhasil membawa negaranya menjadi juara dan itu pun baru satu kali pada ajang Piala Dunia di Qatar 2022, sementara CR7, julukan Cristiano Ronaldo, belum pernah sekalipun mengharumkan nama negaranya lewat ajang Piala Dunia, meskipun sudah bergelut di dunia sepak bola selama lebih dari 24 tahun. 

Transformasi Olahraga Sepak Bola

Mimpi tentang sepak bola seperti era Pele boleh saja, tetapi dunia olahraga termasuk sepak bola tentu mengalami transformasi. Dewasa ini, yang hilang dari permainan sepak bola tidak hanya “keindahan” ala Brazil, tetapi juga telah terjadi pergeseran paradigma, dari permainan yang berorientasi kreativitas, seperti di zaman Pele, menjadi olahraga yang sangat dipengaruhi ilmu pengetahuan, bisnis dan teknologi. Bila mau dilihat detail, maka transformasi itu bisa dirunut sejak era Pele, 1950-1970, dikenal sebagai era Seni Bermain, karakteristik pemainnya mencakup: Kebebasan individu sangat tinggi, drible dianggap sebagai seni, pelatih belum banyak mengatur posisi pemain secara detail, analisis pertandingan masih sederhana, dan latihan lebih banyak berdasarkan pengalaman daripada ilmu olahraga. Brasil pada tahun 1970 sering disebut sebagai tim paling indah sepanjang sejarah, karena menggabungkan kreativitas, improvisasi, dan teknik individu yang luar biasa.

Periode transformasi kedua berlangsung pada tahun 1980-an, periode ini merupakan awal industrialisasi di dunia sepak bola. Perubahan mulai terlihat pada dekade ini. Penyebabnya antara lain, televisi mulai menyiarkan pertandingan ke seluruh dunia, sponsor besar mulai masuk, nilai transfer pemain meningkat,  dan klub menjadi organisasi bisnis. Pada masa ini, muncul pelatih-pelatih yang menekankan prinsip organisasi pertahanan,  disiplin taktik, efisiensi permainan. Periode ketiga berlangsung tahun 1990-an, disebut sebagai periode revolusi di dunia sepak bola, dimana berlaku putusan Bosman atau Bosman Ruling (1995), yang mengubah pasar transfer pemain di Eropa. Aturan itu mengatakan bahwa setelah kontrak habis, maka seorang pemain bebas berpindah klub tanpa biaya transfer, sehingga pasar pemain menjadi jauh lebih dinamis dan bernilai tinggi.

Contoh paling menarik untuk ini adalah Cristiano Ronaldo (atau dikenal CR7). Debut awal CR7 dalam sepak bola profesional adalah di klub Sporting di negaranya Portugal. Usianya masih 17 tahun, tetapi karena permainannya sangat hebat dan mengejutkan banyak pelatih, Sir Alex Ferguson memboyongnya ke klub Manchester United (MU), Inggris. Setelah kontraknya habis selama 5 tahun, CR7 bebas memilih klub lain yang menjadi impiannya saat itu yakni Real Madrid, padahal di MU kariernya masih sangat dibutuhkan baik oleh pelatih, teman satu tim maupun fansnya. Pada klub impiannya, yakni Real Madrid, CR7 memang terbukti dapat bertahan hampir satu dekade. Meskipun karirnya semakin hebat di Real Madrid, lagi-lagi karena aturan Bosman, Ia ingin mencari suasana baru dan pindah ke  Juventus, Italia. Saat di Juventus praktis hanya sekitar 3 tahun, karena di tahun 2021, CR7 sempat kembali ke MU mungkin melepas rasa kangen, dan akhirnya sejak tahun 2023 hingga sekarang Cristiano Ronaldo bertahan di klub Al-Nassr, Arab.

Hal yang menarik disini adalah mengapa sebuah aturan semacam Bosman Ruling, yang membebaskan pemain secara dinamis berpindah dari satu klub ke klub yang disukai dapat mengubah sebuah citra sepak bola?. Pertama, bahwa akibat aturan yang terlihat sederhana itu, sepak bola menjadi industri miliaran dolar. Kedua, klub-klub kaya mulai mendominasi, dan ketiga, pemain menjadi aset ekonomi. Berbarengan dengan itu, munculah Liga Champions Modern, pada pertengahan 1990-an, dimana kompetisi antarklub Eropa berkembang menjadi produk hiburan global. Hak siar televisi meningkat sangat besar. Klub berubah menjadi bak perusahaan, merek global, mesin bisnis. Pada periode keempat, dimana teknologi semakin maju, dan dunia olahraga termasuk sepak bola memasuki Era Sport Science yang dimulai tahun 2000-an. Pada era ini, teknologi dapat dikatakan telah benar-benar masuk di dunia sepak bola. Setiap pemain mulai dipantau dengan GPS, analisis detak jantung, pengukuran VO₂ max, analisis kelelahan, nutrisi, psikologi olahraga, dan biomekanika.  Latihan bukan lagi sekadar “berlari keliling lapangan”, tetapi didasarkan pada data.

Pada periode terakhir, yakni periode Big Data dan Artificial intelligence (AI),  yang di mulai tahun 2010 hingga kini. Dewasa ini, hampir semua klub elite menggunakan GPS tracking, kamera yang merekam semua gerakan pemain,  kecerdasan buatan untuk analisis lawan, machine learning, video analytics, VAR, dan semi-automated offside technology. Selain itu, pelatih sekarang sudah mengetahui, berapa kilometer pemain berlari, berapa sprint, kecepatan maksimum, area yang paling sering ditempati, bahkan probabilitas cedera. Hal yang paling menarik untuk dibahas mengenai sepak bola periode teknologi AI ini adalah kondisi pemain yang sudah sangat sulit diharapkan dapat melakukan kreativitas, improvisasi dan teknik individu yang melahirkan permainan cantik ala Brazil “Jogo Bonito”. Menurut banyak analis, ada beberapa penyebab utama untuk hal itu. Pada era Pele, pemain kreatif masih memiliki ruang gerak beberapa detik dan cukup. Tetapi sekarang, pemain begitu menerima bola, maka 2–3 pemain langsung menekan. Akibatnya, waktu berpikir semakin pendek, improvisasi semakin sulit. Pada era dulu, pemain bebas bergerak untuk melakukan improvisasi, tetapi sekarang setiap ruang dijaga, setiap perpindahan pemain dianalisis. Pelatih lebih mengutamakan struktur daripada kebebasan individu. 

Dewasa ini, satu pertandingan bisa bernilai ratusan juta dolar. Kesalahan kecil bisa berarti: gagal lolos, kehilangan sponsor, dan kerugian finansial besar. Karena itu pelatih cenderung memilih permainan yang lebih aman dan efisien daripada berisiko demi hiburan. Namun, semua ini tidak berarti permainan sepak bola di era AI ini tidak indah. Permainan indah dan menarik dewasa ini sebenarnya tergantung dari pandangan kita masing-masing. Sepak bola hingga kini tetap menjadi olahraga terfavorit di dunia karena tetap menampilkan keindahan dalam bentuk lain. Kalau dulu era Pele, Diego Maradona, dan Johan Cruyff memikat melalui drible, improvisasi dan kreativitas spontan, dewasa ini sebenarnya kita dapat menikmati keindahan juga melalui koordinasi sebelas pemain yang sangat presisi, pressing yang sinkron, transisi cepat, dan kecerdasan taktik yang mempesona. Artinya, sepak bola modern era AI ini menawarkan keindahan dalam bentuk yang berbeda.

Perspektif Psikologi

Persoalan utama yang yang menarik untuk didalami dalam tulisan ini adalah mengapa ketika sepak bola modern memiliki aturan yang sedemikian lengkap, teknologi sangat canggih, seperti penggunaan teknologi VAR, Goal-Line Technology, semi-automated offside, sistem pengawasan semakin ketat, dan sanksi juga semakin jelas, tetapi kita masih saja menyaksikan para pemain yang melakukan diving, berpura-pura cedera, melakukan provokasi, mengulur waktu, melakukan kekerasan terselubung, pengaturan skor (match fixing), suap wasit, ujaran kebencian dari suporter, rasisme, hingga perilaku tidak sportif di luar lapangan. Inilah paradoks dalam sepak bola modern. Artinya, yang kurang dalam sepak bola modern dewasa ini bukanlah aturan melainkan pembentukan karakter.

Perspektif psikologi mempunyai jawaban mengenai permasalahan ini. Psikologi memandang bahwa perilaku manusia tidak hanya dikendalikan oleh aturan eksternal, tetapi juga oleh faktor-faktor internal. Lawrence Kohlberg (1981) menjelaskan bahwa manusia memiliki tahapan perkembangan moral, dimana seorang pemain dapat mematuhi aturan karena tiga alasan: takut hukuman, ingin mendapat penghargaan, atau karena memang meyakini bahwa kejujuran adalah nilai hidup.  Masalahnya, banyak perilaku fair play masih berada pada level pertama dan kedua. Contohnya: “Saya tidak diving karena takut terkena VAR.” Ini bukan integritas. Sedangkan integritas akan berbunyi: “Saya tidak diving meskipun tidak ada VAR.” Di sinilah psikologi membedakan antara compliance (patuh karena diawasi) dan internalization (patuh karena nilai telah menjadi bagian dari diri).

Pakar lain, Albert Bandura menjelaskan bahwa manusia belajar melalui model. Jika pemain muda melihat bahwa pemain terkenal sering diving, pelatih menghalalkan segala cara, suporter memuji kemenangan apapun caranya, maka perilaku tersebut akan dianggap normal. Oleh karena itu dalam psikologi disebutkan bahwa perilaku sportif harus dicontohkan, bukan hanya diajarkan. Psikologi modern menjelaskan pentingnya self-regulation, yaitu pemain harus mampu mengendalikan emosi, impuls, frustasi, agresivitas, dan ego. Sering kali kartu merah bukan muncul karena kurang memahami aturan, tetapi karena gagal mengendalikan emosi. Bandura juga memperkenalkan konsep moral disengagement, yaitu mekanisme psikologis ketika seseorang membenarkan tindakan yang salah. Misalnya: “Semua tim juga melakukan diving.” “Kalau tidak curang kami kalah.” “Wasit juga tidak adil.” Akhirnya hati nurani menjadi tidak aktif. Inilah awal hilangnya integritas.

Perspektif Islam

Islam melihat persoalan paradoks sepak bola modern ini jauh lebih dalam. Islam tidak berhenti pada perilaku, tetapi menyentuh hati (qalb). Hadits Bukhari No.52 dan Muslim No 1599: “Ketahuilah, dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati.” Artinya, teknologi hanya mengawasi tindakan. Allah mengawasi niat. Dalam Islam ada yang namanya Ihsan. Konsep Ihsan menjelaskan bahwa bermain secara fair play bukan sekadar menaati aturan FIFA. Tetapi merasa diawasi Allah. Konsep ihsan: “Beribadahlah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” Pemain yang memiliki ihsan akan berkata: “Saya tidak akan curang walaupun wasit tidak melihat.” 

Perspektif Islam dalam konteks FIFA dewasa ini, memang mungkin akan kurang efektif karena banyak pemain top dunia, bukanlah pemain yang memahami konsep Islam. Namun demikian, perspektif Islam dan psikologi mempunyai titik temu, bahwa kedua perspektif sepakat bahwa aturan eksternal hanya mampu mengendalikan perilaku ketika ada pengawasan. Namun, nilai internal mengendalikan perilaku bahkan ketika tidak ada yang melihat. Teknologi menghasilkan compliance. Karakter menghasilkan integritas. Psikologi membantu memahami bagaimana karakter terbentuk melalui proses belajar, perkembangan moral, regulasi diri, dan pengaruh lingkungan. Islam memberikan landasan normatif tentang mengapa karakter itu harus dibangun, yakni sebagai bentuk ketaatan kepada Allah dan tanggung jawab sebagai khalifah di bumi. Dengan demikian, psikologi menawarkan mekanisme pembentukan perilaku, sedangkan Islam memberikan arah dan tujuan moralnya.

Referensi

Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191–215. https://doi.org/10.1037/0033-295X.84.2.191

Dewi, R. K. (2024). Pengertian, Tujuan, Teknik Dasar, dan Sejarah Permainan Sepak Bola. Kompas.com.

Fédération Internationale de Football Association. (2025). FIFA Statutes (May 2025 ed.). FIFA. Diakses dari FIFA Rules & Reports

Goldblatt, D. (2006). The Ball is Round: A Global History of Football. Penguin Books.

Kohlberg, L. (1981). The philosophy of moral development: Moral stages and the idea of justice (Vol. 1). Harper & Row.

Sicca, S. P. (2021). Bagaimana Sejarah Sepak Bola Jadi Olahraga Mendunia? Kompas.com.