FPSB UII Berikan Pelatihan Gratis di Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta

Image

Suasana Pelatihan Manajemen Stres bagi Siswa Kelas XII sebagai persiapan hadapi UN

Dalam rangka melaksanakan pengabdian masyarakat serta untuk lebih mendekatkan diri kepada siswa/i SLTA, Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia memberikan 3 pelatihan gratis sekaligus kepada siswa/i Madrasah Aliyah Negeri 1 Yogyakarta untuk bidang Psikologi, Komunikasi dan Bahasa Inggris. Total peserta pelatihan pada hari Sabtu, 2 April 2011 tersebut lebih dari 500 peserta yang terdiri atas siswa/i dan guru.

HYPNOSIS, HARAMKAH?

Image

Suasana Workshop Ericksonian Hypnotherapy bersama Asep Haerul Gani

Meski saat ini banyak sekali tayangan televisi yang menyajikan praktik hipnosis (hipnotis) yang dikemas sedemikian menarik, tentu masih banyak pula orang yang bertanya ataupun ingin mencari tahu tentang hipnotis/hypnosis. Oleh karena itu, Program Pascasarjana Magister Profesi Psikologi FPSB UII secara khusus megnhadirkan Drs. Asep Haerul Gani, Psikolog selama dua hari (10-11 Maret 2011) untuk berbagai pengetahuan mengenai Hypnosis khususnya yang menggunakan pendekatan Ericksonian (Ericksonian Hypnoterapy). Kegiatan yang diikuti oleh beberapa peserta dari berbagai disiplin ilmu (ekonomi, psikologi, kedokteran, dll) diselenggarakan di Auditorium FPSB UII.

Peran Psikologi dan Komunikasi dalam Menyikapi Terpaan Media Televisi

Image

Effendy Gazali (kanan) bersama Tika Bisono (tengah) dan Iwan Awaluddin Yusuf (kiri) dalam acara Seminar Nasional Komunikasi Psikologi di GKU. Dr. Sardjito UII

Televisi merupakan salah media paling familiar dan favorite di masyarakat. Televisi menjadi salah satu media audio visual yang mampu menyajikan berbagai informasi, pesan maupuan menyajikan berbagai tayangan hiburan, seperti halnya salah satu tayangan “parodi” perpolitikan di negeri kita yang berjudul “Republik Mimpi”. Siapa sangka bahwa siaran yang pernah ditayangkan oleh beberapa televisi nasional tersebut pernah menjadi salah satu program televisi dari Asia yang turut serta didiskusikan pada International TV Conference ke 32 di Warsawa, Polandia.

KMPP, Gelar Donor Darah

Image

Dua orang Mahasiswa sedang diambil mendonorkan darah oleh petugas PMI Kota Yogyakarta

Dalam rangka memperingati ulang tahunnya ke-8 yang jatuh pada tanggal 4 Maret,  Komunitas Mahasiswa Psikologi Progresif atau sering disingkat KMPP mengawalinya serangkaian kegiatannya dengan menggelar “Donor Darah” selama 2 hari, yakni tanggal 2 & 3 Maret 2011. Kegiatan yang diselenggarakan sejak Pkl. 9.00 wib hingga 14.00wib di Gedung Kemahasiswaan FPSB UII dengan melibatkan PMI Kota Yogyakarta ini cukup mendapat simpati dari mahasiswa UII, khususnya mahasiswa FPSB UII. Pada hari pertama setidaknya ada lebih dari 25 mahasiswa yang berminat untuk mendonorkan darahnya, meski yang memenuhi syarat hanya 19 orang. Sedangkan di hari kedua setidaknya ada 17 orang mahasiswa yang berhasil mendonorkan darahnya

SMA N 5 Madiun, Belajar Meraih Sukses di FPSB UII

Image

Suasana Pelatihan Belajar Meraih Sukses Siswa/i SMA N 5 Madiun bersama Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog

Dengan didampingi oleh 4 orang guru, 36 siswa-siswi “kelas khusus” SMAN 5 Madiun pada hari Senin, 21 Februari 2011 lalu berkunjung ke Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Kehadiran rombongan tersebut dalam rangka mengikuti pelatihan peningkatan motivasi bertema “Belajar Meraih Sukses” yang difasilitasi oleh Pusat Psikologi Terapan (PPT) FPSB UII. Hadir sebagai pemateri dalam pelatihan tersebut adalah Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog yang juga dekan FPSB UII.

Anugerah Prestasi Mahasiswa 2011

Image

Segera Daftar Yaa…….!!!!

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya (FPSB) UII kembali memberikan Anugerah Prestasi Mahasiswa Tahun 2011 yang merupakan komitmen FPSB UII untuk menghargai kesungguhan, dedikasi, komitmen dan kerja keras mahasiswa dalam bidang akademik maupun non akademik. Penghargaan akan diberikan terhadap prestasi-prestasi : (a) Utama/Mahasiwa Teladan, (b) Karya Tulis/Penelitian, (c) Kesenian/Karya kreatif/enterpreneurship), (d) Olah raga, (e) Komunikasi/Publikasi, (f) Pembimbingan/Pendampingan, (g) Akademik

Outline:

a)    Penghargaan bagi mahasiswa teladan/berprestasi utama diberikan kepada mahasiswa yang memiliki indeks prestasi kumulatif tinggi, memiliki karya tulis, aktif dalam kegiatan esktra kurikuler dan mampu berbahasa Inggris.

b)    Penghargaan bagi mahasiswa berprestasi bidang penelitian/karya tulis ilmiah dan atau aktif melakukan riset pustaka, riset laboratorium, dan riset lapangan, dan atau memperoleh penghargaan dari lomba karya tulis ilmiah dan atau aktif  menjadi staf/asisten   penelitian.

c)     Penghargaan bagi mahasiswa berprestasi bidang komunikasi/publikasi diberikan kepada mahasiswa yang memiliki tulisan di   media massa (lokal maupun nasional) dan atau makalah yang      dipresentasikan dalam kegiatan ilmiah/pengabdian    masyarakat dan atau modul pelatihan dan atau pendapat-pendapatnya dikutip oleh media massa (media cetak maupun    elektronik) dan juga buku yang diterbitkan.

d)    Penghagargan bagi mahasiswa berprestasi bidang  kesenian/Karya Kreatif/Enterpreneurship diberikan kepada mahasiswa yang memenangkan lomba/memperoleh penghargaan/aktif dalam kegiatan bidang kesenian/Karya Kreatif/Enterpreneurship,  termasuk mengikuti berbagai pameran dan aktif dalam kegiatan produksi kesenian/enterpreneur/karya kreatif (seni tari, film, fotografi, usaha, dsb).

e)    Penghargaan bagi mahasiswa berprestasi bidang olahraga     diberikan kepada mahasiswa yang memenangkan lomba/pertandingan olah raga mulai dari tingkat    kampus sampai     dengan internasional.

f)     Penghargaan bagi mahasiswa berprestasi bidang  pem-bimbingan/pendampingan diberikan kepada mahasiswa yang aktif sebagai asisten atau pen-damping kegiatan mahasiswa, baik intra kurikuler  maupun ekstra kurikuler.

g)    Penghargaan bagi mahasiswa berprestasi bidang akademik    diberikan kepada mahasiswa yang memiliki Indeks Prestasi (IP) tertinggi di program studi (dua semester terakhir).

Persyaratan :

1.     Tercatat aktif sebagai mahasiswa    Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial   Budaya UII (D3/S1 Prodi  Psikologi, Komunikasi, Bahasa Inggris). Pendaftaran bisa pribadi/berkelompok.

2.     Bahan-bahan prestasi yang dinilai adalah prestasi yang dicapai dalam satu tahun terakhir sebelum pemberian penghargaan (1 April 2010-31 Maret 2011). Khusus  pemilihan Mahasiswa  Teladan,   bahan-bahan yang dinilai adalah data tiga (3)  tahun terakhir (1 April 2008 s.d 31  Maret 2011).

3.   Mendaftarkan formulir dan bukti-bukti ke staf Divisi  Humas dan Kemahasiswaan (Pak Widodo HP). Bukti-bukti harus sudah diserahkan ke panitia selambat-lambatnya tanggal 05 April 2011.

Download formulir di : 

http://www.ziddu.com/download/14003999/FORMULIR_APM_2011_FPSB_UII.doc.html

Senat Universitas Maranatha Bandung, Kunjungi FPSB UII

Image

Rombongan Mahasiswa Universitas Maranatha Bandung saat singgah di Perpustakan FPSB UII

Sekitar lebih kurang 60 mahasiswa dari keluarga besar Senat Mahasiswa Universitas Kristen Maranatha Bandung, di penghujung Januari 2011 lalu mengadakan kunjungan ke FPSB UII.  Kehadiran rombongan diterima hangat oleh Dekan FPSB UII beserta segenap fungsionaris Lembaga Eksekutif Mahasiswa FPSB UII. Setelah menyampaikan maksud dan tujuannya berkunjung ke FPSB UII dan mendapat banyak tambahan pengetahuan tentang sejarah berdirinya UII yang disampaikan oleh Dekan FPSB UII, Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog, rombongan langsung mengadakan tour atau kunjungan ke beberapa fasilitas yang ada di FPSB UII seperti Perpustakaan, Pusat Psikologi Terapan, kantor Administrasi S1, kantor administrasi Program Magister Profesi Psikologi, dan juga Laboratorium Psikologi.

IKIP PGRI Jember Kuliah Umum di FPSB UII

Image

Pak Sus Budiharto saat memberikan materi dan berinteraksi dengan para mahasiswa IKIP PGRI Jember

Untuk kali ketiga keluarga besar IKIP PGRI Jember berkunjung  ke Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia. Kehadiran rombongan berjumlah 120 orang mahasiswa dengan menggunakan 2 armada bus tersebut tiba di Kampus Terpadu UII pada tanggal 28 Januari 2011 sekitar Pkl. 03.00 wib dini hari. Setibanya di Kampus Terpadu UII, rombongan berkesempatan untuk sekedar melepas lelah (transit) di RUSUNAWA UII yang terletak sekitar 300m dari GKU Prof. Dr. Sardjito. Sekitar 4 jam kemudian atau tepatnya pkl. 07.30 wib, rombongan bergegas menuju Auditorium FPSB UII dalam rangka rangka mengikuti kuliah umum mengenai ‘Kesehatan Holistik’ yang disampaikan oleh Sus Budiharto, S.Psi., M.Si., Psikolog, serta tentang ‘Menjadi Guru yang Empatik’ yang disampaikan oleh Rr. Indahria Sulistyarini, S.Psi., MA.

Organisasi Kampus sebagai Kawah Condrodhimuko

Berbicara mengenai rendahnya minat mahasiswa dalam berorganisasi di kampus, saya teringat buku karangan Fuad Nashori (2010) yang bersubtemakan Menjadi Mahasiswa Sukses. Mahasiswa yang jumlahnya kian hari semakin banyak, dapat dikelompokkan dalam beberapa golongan. Trow dan Clark (Nashori, 2010) mengelompokkan menjadi empat kelompok berdasarkan subkultur atau kebiasaan hidup.

Pertama, subkultur akademik. Mereka mempunyai ciri berorientasi hidup selaras dengan tujuan perguruan tinggi. Kehidupan mereka ini, lebih banyak berada di ruang kuliah, laboratorium, dan perpustakaan. Sebagain dari mereka menyempatkan waktu untuk mengikuti kegiatan-kegiatan non akademik dengan tujuan pengembangan diri. Mereka kurang menyukai kegiatan hura-hura karena dianggapnya cuma membuang-buang waktu.

Kelompok kedua, subkultur vokasioanl. Kelompok ini memandang perguruan tinggi (PT) hanya sebagai ‘tangga’ untuk memasuki dunia kerja, karena mendambakan adanya mobilitas sosial ekonomi yang lebih baik. Yang menjadi sasaran mahasiswa semacam ini adalah cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan dengan gaji dan kedudukan yang memuaskan. Beda dengan kelompok yang pertama, kelompok kedua ini tidak memprioritaskan peningkatan kualitas intelektualitasnya.

Kelompok ketiga, subkultur kolegiat. Mahasiswa kelompok ini amat menyukai kegiatan yang berbau hura-hura, olahraga, kesenian, dan banyak terlibat dalam kegiatan sosial walaupun mungkin hanya sebagai ‘penggembira’ saja. Aspek intelektual dan acara-acara serius tak begitu diminati. Untuk masalah kuliah nilai pas-pasan cukup bagi mahasiswa semacam ini.

Kelompok keempat, golongan subkultur non-konformis. Mungkin ini kelompok yang agak langka. Masa kuliah digunakan untuk mengejar hasrat pribadi dalam memahami bidang keilmuan. Mereka memiliki keluasan wawasan. Mempunyai kegandrungan intelektual yang besar. Mempunyai kiat-kiat tersendiri dalam menguatkan kompetensi keilmuan, terutama melalui jalur informal. Justru hal yang formal kurang disukainya. Mahasiswa semacam ini akan mencari pengalaman sebanyak mungkin yang digemarinya. Biasa terlibat dalam organisasi kemahasiswaan di kampus dan cenderung menjadi tokohnya.

Tipe Mahasiswa Paling Sukses

Pertanyaan selanjutnya, kelompok mana yang paling sukses? ada dua ukuran yang dapat digunakan untuk menilai apakah seorang mahasiwa itu telah berhasil atau tidak. Parameter pertama adalah prestasi akademik yang terlihat dari tinggi indeks prestasi (IP) yang dicapai. Benar adanya bahwa mahasiswa yang mempunyai kebiasaan selaras dengan tujuan perguruan tinggi adalah peraih IP tertinggi. Dari hasil penelitian Hodgins dengan menggunakan teori Trow dan Clark (Akhson, 1991: Nashori 2010) diungkap bahwa urutan peraih IP tertinggi adalah kelompok non-konformis, kelompok akademik, kelompok vokasional, dan kelompok kolegiat. Mengapa mahasiswa non-konformis mempunyai IP yang lebih tinggi dibanding mahasiswa akademik?

Di atas telah penulis kemukakan bahwa mahasiswa non-konformis memiliki kecenderungan intelektual yang tinggi. Mereka menempuh cara-cara mendapatkan ilmu secara “luwes”. Mempunyai peluang yang lebih untuk memahami materi kuliah secara mendalam melalui berbagai sumber. Keunggulan kelompok non-konformis ini akan lebih optimal jika dosen menggunakan pendekatan SCL (student centered learning). Karena metode belajar yang bervariasi dalam SCL sangat dirasa mampu menyesuaikan dengan kebiasaan mahasiswa non-konformis. Sehingga dikatakan mahasiswa non-konformis unggul dibanding yang lain, terutama bila pengukuran IP lebih menekankan logika (rasio) dan bukan semata-mata kemampuan ingatan (hafalan). Lain halnya dengan mahasiswa akademik yang hanya tergantung dan mengandalkan pada materi yang diberikan diruang kuliah saja.

Parameter kedua, yaitu dengan melihat kesuksesan hidup. Berbagai studi yang dilakukan para ahli mengungkapkan bahwa prestasi yang tinggi belum tentu berkorelasi dengan kesuksesan di dunia kerja. Sebuah penelitian ditunjukkan oleh Daniel Goleman terhadap 81 orang lulusan paling top dari sejumlah SMTA di Illionois, Amerika Serikat. Penelitian ini mendapati beberapa hal yang baru, diantaranya saat kuliah mereka memperoleh nilai yang memuaskan. Akan tetapi, menjelang usia 30 tahun, dalam kiprah kariernya, tingkat kesuksesannya biasa-biasa saja. Sepuluh tahun setelah lulus SMTA, hanya seperempat dari mereka yang mencapai puncak tangga profesi untuk tingkat usia mereka. Mengapa? Goleman meyakini bahwa kecerdasan akademik perlu ditunjang oleh bekal ‘kecakapan untuk hidup.’ Secara emosional mereka belum cukup dewasa, bahkan masih sering direpotkan oleh pertentangan dalam diri sendiri. Sehinggga, fokus pada pekerjaan kacau, berpikir pun bak ‘benang kusus.’ Kecerdasan emosional yang dimiliki seseorang diperoleh melalui latihan dan pengalaman. Dan ‘orang’ non-konformis, yang gandrung akan keintelektualan, gemar berorganisasi dan mencari pengalaman, dapatlah dipandang mempunyai kemungkinan yang lebih besar menjadi manusia-manusia sukses di masa mendatang.

Mahasiswa dan Kedudukannya di Masyarakat

Mahasiswa menempati kedudukan yang khas (special position) di masyakarat, baik dalam artian masyarakat kampus maupun di luar kampus. Kekhasan ini tampak pada serentetan atribut yang disandang mahasiswa misal: intelektual muda, kelompok penekan (pressure group), agen perubahan (agent of change), dan kelompok anti status quo.

Memang boleh dikatakan bahwa tugas awal mahasiswa adalah menekui bidang keilmuan tertentu dalam lembaga pendidikan formal. Sehingga, tidak jarang kelompok ini sering disebut sebagai ‘golongan intelektual muda’ yang penuh bakat dan potensial. Namun, posisi (dan status) yang demikian itu sudah barang tentu bersifat sementara karena kelak dikemudian hari mereka tidak lagi mahasiswa dan justru menjadi pelaku-pelaku inti dalam kehidupan suatu negara atau masyarakat. Dengan demikian, penulis rasa tak cukup mahasiswa hanya sekedar duduk manis mendengarkan dosen ceramah di kelas. Sudah saatnya mahasiswa mampu menjadi—meminjam istilah Mario Teguh—pribadi-pribadi yang unggul. Hal itu bisa ia lakukan dengan ikut bergabung dalam organisasi-organisasi di kampus. Karena di sanalah, tempat yang dianggap tepat sebagai ‘kawah condrodhimuko’ untuk sekedar sebagai batu loncatan awal. Menjadi mahasiswa sukses. Demikian. Bagaimana menurut Anda?

*Nur Haris ‘Ali, mahasiswa Program Studi Psikologi,

Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya, UII Yogyakarta.

FPSB UII Gelar Workshop Biodanza dan Seminar Nasional Disleksia

Image

Pesera workshop biodanza sedang memperagakan biodanza

TANZPRO BIODANZA. Demikian sebuah nama program terapi asal Jerman  yang tentunya masih sangat asing di telinga kita. TANZPRO BIODANZA merupakan program terapi bagi anak-anak, meski sebenarnya dapat pula diperuntukkan bagi orang dewasa. Program terapi ini didesain dengan mengkolaborasikan antara musik dan gerak tari atau dansa. Dalam tipe gerakan-gerakannya, hidup (BIOS) diartikan dengan gerakan terintegrasi yang disebut dalam Bahasa Spanyol sebagai Vivencias (pengalaman). Gerakan-gerakan tari yang dipadu dengan musik tertentu diberikan untuk mempengaruhi semangat, emosi  dan kreativitas anak.