Menyikapi Kegagalan

Oleh : Latifatul Laili, S.Psi., M.Psi., Psikolog ——

Coba Anda ingat pelan-pelan, kapan terakhir kali Anda mengalami kegagalan? Apa kegagalan terbesar Anda? Sebetulnnya berapa lama dan berapa banyak pelajaran yang kita dapat dari kegagalan tersebut? Kalau kita bandingkan dengan pengalaman berhasil, seberapa banyak kita belajar darinya? Mengapa kita menghabiskan lebih banyak waktu memutar scene demi scene adegan kita gagal dibandingkan momen kesuksesan kita? Bagaimana Allah memberikan kita petunjuk menghadapi kegagalan? Read more

MENGELOLA EKSPEKTASI: SIAP MENANG, SIAP KALAH

Oleh: Hazhira Qudsyi, S.Psi., M.A—– 

“Berikan saya ketenangan untuk menerima apa yang tidak bisa saya ubah, keberanian untuk mengubah apa yang bisa saya ubah, dan kebjiaksanaan untuk tahu perbedaan antara keduanya”

(Reinhold Nieburh) Read more

Janji Allah bagi Hamba yang Bersedekah

Oleh : Sulasmi, S.Psi.—–

Keluarkan yang ada di sakumu, maka akan datang sesuatu dari arah mana yang tidak kamu duga. Ungkapan ini cukup sederhana namun sejatinya mengandung makna yang cukup mendalam terutama sangat erat berkaitan dengan bersedekah. Bersedekah tidak hanya dalam bentuk harta kekayaan tapi juga berupa ibadah seperti berdzikir, beramal dan perbuatan baik yang lainnya. Read more

MENGHORMATI ILMU DAN AHLI ILMU

Oleh : Hazhira Qudsyi, S.Psi, M.A—- 

“Harta akan sirna dalam waktu dekat, namun ilmu akan abadi tak bisa disirnakan”

(Syaikh Imam Az-Zarnuji)

Siapa yang tidak ingin menjadi orang yang pintar dan berilmu? Bisa memiliki pengetahuan, bisa tahu tentang banyak hal, bisa memahami apa yang dikatakan oleh orang lain, dan berbagai bentuk pengetahuan dan keterampilan. Sejatinya setiap orang punya keinginan dapat memiliki kemampuan, keterampilan, dan pengetahuan. Terlebih bagi umat Islam, di mana banyak sekali disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits mengenai keutamaan orang yang memiliki pengetahuan, orang yang berilmu. Salah satu keutamaannya adalah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala akan mengangkat derajat orang yang berilmu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Al Mujadalah berikut ini:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ – ١١

“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila dikatakan kepadamu, “Berilah kelapangan di dalam majelis-majelis,” maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha teliti apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Mujadalah [22]: 11).

Betapa pentingnya menuntut ilmu bagi individu, terutama bagi muslim, sampai-sampai Rasulullah shollahu’alaihi wassalam menegaskan:

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi seorang muslim” (HR. Ibnu Majah)

Dalam konteks kewajiban menuntut ilmu ini, Syaikh Imam Az-Zarnuji menjelaskan bahwa setiap muslim dan muslimah tidak berkewajiban mempelajari semua ilmu, namun berkewajiban mempelajari ilmu yang dibutuhkan saat itu. Dan ditambahkan pula bahwa ilmu yang paling utama adalah ilmu yang dibutuhkan saat itu, dan sebaik-baik amal adalah menjaga (amal) yang dituntut saat itu (Az-Zarnuji, 2019). Dengan demikian, kita tidak dapat menafikan bahwa belajar dan menuntut ilmu adalah suatu hal yang penting bagi tiap muslim.

Dengan ilmu, hal tersebut menjadi salah satu amalan manusia yang tidak akan terputus sekalipun manusia itu meninggal. Sebagaimana sabda Rasulullah shollahu’alaihi wassalam:

إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

 “Jika seorang manusia mati, maka terputuslah darinya semua amalnya kecuali dari tiga hal; dari sedekah jariyah atau ilmu yang diambil manfaatnya atau anak shalih yang mendoakannya.” (HR. Muslim).

Dan dengan ilmu, sejatinya manusia dapat mencapai apa yang diinginkan di dunia maupun di akhirat, seperti yang disabdakan Rasulullah shollahu’alaihi wassalam:

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِاْلعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَ الآخِرَهَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ باِلعِلْمِ

“Barangsiapa yang hendak menginginkan dunia, maka hendaklah ia menguasai ilmu. Barangsiapa menginginkan akhirat hendaklah ia menguasai ilmu, dan barangsiapa yang menginginkan keduanya (dunia dan akhirat) hendaklah ia menguasai ilmu,” (HR Ahmad).

Dengan banyaknya keutamaan menuntut ilmu (berilmu) yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan Hadits, menunjukkan bahwa agama Islam memberikan perhatian penuh pada ilmu dan bagaimana muslim seharusnya menuntut ilmu. Seperti yang disampaikan oleh Saihu (2020), bahwa salah satu ciri yang membedakan Islam dengan agama lainnya adalah pada penekanannya terhadap ilmu. Dalam Islam, ilmu adalah keistimewaan yang menjadikan manusia unggul dari makhluk-makhluk lain dengan tujuan menjalankan fungsi kekhalifahan. Ditambahkan oleh Saihu (2010), bahwasanya Al-Qur’an dan hadits Rasulullah shollahu’alaihi wassalam mengajak kaum muslim untuk mencari dan mendapatkan ilmu dan kearifan.

Kini kita tahu pentingnya menuntut ilmu. Lantas, apa yang perlu kita lakukan dalam menuntut ilmu? Apakah kemudian sekedar kita hadir ke majelis ilmu dan menyimak apa yang disampaikan oleh guru? Atau ditambah dengan mencatat materi yang dijelaskan guru? Banyak hal yang perlu kita persiapkan dan perhatikan saat kita menuntut ilmu, tidak sekedar kita hadir secara fisik dalam forum ilmu dan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh guru. Salah satu hal yang penting untuk diperhatikan dalam menuntut ilmu adalah adab menuntut ilmu (adab sebelum ilmu).

Syaikh Az-Zarnuji memaparkan, bahwa beliau telah melihat banyak penuntut ilmu pada zaman sekarang yang bersungguh-sungguh, namun tidak sampai kepada ilmu, tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu tersebut, dan tidak dapat mengamalkan ilmu yang telah dipelajari. Beliau menambahkan, bahwa hal tersebut disebabkan karena penuntut ilmu keliru dalam menempuh jalan untuk mencari ilmu dan meninggalkan syarat-syaratnya, di mana siapa yang salah jalan maka akan tersesat dan tidak akan meraih tujuan, entah sedikit maupun banyak. Oleh karena itulah, penting bagi para penuntut ilmu untuk memperhatikan cara dalam menuntut ilmu yang baik, bagaimana pentingnya adab sebelum menuntut ilmu (Az-Zarnuji, 2019).

Az-Zarnuji (2019) menjelaskan, bahwa syarat utama dalam menuntut ilmu diantaranya berkaitan dengan niat, memilih guru, dan menghormati ilmu. Seringkali kita sudah banyak mendengar bagaimana kita seharusnya menghormati orang lain, tetapi bagaimana dengan menghormati ilmu? Bagaimana cara kita dalam menghormati ilmu?

Hakekatnya, ilmu itu adalah milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dengan demikian, jika kita melakukan segala upaya untuk menghormati ilmu, itu artinya kita telah mengagungkan Dzat yang Maha memiliki ilmu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Surat Ali Imran ayat 7:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتٰبَ مِنْهُ اٰيٰتٌ مُّحْكَمٰتٌ هُنَّ اُمُّ الْكِتٰبِ وَاُخَرُ مُتَشٰبِهٰتٌ ۗ فَاَمَّا الَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاۤءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاۤءَ تَأْوِيْلِهٖۚ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهٗٓ اِلَّا اللّٰهُ ۘوَالرَّاسِخُوْنَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُوْنَ اٰمَنَّا بِهٖۙ كُلٌّ مِّنْ عِنْدِ رَبِّنَا ۚ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ – ٧

“Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu (Muhammad). Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok Kitab (Al-Qur’an) dan yang lain mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, mereka mengikuti yang mutasyabihat untuk mencari-cari fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah. Dan orang-orang yang ilmunya mendalam berkata, “Kami beriman kepadanya (Al-Qur’an), semuanya dari sisi Tuhan kami.” Tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang yang berakal.” (QS. Ali Imran [3]: 7).

Itulah yang kemudian dikatakan oleh Syaikh Az-Zarnuji bahwa adab yang utama dalam menuntut ilmu adalah takzim terhadap ilmu, memuliakan ilmu, menghormati ilmu. Takzim ini merupakan nilai adab yang tertinggi. Seseorang tidak akan mendapatkan keberkahan ilmu, dan tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu itu, kecuali dia takzim dan hormat kepada ilmu itu sendiri, termasuk di dalamnya adalah memuliakan dan menghormati para ulama (guru) (Az-Zarnuji, 2019). Rasulullah shollahu’alaihi wassalam bersabda:

تَعَلَّمُوْاوَعَلِّمُوْاوَتَوَاضَعُوْالِمُعَلِّمِيْكُمْ وَلَيَلَوْا لِمُعَلِّمِيْكُمْ

“Belajarlah kamu semua, dan mengajarlah kamu semua, dan hormatilah guru-gurumu, serta berlaku baiklah terhadap orang yang mengajarkanmu.” (HR Tabrani)

Jika penulis boleh merujuk pada apa yang pernah disampaikan oleh seorang ustadz dalam suatu kajian, disebutkan bahwa dalam konteks menghormati ilmu ini, ada tiga hal yang penting untuk diperhatikan dalam menghormati ilmu, yakni (Sholihun, 2020):

  1. Hormat itu lebih baik dari taat.

Orang melakukan penghormatan bukan karena objeknya, namun karena siapa yang memerintahkan. Dalam konteks belajar, siapa atau apa yang perlu kita hormati? Kedudukan ilmu itu sendiri yang perlu kita hormati. Bagaimana dengan guru kita? Harus kita muliakan kedudukannya sebagai guru, ustadz kedudukannya sebagai ustadz, ulama kedudukannya sebagai ulama. Kedudukan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kehidupan kita, maka apapun perintah-Nya, apapun larangan-Nya, maka akan kita hormati. Bagian dari penghormatan itu adalah ketaatan. Tetapi jika taat belum tentu hormat.

  1. Sebab kehormatan itulah, orang itu akan tercapai apa yang diinginkan.

Orang yang menuntut ilmu itu tidak akan sampai pada apa yang dimaksudkan kecuali dia menghormati ilmu dan kedudukannya sebagai ilmu pengetahuan, serta menghormati guru dan kedudukannya sebagai guru. Jangan sampai kita menjadi orang yang kufur, yang meremehkan perintah dan meninggalkan penghormatan.

  1. Diantara bentuk menghormati atau memuliakan ilmu adalah memuliakan ustadz atau memuliakan guru. Dalam hal ini, ada beberapa cara untuk memuliakan guru, antara lain:
  1. Tidak berjalan di depannya.
  2. Tidak menempati tempat duduknya (termasuk mejanya).
  3. Tidak memulai berbicara di sisi guru kecuali mendapatkan izinnya.
  4. Tidak banyak bicara di sisi guru (tidak memperbanyak ngobrol, terlebih lagi jika itu obrolan-obrolan yang tidak penting).
  5. Tidak bertanya sesuatu kepada guru, saat guru sedang kelelahan. Karena itu bisa menjadi sebab, memunculkan kebosanan, bisa dari guru, bisa juga dari orang lain.
  6. Menjaga waktu, mengikuti waktu yang diberikan guru. sepatutnya ketika majelis taklim sudah dimulai, ya ditunggu saja sampai guru atau ustadznya datang, dan tidak perlu memaksa atau memburu.
  7. Seorang murid tidak mengetuk pintu, namun justru murid itu harus bersabar sampai guru itu menemuinya.
  8. Memuliakan putra-putrinya dan orang-orang yang memiliki hubungan dengan gurunya.

Dalam mempelajari ilmu, salah satu yang penting adalah keberkahan ilmu, yakni bertambahnya kebaikan (ziyaadatul khoiir). Jika apa yang dipelajari itu berkah, jika interaksi dalam proses pembelajaran itu diberkahi Allah, insya Allah akan menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan ilmu yang bermanfaat, akan menjadi amalan yang tidak terputus meski manusia itu telah meninggal. Salah satu cara untuk mencapai keberkahan ilmu adalah dengan memuliakan ilmu. Dan diantara bentuk memuliakan ilmu adalah dengan memuliakan guru. Ali radhiyallahu anhu pernah berkata, “Aku adalah hamba sahaya bagi orang yang mengajariku satu huruf, jika mau ia boleh menjualku, dan jika mau ia membebaskanku”. Rasulullah shollahu’alaihi wassalam bersabda:

تَعَلّمُواالعِلْمَ وَتَعَلّمُوْا لِلْعِلْمِ السّكِيْنَةَ وَالْوَقَا رَ وَتَوَاضَعُوْا لِمَنْ تَتَعَلّمُوانَ مِنْهُ

“Belajarlah kalian ilmu untuk ketentraman dan ketenangan serta rendah hatilah pada orang yang kamu belajar darinya” (HR. Ath-Thabrani).

Syaikh Az-Zarnuji menjelaskan, bahwa seorang penuntut ilmu harus mencari rida gurunya, menjauhi kemurkaannya, melaksanakan perintahnya selama bukan maksiat. Maka jika seorang guru tersakiti oleh muridnya, maka murid akan terhalang dalam mendapatkan keberkahan ilmu, dan ia tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu itu kecuali hanya sedikit. Seperti sebuah syair yang dikutip oleh Syaikh Az-Zarnuji seperti berikut (Az-Zarnuji, 2019):

“Sesungguhnya guru dan dokter itu, tidak akan memberikan nasihat jika tidak dihormati. Tahanlah sakitmu jika kamu kasar terhadap dokter. Dan nikmatilah kebodohanmu jika kamu kasar terhadap gurumu”

Masya Allah.  Betapa pentingnya kita sebagai penuntut ilmu, sebagai pembelajar, untuk senantiasa memuliakan guru-guru kita dan tidak menyakiti hati guru-guru kita, karena di situlah ada keberkahan atas ilmu yang sedang kita pelajari. Tidak hanya itu saja, dalam konteks menghormati dan memuliakan ilmu, ada beberapa hal yang patut diperhatikan oleh penuntut ilmu, agar keberkahan atas ilmu dapat kita peroleh, yaitu (Az-Zarnuji, 2019):

  1. Memuliakan kitab

Murid atau pelajar hendaknya tidak mengambil dan memegang kitab kecuali dalam keadaan suci. Ditambahkan oleh Saihu (2020), bahwa demikian juga dalam konteks belajar, hendaknya ketika kita akan memulai belajar juga dalam keadaan suci. Untuk itu, sebelum pelajar memulai belajar (dalam konteks apapun), sepatutnya dia tidak mengambil kitab kecuali dia dalam keadaan suci (dari hadas kecil maupun besar). Hal ini dikarenakan ilmu adalah cahaya, dan wudhu juga cahaya, sehingga cahaya ilmu akan bertambah terangnya karena bersuci (berwudhu). Keberkahan ilmu akan semakin bertambah dengan kita berwudhu.

Ilmu itu adalah cahaya dari Allah, dan Allah berkehendak untuk menjatuhkan cahaya ilmu itu kepada seseorang yang dalam kondisi bersih. Bersih niatnya, bersih dirinya dari hadas, bahkan hatinya juga harus bersih. Maka kesucian itu akan memperkuat pemahaman atas ilmu dan memperkuat rahmat Allah terhadap ilmu pengetahuan yang terlimpah kepada seseorang (Sholihun, 2020).

  1. Tidak menjulurkan kaki ke arah kitab. Jika kitab ada di depannya, maka kakinya tidak diarahkan ke kitab.
  2. Tidak meletakkan sesuatu yang lain di atas kitab. Tidak meletakkan buku (terlebih lagi buku-buku agama) sembarangan, karena hal tersebut bagian dari adab.

Dalam hal menyusun buku, yang paling atas adalah buku/kitab tafsir (diletakkan paling atas karena itu adalah kalamullah). Apalagi Al-Qur’an, tidak boleh meletakkan sembarangan. Baru kemudian diikuti oleh buku-buku yang lain (Sholihun, 2020). Mengapa penting kitab itu ditata, dipotong-potong menjadi segi empat, itu tentu akan memudahkan seseorang untuk mengangkat kitab, menata kitab, dan mengulanginya.

  1. Mencatat dan memperbagus tulisan saat mencatat.

Diantara memuliakan ilmu adalah memperbagus ketika menulis. Berlatih supaya bagus tulisannya, jelas, dan dapat terbaca. Dan jangan menulis itu acak-acakan dan meninggalkan catatan-catatan di pinggir.

Catatan yang dibuat atas ilmu dapat menjadi amal jariyah. Maka mengapa penting untuk membuat catatan yang bagus dan rapi dalam dokumentasi yang baik. Semisal dibundel dalam satu buku yang rapi. Dan dalam mencatat kajian agama, jangan dijadikan satu dengan catatan yang lain-lain dalam satu buku. Tulis dalam buku terpisah dan tersendiri (Sholihun, 2020). Pelajar juga dapat menulis catatan dengan warna apa saja, kecuali warna merah dan warna kuning yang menyala, karena kedua warna itu sering digunakan oleh orang kafir.

  1. Memuliakan dan menghormati kawan dan siapapun yang belajar darinya.

Pelajar perlu mengedepankan sikap keempatian, kepedulian, dan kasih sayang di antara manusia. Hindari sifat iri dengki kepada teman atau sahabat dalam menuntut ilmu. Allah berkenan mengistimewakan kepada siapapun yang Dia kehendaki dalam proses belajar, penting untuk ada mahabbah (cinta), cinta yang dibangun karena Allah (Sholihun, 2020).

  1. Menyimak semua ilmu dan hikmah dengan penuh pengagungan dan penghormatan.

Sepatutnya bagi yang mempelajari ilmu, ketika kita sedang belajar, dan guru sedang menyampaikan materi kepada kita, maka kita wajib mendengarkan ilmu itu dengan penuh penghormatan, khidmat, dan takzim, sekalipun materi tersebut sudah sering kita dapatkan, diulang-ulang, bahkan sampai berkali-kali. Kecenderungan orang, akan meremehkan ilmu, ketika dia sudah mendengarnya berulang kali. Dan hal ini dapat menjadi sebab terhalangnya keberkahan sebuah ilmu. Ketika kita meremehkan ilmu, itu artinya sama dengan meremehkan Dzat yang memiliki ilmu (Sholihun, 2020).

  1. Tidak memilih sendiri jenis ilmu yang akan dipelajari.

Penting bagi pelajar untuk memperhatikan aspek kemampuan dalam mempelajari ilmu. Jika seseorang itu masih pemula dalam bab atau bidang tersebut, maka sepatutnya murid/pelajar menyerahkan sepenuhnya kepada guru harus mempelajari dari mana dulu dan urut-urutannya. Mulai belajar dari sesuatu yang kecil, terus menerus akan semakin meningkat, sehingga pada akhirnya sampai pada tahapan dia dapat memilih ilmu apa yang akan dia pelajari (Sholihun, 2020).

  1. Tidak duduk terlalu dekat dengan guru.

Poinnya adalah ketakziman. Jika antara guru dan murid terlalu dekat, maka dikhawatirkan akan mengurangi ketakziman seorang murid terhadap guru, tidak memandang adab dalam berinteraksi dengan guru. Dikhawatirkan juga menjadi sebab kecemburuan pada murid yang lainnya, menjadikan sombong dan ujub pada diri murid tersebut. Demikian pula sebaliknya, jika terlalu jauh jaraknya, guru akan tidak menganggap seorang murid seperti anaknya, sehingga dapat mengurangi kemungkinan adanya hubungan emosional antara guru dengan murid (Sholihun, 2020).

  1. Menghindari akhlak yang tercela.

Seorang murid wajib menghindari akhlak yang tercela. Jika dalam diri seorang murid masih ada sifat sombong, maka itu akan menjadi penghalang untuk dirinya, penghalang dalam memperoleh ilmu, bahkan penghalang bagi diri penuntut ilmu dalam memahami ilmu. Akhlak yang tercela dalam diri itu seperti najis dalam diri. padahal ilmu itu adalah sesuatu yang suci, karena turun dari Dzat yang suci, sehingga akan turun pada hati dan diri seseorang yang suci. Sifat-sifat yang tercela itu harus dibersihkan, agar ilmu itu dapat masuk dan memberikan keberkahan kepada penuntut ilmu (Sholihun, 2020).

Subhanallah. Betapa banyak hal-hal yang mungkin saja luput untuk kita perhatikan saat belajar dan menuntut ilmu. Mohonlah kepada Allah agar diberikan pemahaman dan keberkahan saat sedang mempelajari ilmu. Serta berdoa semoga ilmu yang sudah kita pelajari akan terus bertambah kebaikan-kebaikannya, dan bertambah kebermanfaatannya. Allahumma aamiin.

 

Referensi:

  1. Az-Zarnuji, I. (2019). Ta’limul Muta’allim: Pentingnya adab sebelum ilmu. Cetakan ketujuh. Penerjemah: Abdurrahman Azzam. Solo: Penerbit Aqwam.
  2. Saihu. (2020). Etika menuntut ilmu menurut kitab Ta’lim Muta’alim. Al Amin Jurnal Kajian Ilmu dan Budaya Islam, 3(1), 99-112.
  3. Sholihun, M.A. (2020). Materi kajian kitab Ta’lim Muta’allim Syaikh Az Zarnuji. Dirangkum mandiri oleh penulis.

 

Makna Minal Aidin wal Faizin

Oleh: Dr. H. Fuad Nashori, M.Si., M.Ag., Psikolog—-

Salah satu ajaran Islam dalam konteks hari raya adalah mendoakan diri dan orang lain yang telah menyelesaikan kewajiban menjalankan berbagai ibadah selama bulan ramadhan. Ucapan standar yang diajarkan oleh Nabi Muhammad adalah Taqabbalalahhu minna wa minkum shiyamana wa shiyamakum (yang artinya semoga Allah menerima amalanmu dan amalanku, puasamu dan pusaku). Di Indonesia, para ulama mengajarkan bagaimana menyampaikan doa kepada sesama muslim dengan ungkapan minal aidin wal faizin. Ucapan versi  lengkapnya adalah ja’alanallahu wa iyyakum minal aidin wal faizin. Artinya, “semoga Allah menjadikan kami dan anda orang-orang yang kembali dan beruntung”. Read more

Husnudzan Kepada Allah Subhanahu Wata’ala

OLeh : Fenny Sri Rahayu, S.Psi. ———

Pandemi Covid-19 yang melanda berbagai negara di dunia termasuk Indonesia, merupakan kondisi yang sangat tidak diharapkan, bukan hanya dari segi kesehatan, namun juga perekonomian, pariwisata, pendidikan, dan bidang kehidupan lainnya. Semua terjadi secara tiba-tiba, dari yang awalnya bebas melakukan aktivitas di luar rumah, saat ini menjadi terbatas, diharuskan menggunakan masker, wajib menjaga jarak, dan mematuhi protokol kesehatan lainnya yang menjadi upaya pencegahan dari penyebaran virus Covid-19. Bahkan saat ini, protokol kesehatan sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari terutama saat kita harus beraktivitas di luar rumah.

Banyaknya hal yang membatasi dalam segala aktivitas, sering membuat manusia menyalahkan orang lain, keadaan, dan celakanya lagi, berprasangka tidak baik kepada Yang Maha Pencipta Allah Subhanahu Wata’ala, naudzubillahi mindzalik.

Sebagai seorang muslim, ketika mendapatkan hal buruk, ujian, ataupun masalah, seharusnya instropeksi kepada diri sendiri terlebih dahulu. Hal-hal apa saja yang perlu dibenahi dan diperbaiki. Setiap muslim juga mestinya menyadari dan mempercayai setiap hal yang terjadi di dunia ini, hal baik maupun hal buruk adalah takdir dari Yang Maha Kuasa Allah Subhanahu Wata’ala.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S.  Al-Baqarah: 216)

Husnudzan (حسن ظن) yang artinya berprasangka baik kepada Allah Subhanahu Wata’ala merupakan kewajiban setiap seorang hamba kepada pencipta-Nya Allah Subhanahu Wata’ala.  Terutama di masa pandemi yang tengah kita hadapi saat ini berhusnudzan ketika sedang menjalankan ujian, secara manusiawi tentu tidak mudah dan tidak kita sukai, ingin rasanya segera mengakhiri ujian ini, merasa tidak nyaman, dan tidak terima dengan keadaan, padahal sebenarnya menurut Allah Subhanahu Wata’ala ujian tersebut baik untuk hamba yang mengalaminya. Oleh karena itu, saat ujian datang, bersabarlah dan berbaik sangkalah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Apapun yang dialami dalam kehidupan manusia, pasti memiliki hikmah yang besar di masa mendatang.

Dalam sebuah hadis qudsi dari Abu Hurairah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda yang artinya:

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman sebagai berikut: ”Aku selalu menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku. Apabila ia berprasangka baik maka ia akan mendapatkan kebaikan. Adapun bila ia berprasangka buruk kepada-Ku maka dia akan mendapatkan keburukan.” (Hadis Riwayat Tabrani dan Ibnu Hibban).

Berhusnudzan kepada Sang Khalik merupakan salah satu cara penghambaan kita pada Allah Subhanahu Wata’ala. Menyadari betapa kecil dan lemahnya kita sebagai makhluk yang tidak mungkin bisa bertahan hingga hari ini, di masa pandemi dalam keadaan sehat dan berkecukupan tanpa kasih sayang Allah Subhanahu Wata’ala. Prasangka baik kita kepada Allah Subhanahu Wata’ala tentu akan memberikan kebaikan untuk hidup kita, bukan hanya di dunia namun juga di akhirat nanti. Berhusnudzan kepada Allah Subhanahu Wata’ala tentu bukan hanya saat pandemi ini, tapi juga setiap waktu hingga kita meninggal dunia.

Husnudzan kepada Allah Subhanahu Wata’ala terbagi menjadi empat, yaitu:

Pertama, husnudzan dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala.
Husnudzan
dalam ketaatan kepada Allah Subhanahu Wata’ala harus menjadi hal utama yang tertanam pada perasaan dan pikiran seorang hamba. Meskipun hati seorang hamba belum bisa merasakan kebenaran peraturan atau ketetapan Allah Subhanahu Wata’ala, dan pikiran manusia terkadang melihat ada hal lain yang lebih baik menurut pendapat manusia, sebagai muslim yang baik tidak ada sikap yang akan diambil selain sami’na waata’na, yang artinya “Kami dengar perintah-Mu ya Allah, dan kami taat”.

Kedua, husnudzan dalam pemberian nikmat Allah Subhanahu Wata’ala.
Allah Subhanahu Wata’ala akan memberikan nikmat kepada siapa pun hamba yang dikehendaki-Nya. Nikmat dapat berupa harta, kesehatan, kesempatan, dan masih banyak lagi. Allah Subhanahu Wata’ala memberikan nikmat kepada hamba dengan maksud dan tujuan tertentu.

Husnudzan kepada Allah Subhanahu Wata’ala atas nikmat yang telah diberikan, dapat diwujudkan dengan memperbanyak syukur dan merenungkan apa sebenarnya maksud Allah Subhanahu Wata’ala memberikan nikmat tersebut kepada hamba-Nya.

Ketiga, husnudzan dalam menghadapi ujian dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Seperti yang disampaikan penulis dan menjadi inti dari pembahasan penulis, tentang husnudzan kepada Allah Subhanahu Wata’ala ketika menghadapi ujian.

Keempat, husnudzan dalam melihat ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Setiap makhluk yang diciptakan Allah Subhanahu Wata’ala pasti memiliki maksud dan tujuan yang bermanfaat bagi kehidupan di bumi ini. Husnudzan kepada Allah Subhanahu Wata’ala dalam hal ini ditunjukkan dengan meyakini bahwa tidak ada satu pun yang menjadi sia-sia dalam ciptaan Allah Subhanahu Wata’ala.

Adapun beberapa hal yang perlu kita yakini agar kita dapat selalu berprasangka kepada Allah Subhanahu Wata’ala, yaitu sebagai berikut:

Pertama, membangun keyakinan bahwa Allah Subhanahu Wata’ala akan memberi rahmat dan ampunan bagi para hamba-Nya yang berbuat kebaikan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَحِيمًا

“Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. An-Nisa: 110).

Kedua, meyakini bahwa Allah Subhanahu Wata’ala akan memberi pahala bagi hamba-Nya yang melakukan ketaatan.  Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-qur’an surah Al-Baqarah ayat 277:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآَتَوُا الزَّكَاةَ لَهُمْ أَجْرُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, mengerjakan amal saleh, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.

Ketiga, membangun keyakinan bahwa siapa yang bertawakkal kepada Allah Subhanahu Wata’ala akan diberi kecukupan oleh-Nya.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (kebutuhan)nya.” (Q.S.  At-Thalaq: 3).

Keempat, membangun keyakinan bahwa setiap takdir dan keputusan Allah Subhanahu Wata’ala memiliki hikmah dan kebaikan.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman dalam Al-qur’an surah Al-Hijr ayat 21:

وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا عِنْدَنَا خَزَائِنُهُ وَمَا نُنَزِّلُهُ إِلَّا بِقَدَرٍ مَعْلُومٍ

“Tidak ada sesuatu pun melainkan pada sisi Kami-lah khazanahnya; dan Kami tidak menurunkannya melainkan dengan ukuran yang tertentu.

Adapun hikmah yang akan kita dapatkan ketika kita mampu berhusnudzan kepada Allah Subhanahu Wata’ala diantaranya sebagai berikut:

Pertama, senantiasa mensyukuri segala sesuatu yang diberikan oleh Allah Subhanahu Wata’ala. Mulai dari hal yang kecil apalagi hal yang besar, karena percaya Allah Subhanahu Wata’ala selalu memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya.

Kedua, memiliki rasa khauf (takut) dan raja’ (berharap) kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

Ketiga, bersikap optimis, tidak berkeluh kesah serta berputus asa terhadap segala ketentuan dari Allah Subhanahu Wata’ala.

Keempat, berpikiran lebih positif terhadap segala sesuatu yang terjadi, sehingga dapat mengambil kebaikan dari masalah yang dialami.

Kelima, terhindar dari sifat yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

Keenam, paling utama hal yang diinginkan setiap hamba yaitu dicintai dan disayangi Yang Maha Cinta Allah Subhanahu Wata’ala.

Semoga kita dapat meyakini juga mengamalkan segala kebaikan dari kalam Allah Subhanahu Wata’ala tersebut, sehingga kita menjadi hamba Allah yang selalu berhusnudzan kepada Yang Maha Baik Allah Subhanahu Wata’ala, dalam kondisi apapun dan kapanpun. Aamiin Yaa Rabbal’Aalamiin

Mengapa Seorang Muslim Perlu Kaya?

Oleh: Muhammad Yopa Velda Putra—–

Walaupun saat ini umat Islam menjadi penganut agama mayoritas nomor dua di dunia saat ini, namun umat islam adalah salah satu yang paling banyak dirundung masalah, seperti masalah kemiskinan. Sebagaimana yang sudah kita ketahui bahwa mayoritas umat Islam hidup di negara miskin atau berkembang dengan pendapatan menengah ke bawah, sedangkan sisanya umat islam yang hidup di negara kaya, mereka mendapatkan kekayaan dari sumber daya alam yang melimpah sebagai contoh minyak bumi dan gas alam. Namun seandainya sumber daya tersebut sudah habis maka pertanyaanya bagaimana kesejahteraan umat muslim yang tinggal di negara tersebut? Di negara kita yaitu Indonesia yang disebut sebagai negara dengan umat muslim terbesar di dunia namun justru kekuatan ekonomi kita masih bergantung dengan orang non muslim. Di zaman Rasulullah SAW, meskipun beliau hidup sederhana namun beliau adalah termasuk pemimpin imperium terbesar saat itu,  dan memiliki kekayaan yang luar biasa karena beliau pandai berdagang. Selain itu 10 sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga, sembilan diantaranya adalah orang yang luar biasa kaya yaitu Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zaid, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Bukan sebuah kebetulan pula dalam Al-Qur’an terdapat ayat paling panjang yang menjelaskan tentang perekonomian (Al-Baqarah 282). Read more

BERJEJARING DALAM DUNIA KERJA DI MASA PANDEMI COVID-19

OLeh: Nur Pratiwi Noviati, S.Psi, M.Psi.——–

“Duh, gara-gara pandemi semua kolegaku jadi susah dihubungi”

“PPKM membuat banyak pekerjaan dan karirku terhambat”

Ungkapan ini mungkin menjadi semakin sering kita dengar ketika kita mengalami masa pandemi COVID-19. Hal ini menunjukkan bahwa membangun hubungan dengan pihak lain dalam dunia kerja menjadi penting. Bekerja dalam membangun karir sebenarnya tidak hanya berbicara mengenai kompetensi dan kualitas diri seseorang saja. Namun lebih dari itu, bagaimana seseorang dapat membangun jejaring (networking) sehingga dapat memberikan manfaat baik bagi diri sendiri maupun orang yang ada di lingkungannya. Membangun jejaring memiliki nilai yang penting bagi manusia modern saat ini. Kompleksitas yang dihadapi dalam kehidupan saat ini baik dalam ruang lingkup sehari-hari maupun dalam dunia kerja memaksa kita untuk selalu berhubungan dengan pihak lain. Read more

FENOMENA MUALAF DAN PERILAKU KELUAR ZONA NYAMAN: Sebuah Autokritik

Oleh : Dr. Faraz, MM——

Berkembangnya teknologi media sosial di Indonesia telah menguak banyak fakta luar biasa tentang fenomena mualaf (orang yang mendapat hidayah dan mengucapkan 2 kalimah syahadat). Bagaimana kisah atau perjalanan mereka masuk Islam, seringkali sangat sederhana tetapi tidak jarang penuh perjuangan. Carissa Grani, seorang dokter gigi yang bekerja di Pemprov DKI, sering memperhatikan teman-temannya yang muslimah, memakai cadar, tidak bersalaman dengan yang bukan mahram, dan sering berwudlu termasuk membersihkan hidung. Carissa berpikir bahwa perilaku teman-temannya itu ternyata sesuai dengan apa yang harus dilakukan manusia di dunia saat mengahadapi pandemi Covid-19. Carissa kemudian menyimpulkan, “Inilah agama yang benar, karena sesuai dengan ilmu pengetahuan”. Atas dasar itu Carissa masuk Islam. Mudah sekali.

Bagi Koh Asen, warga Tionghoa di Jakarta Barat, masuk Islam baginya sesuatu yang hampir-hampir tidak mungkin. Dia sebenarnya terbuka dengan banyak agama, seperti Kongucu, Budha, dan Kristen, tetapi untuk Islam nanti dulu, tidak terpikir sama sekali, karena “Melihat tulisan Arab aja udah bikin pusing, “ katanya. Cara beribadah orang Islam, menurut Asen,  berbeda dengan agama lain yang mempunyai objek untuk disembah. “Orang Islam menyembah apa, gak jelas, “lanjut Asen. Namun, apa yang terjadi kemudian, pada usia menginjak dewasa, Koh Asen mengalami perasaaan panas pada tubuhnya yang luar biasa. Hal ini dialami setiap musim kemarau. Pada saat musim hujan, rasa panas itu hilang. Pada suatu musim panas, ia merasa tidak kuat lagi. Ia pun keluar rumah di sore-sore, ia mau cari hiburan nonton film bioskop. Sebelum menonton, Asen iseng melihat lihat dagangan buku yang digelar di pinggir jalan, di depan bioskop itu. Niatnya ingin membeli buku TTS (Teka Teki Silang), tetapi Asen melihat ada judul buku yang mengusik pikirannya, berjudul Seputar Alam Gaib. Menariknya ketika Asen membuka buku itu, ada tulisan Arab, tentang ayat minta hujan,  dan disitu ada anjuran, “Siapa yang menuliskan ayat ini pada batu hitam dan meletakkannya kemudian di bawah pohon kering akan mendatangkan hujan”. Kalimat itu langsung direspon Asen, dalam hatinya, ”Wah ini mah bohong, ngibul”. Asik melihat-lihat buku, Asen lupa bioskop sudah dibuka, ia bergegas dan meminta pedagang untuk membungkus buku TTS. Anehnya, ketika keluar dari bioskop, Asen terkejut karena buku yang dibungkus tadi bukan TTS tetapi Seputar Alam Gaib. Siapa yang menyangka, melalui buku itu, Koh Asen bisa masuk Islam, meskipun prosesnya tidak mudah, butuh tiga kali praktek minta hujan sesuai yang diperintahkan dalam buku. Percobaan pertama, Asen terkejut karena permintaannya tidak lama kemudian dikabulkan, hujan turun lebat. Namun, Asen menganggap itu cuma kebetulan. Empat hari kemudian ketika merasa panas lagi, Asen mencoba yang kedua, dan hasilnya sama. Asen mulai percaya tetapi belum yakin. Pada prosesi ketiga, Asen tidak bisa berbicara lagi, kecuali menangis, karena ia merasa sudah berdosa tidak percaya sejak awal pada Tuhan (Allah).

Imam Ibnu al-Qayim Al-Jauziyyah, salah satu murid terpenting Ibnu Taimiyyah, membagi hidayah dalam empat hal: (1). Hidayah umum ini diberikan Allah pada seluruh makhlukNya, sesuai Q.S. Thaha ayat 50 artinya; Musa berkata; Rabb kami ialah rabb yang telah memberikan kepada makhluk setiap makhluk bentuk kejadiannya dan ia juga memberinya petunjuk”. (2). Hidayah bayan, berupa penjelasan dan keterangan tentang jalan yang baik dan jalan yang buruk. Hidayah ini tidak berarti melahirkan petunjuk Allah yang sempurna. Hal ini sesuai dengan firman Allah Q.S. Fushshilat ayat 17, artinya “Kami jelaskan dan tunjukkan kepada mareka (jalan kebenaran) tetapi mareka tidak mau mengikuti petunjuk. (3). Hidayah taufik, merupakan suatu ilham dan kelapangan dada untuk menerima petunjuk Allah. Inilah hidayah (sempurna), sesuai Q.S. Faathir ayat 8, artinya “Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki Nya dan memberi hidayah (taufik) kepada siapa yang dikehendaki Nya. (4). Puncak dari suatu hidayah yaitu hidayah syurga. Allah berfirman dalam surat Al A’raaf ayat 43 yang artinya “Segala puji bagi Allah yang telah memberi hidayah kami ke (Surga) ini, dan kami tidak akan mendapat hidayah (ke surga) kalau Allah tidak menunjukkan kami.

Kasus mualaf di Indonesia, seperti Carissa atau Koh Asen, menurut ketua Mualaf Center Indonesia (MCI), Koh Steven,  jumlahnya sekarang sudah puluhan ribu orang. Namun, fokus tulisan ini bukan bagaimana mereka menjadi Mualaf, tetapi yang jauh lebih menarik adalah bagaimana para mualaf yang baru saja beberapa tahun beragama Islam tetapi sudah mempunyai kontribusi yang sangat signifikan bagi syiar Islam, jauh melebihi orang  yang sudah Islam sejak lahir.

Sebut saja Felix Siauw, Ia masuk Islam 2002, tetapi penguasaan Al-Quran dan Hadits-nya luar biasa dibandingkan kita yang belajar Islam sejak lahir. Irena Handono, mantan biarawati, masuk Islam usia 26 tahun. Saat ini berprofesi ustadzah dan berdakwah ke berbagai kota di Indonesia. Terakhir, Yusuf Ismail, keturunan Tionghoa, penginjil di gereja, ayahnya pendeta, Ia masuk Islam 1994, kini kondang sebagai Kyai, memiliki pondok pesantren Al Hadid, di Karangmojo, Gunungkidul, DIY. Pertanyaannya, mengapa mereka jauh lebih cepat dalam belajar Islam? Mengapa mereka terlihat begitu mudah untuk istiqomah berprofesi sebagai pendakwah? Dibandingkan kita yang tetap asik dengan posisi duniawi sebagai pejabat di pemerintahan, di dunia ekonomi, di dunia politik maupun di dunia pendidikan seperti menjadi dosen.

Banyak dalil baik dari Al-Qurán maupun hadits yang menegaskan bahwa seorang mualaf, orang yang mengucapkan syahadat, akan dihapus semua dosanya yang dilakukan sebelumnya. “Katakanlah kepada orang-orang kafir itu, ‘Jika mereka berhenti (dari kekafirannya), niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa mereka yang telah lalu…” (QS. Al-Anfaal: 38). Banyak hadits shohih, riwayat Bukhari dan Muslim juga memberikan penjelasan yang sama, bahwa siapa saja yang bersyahadat, memeluk agama Islam, maka akan dihapuskan dosa-dosa masa silamnya, dan seperti dilahirkan kembali, suci tanpa dosa.

Apakah karena dosa-dosanya dihapus sehingga para mualaf itu mudah istiqomah dalam berdakwah atau berjuang untuk Islam? Jawabannya bisa “Ya”  bisa “Tidak”, karena tidak semua mualaf menjadi dai atau ustad, tetapi yang pasti, mereka adalah orang-orang yang berani memutuskan keluar dari zona nyamannya. Hampir semua mualaf siap dimusuhi keluarganya, kelompoknya, dan siap kehilangan harta atau siap miskin. Koh Asen, bekerja di perusahaan orangtuanya, posisinya sebagai manajer, karena orangtuanya tidak senang ia masuk Islam, maka beliau digaji dengan standar gaji pegawai yang paling rendah di perusahaan itu. Yusuf Ismail dari keluarga yang berkecukupan, karena ayahnya seorang pendeta senior, langkahnya memeluk Islam telah membuat keluarganya kehilangan penghasilan dan jatuh miskin, tidak hanya tidak punya rumah, tetapi untuk makan sehari-hari saja sulit. Ia terpaksa memutuskan tidak kuliah, tetapi tetap istiqomah.

Salah satu sosok mualaf yang juga perlu dicatat disini yakni Koh Steven, ketua MCI itu. Posisi sebelumnya, adalah pendeta di gereja terkenal di Jakarta. Ia alumnus Perguruan Kristen (S2) di Universitas Leiden, Belanda. Ketika memutuskan masuk Islam, ia mundur dari gereja. Oleh orangtuanya ia diusir. Ia pun menjadi gelandangan di Jakarta, tidur tidak jelas, di emper toko atau di emper masjid. Ia hijrah ke Cilegon jadi kuli panggul dan pekerjaan serabutan lainnya. Dengan modal bahasa Inggris, ia akhirnya bekerja sebagai office boy sebuah perusahaan asing. Dari sini ia bisa menabung dan dibantu atasannya untuk pergi umroh. Pulang umroh ia bergerak cepat mendirikan Mualaf Center Indonesia. Melalui MCI, Koh Asen berhasil memfasilitasi orang masuk Islam sebanyak   58 ribu lebih. Ketika ia sudah maju, bekerja di lembaga riset dunia di Singapore, dan mempunyai bisnis kedai kopi di beberapa tempat,  Allah mengujinya kembali.   Pada awal tahun 2020, dunia dihantui ketakutan virus covid-19. Steven  berpikir dampak negatif yang mungkin akan menimpah Indonesia ketika pandemik covid-19 merebak. Ia pun pulang ke Indonesia, menjual semua hartanya, dua rumah, tujuh mobil dan tiga motor gede, untuk membeli dan membuat masker serta beberapa peralatan medis yang dibutuhkan. Semua peralatan medis itu termasuk APD ia sumbangkan ke semua petugas kesehatan yang membutuhkan termasuk ke Yayasan-yayasan Kristen dan Budha yang menangani pasien covid-19. Dia sendiri kemudian mengontrak rumah di Yogyakarta bersama tim bisnis dan dakwahnya, sementara istrinya tinggal di Bandung bersama mertuanya. Mengapa dia mampu melakukan itu, banyak orang menilainya, “gila”, terbius agama dan sebagainya, tetapi Koh Steven sendiri punya argumentasi sederhana, menurutnya, harta yang dimiliki adalah titipan Tuhan, cepat atau lambat akan kembali ke pemiliknya, karena bencana atau faktor lain. “Daripada kembali ke Allah karena dipaksa, lebih baik saya sedekahkan saja” tegasnya. Menariknya, ketika banyak usaha berguguran karena pandemi, usaha Kedai Kopi Koh Steven, malah bertambah 19 outlet.

Bagaimana dengan kita, kita bukan orang awam, kita warga terpelajar, bahkan dari kita berprofesi sebagai dosen, bergelar doktor bahkan profesor. Kita mengajar di sebuah perguruan tinggi Islam, yang mendorong untuk melakukan karya-karya yang mengintegrasikan Barat dan Islam. Pertayaannya, apa yang sudah kita lakukan untuk agama kita? Seberapa besar tenaga dan pikiran yang kita sudah habiskan untuk  Islam? Apakah kita sudah puas berjuang untuk Islam dengan standar minimalis? Apakah kita masih berat meninggalkan profesi yang lebih banyak menciptakan kenikmatan dunia? Apakah bekal kita sudah cukup untuk dibawa ke kampung akhirat?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berat ini, mari kita simak model lain, yakni dokter Zakir Naik, pendakwah kondang tingkat dunia. Ia merupakan alumnus terbaik dari fakultas kedokteran di kota kelahirannya Mumbay, India. Meski lulus dengan nilai terbaik, ia tidak melanjutkan profesinya sebagai dokter. Jiwanya bergetar dan menangis ketika Ahmad Deedat, gurunya,  menyampaikan firman Allah  Q.S. Al-Asr: 1-3. “Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Surat ini hampir setiap hari kita baca, tetapi mengapa tidak memunculkan hidayah Allah? Sebaliknya, bagi Zakir Naik sangat cukup untuk meninggalkan profesi paling terhormat di kota Mumbay, menuju belajar menjadi pendakwah, dengan segala konsekwensi, tidak ada pemasukkan finansial, sebaliknya mengeluarkan banyak uang, waktu dan tenaga untuk membaca dan berguru pada banyak ahli agama atau ulama.

Keluar dari zona nyaman mungkin mudah kita pikirkan, tetapi mengapa sulit untuk dipraktikkan. Persoalan klasik yang tidak kita disadari, bahwa jiwa yang kita anggap lebih penting dari pikiran dan tubuh, realitanya terbalik. Jujur, kita lebih mengutamakan tubuh dibandingkan jiwa. Perilaku kita untuk membesarkan jiwa, seperti ibadah terutama sedekah, umumnya sedikit sekali dibandingkan kegiatan untuk tubuh dan pikiran. Padahal, menurut Imam Al-Ghazali bahwa  jiwa itu habitat kebaikkan, bila habitat itu kecil dan sempit, maka kebaikkan sulit dapat bertahan lama pada diri kita. Mungkin ini penyebabnya, mengapa kebaikkan tidak menjadi kebiasaan kita. Banyak kebaikkan dunia maupun akhirat yang kita tahu kebenarannya, tetapi sulit atau berat kita praktikkan. Ini juga mungkin yang menyebabkan kita sulit keluar dari zona nyaman, dari profesi yang lebih besar dunianya dibandingkan akhiratnya. Bila kita kembali kepada kriteria hidayah Ibnu Qayyim, mungkin kita baru berada pada level 2 (bayan), berupa seruan untuk berdakwah. Diantara kita sudah banyak yang berdakwah, tetapi banyak juga yang belum punya waktu untuk itu. Sampai di sini, penulis ragu, apakah kita benar-benar sudah mendapatkan hidayah taufik dari Allah (level 3), sebuah tingkatan yang harus dilalui sebelum mendapatkan hidayah tertinggi yakni surga. Fenomena keluar dari zona nyaman ala mualaf mungkin sedikit banyak akan mengusik hati dan pikiran kita untuk mencoba, semoga.

Renungan Sebelum Berpulang

Oleh:  Diana Rahma Qadari—–

“Di dunia ini berisi ketidakpastian, satu hal yang pasti hanya satu yaitu kematian. Segala sesuatu yang kita rencanakan hari ini belum tentu terwujud esok, karena bisa jadi kematian lebih dulu datangnya dan tanpa aba-aba.”

Kalimat di atas membuat saya kembali merenungkan sejauh apa diri ini menyiapkan bekal untuk sebuah kematian? Waktu yang sudah dihabiskan apakah sudah diisi dengan hal-hal manfaat? Ataukah justru rutinitas duniawi mengambil porsi besar dalam diri sehingga menjalankan ibadah wajibpun seolah diburu waktu, menjadi asal selesai saja dan terlalu singkat. Sedekah yang kita keluarkan hanya sebatas ingin mendapat pengakuan dari orang lain, dinilai baik dan sholeh di mata manusia. Waktu yang digunakan lebih banyak membicarakan orang lain, mengumbar kekurangan orang lain seakan lupa bahwa apapun yang ada di dunia ini pasti Allah dengar, tercatat dan terhitung tanpa terlewatkan sedikitpun.

Ketika menjalankan urusan pekerjaan kita menjalankan tugas dengan segala cara untuk mendapatkan hasil terbaik. Fokus, serius, berusaha minim kesalahan sampai-sampai menunda makan dan istirahat hingga target selesai dengan hasil baik seperti yang diinginkan. Bukankah seharusnya begitu juga sikap kita terhadap urusan akhirat? Serius ketika sedang melaksanakan ibadah, menunda urusan-urusan lain hingga akhir sholat, pikiran dan hati kita fokus kepada Allah semata. Tetapi tak jarang terjadi, ketika dalam sholat justru teringat akan urusan lainnya. Tak terasa kondisi tersebut terus berulang hingga kenikmatan dalam ibadah hilang dalam diri kita.

Kematian memang menjadi nasehat terbaik untuk manusia, adapun beberapa ayat dalam Al Quran dan hadis tentang kematian sebagai berikut:

  1. QS Ali Imran: 185

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdaya.”

Banyak kesenangan di dunia ini yang bisa kita dapatkan, banyak kemudahan yang dunia tawarkan. Teknologi berkembang pesat, banyak informasi yang sangat mudah kita dapatkan dan tentu saja hiburan yang mudah kita akses dan ada dalam genggaman. Kita begitu mudah mengenalkan gawai pada anak kita tapi sedikit mengajarkan ayat-ayat Al Quran bahkan seringkali kita menenangkan anak kita dengan gawai. Di balik semua kemudahan yang kita dapatkan, sangat mungkin menjadi bumerang bagi kita. Mengakses gawai untuk waktu yang lama, kemudahan mengakses hiburan di tangan kita sangat memungkinkan untuk membuat diri kita lalai dan parahnya kesenangan tersebut membuat diri kita mampu menunda sholat. Kemudahan-kemudahan yang ada di dunia ini seharusnya menjadikan diri kita semakin keras berupaya untuk memfilter dan membentengi diri kita dan keluarga dari sesuatu yang akan membawa diri kita pada sebuah penyesalan dan tentu saja dari hal yang merugikan.

  1. HR Ibn Abi al-Dunya

“Ingatlah pada kematian. Demi yang jiwaku dalam genggamannya, seandainya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian sedikit tertawa dan banyak menangis.”

Ketika melewati makam sesekali kita perlu membayangkan diri yang semula bebas bergerak dan beraktifitas kemudian tubuh terbujur kaku dan berakhir di bawah tanah, tidak ada hari-hari bertegur sapa dengan keluarga maupun tetangga dan tentu saja tidak ada yang membuat kita kembali ke dunia. Mengingat kematian membuat diri ini menimbang, mengukur kembali amal apa yang nantinya akan menjauhkan dari siksa kubur dan berakhir kekal di surga-Nya. Mengingat kematian bukan sesuatu yang harus buru-buru dienyahkan dan bukan hal yang harus dihentikan atau disikapi dengan ketakutan namun seharusnya membuat diri kita melakukan banyak tindakan atau persiapan yang tidak ada hentinya. Jika husnul khatimah yang kita idam-idamkan, seharusnya kita juga mempersiapkan diri untuk mengantarkan jiwa dan raga menujunya. Keberhasilan orang hidup adalah mampu mengantarkan jiwa dan raganya untuk sesuatu yang kekal baginya yaitu setelah kematiannya serta mengetahui ke mana akhir dari perjalanan hidupnya.

  1. HR Ibnu Majah

Dari Ibnu Umar bahwa dia berkata: “Saya bersama dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, tiba-tiba datang seorang laki-laki Anshar kepada beliau, lalu dia mengucapkan salam kepada Nabi shallallahu alaihi wasallam dan bertanya; “Ya Rasulullah, bagaimanakah mukmin yang utama?” beliau menjawab: “Orang yang paling baik akhlaknya.” Dia bertanya lagi; “Orang mukmin yang bagaimanakah yang paling cerdas?” beliau menjawab: “Orang yang paling banyak mengingat kematian, dan yang paling baik persiapannya setelah kematian, merekalah orang-orang yang cerdas.”

Semakin sering kita mengingat kematian, semakin sering pula usaha kita mempersiapkannya. Bertaubat, sholat khusyu’, menjaga diri dan lisan kita kepada orang lain, menjalin hubungan baik dengan saudara seiman. Hubungan yang baik membawa ketenangan dalam diri kita dan membuat diri kita optimis menjalani hidup ini dan semakin berjuang untuk mendapatkan ridho-Nya. Lingkaran yang baik adalah lingkaran di mana diri kita bisa saling mengingatkan kebaikan tanpa saling menyakiti. Tidak tersinggung apabila diri kita diingatkan ketika melakukan kesalahan, memperkaya diri kita dengan ilmu agama sebagai bekal berpulang nanti. Bersaudara, bersahabat dengan lingkaran yang baik adalah kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, saling menjaga dari sesuatu yang akan membawa pada kemurkaan Allah. Di dunia ini banyak hal yang bisa kita cari dan bisa kita nikmati namun kenikmatan yang didapatkan tidak boleh membuat kita terlena hingga sedikit mempersiapkan mati sedangkan kematian pasti datangnya.

Waktu kita di dunia ini tidaklah lama, benar akan sebuah istilah bahwa hidup sekedar singgah untuk minum. Tidak terasa hitungan satu tahun cepat sekali berlalu dan waktu yang dijalani semakin mendekat dengan hari pertanggungjawaban.  Semakin banyak berita kematian yang kita dengar di tengah kondisi pandemi. Dalam kondisi pandemi, menjadi kesempatan bagi kita untuk banyak bermuhasabah, melakukan kegiatan amal seperti membantu meringankan kesulitan tetangga ataupun saudara yang terkena musibah. Pandemi yang dihadirkan oleh Allah di dunia ini seharusnya membuat diri mengenal arti tawakal bukan malah menyalahkan pandemi yang membuat banyak rencana yang kita buat tidak dapat terealisasikan. Pesta pernikahan yang diharapkan tidak dapat diselenggarakan kemudian menggerutu menyalahkan pandemi. Kehilangan pekerjaan dan peta rencana kehidupan berantakan karena pandemi. Tetapi apakah memang benar bahwa penundaan, kehilangan adalah buruk bagi kita? Bukankah kita diminta untuk berbaik sangka bagaimanapun keadaan yang datang pada kita seperti Umar bin Khattab pernah berkata “Hatiku tenang karena mengetahui bahwa apa yang melewatkanku tidak akan pernah menjadi takdirku, dan apa yang ditakdirkan untukku tidak akan pernah melewatkanku.”. Dari pandemi kita belajar bahwa kehendakNya adalah yang terbaik bagi diri kita seberapapun sulitnya kita menerima karena di balik air mata kita ada hal baik yang mungkin belum secepat kilat dapat kita ambil maknanya. Kesabaran kita diuji dari sebuah kehilangan maupun kekecewaan dan dari keadaan tersebut ke mana diri kita mendatangi dan mengadu.

Pandemi membawa kita pada pemahaman bahwa batas kehidupan dengan kematian begitu tipis. Di masa pandemi ini ada masa di mana untuk memakamkan jenazah begitu memakan waktu yang lama. Tukang gali kubur kepayahan karena begitu banyak jenazah yang dimakamkan. Kematian menjadi pengingat paling dahsyat. Kedatangannya tak disangka-sangka, baru kemarin bercengkerama tetiba menerima kabar kepulangannya. Hari ini terlihat update story WhatsApp, esok hari mendengar kabar pemakamannya. Berita kematian saudara dan kerabat membuat diri tertunduk dan termenung membayangkan kapan waktu kematian datang menjemput dan dalam keadaan apa. Banyak hal di dunia ini yang sudah kita rencanakan beberapa tahun ke depan mulai dari merencanakan pendidikan anak, merencanakan membangun rumah dan banyak hal lainnya tetapi sedikit mempersiapkan kehidupan akhirat setelah kematian.

Semoga diri kita senantiasa diberikan nikmat dalam istiqomah, nikmat dalam beribadah. Waktu yang masih diberikan untuk kita jangan disia-siakan, perbanyak dengan zikir, isi ransel kehidupan dengan bekal kematian. Selamatkan diri kita dan keluarga kita dari siksa api neraka, buatlah diri kita dan keluarga kita sebagai manusia-manusia yang layak untuk ditempatkan di surgaNya. Buatlah diri kita dan keluarga kita tidak silau dengan gemerlapnya dunia namun menghiasi hati dengan tawakal. Semoga ketika Allah memanggil, diri kita betul-betul telah mempersiapkannya, meninggalkan banyak kebermanfaatan, amal jariyah sebagai bekal berpulang untuk bertemu dengan illahi Rabbi.