Ini Hidupku, Bukan Hidupmu

Oleh: Dian Febriany Putri ——- 

Telah menjadi suatu kelaziman dan menjadi hal yang tidak terlepaskan bahwasanya penggunaan teknologi baik fisik maupun non-fisik, seperti gawai dan internet, telah melekat dalam aktivitas kita sehari-hari. Tidak bisa dipungkiri bahwa terkadang hal yang kita genggam sebelum tidur dan hal yang kita gapai saat bangun tidur adalah gawai tersebut yang berbentuk handphone atau telepon genggam. Benda yang dahulu kita kenal dan manfaatkan sebagai media komunikasi secara verbal dan tekstual, saat ini telah semakin berkembang memenuhi kebutuhan untuk dapat berkomunikasi dengan menampilkan visual. Begitu banyak perkembangan yang terjadi dengan adanya gawai dan internet ini yang mana hampir memfasilitasi aspek-aspek kebutuhan maupun aktivitas manusia, antara lain di bidang pendidikan, ekonomi/finansial, hiburan, dan tentu masih banyak lainnya. Penggunaan teknologi inipun tidak terbatas pada kalangan atau usia tertentu. Baik orang tua, orang dewasa, lebih-lebih remaja, bahkan anak-anak sudah sangat fasih betul dengan penggunaan gawai ini sendiri. Read more

Berusaha Sekuat Tenaga, Berserah pada Yang Maha Kuasa

Oleh: Fenty Puspitasari——

Malam itu Christopher Columbus diundang pada sebuah perjamuan akbar di kerajaan Spanyol. Ia akan menerima penghargaan karena telah menemukan dunia baru, yang kelak masyhur disebut Benua Amerika. Columbus tahu bahwa banyak orang meremehkan kerja kerasnya. “Tinggal berlayar saja terus ke barat. Ah semua orang juga bisa melakukannya,” demikian suara-suara mencemoohnya. Columbus lantas maju, ditantangnya semua yang ada di ruang tersebut untuk memberdirikan telur rebus di atas meja. Orang-orang menggelengkan kepala, menganggap tak mungkin telur yang ujungnya lonjong tersebut bisa berdiri. Read more

Berbakti pada Orangtua

Oleh : Widodo Hesti Purwantoro—

 

Ribuan kilo…, jalan yang kau tempuh…

Lewati rintang, demi aku anakmu…

Ibuku sayang, masih terus berjalan

Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah

Seperti udara, kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas… Ibuuu…. Ibuuu

Ingin ku dekap dan menangis di pangkuanmu.. Read more

HINDARI HUSTLE CULTURE : PENTINGNYA TAWAZUN DALAM BEKERJA

OLeh : Annisaa Miranty Nurendra, S.Psi., M.Psi.—

Akhir-akhir ini di kalangan generasi milenial muncul fenomena hustle culture. Hustle culture dapat didefinisikan sebagai budaya gila kerja atau workaholic. Orang yang terjebak dalam hustle culture merasa bahwa dirinya harus bekerja keras demi mencapai kesuksesan. Mereka menganggap satu-satunya jalan untuk mencapai keberhasilan hanya dengan bekerja secara terus menerus. Hustle culture juga tampak melalui adanya kebiasaan yang menganggap bahwa bekerja lebih penting diatas segalanya.

Ciri-ciri hustle culture dapat dilihat dari individu maupun dari budaya yang ada di tempat kerja. Menurut beberapa sumber, ciri dari individu yang menganut hustle culture dan terjebak menjadi workaholic memiliki ciri sebagai berikut: selalu memikirkan kerja dan tidak punya waktu santai, merasa bersalah ketika beristirahat dari bekerja, memiliki target yang tidak realistis, sering mengalami burnout atau kelelahan dalam bekerja, serta tidak puas dengan hasil kerja. Ciri lain dari hustle culture adalah anggapan bahwa bekerja lembur sebagai hal yang normal, begitu juga dengan persepsi bekerja secara rutin di akhir pekan sebagai hal biasa serta merasa bersalah jika tidak menambah jam kerja. Padahal, dari tinjauan manajemen kerja, seorang pekerja mestinya memiliki waktu istirahat yang cukup. Pemerintah pun sebetulnya sudah mengatur bahwa jam kerja normal maksimal adalah 40 jam per pekan.

Dampak dari adanya hustle culture ini cukup berbahaya bagi kesehatan mental dan juga kesehatan fisik. Terjadinya fatigue atau keletihan yang ekstrim adalah dampak yang umum terjadi karena adanya workaholisme dalam bekerja. Banyak studi menunjukkan workaholisme berkaitan dengan penyakit jantung, serta sakit pada leher dan punggung. Pada beberapa  kondisi yang lebih buruk, kelelahan tersebut dapat menyebabkan kematian, bahkan pada usia yang relatif muda. Telah banyak pula riset yang menunjukkan bahwa workaholisme menimbulkan depresi, kecemasan, insomnia, dan banyak gangguan terhadap kesehatan mental.

Bekerja, tentu saja merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat secara finansial, psikologis dan sosial. Dengan bekerja, seorang individu mampu mengaktualisasikan potensi dirinya, memperoleh pendapatan untuk menikmati kehidupan yang sehat dan layak, serta mendapatkan status sosial yang baik dalam masyarakat. Meski demikian, dari tinjauan kesehatan, bekerja tidak boleh berlebihan karena dapat mengakibatkan berbagai dampak negatif sebagaimana yang telah disebutkan diatas.

Dalam bidang psikologi juga telah lama disampaikan pentingnya menjaga keseimbangan kehidupan kerja dan kehidupan personal. Menurut penelitian, ketika seorang individu terlalu banyak bekerja, produktivitas yang dicapai justru malah lebih rendah dan justru akan merusak bidang kehidupan lainnya.  Sebaliknya ketika individu mampu mengelola waktu yang seimbang untuk bekerja dan untuk melakukan kegiatan lainnya maka produktivitasnya akan makin meningkat.

Beberapa manfaat lain dari memiliki keseimbangan kehidupan kerja adalah individu akan lebih sehat, baik secara fisik maupun secara mental. Seiring dengan baiknya tingkat kesehatan, maka individu juga akan memiliki performa kerja yang baik. Individu yang memiliki keseimbangan kehidupan kerja juga cenderung memiliki tingkat kepuasan yang tinggi terhadap kehidupan kerjanya maupun terhadap bidang kehidupan lainnya, misalnya kehidupan keluarga, kehidupan sosial, dan sebagainya.

Pentingnya memiliki keseimbangan kehidupan kerja ini juga berlaku bagi seorang muslim. Kewajiban muslim selain bekerja adalah juga beribadah, selain melakukan aktivitas personal lain untuk mendukung kehidupannya. Islam tentunya juga memiliki solusi agar keseharian seorang muslim dapat seimbang.

Prinsip Bekerja dalam Islam

Sebagai agama yang paripurna, Islam juga memiliki pandangan tersendiri mengenai aktivitas bekerja. Dalam Islam, bekerja adalah sebuah kegiatan yang mulia, yang memiliki nilai ibadah dan juga jihad, sebagaimana dalam ayat-ayat berikut ini :

 “Apabila telah ditunaikan sholat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.” (QS. Al-Jum”ah : 10).

“Dialah yang menjadikan bumi ini mudah bagimu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rizki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.” (QS. Al-Mulk : 15).

“Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah.” (QS. Al-Muzzammil: 20).

Islam sangat menganjurkan seorang muslim bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan tidak meminta-minta kepada orang lain. Bahkan, karena sifat wajb dari aktivitas kerja, bekerja juga dapat menggugurkan dosa. Beberapa hadist tentang keutamaan bekerja antara lain :

 ‘Barang siapa yang merasakan keletihan pada sore hari, karena pekerjaan yang dilakukan oleh kedua tangannya, maka ia dapatkan dosanya diampuni oleh Allah SWT pada sore hari tersebut.” (HR. Imam Tabrani).

“Sungguh, seandainya salah seorang di antara kalian mencari kayu bakar dan memikul ikatan kayu itu, maka itu lebih baik, daripada ia meminta-minta kepada seseorang, baik orang itu memberinya ataupun tidak.” (HR. Bukhari dan Muslim).

“Sesungguhnya Allah menyukai hamba yang bekerja dan terampil. Siapa yang bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka ia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah.” (HR Ahmad).

Islam juga mengajarkan bahwa bekerja tidak boleh serampangan. Ada beberapa etika kerja yang perlu diperhatikan, misalnya pentingnya menjaga kualitas hasil kerja dan mengedepankan profesionalitas.  Dalam sebuah hadist, Rasulullah SAW bersabda :

“Sesungguhnya Allah sangat mencintai orang yang jika melaksanakan suatu pekerjaan, maka pekerjaaan tersebut dilakukannya dengan itqan.” (HR Thabrani).

 Pekerjaan juga dapat dianggap sebagai sebuah amanah. Dalam konteks ini, seorang muslim perlu bersungguh-sungguh dalam melaksanakan sebuah amanah sampai tuntas. Ketika pekerjaan tidak diselesaikan dengan baik, sama artinya dengan tidak amanah dan memiliki sikap khianat.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu sedang kamu mengetahui.” (QS Al Anfal : 27)

Tawazun sebagai Solusi

Walaupun seorang muslim harus menampilkan kinerja terbaiknya, bersungguh-sungguh, dan amanah, akan tetapi Islam juga mengajarkan mengenai pentingnya keseimbangan. Seorang muslim boleh saja bekerja keras, akan tetapi waktu bekerja tersebut juga harus seimbang dengan waktu untuk beribadah. Dalam Al Quran, Allah berfirman bahwa bekerja penting untuk mencapai kebahagiaan di dunia, namun demikian seorang muslm juga tidak boleh melupakan upaya untuk mencapai kebahagiaan di akhirat sebagaimana dalam ayat berikut :

Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi, dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan” (QS Al Qashas : 77).

Lebih luas lagi, tawazun juga berarti memiliki pengaturan waktu yang seimbang dan memperhatikan berbagai aspek dalam kehidupan. Ini karena tawazun tidak mungkin terwujud tanpa adanya pembagian waktu yang baik, seperti alokasi waktu untuk bekerja, alokasi untuk beribadah, alokasi waktu untuk istirahat, dan sebagainya. Pengelolaan waktu yang baik juga merupakan hal yang didorong dalam Islam, sebagaimana hadist berikut ini:

“Gunakan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum masa matimu,” (HR Al-Hakim).

Lantas, bagaiamana cara mengaplikasikan sikap tawazun? Yang pertama, sebagaimana yang sudah disampaikan diatas, meskipun bekerja itu adalah suatu hal yang penting, tetapi seorang muslim perlu memiliki mindset pentingnya menjaga keseimbangan dalam kehidupan dan tidak berlebih-lebihan dalam bekerja. Hal ini dapat dibangun dengan cara memahami bahwa terlalu berlebihan dalam bekerja sesungguhnya malah akan membawa kerugian dibandingkan dengan kebermanfaatan. Selain itu, perlu diingat juga, bahwa jika ingin aktivitas kerja mendatangkan keberkahan dan mengharapkan ridha Allah, maka jangan sampai aktivitas kerja tersebut justru menyebabkan kelelahan dan sakit secara fisik dan mental, atau justru mengakibatkan konflik dengan keluarga.

Yang kedua, mengelola waktu. Pengelolaan waktu yang perlu dipikirkan seorang muslim, selain waktu untuk bekerja, untuk keluarga, untuk rekreasional, juga perlu mengalokasikan waktu yang cukup untuk beribadah. Pentingnya memiliki waktu untuk beribadah selain berkaitan dengan kewajiban sebagai muslim, adalah berkaitan dengan prinsip keseimbangan itu sendiri. Seorang muslim tidak mungkin berharap aktivitas kerjanya mendatangkan berkah dan ridha dari Allah jika ia melupakan waktu untuk beribadah. Selain itu, memiliki waktu beribadah akan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan spiritual. Pekerja yang memiliki religiusitas dan kehidupan spiritual yang baik, menurut penelitian akan memiliki kehidupan kerja yang lebih memuaskan. Selain itu, mereka juga cenderung memiliki sikap kerja yang lebih positif. Mereka biasanya lebih termotivasi dalam bekerja karena bekerja tidak semata-mata demi aktualisasi diri atau mengharapkan gaji, tetapi juga menganggap bekerja adalah bagian dari habluminannas. Orang-orang dengan religiusitas yang tinggi cenderung lebih mudah dalam bekerjasama dan membantu rekan kerjanya, mereka juga berkomitmen dalam penyelesaian tugas-tugas mereka sendiri.

Yang ketiga, konsisten dalam pengelolaan waktu. Jika sudah tiba waktu istirahat, gunakan waktu untuk istirahat. Jika sudah tiba waktu ibadah, gunakan waktu untuk ibadah. Banyak orang yang mungkin tidak menyadari jika waktu ibadah di sela waktu luang jam kerja, justru memiliki banyak manfaat. Misalnya penelitian yang dilakukan oleh Simon Webley pada tahun 2011 menunjukkan bahwa ketika karyawan memiliki kesempatan untuk beribadah di tempat kerja, stres kerja menurun, dan kesejahteraan psikologis mereka meningkat. Karyawan yang dapat menyalurkan kebutuhan spiritualnya juga memiliki sikap kerja yang lebih ramah kepada pelanggan. Menariknya, hal ini tidak hanya berlaku untuk agama Islam saja, tetapi juga agama lain. Sampai-sampai dalam penelitian tersebut disarankan bahwa menyediakan fasilitas untuk beribadah bagi karyawan di tempat kerja adalah bagian dari praktik baik etika kerja.

Kesimpulan

Hustle culture, alih-alih meningkatkan produktivitas, justru malah akan menimbulkan berbagai problem kesehatan fisik dan mental bagi individu. Islam telah memberi arahan bahwa dalam menjalankan kehidupannya, seorang muslim tidak boleh sampai terjebak pada gaya hidup workaholic. Meskipun seorang muslim diperintahkan untuk bekerja dengan itqan,  professional dan menjaga amanah, prinsip tawazun atau keseimbangan harus penting diperhatikan. Tawazun dalam kehidupan kerja dan ibadah juga telah dinyatakan berkali-kali dalam beberapa ayat dan hadist. Cara mewujudkan sikap tawazun adalah dengan memiliki pengelolaan waktu yang baik dalam bekerja maupun dalam beribadah. Dengan memiliki sikap tawazun, seorang muslim akan lebih sehat secara fisik dan mental, lebih produktif, serta lebih puas dengan kehidupannya, dan tentu saja setiap aktivitas yang dilakukan akan lebih berkah dan tidak melupakan aktivitas bekerja dan beribadah untuk mendapatkan ridha Allah. Insya Allah.

Meningkatkan Kematangan Beragama

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog—-

Bangsa Indonesia yang mayoritas beragama Islam dikenal sebagai bangsa yang religius. Religiusitas bangsa Indonesia ini tampak dari keyakinan akan adanya Tuhan, ritual agama yang mereka lakukan dalam kehidupan sehari-hari, maupun dari perilaku sosial-moral yang didasarkan pada ajaran agama yang dianutnya. Sebagai masyarakat yang religius, bangsa Indonesia menempatkan keimanan dan ketakwaan (imtak), di samping ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), sebagai kualitas yang diperjuangkan perwujudannya. Penempatan religiusitas sebagai hal yang penting tampak dari kebijaksanaan nasional sebagaimana yang diamanatkan oleh dasar negara, perundang-undangan, dari harapan-harapan masyarakat, maupun dari harapan-harapan individu yang ada dalam masyarakat. Read more

Dua Nikmat yang Terlupakan

Oleh: Farhan Al Farizi, S.Psi.—-

Tidak menghargaI betapa berharganya waktu luang, merupakan pangkal permasalahan ummat islam saat ini. Betapa banyak dari kita yang terjerumus ke dalam perbuatan yang sia-sia, yang tidak mendatangkan keuntungan bagi penghidupan di dunia dan tidak juga mendatang manfaat di kehidupan akhirat. Read more

Menjaga Kesehatan dan Kebugaran Tubuh dengan Bersepeda Ditengah Pandemi yang Masih Tidak Menentu

Oleh: Muhammad Yopa Velda Putra—-

Semenjak pandemi covid-19 melanda, hampir semua gaya hidup kita berubah. Semua kegiatan berpusat di rumah atau yang biasa disebut Work From Home, termasuk dalam melakukan pekerjaan sehari-hari. Untuk menghilangkan penat biasanya orang-orang mencari hiburan seperti bermain game online maupun offline, media sosial seperti Instagram, Tiktok, Facebook, menonton film melalui Youtube dan platform video streaming lainya. Kegiatan tersebut sangat minim sekali pergerakan fisik dan menurut penelitian medis hal ini dapat mengakibatkan menurunya fungsi organ tubuh sehingga dapat menurunkan imunitas seseorang, selain itu malas bergerak juga beresiko terserang penyakit seperti stroke, serangan jantung, diabetes dan osteoporosis. Solusi untuk pencegahan yaitu dengan melakukan olahraga mudah dan murah di dalam rumah seperti angkat beban, push up, sit up, lompat tali,  naik turun tangga dsb. Sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk selalu menjaga kebugaran rohani dan jasmani, hal ini sesuai dengan hadis sebagai berikut: Read more

Mencari Berkah dari Bekerja

Oleh: Ike Agustina, S.Psi, M.Psi, Psikolog ——–

Dalam proses kehidupan seorang individu, status sebagai karyawan atau pekerja seringkali menjadi salah satu peran yang paling lama yang dijalankan individu dalam hidupnya. Seseorang tak jarang menghabiskan lebih dari 30 tahun untuk statusnya sebagai pekerja, yang artinya, lebih dari lima puluh persen dari bilangan usia hidupnya. Oleh karena itu, mengetahui secara lebih dalam mengenai alasan seseorang bekerja dan bagaimana seseorang melakukan pekerjaannya selalu menjadi sesuatu yang menarik. Read more

TAUBAT: SUATU PROSES MENJADI AHSANI TAQWIM

Ahmad Kholikul Khoir (Mahasiswa FPSB UII)—

“Tobat menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriah membuahkan kesehatan fisik,” begitu tulis Shihab (2017) dalam bukunya Wawasan Alqur’an. Kalimat itu ditulis sebagai komentar dan/atau penjelasan atas surat Albaqarah ayat 222. Lebih lanjut, dalam tafsirnya Almisbah, Qurais Shihab menambahkan, bahwa kewarasan mental itu hadir karena “taubat adalah menyucikan diri dari kotoran batin,” (Shihab, 2005). Read more

Mengapa Harus Menulis ?

Oleh : Dr. H. Fuad Nashori, S.Psi., M.Si., M.Ag., Psikolog—

Pensil yang pendek lebih berguna daripada memori yang panjang

Begitu bunyi status facebook yang ditulis oleh Refiana Said, teman lama saya yang sudah lama tak bertemu. Seorang teman Refiana yang bernama Erick Sinaga memberi komentar: “Tentu … walau pensil itu pendek, namun bisa digunakan untuk menulis, berbagi atau menyampaikan isi hati atau pengalaman hidup pengguna/pemilik pensil. Sementara memori yang panjang hanya disimpan dan diamankan oleh pemilik memori itu sendiri...”

Saya kira apa yang kita lihat, baca, dengar lalu tersimpan dalam ingatan kita tidak banyak berguna kalau hanya tersimpan dalam diri kita. Kekuatan pengetahuan dan pengalaman itu baru terasa ketika kita mengungkapkannya lalu dibaca orang lain. Tentu harus diungkapkan dengan cara tertentu, yang berurutan dan menarik. Nanti apa yang kita ungkapkan itu akan menjadi “emas” yang berguna, yang menjadi sumber teladan dan inspirasi yang memberi pengaruh kepada dunia.

Pengungkapan pengetahuan atau pengalaman itu dapat kita sampaikan secara lisan dan secara tertulis. Ketika kita sampaikan secara lisan, hanya satu dua atau sejumlah kecil orang di sekitar kita yang dapat mendengarkannya dan mengambil manfaat darinya. Beruntung kalau profesi kita adalah public speaker, yaitu orang yang banyak bicara di depan banyak orang seperti guru, dosen, ustaz, kyai, motivator, pelatih. Mungkin ada belasan, puluhan, ratusan, bahkan ribuan orang yang berkesempatan untuk memperoleh manfaat dari cerita kita. Sayangnya profesi ini minoritas dibanding profesi yang lain. Beruntung lagi kalau kita adalah narasumber di radio atau televisi. Akan tetapi, sangat sedikit di antara kita yang memperoleh kesempatan menjadi narasumber di media massa yang memang massif seperti radio dan televisi.

Sekarang ini media sosial memberikan peluang kepada kita untuk berbicara kepada ratusan, ribuan, puluhan ribu orang, bahkan jutaan orang. Melalui twitter, instagram, facebook, tik tok, dan beragam media sosial lainnya, kita dapat berbagi pengetahuan atau pengalaman secara real time. Seberapa banyak yang dapat menikmatinya sangat tergantung kepada follower yang kita miliki. Semakin banyak follower semakin banyak pihak yang dapat mengambil manfaat dari apa yang kita tulis. Komunikasi melalui medsos ini sebagian di antaranya tetap mengandalkan kemampuan menulis ketika kita hendak mengekspresikan diri kepada banyak orang.

Tulisan Lebih Abadi

Berbeda dengan ungkapan lisan langsung yang setelah kita dengar akan hilang dan tidak dapat dicek lagi oleh orang lain, tulisan-tulisan di media massa (buku, koran, majalah, dsb) dan media sosial lebih abadi. Bisa dibaca di lain kesempatan. Kita juga bisa meminta orang lain mengkonfirmasi isinya, karena isi tulisan dicek di berbagai kesempatan.

Buku adalah jenis tulisan yang tingkat keabadiannya paling meyakinkan. Sampai sekarang kita masih menikmati tulisan-tulisan ulama terkenal seperti Imam al-Ghazali, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, Ibnu Taimiyah, Ibnu Miskawaih, Ibnu Araby, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina, dan seterusanya. Kita juga dapat menikmati pemikiran-pemikiran filsafat Yunani kuno dari Aristoteles, Plato, Socrates, Phytagoras yang hidup beberapa abad sebelum masehi (7 Filsuf Yunani Populer Sebelum Masehi, Masih Dikenang Terus (idntimes.com).

Buku bisa bertahan lama bahkan hingga ribuan tahun karena umumnya buku ditulis lebih serius dibanding penulisan naskah-naskah yang lebih pendek. Melalui buku, argumen-argumen ditulis secara baik dan mendalam. Ini berbeda dengan tulisan yang pendek seperti artikel yang sedang anda baca ini. Buku Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali adalah contoh buku yang ditulis secara baik dan mendalam yang tetap menjadi bacaan penting umat Islam di seluruh dunia setelah dinikmati berbagai kalangan selama hampir seribu tahun. Entah berapa ratus juta atau bahkan berapa milyar orang pernah membaca atau menyimak pembacaan buku Imam al-Ghazali ini.

Entah bagaimana rasanya memiliki tulisan dibaca orang seantero dunia dari generasi ke generasi. Menyaksikan buku bisa bertahan selama sekitar 27 tahun saja bukan main bahagianya. Ini saya alami sendiri. Sekitar 27 tahun lalu, tepatnya tahun 1994, bersama ahli Psikologi UGM Prof Djamaludin Ancok, saya menulis buku Psikologi Islami: Solusi Islam atas Problem-problem Psikologi. Sekarang buku tersebut sudah dicetak 8 kali. Kalau setiap cetak ada 3.000 eksemplar, maka buku itu telah dicetak dan dibeli 24.000 orang. Kalau tiap satu eksemplar buku dibaca 5-7 orang (di perpustakaan malah dibaca puluhan orang), maka berarti buku itu kemungkinan sudah memberi manfaat hingga menembus 100.000 orang. Akhir Oktober kemarin, saya berkunjung ke Universitas Islam Negeri Saizu Purwokerto. Dua orang yang terlibat dalam diskusi mendatangi saya ketika acara selesai. Mereka menyampaikan kalau mereka membaca buku saat mereka menjadi mahasiswa di tahun 1990-an. Hal yang sejenis saya temukan ketika saya berkunjung ke berbagai UIN/IAIN/STAIN dan beberapa universitas Islam. Intinya, mereka mengkonfirmasi bahwa buku tersebut adalah buku yang sampai detik ini menjadi bacaan banyak dosen, mahasiswa, dan umumnya warga masyarakat.

Selanjutnya, kalau kita menulis di berbagai blog dan situs, ratusan hingga ribuan orang akan segera membaca. Pada saat saya menulis tulisan-tulisan pendek yang diposting di facebook, umumnya sebuah tulisan sekitar 100-300 orang. Tentu semakin banyak kawan/pengikut, maka semakin luas daerah penyebarannya.  Kadang saya iseng beri komentar tulisan-tulisan lama di facebook. Ternyata masih ada orang yang mau membaca dan memberi komentar atas tulisan yang sudah beberapa tahun itu.

Motivasi Menulis

Setiap penulis memiliki motivasi. Motivasi menulis tidaklah tunggal. Di antara motivasi yang jamak itu, ada dua yang terpenting. Pertama adalah menyampaikan hal penting kepada orang lain untuk diperhatikan bahkan dilakukan. Para penulis memiliki keyakinan sendiri tentang apa yang dianggap penting. Sekalipun demikian, hal yang dianggapp penting oleh kebanyakan orang dan kebanyakan penulis adalah prinsip-prinsip hidup. Kisah-kisah atau ungkapan bisa berbeda, namun ada kesamaan ide pada berbagai tulisan, yaitu tersebarnya nilai-nilai atau prinsip kehidupan yang dimiliki penulisnya. Prinsip hidup seperti persaudaraan, keadilan, kebaikan hati, semangat hidup, pembersihan diri, kebahagiaan, adalah nilai-nilai yang akan terus menerus ditularkan, karena ide yang sebaliknya juga secara sengaja juga dipromosikan. Prinsip-prinsip penting untuk selalu diperjuangkan.

Sebagai contoh, dalam beberapa tahun terakhir ini saya suka menulis tentang pemaafan. Saya sendiri percaya bahwa memaafkan adalah sebuah bentuk kebaikan yang diperintahkan Allah. Karenanya, saya menulis topik ini dalam bentuk buku, publikasi internasional, publikasi ilmiah nasional, publikasi popular, selain video. Saya berharap dunia yang saat ini masih banyak diwarnai oleh dendam, kemarahan, sakit hati ini dapat berubah menjadi lebih dipenuhi pemaafan, kebaikan hati, dan cinta.

Kedua adalah menyampaikan hal-hal yang semestinya dijauhi atau dihindari agar keburukan dan kejahatan itu tak diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kesenangan sesaat, kekerasan, keputusasaan, jalan pintas, adalah ide-ide buruk yang juga tersebar dan karenanya butuh orang-orang yang selalu mengingatkan kepada banyak orang. Pejuang anti jalan hitam ini ditantang untuk menyebarkan ide ini sekalipun secara umum mencegah keburukan yang sering berarti kesenangan itu secara psikologis lebih berat dibanding memperjuangkan kebaikan dan cinta.

Tulisan Sebagai Terapi

            Salah satu fungsi tulisan adalah sebagai terapi. Pada awal 2017, saya mengalami stroke ringan. Seringan-ringannya stroke, pastinya berdampak terhadap kehidupan orang yang mengalaminya, termasuk saya. Salah satu yang terpengaruh adalah kemampuan kognitif. Kemampuan memahami konsep yang kompleks rasanya menurun sekali. Begitu juga kemampuan berpikir mendalam jauh berkurang. Kalau mau menulis suatu konsep agak kompleks, rasanya kepala ini berat sekali. Alhamdulillah ada saran dari dokter yang menangani saya pascastroke. Beliau menyarankan agar saya membiasakan menulis hal-hal yang ringan dulu. Peristiwa-peristiwa baik yang terjadi di masa lalu adalah hal yang direkomendasikan untuk saya tulis.

Akhirnya saya praktikkan apa yang disarankan dokter. Saya memilih menulis berbagai peristiwa atau kejadian yang berisi kebaikan-kebaikan dari berbagai orang yang saya saksikan sendiri. Saya tulis beberapa kejadian waktu saya SMP, seperti tanggapan dua orang mentri bernama Prof Emil Salim dan Letjen Alamsyah Ratu Prawiranegara waktu saya menyurati mereka SMP. Tanggapan mereka menjadi sesuatu yang membuat saya merasa surprise. Saya juga beberapa kali mendapat postcard dari artis yang saya gemari waktu SMP, yaitu Iis Sugiyanto. Waktu saya menulis, saya juga mengingat peristiwa yang tak pernah saya lupa, yaitu kelompok cerdas cermat saya waktu SMP berhasil mengumpulkan skor 2.000 ketika pesaingnya mendapat skor 200. Intinya saya merasa lancar mengungkapkan berbagai peristiwa membahagiakan di waktu kecil.

Ketika saya menulis dan merasakan derasnya aliran tulisan dari otak dan tangan saya, saya merasa kehidupan menjadi cerah kembali. Saya yakin menulis membuahkan pengaruh yang luar biasa. Saya bayangkan dalam hayalan saya di otak saya ada gumpalan-gumpalan. Setelah saya mengalirkan deras apa yang tersimpan dalam otak itu, gumpalan-gumpalan itu terurai satu per satu. Otak saya terasa berproses mengalami normalisasi.

            Karenanya, ketika saya menuliskan hal-hal yang menegangkan dalam hidup saya, saya sudah yakin kemampuan otak saya sudah pulih semakin mendekati 100% walau secara jujur saya merasa belum bisa 100% seperti dulu. Saya merasa lancar ketika menceritakan suatu peristiwa di mana saya ditinggal oleh bus padahal laptop dan HP saya ada di dalam tas di bus tersebut. Saya juga merasa lancar ketika menceritakan berbagai peristiwa menegangkan lainnya.

Manfaat bagi Pribadi dan Orang Lain

Saya percaya ketika menuliskan pengetahuan, perasaan, pemikiran, dan pengalaman kita kepada orang lain, ingatan kita akan isi tulisan itu semakin panjang. Berdasar pengalaman, gagasan atau pemikiran yang saya tulis sendiri jauh lebih saya pahami dibanding dari apa yang tidak saya tulis. Itu artinya pengetahuan yang ditulis akan menjadi memori yang lebih panjang bagi saya.

Bagi orang lain, bila saya menuliskan apa yang menjadi pengetahuan, perasaan, pemikiran, dan pengalaman saya, maka orang lain akan membaca dan mengingatnya dalam memorinya. Orang lain ini akan membagi memorinya kepada orang lain lagi, dan san seterusnya. Itu artinya memori yang saya tulis dan kemudian dibagi orang lain dan dibagi lagi ke orang lain lagi akan menjadi ingatan bagi banyak orang dan akan diwariskan dari generasi ke generasi. Kalau dapat diwariskan dari generasi ke generasi, maka sudah pasti artinya adalah memori ingatan akan isi ungkapan kita akan bermur panjang.

Demikian. Wallahu a’lam bi ash-shawab. Bagaimana pendapat anda?