opini

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

Bahagia bersama alam:
menyelami makna bahagia dalam perspektif psikologi & Islam

Sonny Andrianto
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Modernisasi dalam berbagai sudut kehidupan manusia dan arus urbanisasi telah menyebabkan manusia semakin jauh dari alam.  Meningkatnya stres, kecemasan, dan penurunan kesejahteraan psikologis sering dihubungkan dengan keterputusan dari lingkungan alami. Alam seringkali menjadi ‘kambing hitam’ penyebab tidak bahagianya manusia. Psikologi modern, diantaranya, memunculkan konsep biophilia hypothesis (Wilson, 1984) dan restorative environment theory (Kaplan & Kaplan, 1989) yang menekankan pentingnya keterhubungan antara manusia dengan alam bagi kesehatan mental. Islam memandang alam sebagai tanda-tanda (ayat) kebesaran Allah, sumber ketenangan (sakinah) dan refleksi spiritual (tadabbur). Karenanya, keterhubugan antara manusia dengan alam tidak hanya berdimensi ekologis, tetapi juga psikologis, dan spiritual.

Ketika kehidupan modern menjauhkan manusia dengan alam

Saat ini, hingga beberapa kurun waktu ke depan, manusia hidup di era yang serba cepat dengan ritme kerja yang ‘tidak berhenti’. Sebagai konsekuensinya, membuat manusia merasa letih, cemas, bahkan makin sulit merasakan dan menikmati rasa bahagia. Ahli psikologi lingkungan memandang kondisi ini karena adanya keterputusan hubungan antara manusia dengan alam. Padahal, sejak awal manusia diciptakan dan dilahirkan di bumi adalah untuk dapat hidup selaras dengan alam, bukan justru terpisah darinya. 

Dalam hiruk pikuknya kehidupan (di kota), suara burung digantikan oleh deru kendaraan, aroma tanah basah tergantikan oleh asap dan aspal jalanan, dan langit malam yang dahulu bertabur bintang kini tertutup cahaya lampu buatan. Manusia hidup di ruang yang tertata rapi, efisien, dan terkontrol, namun kehilangan ruang untuk merasakan keheningan dan kesyahduan alam.

Adanya jarak yang lebar antara manusia dan alam semakin lebar, justru menghadirkan dampak yang tidak bersahabat pada manusia. Tingkat stres yang meningkat, interaksi sosial menurun, dan secara personal, keseimbangan batin menjadi terganggu. Alam yang dulu menjadi sumber ketenangan dan kebahagiaan, kini hanya hadir dalam bentuk gambar di layar atau pot tanaman di sudut ruangan. Manusia perlu upaya dan biaya ekstra untuk kembali berinteraksi dengan alam. Kedekatan antara manusia dengan kesyahduan alam bukanlah sekadar romantisme masa lalu, tetapi merupakan kebutuhan biologis dan spiritual yang membentuk keseimbangan hidup manusia.

Kehidupan modern seharusnya tidak menjauhkan manusia dari alam, melainkan mengajarkan cara hidup berdampingan secara selaras dengan menghadirkan kembali unsur alam dalam raung aktivitas manusia. “Kembali ke alam”, menjadi satu frasa yang belakangan ini seringkali didengungkan. Minat tentang nuansa alam semakin besar dalam upaya mengeksplorasi ‘alam’ sebagai sebuah dorongan akan ketertarikan dan keinginan untuk memanfaatkan alam untuk meningkatkan kesejahteraan, kesehatan, ketahanan, dan keberlanjutan kehidupan manusia. Kehidupan modern yang sejati bukan sekedar berpacu dengan kecanggihan teknologi, namun juga menjaga kehidupan harmonis dengan alam, sebagai sumber kehidupan itu sendiri.

Keseimbangan baru antara manusia, teknologi, dan alam

Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, manusia berusaha mencari ketenangan di tempat-tempat yang alami, atau setidaknya mendekati suasana yang alami. Tidak harus di tepi pantai atau di tengah hutan, namun cukup sekadar di taman kota. Fenomena ini bukanlah kebetulan semata, namun upaya sadar dari manusia untuk mendekat pada alam. Psikologi memandang, hubungan manusia dengan alam bersifat mendalam dan esensial bagi kesehatan mental (Swami, V. et al, 2024)

Seiring dengan terus meningkatnya tingkat urbanisasi, menggiring pada kekhawatiran tentang keterpisahan dan alienasi antara manusia dari alam. Kekhawatiran ini, pada gilirannya, telah memicu upaya untuk (kembali) membangun koneksi positif antara alam dan manusia (Beatley, 2010; Milliken, S. et al, 2023). Salah satu faktor utama yang mendorong antusiasme keterhubungan antara manusia dan alam adalah konsep biophilia, dimana paparan dan kontak dengan lingkungan alam terkait dengan kesehatan fisik dan mental. 

Teori biophilia, yang dikemukakan oleh Wilson (1984), menyatakan bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk mencintai dan terhubung dengan alam. Alam memberi rasa keterikatan, makna, dan keseimbangan emosional yang tidak bisa digantikan oleh teknologi. Paparan aktivitas manusia dengan alam berpotensi menurunkan stres, menggugah suasana hati positif, meningkatkan fokus, serta menumbuhkan empati dan kebersyukuran. Ketika seseorang mendengar suara-suara alam, seperti gemericik air dan desiran angin, akan membangkitkan respon sistem saraf yang menenangkan. Alam, dengan sentuhannya yang lembut dan menenangkan, akan menjadi terapi alami bagi jiwa dan fisik yang lelah.

Psikologi menyadarkan bahwa kebahagiaan bukan hanya hasil dari pikiran positif atau prestasi, tetapi juga dari interaksi harmonis antara manusia dan lingkungan alamnya. Dalam konteks ini, kembali ke alam bukanlah langkah mundur, melainkan perjalanan pulang—sebuah proses menemukan kembali keseimbangan antara tubuh, pikiran, dan bumi tempat manusia hidup.

Tadabbur Alam dalam Perspektif Islam

Islam memahamkan pada manusia bahwa alam bukanlah sekadar tempat tinggal manusia, tetapi sebagai salah satu tanda-tanda kebesaran Allah (ayatullah) yang mengingatkan manusia akan Sang Pencipta. Al-Qur’an mendorong manusia untuk merenungkan ciptaan Allah sebagai bentuk tadabbur dan tafakkur, sebagaimana firman Allah dalam Surah Ali Imran: 190–191.

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِۙ ۝١٩٠

الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ۝١٩١

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia. Mahasuci Engkau. Lindungilah kami dari azab neraka.

Ayat ini mengajarkan bahwa merenungi alam (tadabbur alam) bukan hanya aktivitas intelektual, tetapi juga ibadah hati. Selanjutnya, ketika seseorang berjalan di alam (misal: hutan), mendengarkan gemericik suara air, atau sekadar menatap langit yang penuh gemintang dengan rasa syukur, sebenarnya manusia sedang berzikir secara alami pada penciptanya. Dalam momen seperti itu, hati menjadi tenang, sesuai janji Allah:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ

(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. (QS. Ar-Ra’d: 28)

Ayat tersebut semakin menegaskan, kedekatan manusia dengan alam juga memperkuat kedekatan dengan Allah SWT. Alam menjadi jembatan penghubung antara dunia luar dan kedalaman batin manusia.

Pada sisi scientific, psikologi dapat memaparkan manfaat alam melalui mekanisme biologis dan emosional. Kontak dengan lingkungan alam memicu emosi positif, menurunkan kortisol, dan memulihkan energi mental. Pada sisi spiritual, Islam mampu menjelaskan manfaat kedekatan dengan alam melalui rasa syukur. Lingkungan alam membangkitkan tafakkur, kekaguman, dan kesadaran akan kebesaran Allah yang menenangkan hati. Perpaduan keduanya melahirkan konsep kebahagiaan holistik, kebahagiaan yang tidak hanya membuat manusia merasa baik secara psikologis, tetapi juga dekat dengan makna hidup dan Sang Pencipta.

Kebahagiaan yang datang dari alam bukan sekadar kesenangan melalui rekreasi, tetapi juga perkara mengamban amanh. Sebagai khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah: 30), manusia diberi amanah untuk menjaga keseimbangan dalam merawat lingkungan alam. Merusak alam berarti merusak sumber kebahagiaan dan ketenangan dirinya sendiri. Tindakan sederhana, seperti mengurangi sampah plastik dan menanam pohon, bukan hanya perilaku ramah lingkungan, namun juga ramah jiwa. Ketika manusia kembali mendekat pada alam, sesungguhnya manusia sedang kembali pada fitrahnya, menjadi manusia yang sadar, bersyukur, dan selaras dengan ciptaan Allah SWT

Referensi

Beatley, T. (2010). Biophilic cities: Integrating nature into urban design and planning. Island Press.

Kaplan, R., & Kaplan, S. (1989). The experience of nature: A psychological perspective. Cambridge University Press.

Milliken, S., Beatley, T., & Newman, P. (2023). Biophilic cities and health. Cities & Health, 7(2), 175–188.

Swami, V., White, M. P., Voracek, M., Tran, U. S., Aavik, T., Abdollahpour Ranjbar, H., Andrianto, S. (2024). Exposure and connectedness to natural environments: An examination of the measurement invariance of the Nature Exposure Scale (NES) and Connectedness to Nature Scale (CNS) across 65 nations, 40 languages, gender identities, and age groups. Journal of Environmental Psychology, 99, 102432. https://doi.org/10.1016/j.jenvp.2024.102432

Wilson, E. O. (1984). Biophilia. Harvard University Press.