Ilmiah

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

Konstruk positif pada penggunaan digital: Kesadaran, kompetensi, literasi, ketangguhan dan kesejahteraan digital

Fitri Ayu Kusumaningrum
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Teknologi digital dapat memberikan kemudahan dalam melakukan suatu pekerjaan. Pada era digital, seakan manusia tidak dapat lepas dari teknologi. Manusia seharusnya bisa memiliki kendali atas akses keterhubungan dan ketidakterhubungan pada teknologi di era digital ini. Dalam konsep perilaku manusia, telah banyak bermunculan konstruk teori untuk membahas teknologi digital ini. Pada tulisan ini akan dibahas mengenai konsep kesadaran digital (digital mindfulness), kompetensi digital (digital competence), literasi digital (digital literacy), ketangguhan digital (digital resilience), dan kesejahteraan digital (digital wellbeing).

Kesadaran digital (digital mindfulness)

Menurut Abhari et al., (2021) kesadaran digital adalah proses yang berlangsung secara dinamis, di mana seseorang menyadari dan merefleksikan perilakunya saat menggunakan teknologi digital. Kesadaran ini terbentuk dan terus berkembang melalui interaksi yang berulang antara pengguna dengan perangkat digital yang digunakannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesadaran dalam konteks digital tidak muncul secara otomatis, tetapi perlu dihadirkan melalui siklus umpan balik yaitu dengan pengamatan diri, refleksi diri, dan tindakan korektif. Adanya pengawasan diri (self monitoring) berbasis telepon pintar seperti pelacak waktu layar, notifikasi batas penggunaan, akan semakin meningkatkan kesadaran terhadap penggunaan digital. Pengawasan diri ini akan membantu proses identifikasi dalam mengatur perencanaan, pemicu emosional penyebab membuka telepon pintar, dampak waktu layar terhadap produktivitas dan suasana hati. Pengguna yang mengaplikasikan kesadara digital ini terbukti menunjukkan perubahan pada penurunan kecenderungan automatic checking behavior (cek ponsel tanpa alasan), peningkatan fokus dan kendali diri, dan perbaikan keseimbangan antara aktivitas daring dan luring. Produktivitas nyata dan kesehatan mental adalah luaran utama dari kesadaran digital ini. 

Studi tinjauan cakupan (scoping review) mengenai intervensi mindfulness berbasis digital ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai jenis intervensi mindfulness berbasis digital yang digunakan oleh mahasiswa dalam meningkatkan kesehatan mental. Dengan metode PRISMA, hasil telaah dari 38 studi ini menyebutkan terdapat tiga katergori temuan yaitu edukasi berbasis digital (digital education), konseling berbasis digital (digital counseling), dan meditasi berbasis digital (digital mediation). Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini memberikan sejumlah implikasi dan rekomendasi praktis. Penelitian ini merekomendasikan agar tenaga kesehatan di kampus serta profesional bidang keperawatan dan psikologi untuk dapat mengembangkan aplikasi atau platform kesadaran digital yang dilengkapi dengan fitur pemantauan dan evaluasi guna meningkatkan kepatuhan mahasiswa dalam mengikuti program intervensi (Yosep et al., 2024).

Studi Liebherr et al. (2024) telah mengevaluasi bukti penelitian terhadap pengaruh program-program pelatihan kesadaran berbasis digital. Pada 19 studi empiris yang memenuhi kriteria inklusi dengan total 1.654 partisipan, hasilnya penelitian ini mendukung asumsi sebelumnya tentang potensi pelatihan mindfulness digital, dengan efek paling kuat pada kontrol perhatian, selanjutnya diikuti oleh regulasi eksekutif, memori, fleksibilitas kognitif, dan fungsi-fungsi kognitif lainnya. Namun, jumlah studi yang tidak menemukan perubahan signifikan setidaknya sama banyaknya dibandingkan jumlah studi yang melaporkan peningkatan.

Studi uji coba teracak (Randomized Controlled Trial/RCT) oleh Remskar et al. (2024), mengevaluasi peserta dari 91 negara, secara acak dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang mengikuti praktik mindfulness selama 30 hari, dan kelompok lainnya menerima perlakuan kontrol. Hasilnya adalah peserta yang menerima pelatihan menunjukkan hasil signifikan lebih baik dibandingkan kelompok kontrol, yaitu kesejahteraan meningkat, depresi menutrun, gejala kecemasan berkurang. Efek intervensi terhadap hasil utama dimediasi oleh sikap terhadap menjaga kesehatan dan niat dalam berperilaku.

Kompetensi digital (digital competence)

Kompetensi digital merupakan konsep yang menggambarkan kemampuan terkait teknologi digital yang terus berkembang dengan tujuan dan harapan politik terhadap kewarganegaraan dalam masyarakat berbasis pengetahuan. Kompetensi ini mencakup berbagai keterampilan dan kemampuan dengan cakupan yang luas, meliputi media dan komunikasi, teknologi dan komputasi, literasi, serta ilmu informasi. Kompetensi digital terdiri dari ketrampilan teknis untuk menggunakan teknologi digital, kemampuan menggunakan teknologi digital secara bermakna untuk bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan sehari-hari dalam berbagai aktivitas, kemampuan mengevaluasi teknologi digital secara kritis, dan motivasi untuk berpartisipasi dalam budaya digital (Ilomäki, et al., 2011).

Menurut Tzafilkou et al. (2022) alat ukur dari kompetensi digital terdiri atas enam dimensi utama. Dimensi ini terdiri dari: 1) Search, Find, and Access (SFA), yaitu kemampuan mencari dan mengakses informasi digital secara efektif. 2) Develop, Apply, and Modify (DAM), yakni kemampuan membuat dan memodifikasi konten digital secara kreatif. 3) Communicate, Collaborate, and Share (CCS), yaitu kemampuan berkomunikasi dan bekerja sama melalui teknologi digital. 4) Store, Manage, and Delete (SMD), mencakup kemampuan mengelola dan menyimpan data dengan aman. 5) Evaluate (EV), yaitu kemampuan menilai kualitas, keaslian, dan keamanan informasi digital. 6) Protect (PR), yang berkaitan dengan menjaga keamanan data pribadi dan perangkat digital. Instrumen ini bernama Students’ Digital Competence Scale (SDiCoS) dengan 28 item. 

Selain itu, terdapat alat ukur lainnya yang berbentuk singkat dengan nama Digital Competence Scale oleh Schwarz et al. (2024) antara lain mengukur seberapa baik penggunaan komputer dan telepon pintar, pencarian berkas di komputer, berkomunikasi dengan orang lain secara daring melalui email, WhatsApp, atau Skype, serta menggunakan program tertentu untuk berkolaborasi dalam mengerjakan dokumen bersama. Selain itu juga mengukur kemampuan membuat file audio dan video digital, serta membuat kata sandi yang aman untuk melindungi akun. Selain itu, kempuan mengenali email phishing atau spam, membedakan situs web yang tidak dapat dipercaya, dan secara sadar terus mengembangkan keterampilan digital agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi.

Literasi digital (digital literacy)

Definisi literasi digital adalah kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai format dari beragam sumber ketika disajikan melalui komputer Gilster (1997). Literasi digital ini menurut instrumen alat ukurnya, mengukur kemampuan dan kesadaran individu dalam menggunakan teknologi digital secara efektif dan bertanggung jawab. Skala ini menilai sejauh mana seseorang mengikuti perkembangan teknologi, mampu bekerja sama dan berkomunikasi secara daring, serta memahami etika penggunaan alat digital. Keterampilan teknis juga dinilai seperti memecahkan masalah pada perangkat, mencari informasi, dan membuat materi digital. Digital Literacy Scale juga mengukur pengetahuan tentang keamanan siber, keandalan informasi, serta perlindungan data pribadi. Instrumen ini mencakup aspek kognitif, teknis, dan sosial termasuk kemampuan belajar teknologi baru, kesadaran terhadap dampak kesehatan, serta kemampuan memanfaatkan teknologi untuk kegiatan akademik dan komunikasi sehari-hari (Avinç & Doğan, 2024). 

Ketangguhan digital (digital resilience)

Definisi ketangguhan digital yaitu interaksi antara individu dan lingkungan eksternalnya untuk memastikan bahwa individu tersebut memiliki sumber daya yang diperlukan untuk pulih dari kesulitan atau masalah yang dialami di dunia daring (Hammond et al., 2023). Salah satu alat ukur ketangguhan digital yaitu mengukur aspek kompetensi personal (menilai ketekunan individu dalam menghadapi hambatan digital), emosi positif (mengukur sikap optimisme saat menghadapi pengalaman digital yang menantang), sumber daya dan kompetensi sosial (menunjukkan kemampuan mencari bantuan dari orang lain ketika mengalami masalah daring), penerimaan diri dan kehidupan (menilai penerimaan individu terhadap kesulitan digital sebagai bagian dari kehidupan), kepercayaan pada dukungan institusional (mencerminkan kepercayaan terhadap dukungan pemerintah atau penyedia layanan digital), dan persepsi utilitas (menilai persepsi manfaat nyata teknologi digital yang mendorong pengguna tetap bertahan meski menghadapi risiko) (Alhassan & De Klerk, 2024).

Kesejahteraan digital (digital wellbeing).

Kesejahteraan digital menurut Vanden Abeele (2021) adalah pengalaman subjektif mengenai keseimbangan optimal antara manfaat dan kerugian dari konektivitas digital, yang muncul dari interaksi dinamis antara faktor individu, perangkat, dan konteks sosial. Salah satu instrumen alat ukur pada kesejahteraan digital oleh Arslankara et al. (2022) terdiri atas tiga faktor yaitu kepuasan digital (perasaan senang, nyaman, dan seimbang dalam menggunakan teknologi digital, merefleksikan aspek kebahagiaan hedonis yang muncul dari interaksi digital yang menyenangkan), perilaku aman dan bertanggung jawab (perilaku etis dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi), kesehatan digital (keseimbangan emosional dan psikologis selama berinteraksi dengan teknologi). 


Referensi

Abhari, K., Klase, M., Koobchehr, F., Olivares, F., Pesavento, M., Sosa, L., & Vaghefi, I. (2021). Toward a theory of digital mindfulness: A case of smartphone-based self-monitoring. In F. F.-H. Nah & K. Siau (Eds.), HCI in business, government and organizations (Vol. 12783, pp. 549–561). Springer International Publishing. https://doi.org/10.1007/978-3-030-77750-0_35

Alhassan, M. D., & De Klerk, J. (2024). Development of a new measurement scale for user digital resilience. [Journal name not provided].

Arslankara, V. B., Demir, A., Öztaş, Ö., & Usta, E. (2022). Digital well-being scale validity and reliability study. Journal of Teacher Education and Lifelong Learning, 4(2), 263–274. https://doi.org/10.51535/tell.1206193

Avinç, E., & Doğan, F. (2024). Digital literacy scale: Validity and reliability study with the Rasch model. Education and Information Technologies, 29(17), 22895–22941. https://doi.org/10.1007/s10639-024-12662-7

Gilster, P. (1997). Digital literacy. Wiley Computer Publishing.

Hammond, S. P., Polizzi, G., & Bartholomew, K. J. (2023). Using a socio-ecological framework to understand how 8–12-year-olds build and show digital resilience: A multi-perspective and multimethod qualitative study. Education and Information Technologies, 28(4), 3681–3709. https://doi.org/10.1007/s10639-022-11240-z

Ilomäki, L., Kantosalo, A., & Lakkala, M. (2011). What is digital competence? Linked Portal, 1–12.

Liebherr, M., Brandtner, A., Brand, M., & Tang, Y. (2024). Digital mindfulness training and cognitive functions: A preregistered systematic review of neuropsychological findings. Annals of the New York Academy of Sciences, 1532(1), 37–49. https://doi.org/10.1111/nyas.15095

Remskar, M., Western, M. J., & Ainsworth, B. (2024). Mindfulness improves psychological health and supports health behaviour cognitions: Evidence from a pragmatic RCT of a digital mindfulness-based intervention. British Journal of Health Psychology, 29(4), 1031–1048. https://doi.org/10.1111/bjhp.12745

Schwarz, S., Bieg, T., Svecnik, E., Schmölz, A., Geppert, C., & Gerdenitsch, C. (2024). Digital Competence Scale (DCS): A short self-assessment instrument for measuring digital competences. Nordic Journal of Digital Literacy, 19(3), 126–143. https://doi.org/10.18261/njdl.19.3.2

Tzafilkou, K., Perifanou, M., & Economides, A. A. (2022). Development and validation of students’ digital competence scale (SDiCoS). International Journal of Educational Technology in Higher Education, 19(1), 30. https://doi.org/10.1186/s41239-022-00330-0

Vanden Abeele, M. M. P. (2021). Digital wellbeing as a dynamic construct. Communication Theory, 31(4), 932–955. https://doi.org/10.1093/ct/qtaa024

Yosep, I., Suryani, S., Mediani, H., Mardhiyah, A., & Ibrahim, K. (2024). Types of digital mindfulness: Improving mental health among college students – A scoping review. Journal of Multidisciplinary Healthcare, 17, 43–53. https://doi.org/10.2147/JMDH.S443781