opini

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025

Psikologi: Daging dan tulangnya ekonomi

Faraz
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Berbelanja (shopping) bukanlah perilaku menghabiskan uang semata.  Perilaku itu lebih merupakan kesesuaian antara keinginan dan kemampuan membeli. Menurut Gery Marie van Veldhoven, pakar psikologi ekonomi asal Belanda,  bahwa di dalam perilaku berbelanja juga tercermin nilai dan orientasi pribadi sebagai konsumen. Begitu juga dengan isu pajak, ia tidak hanya sebuah instrumen untuk mendistribusikan barang publik, tetapi juga mengandung aspek-aspek seperti, perasaan keadilan, etika dan rasa tanggung jawab sosial. Aktivitas ekonomi lainnya, menabung (investasi), asuransi, dan konsumsi juga terjadi disebabkan proses-proses psikologi, seperti motivasi, kemauan, dan orientasi nilai. Dengan demikian, kajian terhadap fenomena ekonomi akan terlihat “menyederhanakan” konstruksi sebuah ilmu bila hanya menggunakan konsep dan teori-teori ekonomi semata. Tulisan ini sekadar pengantar mengenai peran psikologi dalam disiplin ilmu ekonomi.

Menurut Willem Frederik van Raaij, pakar psikologi ekonomi asal Belanda juga,  bahwa psikologi sangat diperlukan untuk memahami perilaku ekonomi.  Keberhasilan kebijakan ekonomi suatu negara sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor psikologi. Misalnya, apakah kebijakan pemerintah cukup meyakinkan kepercayaan (trust) masyarakat? Seperti apa konsumen yang berkepribadian optimis dan pesimis,  terutama pengaruhnya terhadap perilaku berbelanja, menabung, atau melakukan pinjaman? Bagaimana sikap konsumen terhadap produk dan merek yang dipengaruhi iklan? Van Raaij berkeyakinan bahwa psikologi merupakan bagian yang integral dari ekonomi, karena konsumen, pembayar pajak, wirausaha, dan pelaku ekonomi lainnya mendasari keputusan ekonominya pada persepsi dan evaluasi terhadap fakta-fakta ekonomi dan harapannya tentang kondisi masa depan. Karena itu, menurut van Raaij, ilmu ekonomi seharusnya direstruktur menjadi ekonomi sosial yang melibatkan faktor moral dan dimensi afeksi, tanpa itu maka banyak perilaku ekonomi tidak dapat dipahami dengan baik. 

Banyak perilaku ekonomi tidak dapat dijelaskan hanya dengan pendekatan ekonomi, yang menegaskan bahwa perilaku itu harus rasional dan selalu memaksimalkan utiliti atau keuntungan. Adam Smith yang lebih dikenal dengan gagasannya tentang konsep self-interest sebagai motivator perilaku manusia dalam The Wealth of Nations, yang terbit 1776, sebenarnya mengakui peran penting dari faktor psikologis terhadap perilaku. Dalam buku pertamanya, The Theory of Moral Sentiments, yang terbit 1759, Smith mengemukakan bahwa perilaku manusia ditentukan oleh dua hal yang satu sama lain saling bertentangan, antara apa yang disebut Smith dengan istilah “passions” dan “impartial spectator”.  Passion dimaksudkan Smith adalah “dorongan dari dalam” seperti rasa lapar atau keinginan melakukan seks, atau juga “emosi,” seperti rasa takut dan marah, serta perasaan yang memotivasi kondisi, seperti rasa sakit. Menurut Smith perilaku seseorang memang di bawah kontrol passion, tetapi Smith juga berkeyakinan bahwa orang dapat juga mengabaikan perilaku di bawah kontrol passion tadi, ketika ia melihat perilaku dirinya berdasarkan pandangan orang lain (impartial spectator). 

Menurut Edward Ludwig Glaeser, pakar ekonomi perkotaan asal Amerika yang banyak menggunakan pendekatan psikologi dalam kajiannya, bahwa hubungan disiplin ekonomi dengan psikologi mempunyai konstruksi peran yang berbeda dibandingkan hubungan ekonomi dengan ilmu sosial lainnya, seperti politik atau sosiologi. Kolaborasi kajian ekonomi dan ilmu sosial lainnya, pada umumnya ekonomi berperan sebagai “eksportir”, artinya konsep dan teori ekonomi banyak dimanfaatkan untuk menjelaskan dan mengembangkan konsep dan teori ilmu-ilmu sosial tersebut. Sebaliknya kajian bersama psikologi, disiplin ekonomi lebih banyak berperan sebagai “importir”, dimana para ekonom banyak memanfaatkan konsep dan teori psikologi untuk menjelaskan berbagai fenomena ekonomi.

Fakta-fakta di atas tidak otomatis menempatkan psikologi sebagai ilmu yang disegani ataupun memperoleh pengakuan sejajar dari kalangan ekonom arus utama dunia. Pengakuan akan pentingnya kajian integratif antara ekonomi dan psikologi yang kemudian melahirkan disiplin baru “psikologi ekonomi” baru dimulai ketika dua psikolog Daniel Kahneman dan Amos Tversky membangun sebuah teori, yang dikenal dengan nama teori prospek (prospect theory), mengenai perilaku pengambilan keputusan dalam bidang ekonomi. Keunggulan teori ini mampu mematahkan prinsip-prinsip dasar teori ekonomi, khususnya tentang proses pengambilan keputusan dalam kondisi ketidakpastian atau berisiko. Teori prospek yang dipublikasikan pada tahun 1979 ini baru mendapatkan pengakuan dunia pada tahun 2002, ketika Daniel Kahneman, pakar psikologi, memenangkan penghargaan Nobel bidang ekonomi.

Psikologi ekonomi biasa didefinisikan sebagai ilmu yang menggambarkan (mendeskripsikan) menjelaskan (explains) dan memprediksi perilaku ekonomi (individu maupun kelompok) berdasarkan konsep dan teori psikologi di samping konsep dan teori ekonomi. Sementara, perilaku ekonomi didefinisikan sebagai perilaku individu khususnya dalam pengambilan keputusan, faktor-faktor penyebabnya serta konsekuensi dari pengambilan keputusan tersebut. Keputusan ekonomi (economic decisions) berhubungan dengan  keterbatasan berbagai sumber seperti uang, waktu dan upaya (tenaga). Faktor anteseden dan konsekuensi dari pengambilan keputusan ekonomi itu pada umumnya bersifat subyektif, atau merupakan ranahnya psikologi.

Fenomena ekonomi adalah output dari perilaku manusia. Perilaku seperti merespons sebuah peluang bisnis, bekerja untuk mendapatkan upah, berbelanja, menabung, dan berinvestasi. Semua jenis perilaku ini menghasilkan realitas ekonomi, seperti pendapatan, tabungan, properti dan konsumsi, dinamika pasar, rasio investasi, GNP, serta semua indikator ekonomi lainnya yang dapat dilihat pada statistik ekonomi nasional. Sementara itu kajian psikologi, sebagai ilmu perilaku, membahas masalah-masalah seperti bagaimana perkembangan psikologi orang yang dipengaruhi faktor-faktor pribadi, sosial dan pendidikan. Motif seperti apa yang paling dominan pada seseorang dalam berbagai bentuk situasi? Apa yang dipelajari ketika motif dominan itu terjadi, faktor apa saja yang menguntungkan atau perilaku apa saja yang harus dicegah? 

Sama-sama mempelajari perilaku manusia. Psikologi lebih kaya sudut pandangnya dibandingkan ekonomi. Setidaknya ada lima perbedaan sudut pandang psikologi dan ekonomi, menurut Harry Susianto, dosen psikologi UI. Pertama, asumsi yang melatarbelakangi ilmu ekonomi sesuai metaphor “homo oeconomicus” adalah bahwa manusia itu rasional, dan selalu mempertimbangkan untung rugi dalam proses pengambilan keputusan. Sementara, manusia di mata ilmu psikologi tidak hanya makhluk yang rasional, tetapi juga memiliki emosional, sehingga tidak jarang keputusannya irasional. Fenomena lain yang kurang mendapat perhatian ekonomi, bahwa manusia seringkali mengabaikan opportunity cost, sehingga manusia tidak selalu mempertimbangkan untung rugi.

Kedua, menurut teori ekonomi kerangka berpikir untung-rugi lahir dari karakter manusia yang menonjolkan kepentingannya sendiri (self-interest). Artinya, teori ekonomi memberi label manusia sebagai makhluk yang egois. Sementara psikologi melihat manusia tidak hanya egois, tetapi juga punya perasaan altruis. Ketiga, teori ekonomi umumnya bersifat normatif (apa yang seharusnya dilakukan agar mencapai optimum), sedangkan teori psikologi umumnya bersifat deskriptif (apa yang benar-benar dilakukan manusia). Keempat, mengenai preferensi (selera atau pilihan), teori ekonomi mempercayai discovered preference, atau selera itu ditemukan untuk digunakan sehingga bersifat absolut, sementara psikologi lebih percaya pada constructed preference, selera itu dibangun berdasarkan konteks dan lingkungan, sehingga tidak bersifat absolut, melainkan berdasarkan titik referensi. Contoh: ada siswa yang bersuka cita karena memperoleh nilai 6 mata pelajaran matematika, sementara dari sekolah lain ada siswa yang berduka cita karena mendapat nilai 8 mata pelajaran matematika. Mengapa bisa terjadi? Siswa yang bergembira mendapat nilai 6 karena titik referensinya adalah teman-temannya satu kelas yang hanya mendapat nilai 4, 3 atau 2. Sebaliknya, siswa bersedih karena mendapat nilai 8 karena teman-temannya semua rata-rata mendapat nilai 9 bahkan banyak yang mendapat nilai 10. Menurut kacamata ekonomi, nilai 6 atau 8 di mana pun, kapan pun, dan dalam konteks apa pun adalah sama, yakni mendapat nilai 8 adalah pasti lebih baik dan menyenangkan dibandingkan mendapatkan nilai 6. 

Kelima, teori ekonomi seringkali menggunakan asumsi yang menurut pandangan psikologi tidak realistis. Para ekonom sudah terbiasa menggunakan teorinya untuk menganalisis kasus-kasus yang ganjil, seperti menganalisis dengan kacamata untung rugi mengenai pasangan suami istri atau pria wanita yang berpacaran. Sehingga dalam analisis ekonomi muncul istilah-istilah yang kurang realistis, seperti “pasar jodoh”, yang dihuni oleh penjual dan pembeli cinta. Teori ekonomi melihat orang sebagai komoditi yang sama dengan komoditi lainnya, yakni mempunyai harga pasar.

Dengan perbedaan di atas, Van Raaij menggambarkan bahwa posisi psikologi bagaikan daging dari tulangnya ekonomi. Artinya, tidak dapat dipisahkan pendekatan psikologi dari ekonomi ketika melakukan proses analisis fenomena ekonomi. Sayangnya, pemahaman seperti ini belum banyak dipegang oleh para ekonom Indonesia.