Opini

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025

Islamic Well Being Index (IWI): Pertemuan pemikiran ulama dan upaya mengukur kesejahteraan umat.

Emi Zulaifah
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Dalam kehidupan bersama umat manusia di dunia ini, para pembuat kebijakan, pemimpin,  serta pengambil keputusan seringkali harus mengandalkan ukuran-ukuran pembangunan untuk melihat apakah kondisi masyarakat yang mereka bina selama ini telah menunjukkan keadaan yang ideal. Jika ideal, dilihat dari mana, apa saja tolok ukurnya? Jika kemudian harus  dibenahi, arah mana yang akan dituju?. Dengan kata lain, tolok ukur, yang di masa sekarang muncul dalam berbagai indeks, menjadi suatu acuan yang strategis bagi pengembangan dan pembangunan masyarakat. 

Menurut World Population Review, terdapat beragam indeks kualitas hidup yang dikembangkan oleh berbagai lembaga dengan metodologi masing-masing. Misalnya, Human Development Index (HDI) yang disusun oleh PBB menilai pembangunan manusia berdasarkan tiga aspek utama: kesehatan, pendidikan, dan tingkat pendapatan. Lembaga lain seperti Numbeo, melalui basis data kualitas hidup globalnya, menggunakan indikator yang meliputi daya beli, tingkat polusi, keterjangkauan harga rumah, biaya hidup, keselamatan, kualitas layanan kesehatan, lalu lintas (waktu tempuh), serta kondisi iklim. Sementara itu, U.S. News memiliki indeks yang menilai pasar kerja, stabilitas ekonomi dan politik, kebijakan ramah keluarga, kesetaraan pendapatan, keamanan, serta kualitas pendidikan dan sistem kesehatan publik. Contoh-contoh ukuran ini akan diikuti sederet indeks lainnya, dari berbagai lembaga yang mencakup indikator yang tidak sama. 

Beragam indeks tersebut memberikan gambaran yang luas tentang kesejahteraan kehidupan manusia. Namun, jika dilihat dari perspektif masyarakat Muslim yang memahami agamanya sebagai Dien, sebuah pandangan hidup yang menyeluruh, indikator-indikator tersebut belum sepenuhnya mewakili kualitas kehidupan ideal menurut Islam.

Tanpa bermaksud untuk meniadakan arti penting indeks yang telah dikembangkan, dari sudut pandang Islam indeks tersebut belum bisa dipandang telah mencakup semua hal penting kehidupan umat,  sehingga masih kurang tepat jika digunakan sebagai representasi kualitas hidup manusia, yaitu manusia yang tunduk dan beriman kepada Allah, menjaga alam, menumbuhkan dirinya, hidup bersama sesama manusia dan juga hidup dalam lingkungan materi atau lingkungan buatan (Muneim, 2018). Salah satu hal yang bisa dicermati, misalnya: jika kesejahteraan harus melihat pula sisi psiko-emosional dan ruhaniyah, yang mungkin tidak selalu berjalan seiring dengan kesejahteraan material, apakah indeks yang ada sudah mewakili dengan baik hal ini. 

Pandangan Islam tentang Kesejahteraan

Dalam cara pandang Islam, kesejahteraan tidak hanya mencakup aspek material, tetapi juga aspek psiko-emosional dan ruhaniyah. Jika kesejahteraan spiritual diabaikan, maka ukuran kualitas hidup menjadi tidak lengkap. Selain itu, agama memegang peran penting karena, terutama dari sisi penghayatan dan pelaksanaan yang baik, karena menunjukkan hubungan manusia dengan Allah, Sang Pencipta dan Pemelihara seluruh alam. Maka, pertanyaan penting pun muncul: bagaimana hubungan dengan Allah dapat dimunculkan dalam sebuah indeks kesejahteraan?

Dalam pandangan Islam, beberapa hal akan sangat crucial dan berurusan dengan alasan-alasan kehidupan kita sebagai manusia ciptaan Allah sehingga tidak layak untuk ditiadakan. Islam, dalam sistem nilainya, memiliki deskripsi tentang umat yang antara lain diwakili dalam beberapa kata berikut: Ummatan Muslimatan, juga dalam istilah Ummatan wasathan.  Cita-cita kesejahteraan masyarakatnya,  salah satunya termaktub dalam kalimat Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafuur, negeri yang makmur dan sentosa dalam limpahan ampunan Allah (Nurdin, Darmadi & Nugraha, 2015)

Dalam surah al-Baqarah (2: 128) dicantumkan doa Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami (ummatan muslimatan) umat yang tunduk patuh kepada Engkau …” Disebutkan juga bahwa umat  Islam, sebagai ummatan wasathan, dijadikan sebagai umat yang adil karena ia bertugas menjadi saksi atas umat lainnya, sedangkan Rasulullah menjadi saksi atas Umat Islam (surah al- Baqarah – 2: 143) 

Konsep negeri yang makmur dan diberkahi juga digambarkan dalam QS. Saba’: 15. Dalam tafsir Al-Maududi disebutkan bahwa kemakmuran sejati menuntut rasa syukur dan pengakuan terhadap karunia Allah, yang Maha Memberi dan Melimpahkan Kecukupan. Kesejahteraan tersebut bukan datang dari siapa-siapa, namun dari Allah. Sementara Ibnu Katsir menegaskan pentingnya tauhid dan ketaatan sebagai syarat keberkahan (Myislam.org, 2025). Namun ketika syukur dan ketaatan ditinggalkan, kehancuran pun datang, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Saba’: 16–17. Dengan demikian, kesejahteraan dalam pandangan Islam bukan hanya soal kemakmuran ekonomi, tetapi juga ketaatan, kesyukuran, dan keberlanjutan hubungan dengan Allah. Mengabaikan dimensi moral dan spiritual ini berarti mengabaikan sumber sejati dari kesejahteraan itu sendiri.

Indikator Kesejahteraan Dunia dan Keterbatasannya

Selain belum menyentuh secara komprehensif hal-hal yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat Muslim. Indeks kesejahteraan global seringkali belum menyentuh aspek-aspek yang dianggap penting dalam kehidupan masyarakat Muslim. Akibatnya, banyak negara mayoritas Muslim dinilai kurang sejahtera dibanding negara-negara Barat seperti Norwegia, Denmark, Finlandia, Swiss, dan Belanda yang secara konsisten menempati peringkat teratas dalam HDI dan Quality of Life Index yang telah diuraikan di atas.

Lebih jauh sebenarnya ada visi masyarakat Muslim yang Allah menyebutnya dalam Al Qur’an yaitu : Khaira ummah, umat terbaik. Seperti apa kriterianya sehingga umat terbaik ini menjadi titel bagi umat yang mengikuti-Nya?. Dengan lebih rinci ayat tentang ini menyebutkan: Ta’muruna bil Ma’ruf, wa tan hauna ‘anil munkar. Mengajak kepada kebaikan dan mencegah keburukan. Dalam pandangan Islam, kesejahteraan sejati tidak hanya diukur dari keseimbangan ekonomi atau pendidikan, tetapi juga dari sejauh mana masyarakatnya menegakkan nilai-nilai kebaikan.

Tentu saja kata Ma’ruf, ini definisinya bisa sangat luas,  yang mungkin para pemikir Muslim akan kemudian memperlihatkan batasannya sebagai “Jangan kalian membuat kerusakan, namun kemudian menunjukkannya sebagai kebaikan”, “Jangan membuat kerusakan, setelah Allah membuatnya baik” yang tentu saja amat banyak hikmah-hikmahnya, serta sangat ditunggu umat dalam menjalankan muamalat mereka sehari-sehari. 

The Islamic Well-being Index (IWI): Upaya Membangun Indeks Kesejahteraan Hakiki

Alhamdulillah, para pemikir dan ulama kontemporer Muslim tidak berhenti berijtihad untuk menghadirkan ukuran kesejahteraan yang selaras dengan nilai-nilai Islam. Salah satu hasilnya adalah Islamic Well-Being Index (IWI), sebuah indeks yang dibangun berdasarkan prinsip Maqashid al-Syariah atau  tujuan-tujuan utama syariat Islam  yang dikembangkan oleh Imam Al-Ghazali.

IWI pertama kali diperkenalkan pada tahun 2013 (IWI 1.0) dan kini telah mencapai edisi IWI 5.0 (2025). Dalam perkembangan awalnya IWI digunakan untuk menilai kualitas tata kelola (governance) dan kesejahteraan di negara-negara Muslim.  Pada versi saat ini, IWI mendasarkan indikatornya dari Maqashid al shariah klasik serta dari hasil pertimbangan ulama dari tradisi Maqashid di masa sekarang (Batchelor, 2021). Indeks awal tersebut mendudukkan Indonesia  sebagai “the world’s largest Muslim country with a successful democracy, experienced an Islamic resurgence, which is reflected in its citizens’ moderate values and practices.”  

Pada IWI 5.0, di tahun ini,  indikator yang digunakan mengikuti tujuan-tujuan tertinggi dari hukum Islam, bukan hanya berfokus pada  kriteria berdasarkan kerangka hukum atau pengelolaan pemerintahan. Kelima tujuan tertinggi dari hukum Islam  itu adalah menjaga agama (Dien), kehidupan (Nafs), nalar/intelek (Aql), keluarga/ keturunan (Nasl) dan harta/ wealth (Mal). 

Menjaga agama dijelaskan oleh Md.Ramli, Ismail dan Tasrif  (2015) sebagai “the preservation and development of human faith through spiritual enrichment in the divine  law, embracing good moral standards, and performing religious practices at the individual, family and nation (ummah) levels” Dari sisi menjaga agama, indikator kesejahteraan tersebut adalah: Shalat yang dipraktekkan dengan tingkat tinggi, kehadiran di masjid, dan religiusitas personal. Data-data terkait ini dikumpulkan dari berbagai sumber, termasuk Pew Research (Batchelor, 2025)

Dari dimensi menjaga kehidupan, tolok ukur berikut menjadi indikator dari maqasid kedua, yaitu: hak untuk hidup dan memiliki kemerdekaan pribadi, keamanan nasional dan kemampuan masyarakat mempertahankan atau melindungi diri, ketercukupan pangan, papan dan sandang bagi mereka yang tidak mampu menyediakan secara mandiri, ketersediaan pelayanan kesehatan berkualitas dan terjangkau, dan perlindungan lingkungan atau alam.

Berdasarkan indeks yang telah beredar dalam masyarakat di dunia, maka indikator berikut ini dapat digunakan sebagai tolok ukur dari menjaga kehidupan yaitu: Global peace index (keamanan atau ketenangan masyarakat), konflik domestik maupun internasional yang terus berlangsung, dan tingkat militerisasi; indeks kemiskinan (mengukur proporsi masyarakat yang masih ada di bawah garis keberlangsungan hidup atau garis kemiskinan);  Tingkat kejahatan pembunuhan, angka bayi lahir hidup, dan indeks kinerja lingkungan yang mencakup kesehatan lingkungan dan vitalitas ekosistem. 

Untuk tujuan menjaga akal atau intelek atau nalar, maka indikator berikut diberlakukan: angka literasi orang dewasa, pendidikan yang melibatkan perempuan (terutama angka melanjutkan pendidikan sekunder pada para perempuan), investasi penelitian, dan kebebasan media. 

Dari sisi menjaga keluarga atau keturunan, hal berikut ini menjadi indikatornya: angka kesuburan yang stabil, peningkatan pelayanan kesehatan ibu dan anak, serta kohesivitas keluarga. Untuk tujuan menjaga harta, IWI menggunakan indikator seperti: korupsi yang rendah, serta sektor finansial islam yang kuat.

Dengan kerangka ini, kesejahteraan dalam pandangan Islam tidak hanya diukur dari aspek material-duniawi, tetapi juga dari kelestarian agama, moralitas, dan keberlanjutan nilai-nilai ilahi dalam kehidupan masyarakat serta pelestarian alam.

Penutup

Kesejahteraan dan kualitas hidup dalam pandangan Islam tidak dibangun dengan meninggalkan petunjuk suci dari Allah Subhanahu wa ta’ala, yang dicantumkan dalam kitabNya dan disampaikan serta dicontohkan oleh rasul-rasulNya. Dengan demikian indikator dari kesejahteraan itu seharusnya juga memasukkan prinsip serta cita-cita ideal dari masyarakat Islam. Upaya para pemikir Muslim sangat patut untuk dihargai.  Dengan ini benchmark kesejahteraan umat tidak lagi bersifat hanya materi saja namun mencakup pula keberlangsungan agama dan keberagamaan, penghormatan atas nilai-nilai kehidupan secara keseluruhan. Di atas itu semua, tolok ukur ini akan dapat menjawab kebutuhan pengembangan masyarakat Muslim, dengan konteks dan tantangan pembangunannya yang khas. 

Referensi

Muneim, A.A. (2018). Pendidikan Karakter untuk Pengembangan Kurikulum dan Pembangunan Berkelanjutan. MillahJournal of Religious Studies. (17), 2, 221-226. 10.20885/millah.vol17.iss2.art4

Batchelor, D. (2021). An Enhanced Islamic Index of Well-Being (IWI 2.0-2021) for Muslim Countries. ICR Journal12(2), 195–234. https://doi.org/10.52282/icr.v12i2.850

Batchelor, D. (2025). Maldives and Malaysia top 2025 Islamic Wellbeing Index: A testament to holistic belief in action. The Australasian Muslim Times.  Accessed from  https://www.amust.com.au/2025/09/maldives-and-malaysia-top-2025-islamic-wellbeing-index-a-testament-to-holistic-belief-in-action/. Retrieved on October 28th, 2025. 

Myislam.org (2025).   Surat Saba ayat 15 (34:15 Al Qur’an) with Tafsir. Accessed from https://myislam.org/surah-saba/ayat-15/, retrieved on November 1, 2025. 

Md. Ramli, R., Ismail, Ag., Tasrif, M. (2015). “M-Dex among Islamic Countries”, accessed https://doczz.net/doc/987140/m-dex-among-the-islamic-countries-raudha-md.-ramli-abdul. (Accessed on: November 1, 2025)

Nurdin, A.A., Darmadi,D., Nugraha, E. ( 2015) Sosiologi al-Qur’an: Agama dan masyarakat dalam Islam. Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta. 

World Population Review (2025). Standard of living by country. Accessed from https://worldpopulationreview.com/country-rankings/standard-of-living-by-country. Retrieved on November 1, 2025