Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025

 Belajar sepanjang hayat di dunia VUCA: membangun kecerdasan dan ketangguhan di era perubahan

Sumedi P. Nugraha
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Di selasar kampus, sekelompok mahasiswa berdiskusi sambil membuka laptop dan ponsel. Mereka dengan mudah berpindah dari mengetik tugas ke membuka media sosial, lalu kembali ke artikel ilmiah. Inilah wajah mahasiswa masa kini—tumbuh di tengah kemajuan teknologi, cepat beradaptasi, kreatif, tetapi juga mudah terdistraksi dan rentan stres.

Mahasiswa saat ini hidup dalam lingkungan yang penuh perubahan: kemajuan teknologi, pandemi global, bencana alam, dan konflik sosial hadir silih berganti. Pendidikan bertransformasi menjadi digital, ekonomi berkembang cepat, dan dunia kerja berubah bentuk. Semua ini menuntut cara belajar yang lebih sadar, reflektif, dan bermakna. Belajar tidak sekadar kewajiban akademik, melainkan ibadah yang menyiapkan diri untuk berkontribusi di dunia kerja dan masyarakat yang tidak pasti—dunia VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity).

Dalam Islam, belajar adalah ibadah. Allah Subhana hu wa ta’ala berfirman:


اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Perintah “iqra” tidak sekadar mengajak manusia membaca teks atau tulisan, melainkan juga membaca kehidupan. Membaca kehidupan berarti memahami makna di balik setiap peristiwa, pengalaman, dan interaksi yang kita alami setiap hari. Bagi mahasiswa, ini bisa berarti belajar dari kegagalan dalam tugas, refleksi dari dinamika organisasi, atau hikmah dari tantangan pribadi yang membentuk karakter dan keteguhan hati.

Ketika seseorang membaca kehidupan, ia tidak hanya menumpuk informasi dari buku atau layar, tetapi juga menumbuhkan kebijaksanaan—hikmah—yang lahir dari pengalaman nyata. Dalam kehidupan akademik, membaca kehidupan berarti mengaitkan teori dengan realitas sosial, menghubungkan nilai-nilai keilmuan dengan akhlak, dan melihat setiap kuliah dan pelajaran sebagai bagian dari rencana Allah untuk menumbuhkan potensi diri. Dengan cara ini, belajar bukan lagi aktivitas rutin di kelas, tetapi juga proses spiritual yang mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Membaca kehidupan menuntun mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi “pintar,” tetapi juga “bermakna”: berpikir kritis, berperilaku etis, dan berkontribusi bagi kemaslahatan umat.

Dunia Kerja di Era VUCA: Realitas yang Harus Dihadapi

Bayangkan seorang mahasiswa tingkat akhir yang sedang menjalani magang di sebuah perusahaan rintisan (start-up). Hari ini ia diminta membuat konten digital untuk promosi produk, besok harus menganalisis data perilaku pengguna dengan perangkat statistik, dan lusa mendadak diminta memimpin rapat daring lintas daerah karena atasannya sedang tugas luar. Belum lagi, di tengah kesibukan itu, perusahaan mengubah strategi pemasaran karena tren pasar bergeser begitu cepat.

Inilah realitas dunia kerja masa kini: cepat berubah, penuh tekanan, dan sulit diprediksi. Lingkungan profesional menuntut karyawan muda untuk berpikir kritis, bekerja lintas bidang, dan beradaptasi tanpa kehilangan arah. Situasi ini menggambarkan apa yang disebut para ahli sebagai dunia VUCA—Volatility (perubahan cepat), Uncertainty (ketidakpastian), Complexity (kerumitan), dan Ambiguity (ketidakjelasan) (Aris & Omar, 2021).

Bagi mahasiswa, pengalaman seperti ini bukan sekadar tantangan, tetapi juga cermin tentang masa depan yang akan dihadapi setelah wisuda. Dunia kerja bukan lagi tempat yang stabil seperti dulu; peran, keterampilan, dan sistem kerja berubah mengikuti ritme teknologi dan dinamika sosial. Oleh karena itu, masa kuliah perlu dilihat sebagai masa latihan menghadapi dunia nyata—bukan hanya untuk menguasai teori, tetapi juga untuk melatih kelincahan berpikir, ketangguhan emosi, dan kemampuan bekerja dalam tim yang beragam.

Islam menekankan pentingnya kekuatan dalam menghadapi perubahan. Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wassallam bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah; dan pada keduanya ada kebaikan. Bersemangatlah atas apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan menjadi lemah.” (HR. Muslim No. 2664)

Hadis ini mengajarkan keseimbangan antara semangat berusaha dan tawakal. Mahasiswa yang kuat bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga sabar, tangguh, dan mampu bertahan di tengah tekanan perubahan.

Belajar Cerdas dan Daya Tahan Pembelajar Masa Kini

Seorang mahasiswa memutuskan untuk berhenti sekadar menyalin slide dosen. Ia mulai menulis ulang materi kuliah dengan tangannya sendiri. Saat ujian tiba, ia lebih mudah memahami konsep yang dipelajari.

Belajar cerdas berarti menyesuaikan cara belajar dengan cara kerja otak. Riset dalam Psychology Today (2024) menunjukkan bahwa menulis tangan mengaktifkan koneksi otak yang kompleks dan meningkatkan daya ingat. Pembelajar yang mencatat secara reflektif, berdiskusi, dan merenungkan makna ilmu akan memahami lebih dalam dibandingkan yang hanya menyalin secara digital. Belajar cerdas melatih fokus, ketekunan, dan keterlibatan emosional—tiga hal yang juga menentukan kesuksesan karier.

Selain strategi belajar, penting pula membangun self-regulated learning (Zimmerman, 2002)—kemampuan mengatur diri dalam belajar. Pembelajar yang mampu menetapkan tujuan, memonitor kemajuan, dan mengevaluasi hasil belajarnya lebih siap menghadapi tekanan kuliah maupun pekerjaan.

Dalam Islam, prinsip ini sejalan dengan itqan (kesungguhan) dan ihsan (kualitas terbaik). QS. Al-Mujadilah: 11 menegaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu. Kesungguhan dalam belajar merupakan bentuk ibadah dan jalan menuju derajat yang lebih tinggi.

Lifelong Learning dan Kesiapan Karier

Seorang alumni universitas sempat bingung setelah lulus. Ia lalu mengikuti kursus daring, belajar desain, dan ikut proyek sosial. Dua tahun kemudian, ia dipercaya memimpin tim kreatif di perusahaan lokal. Pengalaman seperti ini menunjukkan pentingnya semangat belajar sepanjang hayat.

Career Tools and Frameworks (University of Otago, 2022) menegaskan bahwa lifelong learning adalah kunci kesuksesan karier jangka panjang. Dunia kerja kini menuntut individu yang terus memperbarui keterampilan, terbuka terhadap pengalaman baru, dan belajar dari kesalahan. Belajar tidak berhenti di bangku kuliah; ia berlanjut dalam setiap fase kehidupan.

Dalam Islam, semangat belajar berkelanjutan ditegaskan dalam doa Nabi:


فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَقُّۚ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْءَانِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضٰىٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا


Rabbi zidni ‘ilma” (Ya Tuhanku, tambahkanlah aku ilmu) — (QS. Taha: 114)

Ayat ini mengajarkan bahwa menambah ilmu adalah perjalanan seumur hidup. Di Indonesia, banyak peluang terbuka bagi mereka yang terus belajar—melalui pelatihan digital, kegiatan sosial, atau pengabdian masyarakat. Semua pengalaman itu adalah bentuk ibadah yang menghidupkan nilai amal saleh di dunia profesional.

Menghadapi Dunia VUCA dengan VUCA Prime

Cara terbaik menghadapi dunia VUCA adalah menyiapkan “penawarnya”: VUCA Prime (Vision, Understanding, Clarity, Agility). Model ini membantu individu menghadapi perubahan dengan arah yang jelas dan refleksi mendalam (Johansen, 2007). Pembelajar yang memiliki visi hidup, memahami konteks sosial, berpikir jernih, dan cepat beradaptasi akan mampu memimpin di tengah ketidakpastian. Nilai-nilai ini bisa ditumbuhkan sejak di kampus—melalui organisasi, riset, dan kegiatan sosial yang membentuk karakter tangguh.

Ketika perkuliahan beralih daring, banyak mahasiswa membentuk kelompok belajar digital, berbagi catatan, dan saling memotivasi. Itulah praktik nyata Vision dan Agility—menjadikan krisis sebagai kesempatan untuk tumbuh.

Penutup

Dunia sedang berubah dengan cepat: teknologi, ekonomi, dan pola kerja terus berevolusi. Namun, di tengah ketidakpastian ini, setiap pembelajar memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan memberi makna.

  1. At-Taubah: 105 mengingatkan:


وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَۚ

Dan katakanlah: bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu.”

Setiap tugas, proyek, atau kerja sosial adalah bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat dan kualitas terbaik. Menjadi pembelajar sepanjang hayat berarti terus bertumbuh—dalam ilmu, iman, dan akhlak—agar siap menghadapi dunia kerja yang dinamis dan berkontribusi bagi bangsa dan umat.

Belajar adalah ibadah yang tidak berhenti di ruang kuliah. Belajar cerdas dan reflektif menumbuhkan kebijaksanaan. Mengasah keterampilan yang beragam melatih kesiapan karier. Menghadapi dunia VUCA dengan visi dan ketangguhan menjadikan kita pemelajar yang bukan hanya bertahan, tetapi juga memberi makna. Di atas semuanya, semangat belajar sepanjang hayat adalah bentuk dakwah yang nyata—menghidupkan perintah Allah subhanahu wa ta’ala. untuk terus menuntut ilmu demi kemaslahatan umat.

Referensi

Aris, N. F. M., & Omar, S. S. (2021). VUCA: Theories, concepts, and its remedy. In Leading through the COVID-19 crisis (pp. 1–9). Tun Hussein Onn University of Malaysia.

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The new psychology of success. Random House.

Psychology Today. (2024, February 6). Why writing by hand is better for your brain. https://www.psychologytoday.com/us/blog/memory/202402/why-writing-by-hand-is-better-for-your-brain

University of Otago. (2022). Career tools and frameworks. Otago Careers Development Centre.

Zimmerman, B. J. (2002). Becoming a self-regulated learner: An overview. Theory Into Practice, 41(2), 64–70.