Syi’ar

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025

Bakti yang tertunda di zaman sibuk

Ike Agustina
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Kita sedang hidup di masa yang serba cepat. Waktu seolah berlari, hari-hari terasa tumpang tindih antara rapat, dokumen kerja, dan layar ponsel yang tak pernah padam. Di tengah hiruk-pikuk itu, kadang muncul satu pesan yang sederhana tapi menohok, “Sudah makan, Nak?” Pesan dari orang tua yang mungkin kita baca sambil lalu, dibalas dengan emoji senyum, lalu tenggelam di antara notifikasi lainnya.

Sungguh ironis, kita bisa terhubung dengan dunia lewat rapat lintas benua, tapi sering menunda sekadar menelpon ayah atau ibu. Kita cepat merespons email kantor, tapi lambat menjawab panggilan kasih dari rumah. Anehnya lagi, banyak dari kita yang begitu piawai mengatur jadwal cuti untuk liburan ke luar kota, bahkan ke luar negeri, demi self-reward atas kerja keras. Tapi ketika bicara soal pulang ke kampung halaman menjenguk orang tua, alasan klasik itu muncul lagi, “Belum sempat, nanti kalau sudah agak longgar”.

Kadang saya bertanya dalam hati, apakah benar kita tidak punya waktu, atau sebenarnya kita hanya belum menempatkan mereka di urutan pertama? Betapa sering kita ingin menghadiahi diri dengan perjalanan jauh, tetapi lupa bahwa ada dua orang di rumah yang tak meminta hadiah apa pun, hanya kehadiran anaknya. Padahal, perintah untuk berbakti kepada orang tua (birrul walidain) tidak pernah berubah, tak peduli seberapa sibuk dunia kita. Allah bahkan meletakkannya sejajar dengan perintah menyembah-Nya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka, tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” (QS. al-Isrā’: 23).

Ayat ini bukan sekadar aturan moral, tapi panggilan lembut bagi hati yang mulai sibuk. Sebuah pengingat bahwa ukuran kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh jabatan, bukan pula oleh gaji, melainkan oleh caranya memperlakukan orang tua. Di tengah hidup yang terus bergegas, di saat cinta sering tergeser oleh rutinitas, berbakti menjadi ujian sungguh berat.

Hadir dengan Waktu yang Nyata, Bukan Sekadar Online

Zaman modern melatih kita untuk multitasking, tetapi melemahkan kemampuan kita untuk hadir sepenuhnya. Banyak anak yang kemudian merasa sudah berbakti karena rutin menelpon seminggu sekali atau rajin mengirim pesan lewat WhatsApp. Padahal, bagi orang tua, perhatian tidak diukur dari seberapa sering kita mengirim pesan, tetapi dari seberapa tulus kita meluangkan waktu untuk pulang dan menemui mereka.

Saya punya seorang teman dosen perempuan yang membuat saya sering merenung. Ia bukan hanya dosen, tapi juga pejabat kampus, ibu dari seorang anak, dan istri yang sibuk. Hidupnya padat, tapi ada satu kebiasaan yang tak pernah ia tinggalkan sejak ayahnya wafat. Setiap Jumat sore, setelah menuntaskan pekerjaan di kampus, ia berangkat keluar kota, menempuh perjalanan 5 jam di kereta untuk menemani ibunya yang kini tinggal seorang diri. Ia habiskan akhir pekan di sana, menata rumah, menemani makan, mendengarkan cerita, atau sekadar duduk bersama sang ibu di teras. Lalu, Minggu malam, ia kembali lagi ke Yogyakarta untuk mengajar keesokan harinya. Ia lakukan itu bukan sekali dua kali, tapi setiap pekan, dengan wajah yang selalu tenang dan bahagia.

Saya sering berpikir, di tengah kesibukannya yang luar biasa, apa yang membuatnya tetap sanggup menjaga rutinitas itu? Barangkali jawabannya adalah cinta. Cinta yang tidak sibuk menghitung jarak dan waktu. Cinta yang tahu bahwa kehadiran adalah bentuk bakti yang paling nyata.

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada dua orang ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula)… Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu, hanya kepada-Ku kembalimu” (QS. Luqman: 14).

Rasa syukur kepada Allah dan kepada orang tua harus hadir dalam tindakan, bukan sekadar kata. Datang menjenguk mereka, meski hanya sebentar, jauh lebih berharga dari seratus pesan singkat. Rasulullah bersabda, 

“Celakalah, celakalah, celakalah seseorang yang mendapati salah satu atau kedua orang tuanya masih hidup namun tidak membuatnya masuk surga” (HR. Muslim, No. 2551).

Kalimat itu terdengar keras, tapi justru di situlah kasih sayang Allah. Karena Allah tahu, di balik alasan sibuk dan lelah, sering tersembunyi hati yang mulai lupa pulang. Kadang, satu jam duduk di ruang tamu bersama orang tua bisa lebih menenangkan daripada seminggu penuh liburan ke pantai.

Lembutkan Nada, Jagalah Hati Mereka

Tantangan lain bagi manusia modern adalah kesabaran dalam berinteraksi. Gaya hidup yang cepat sering menjadikan kita keras dalam berbicara, singkat, tegas, bahkan tanpa sadar meninggi karena alasan efisien. Namun, kepada orang tua, yang dibutuhkan bukan efisiensi, melainkan kelembutan. Kita mungkin lupa, bahwa nada bicara yang keras bisa melukai mereka lebih dalam daripada kata-kata kasar.

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: ‘Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil’” (QS. al-Israa’: 24).

Ayat ini mengajarkan bahwa berbicara kepada orang tua harus dilandasi kasih sayang, bukan sekadar sopan santun formal. Kadang mereka memang pelupa, mengulang cerita, bahkan cerewet. Tapi bukankah dulu mereka juga sabar mendengarkan ocehan kita waktu kecil? Saya pernah menyadari sesuatu yang menohok. Saya mungkin bisa sabar menghadapi mahasiswa yang lambat paham, tapi kadang kurang sabar menjawab pertanyaan ibu yang diulang dua kali. Saya malu mengakuinya, tapi mungkin di situlah letak manusiawinya kita, mudah sabar kepada orang lain, namun kadang pelit kesabaran kepada mereka yang paling mencintai kita. Rasulullah bersabda:

“Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada orang tuanya” (HR. Aḥmad, No. 6640).

Menahan diri agar tidak membantah, tidak menyela, dan tidak mengoreksi dengan nada tinggi adalah bentuk bakti yang sering diabaikan. Karena berbakti itu tidak selalu tentang memberi, tapi juga tentang menahan diri. Mungkin memang terasa sulit di tengah tekanan hidup dan emosi yang mudah terpancing, tetapi setiap kali kita memilih diam dengan hormat, sesungguhnya kita sedang menjaga kemuliaan diri di hadapan Allah.

Doa dan Cinta yang Tak Pernah Putus

Ada masa ketika waktu dan jarak benar-benar memisahkan. Anak bekerja di kota lain, orang tua tinggal di kampung halaman. Tapi Islam memberi jalan yang jauh lebih lembut dari sekadar pertemuan fisik: doa.

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidikku waktu kecil” (QS. al-Israa’: 24).

Doa ini bukan sekadar bacaan rutin, tapi ungkapan cinta yang melintasi jarak dan waktu. Doa anak yang saleh dapat menjadi cahaya bagi orang tua, bahkan setelah mereka tiada. Rasulullah bersabda:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim, No. 1631).

Maka, di tengah kesibukan kerja, di sela rapat, atau dalam perjalanan pulang, sempatkan berdoa untuk orang tua. Satu kalimat doa mungkin terdengar kecil, tapi di langit, bisa jadi itulah yang menjaga hidup kita tetap lapang. Bakti sejati bukan hanya soal memberikan uang bulanan, tetapi tentang menjaga hubungan yang tulus.

“Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu” (HR. Ibn Maajah, No. 2291).

Hadist ini bukan sekadar hukum kepemilikan, tapi penegasan makna: bahwa semua yang kita miliki hari ini lahir dari pengorbanan mereka. Maka memberi kepada orang tua, baik dalam bentuk bantuan, waktu, atau perhatian, bukanlah beban, tapi jalan menuju keberkahan.

Penutup: Di Antara Cinta dan Kesibukan

Dunia modern menuntut kita bergerak cepat, tapi berbakti menuntut kita untuk berhenti sejenak dan menundukkan hati. Barangkali, justru dalam jeda itu, Allah menumbuhkan keberkahan yang tidak kita dapat dari kesibukan mana pun. Rasulullah pernah ditanya, 

“Siapakah orang yang paling berhak aku perlakukan dengan baik?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Orang itu bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Ia bertanya lagi, “Kemudian siapa?” Beliau menjawab, “Ayahmu” (HR. Bukhārī dan Muslim).

Hadits ini adalah pengingat lembut bahwa di antara semua hubungan di dunia, tak ada yang lebih utama dari hubungan dengan orang tua. Dan mungkin, di antara semua doa yang kita panjatkan setiap hari, baik rezeki lancar, karier naik, hidup tenang, ada satu kunci yang sering kita abaikan: keridhaan mereka.

Maka di antara hiruk-pikuk pekerjaan dan rencana liburan, semoga kita masih menyisakan satu hal kecil yang tak pernah lekang oleh zaman: waktu untuk pulang. Karena mungkin, sepasang hati tua di rumah sedang menunggu langkah kaki kita lebih dari apa pun di dunia ini. Semoga kita tak sekadar sibuk mencari hidup yang lebih baik, tapi juga sibuk membuat orang tua merasa hidupnya lebih berarti. Wa Allāh a’lam bi al-ṣawwāb.