Syi’ār
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 20 Desember 2025
Allah hanya ingin kita memasrahkan diri kepada-Nya
Wanadya Ayu Krishna Dewi
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Pendahuluan
Setiap manusia tidak ada yang terlepas dari ujian dalam kehidupan. Di antara ujian yang terjadi pada manusia menyebabkan berbagai emosi negatif seperti kecemasan, kesedihan, kemarahan dan ketidakpastian. Selama ini kita terlalu sering berpikir dengan asas behavioristik, menganggap bahwa manusia dapat mengontrol lingkungannya sepenuhnya. Padahal kenyataannya manusia juga memiliki banyak keterbatasan, dan banyak hal yang berada di luar kendali manusia.
Hakikat Ujian dalam Kehidupan
Kita lupa bahwa dalam kondisi yang menghimpit dan saat terasa tidak ada jalan keluar, ujian yang diberikan sebenarnya berfungsi sebagai ujian keimanan. Ujian keimanan yang sedang ditarbiyahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada kita menyangkut ujian seberapa kita memasrahkan kembali kehidupan kita kepada Dzat yang Memegang jiwa setiap makhluk-Nya. Hal ini sebagaimana yang telah difirmankan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam Al-Qur’an:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sedang mereka tidak diuji lagi? “ (QS. Al ‘Ankabut : 2).
Pada ayat di atas, diterangkan dengan jelas bahwa ujian hidup merupakan ujian keimanan yang diberikan kepada setiap hamba tanpa pengecualian. Hal ini juga disampaikan dalam Al-Qur’an pada ayat berikut ini:
“Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut:3)
Hal ini diperkuat dengan hadits yang mengungkapkan bahwa semakin kuat iman seseorang, maka akan semakin berat pula cobaan yang dialaminya.
“Manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang saleh. Kemudian disusul oleh orang-orang mulia, lalu oleh orang-orang mulia berikutnya. Seseorang diuji sesuai dengan kadar pengamalan keagamaannya. Bila dalam mengamalkan agamanya ia begitu kuat, maka semakin keras pula cobaannya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Jalan Keluar Masalah adalah Memasrahkan Diri Kepada-Nya
Saat kita menghadapi ujian yang berat, di saat kita sudah terbiasa menyandarkan pada usaha manusia sepenuhnya untuk keluar dari ujian yang dihadapi, sebenarnya yang dibutuhkan manusia untuk keluar dari permasalahan yang menghimpit itu bukan berpikir keras atau bekerja keras di luar batas kemampuan manusia, namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memasrahkan diri kepada-Nya. Trust His Plans.
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: ‘Kapankah datangnya pertolongan Allah?’ Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)
Terkadang kita bertanya, kenapa Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan kita untuk memasrahkan diri kepada-Nya? Hal ini dikarenakan kepasrahan menumbuhkan iman yang murni. Keimanan yang murni ini adalah kita mengakui bahwa hanya Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Kepasrahan mendidik jiwa untuk rendah hati dan tenang (nafs al-muthmainnah). Yang lebih indahnya lagi, Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak menuntut pencapaian hasil, tetapi niat dan kesungguhan yang untuk berserah.
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya).” (QS. At-Ṭalāq: 3)
Ciri-ciri Orang yang Berserah Diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
Mengetahui betapa tingginya kedudukan orang yang diuji oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, maka bagaimanakah ciri-ciri orang yang memasrahkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala? Diantara ciri orang-orang yang memasrahkan dirinya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala adalah, hatinya tetap tenang meski diuji. Orang yang memasrahkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengetahui bahwa baiknya kehidupan seseorang di dunia bukan ketiadaan masalah hidup, melainkan ketenangan hati saat sedang diuji, karena dia memiliki kepercayaan penuh pada rencana Allah yang sangat indah. Ciri lainnya adalah tidak sombong ketika berhasil dan tidak berputus asa ketika gagal. Hal ini disebabkan orang tersebut meyakini bahwa setiap keadaan baik yang dzahirnya terlihat baik ataupun buruk, merupakan bagian indah dari takdir-Nya. Ciri selanjutnya adalah orang tersebut berdoa dan berusaha secara seimbang. Sesungguhnya makna tawakal dalam Islam bukan menyerah tanpa usaha, melainkan usaha maksimal disertai penyerahan total hasil kepada Allah. Ciri berikutnya adalah orang tersebut tidak iri terhadap takdir orang lain, karena yakin setiap jalan hidup diatur Allah dengan hikmah. Contoh perilaku tersebut dalam kehidupan sehari-hari adalah seperti dalam bekerja, belajar, dan membina keluarga.
Melatih Diri untuk Berserah kepada Allah
Mengetahui keutamaan menjadi orang yang berserah diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tentu kita ingin turut mendapat keutamaan tersebut. Pertama, kita perlu memperkuat hubungan kita dengan Allah Subhanahu Wa Ta’ala melalui shalat khusyu, dzikir, dan membaca Al-Qur’an. Hal ini semua sejalan dengan janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala tentang bagaimana hati manusia akan menjadi tenang setelah mengingat-Nya. Kedua, manusia dapat melatih kesadaran diri (muhasabah) bahwa kemampuan manusia terbatas. Mengakui keterbatasan ini akan mengarahkan kita untuk bersandar pada Dzat yang Maha Segala-galanya. Ketiga, kita dapat memperbanyak doa dan istikharah guna minta bimbingan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam setiap keputusan. Empat, kita dapat melatih diri untuk melepaskan kendali yang bukan milik kita, dan berhenti memaksa kehendak diri. Kelima, bergaul dengan orang yang tawadhu dan beriman kuat, agar kita mendapat contoh orang-orang yang berhasil menjalankan kepasrahan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
Kesimpulan
Hidup bukan tentang mengendalikan segalanya, melainkan tentang mempercayakan segalanya kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Tugas kita hanya berusaha dan memperbaiki niat. Selebihnya kita mempercayakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang menyempurnakan kekurangan kita.



