Syiar
Volume 2, Edisi 1
Tanggal Terbit 6 Mei 2026
Atur dirimu, jangan sia-siakan waktumu
Thobagus Mohammad Nu’man
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
“Aku tidak mempunyai barang dagangan kecuali umur. Apabila ia habis, maka habislah modalku sehingga putuslah harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan lagi. Allah telah memberiku tempo pada hari yang baru ini, memperpanjang usiaku dan memberi nikmat” (Imam Al-Ghazali).
Waktu merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita. Waktu tidak hanya bermakna sebagai pengukur lama aktivitas yang kita lakukan, namun lebih dari itu waktu merupakan sumber daya yang dimiliki oleh manusia. Sebagaimana yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali, waktu diibaratkan barang dagangan (umur) yang dapat habis, dan ketika ia habis maka akan memutuskan harapan untuk berniaga dan mencari keuntungan. Waktu adalah sumber daya yang bisa habis dan tidak dapat diperbarui. Apabila waktu yang kita miliki habis, maka tidak ada lagi kesempatan kita untuk melakukan segala aktivitas termasuk beramal baik. Sering kali orang berkata bahwa ia tidak mau menyia-nyiakan sedetik pun waktu yang dimilikinya. Hal ini menunjukkan betapa waktu merupakan sesuatu yang berharga bagi manusia.
Pada dasarnya semua manusia menyadari bahwa waktu merupakan modal penting bagi dirinya. Pentingnya waktu digambarkan dengan berbagai macam ungkapan di banyak tempat, dalam pepatah Arab disebutkan al-waqtu ka as-saifi in lam taqtha’hu qatha’aka, yang artinya waktu adalah pedang, jika kamu tidak menebaskannya (menggunakannya) maka pedang tersebut akan menebasmu. Ungkapan lain yang masih berasal dari pepatah Arab al-waqtu atsmanu min adzdzahabu, waktu lebih berharga daripada emas. Ungkapan yang hampir sama dengan pepatah Arab tersebut adalah time is money—ada yang menyandarkan ungkapan ini sebagai perkataan Benjamin Franklin—yang bermakna bahwa kemalasan memiliki dampak terhadap biaya moneter. Ketiga ungkapan tersebut, dan banyak kata-kata bijak lainnya tentang waktu, mengajarkan kepada kita tentang penting dan berharganya waktu. Hilangnya barang yang kita miliki masih mungkin untuk kita cari dan temukan ataupun kita menggantinya, namun hilangnya waktu tidak akan pernah kembali lagi.
Surat Al-‘Ashr (QS. 103:1-3) sering kali dijadikan pijakan betapa pentingnya waktu. Di surat Al-‘Ashr, Allah bersumpah dengan waktu, karena waktu melingkupi berbagai keajaiban. Waktu mencakup berbagai keadaan manusia, sedih, bahagia, sakit, sehat, kaya, miskin ataupun kejadian-kejadian luar biasa lainnya. Waktu juga mengandung makna terjadinya perubahan dan pergeseran seperti hari yang berubah dari siang ke malam dan seterusnya. Allah bersumpah dengan waktu untuk mengingatkan kepada manusia betapa pentingnya memperhatikan waktu dan memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Allah memperingatkan bahwa semua manusia akan mengalami kerugian yang besar dan bermacam-macam apabila tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Lebih lanjut, Allah mengingatkan manusia untuk beriman kepada Allah, selalu beramal baik, saling menasihati sesama dalam hal kebenaran dan kesabaran. Allah memerintahkan manusia untuk memanfaatkan waktu dengan beramal ibadah, berbuat baik untuk diri, dan bermanfaat bagi orang lain.
وَالْعَصْرِ () إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ () إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
Artinya: Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran (Surat Al-‘Ashr Ayat 1-3).
Rata-rata panjang usia umat Nabi Muhammad disebutkan berbeda dengan umat-umat sebelumnya yang memiliki panjang usia lebih lama. Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassallam berkata: “Umur umatku antara 60 dan 70 tahun, sedikit dari mereka yang melampauinya.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Majah). Hadits tersebut dapat dimaknai bahwa waktu kita di dunia tidaklah panjang, hal ini semakin mempertegas pentingnya kita memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Kalau mau jujur diakui, kita seringkali menyia-nyiakan waktu yang Allah anugerahkan kepada kita. Kita lebih banyak bermain daripada belajar, lebih banyak bersosial media daripada mengkaji ilmu, lebih punya waktu untuk menonton serial drama di aplikasi layanan streaming video online secara nonstop (binge watching), maupun melakukan aktivitas lain yang condong kepada penggunaan waktu yang kurang bermanfaat. Bukan berarti kita tidak boleh menghabiskan waktu luang kita untuk menghibur diri, namun kita perlu sadar untuk menggunakan waktu secara proporsional.
Rasulullah telah mengingatkan kepada kita untuk tidak menyia-nyiakan waktu yang kita miliki. Ada lima perkara, yang semuanya berkaitan dengan peringatan akan pentingnya waktu, sebelum datang lima perkara yang lainnya.
عن ‘مرو بن ميمون ابن مهران أن النبي صلى الله عليه وسلم قال لرجل وهو يعظه اغتنم خمسا قبل خمس شبابك قبل هرامك وصحتك قبل سقمك، وفراغك قبل شغلك، وغناك قبل فقرك، وحياتك قبل موتك
Dari Amru bin Maimun bin Mahran sesungguhnya Nabi Muhammad Saw berkata kepada seorang pemuda dan menasihatinya, “Jagalah lima hal sebelum lima hal. (1) Mudamu sebelum datang masa tuamu, (2) sehatmu sebelum datang masa sakitmu, (3) waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, (4) kayamu sebelum miskinmu, (5) hidupmu sebelum matimu.
Hadits tersebut memberikan pelajaran kepada kita agar menggunakan kesempatan yang kita miliki dengan sebaik-baiknya, karena lima perkara itu hanya terjadi sekali dan tidak akan berulang kembali. Pertama, masa muda sebelum masa tua. Masa muda merupakan saat-saat paling produktif, karena secara fisik dan mental masih sangat kuat. Kapasitas kognitif di muda juga masih berfungsi baik, sehingga memberi kekuatan kita untuk belajar dan mengembangkan diri. Kekuatan fisik memberi keuntungan anak muda untuk lebih mobile membangun jejaring. Berbeda dengan orang yang sudah berumur, semua fungsi fisik dan mental sudah mengalami penurunan. Beribadah kepada Allah tidak perlu menunggu usia kita menua, namun di usia yang masih muda kita pergunakan waktu untuk banyak beribadah sebagai bagian dari kita mempersiapkan diri.
Kedua, sehat sebelum sakit. Usia muda saja saat ini tidak cukup, berusia muda belum tentu kita memiliki kekuatan fisik dan mental yang kuat kalau tidak berada pada kondisi sehat. Kesehatan merupakan anugerah Allah yang sangat besar, orang yang sehat berkaitan dengan kualitas hidup yang baik. Sehat membuat kita bisa lebih produktif, tidak mudah mengalami risiko tekanan mental, memiliki fisik yang kuat sehingga kita dapat mengarahkan pada tujuan yang ingin kita capai, termasuk dalam beribadah. Banyak bentuk-bentuk ibadah yang mensyaratkan fisik yang sehat untuk dapat melakukan ibadah secara sempurna seperti shalat wajib yang mensyaratkan untuk berdiri sebagai kesempurnaan shalat kita atau ibadah haji yang menjadikan sehat (mampu) sebagai syarat wajibnya.
Ketiga, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu. Pada saat kita memiliki waktu luang mungkin sering kali kita berpikir bahwa kita memiliki banyak waktu sehingga waktu yang kita miliki dialokasikan kepada kegiatan-kegiatan yang sesungguhnya kurang bermanfaat. Saat kita sering kali menunda tugas yang diberikan kepada kita, termasuk tugas akademik dan beralih melakukan aktivitas yang lebih menyenangkan. Psikologi menyebutnya sebagai prokrastinasi, yaitu menunda-nunda pekerjaan yang lebih penting dan mengalihkan untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang bernilai kurang penting. Kajian-kajian tentang prokrastinasi menyebutkan bahwa prokrastinasi dapat menyebabkan menurunnya kualitas kesehatan mental seperti stres, kecemasan, dan depresi serta menurunnya kinerja. Manfaatkan waktu luang kita untuk memperbanyak ibadah termasuk thalabul ilmi sebagai kewajiban kita sebagai seorang muslim.
Keempat, kaya sebelum miskin. Kekayaan yang kita miliki membuka peluang kita untuk beramal melalui bersedekah, membantu orang yang tidak mampu, maupun memajukan pendidikan. Dalam kajian psikologi, memberi apa yang kita miliki membuat orang lebih bahagia daripada hanya menikmatinya untuk diri sendiri.
Kelima, hidupmu sebelum matimu. Tak seorang pun manusia tahu batas usianya. Maut sewaktu-waktu akan mendatangi kita tanpa ada peringatan sebelumnya, Allah firmankan bahwa ketika ajal datang kepada kita maka kita tidak dapat meminta ditunda ataupun meminta dipercepat, lâ yasta’khirûna sâ‘ataw wa lâ yastaqdimûn (QS. Al-A’raf: 34). Untuk itu perlu kita mengumpulkan bekal (baca: ibadah) sebanyak-banyaknya sebagai persiapan kita untuk menuju kematian. Dalam hadits lain disebutkan, bahwa “ada dua nikmat yang manusia sering kali tertipu dengannya: (nikmat) sehat dan waktu luang” (HR. Al Bukhari, no 6412).
Dalam kajian psikologi, salah satu isu yang berkaitan dengan waktu adalah kemampuan mengatur waktu untuk tujuan akademik. Memanfaatkan waktu dengan baik berhubungan dengan kemampuan dalam meregulasi diri, khususnya dalam pengaturan waktu atau seringkali disebut dengan manajemen waktu. Salah satu kemampuan yang berkaitan dengan manajemen waktu adalah kemampuan untuk memperkirakan tugas secara realistis. Banyak individu yang terjebak dengan bias perkiraan waktu berapa lama waktu penyelesaian tugas. Bias ini disebut dengan planning fallacy. Sebagian individu menyepelekan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas (underestimate), namun ada pula yang melebih-lebihkan waktu yang dibutuhkan (overestimate). Bias planning fallacy memiliki dampak secara psikologis, baik pada individu yang underestimation maupun pada individu yang overestimation dengan waktu yang dibutuhkan. Pada individu yang underestimate (menyepelekan waktu yang dibutuhkan) berdampak pada keterlambatan penyelesaian tugas, stres, cemas, dan hasil yang tidak optimal serta menurunnya efikasi diri. Sedangkan pada individu yang overestimate (melebih-lebihkan waktu) berdampak pada pemborosan waktu, perfeksionis, frustrasi, dan rasa bersalah karena merasa terlalu lama membutuhkan waktu untuk menyelesaikan tugas. Meskipun demikian, melebih-lebihkan perkiraan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tugas terkadang lebih adaptif, karena memberi ruang yang lebih untuk dapat menyelesaikan tugas akademiknya. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki kemampuan memperkirakan waktu penyelesaian tugas yang realistis sebagai bagian dari regulasi diri.
Ajaran Islam memberi kita panduan tentang pentingnya waktu dan bagaimana semestinya waktu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebaikan dan kebermanfaatan bagi orang lain. Waktu bermakna bahwa perubahan terus menerus terjadi, bagi siapa saja yang tidak adaptif maka waktu akan membunuhnya. Di sisi lain, psikologi juga mengajarkan tentang pentingnya regulasi diri, utamanya melalui manajemen waktu. Kemampuan untuk memperkirakan waktu yang akurat dalam penyelesaian tugas menjadi kunci keberhasilan seseorang dalam memanfaatkan waktu dengan baik.




