Syi’ār
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025
Mengajari Anak Memaafkan
Fuad Nashori
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Sebagaimana meminta maaf, sikap dan perilaku memaafkan perlu dibiasakan sejak dini. Memaafkan sangat penting bagi kehidupan manusia, termasuk anak usia dini. Dalam pergaulan antar manusia, kesalahan satu orang kepada yang lain adalah hal yang mudah dilakukan. Dalam pergaulan antar anak kita dengan anak lain, kesalahan mudah untuk dilakukan. Karena begitulah sifat manusia, yaitu mudah melakukan kesalahan. “Bila ada temanmu yang berbuat salah kepadamu, maafkanlah,” kata Bunda Syamila kepada anaknya, Fatih.
Salah satu ciri orang yang berperilaku baik adalah bersedia memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain berarti membebasan orang lain dari tuntutan pembalasan yang sebenarnya kita miliki ketika disakiti atau dizalami oleh orang lain. Hak membalas itu dilepaskan agar dalam kehidupan selanjutnya pembalasan dihentikan demi menghidupkan kebaikan. Dalam konteks anak-anak kita, hak mereka untuk membalas dilepaskan agar hidup kebaikan di dalam pergaulan mereka bersama orang lain. Pemaafan diberikan agar harmoni antar anak-anak dihidupkan, diamalkan, ditradisikan, agar menjadi perilaku bersama. Ketika anak kita bertanya, mengapa harus memaafkan temannya yang berbuat salah, “Agar hal-hal buruk yang ada dalam hatimu segera kau lepaskan, seperti marah, kecewa, benci, sakit hati, ingin balas dendam. Bila yang buruk-buruk itu kau lepaskan, hatimu dipenuhi kebaikan,” ungkap Bunda Syamila kepada anak tengahnya, Fatih.
Memenuhi Perintah Allah dan Rasul-Nya
Salah satu hal yang perlu disampaikan orangtua kepada anaknya -dan tentu saja dipraktikkan orangtua- adalah perintah Allah dan Rasulullah agar kita mudah memaafkan kesalahan orang lain. Dalam kitab suci al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَاَعْرِضْ عَنِ الْجٰهِلِيْنَ
Artinya: “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh” (QS al-A’raf,7:199).
Terkait pemaafan ini, Aisyah RA -istri Rasulullah SAW- pernah ditanya terkait watak pribadi Rasulullah. Beliau pun menjelaskan: “Adalah Rasulullah SAW orang yang paling bagus akhlaknya: beliau tidak pernah kasar, berbuat keji, berteriak-teriak di pasar, dan membalas kejahatan dengan kejahatan. Malahan beliau pemaaf dan mendamaikan” (HR Ibnu Hibban).
Dalam praktiknya, Allah SWT dan Rasulullah SAW adalah pemaaf. Hal ini dapat diketahui dari ayat ini.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَسْـَٔلُوْا عَنْ اَشْيَاۤءَ اِنْ تُبْدَ لَكُمْ تَسُؤْكُمْۚ وَاِنْ تَسْـَٔلُوْا عَنْهَاحِيْنَ يُنَزَّلُ الْقُرْاٰنُ تُبْدَ لَكُمْۗ عَفَا اللّٰهُ عَنْهَاۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ حَلِيْمٌ
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan (kepada Nabimu) hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu al-Quran itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah memaafkan (kamu) tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun” (QS. al-Maidah 5: 101).
Nabi Muhammad adalah seorang pemaaf. Kesalahan orang-orang Makkah yang selalu memprovokasi dan menzalimi beliau dan umat Islam juga dimaafkan Rasulullah, sehingga dalam penaklukan Makkah Rasulullah dan umat Islam tidak menumpahkan darah sedikit pun karena diimpelementasikannya pemaafan dalam konteks kenegaraan. Terbukti pemaafan seluas samudra dan tak tersisa balas dendam.
Allah menjanjikan balasan terbaik bagi orang-prang yang memaafkan. Allah SWT berfirman:
فَمَنْ عَفَا وَاَصْلَحَ فَاَجْرُهٗ عَلَى اللّٰهِۗ
Artinya: “Maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah (QS asy-Syuura 42:40).
Nabi Muhammad Saw juga menyampaikan tentang balasan bagi perilaku memaafkan ini. “Barangsiapa yang ingin dibangunkan baginya rumah (bangunan) di surga, hendaknya ia memaafkan orang yang mendzaliminya, memberi orang yang bakhil padanya dan menyambung silaturahmi kepada orang yang memutuskannya” (HR. Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Ausath No. 427).
Cara Mengajarkan Pemaafan
Hal utama dan pertama yang perlu dilakukan orangtua adalah mempraktikkan pemaafan dalam kehidupannya. Bagaimana respons orangtua menyikapi pelanggaran orang lain terhadap kehidupan mereka akan menjadi objek yang akan diperhatikan anak-anak. Anak-anak akan belajar bagaimana orangtua merespons hal yang tidak menyenangkan yang menyasar kehidupan mereka. Akan terlihat jelas bagi anak-anak apakah orangtua mereka pemaaf atau pembenci dan pendendam.
Di sini akan terbukti secara nyata hukum belajar sosial. Anak-anak belajar dari lingkungan sosialnya, salah satu yang paling mengesankan adalah belajar dari perilaku orangtua. Apa yang diteladankan orangtua akan jauh lebih mengesankan daripada banyak kata yang diucapkan orangtua. Ini sesuai dengan kata-kata bijak: “Satu keteladanan lebih berarti berharga dari seribu kata”. Apa yang diteladankan orangtua akan jadi dasar moralitas anak dalam mengarungi lautan kehidupan.
Selain apa yang bisa langsung disaksikan anak adalah apa yang diceritakan orangtua yang tidak sempat disaksikan sendiri oleh mata dan kepala anak. Orangtua (semestinya selalu) sadar bahwa mereka sedang dalam posisi mendidik anak-anaknya. Caranya adalah menceritakan kisah nyata yang mereka alami. Karena posisinya adalah sedang mendidik, orangtua perlu memilih isi dan cara menceritakan yang tepat. Kalaupun ada perasaan yang berubah-ubah terhadap pelaku pelanggaran, yang terpenting adalah sikap finalnya berupa pemaafan. Dari cerita yang disampaikan orangtua anak tahu bahwa proses pemaafan tidak selalu lurus-lurus saja. Kadang ada naik turunnya. Kadang sebelum ada kelapangan hati, ada kesempatan hati berupa kebencian dan kemarahan. Namun, semuanya berakhir kebaikan.
Selain itu, dalam mengajari anak salah satu praktik penting adalah memberi nasihat untuk anak-anak. Riset yang penulis lakukan menunjukkan bahwa nasihat dari orang-orang yang penting seperti ayah, ibu, guru, ustad dipandang sebagai ungkapan yang sangat mempengaruhi anak. Sekalipun orangtua mungkin ikut serta merasakan sakit hati manakala anak-anak yang disayanginya disakiti orang lain, sikap konsisten untuk menaati prinsip kebaikan (dengan memaafkan) akan memberi pengaruh yang sangat berarti kepada anak-anak kita.“Kalau kamu masih begitu marah kepada temanmu, kamu hanya butuh waktu,” nasihat Bunda Syamila kepada Fatih. “Kamu butuh beberapa hari, insyaallah tiga hari cukup. Setelah itu kami bisa tersnyum lagi kepadanya, menyapa atau bahkan berbicara dengannya.” Menyampaikan ungkapan yang memahami proses perubahan perasaan manusia, termasuk anak-anak kita, sangatlah penting. Hati mereka membutuhkan waktu untuk kembali puliah menjadi sehat kembali.
Kadang anak kita sedemikian sakit hati, namun tampak berusaha memaafkan. Fatih bertanya: “Ibu, apakah aku termasuk orang jahat kalau tidak mau memaafkannya?” Respons yang diberikan Bunda Syamila: “Ibu yakin anak ibu orang baik. Ibu percaya hati semua orang fitrahnya baik. Seperti halnya luka di kulitmu, hatimu butuh waktu. Yang penting jangan pernah bilang bahwa kamu tidak akan memaafkannya. Katakan pada dirimu sendiri kalau kamu butuh waktu untuk memaafkannya. Nabi Muhammad mengajarkan kepada kita untuk memperbaiki hubungan yang buruk selambat-lambatnya tiga hari. Hati manusia bisa membaik setelah tiga hari.”
Terakhir, sang anak, Fatih bertanya kepada ibunya tentang dia dia diam atau harus mengatakan pemaafan kepada orang yang melanggar hak-haknya. “Apakah aku harus mengatakannya kalau aku memaafkan temanmu?” Respons yang dapat diberikan adalah berikut ini: “Kalau temanmu minta maaf dan engkau siap memaafkannya, katakan kalau engkau memaafkannya. Itu akan membantunya menjadi lebih sehat mental. Itu juga akan menjadi kebaikanmu,” kata Bunda Syamila. “Namun, memaafkan itu adalah sikap pribadi. Terutama kalau orang yang bersalah tidak meminta pemaafan darimu. Kamu cukup katakan kepada Allah dan kepada dirimu sendiri kalau kamu memaafkannya.”
Demikian. Bagaimana menurut Anda?


