Ilmiah
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 12 Desember 2025
Waktu luang untuk optimalkan potensi remaja dari tantangan pada era digital
Fitri Ayu Kusumaningrum
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Remaja merupakan tahapan perkembangan dimana tugas utamanya adalah mengeksplorasi dan menentukan identitas diri yang dapat berupa identitas personal, sosial, gender, seksual, nilai moral, kultural, spiritual sampai pada identitas digital. Harapannya, remaja yang mampu menetapkan identitasnya dengan proses eksplorasi yang utuh, dapat mengembangkan potensi dirinya. Dimana potensi remaja ini akan mampu menampilkan aktualisasi remaja pada performa kerjanya. Hal ini sesuai dengan studi Arnold (2017) yang membahas tugas perkembangan pada remaja yang dikemukakan oleh Erikson tentang pembentukan identitas, serta menjelaskan keterkaitan antara proses tersebut dengan konsep adolescent thriving (perkembangan optimal remaja) dan pengembangan potensi remaja.
Remaja di era digital menemukan tantangan tersendiri yang berbeda dengan era sebelumnya. Adanya aktivitas di depan layar (screen time) seperti misalkan bermain permainan daring (game online), berselancar di sosial media dan menonton video dari berbagai platform, serta interaksi di forum sosial, hingga kecerdasan buatan generatif, mampu membentuk suatu potensi pola permasalahan perilaku pada remaja berdampak pada kesehatan mental. Hal ini sejalan dengan studi Nagata et al. (2024) yang menunjukkan bahwa semakin tinggi total waktu aktivitas layar, semakin besar pula keterkaitannya dengan berbagai gejala gangguan kesehatan mental. Hubungan paling kuat ditemukan pada gejala depresi, perilaku menyimpang, gejala somatik, serta gejala gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas. Jenis aktivitas layar yang paling berhubungan dengan gejala depresi meliputi video chat, berkirim pesan (texting), menonton video, dan bermain video game. Dengan memahami dampak dari era digital ini, harapannya tidak menjadi penghalang dalam pengembangan potensi remaja.
Kerangka kerja teori dari konstruk potensi merupakan perkembangan yang dapat dioptimalkan melalui interaksi antara kekuatan individu dengan aset dari lingkungan. Teori ini dikemukakan oleh Lerner et al. (2011) yang menjelaskan bahwa potensi merupakan perkembangan remaja yang seharusnya tidak hanya difokuskan pada pencegahan perilaku berisiko saja, namun juga pada penguatan kapasitas positif yang dimiliki oleh individu. Teori ini memandang potensi sebagai sebuah sumber daya yang dapat dikembangkan, bukan sebagai masalah yang harus diatasi. Terdapat komponen inti dalam pengembangan potensi ini antara lain kompetensi, kepercayaan diri, koneksi, karakter, dan kepedulian. Jika komponen tersebut dapat dimiliki oleh remaja, maka akan menghasilkan adanya kontribusi dan pengurangan perilaku beresiko.
Pada konteks era digital, sebagai contoh misalkan seorang remaja mempunyai hobi bermain gawai hampir 6 jam per hari sepulang sekolahnya. Orang tua yang mempunyai perspektif pengembangan potensi, lebih fokus pada apa saja yang menjadi kekuatan remaja lalu kekuatan tersebut diberikan pendampingan atau fasilitasi yang lebih, alih-alih hanya fokus melarang remaja pada penggunaan gawainya. Perspektif pengembangan potensi ini memiliki paradigma psikologi positif, dimana individu lebih diyakini mempunyai area kelebihan atau hal-hal positif pada dirinya, dibandingkan masalah-masalah yang melingkupi individu.
Lebih lanjut, pada perspektif potensi, orang tua akan memberikan pendidikan atau keterampilan agar remaja memiliki kompetensi yang spesifik. Individu akan memiliki rasa kepercayaan diri ketika memiliki suatu kompetensi. Selanjutnya, remaja dihubungkan dengan lingkungan agar bisa lebih berdaya, misalkan terlibat pada organisasi atau komunitas. Karakter akan terbangun secara otomatis ketika remaja berinteraksi dengan orang lain ataupun komunitas di lingkungan. Harapannya, kepedulian akan tumbuh ketika remaja diberikan peran di komunitasnya. Jika hal ini sudah terbentuk, maka remaja diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata di lingkungannya dan secara simultan akan mengurangi perilaku beresiko. Hal ini karena energi yang dimiliki remaja akan terfokuskan pada hal-hal pengembangan potensi.
Potensi remaja dapat dilakukan dengan mengoptimalkan waktu luang (leisure time). Salah satu alat ukur yang mengukur waktu luang yang dikembangkan oleh Ries, et al. (2009) mengungkap empat faktor berupa penilaian diri remaja tentang aktivitas fisik, persepsi terhadap sosialisasi orang tua, persepsi terhadap kompetensi fisik, dan persepsi terhadap dukungan sumber daya. Alat ukur ini menggambarkan sikap dan pengalaman remaja terhadap aktivitas fisik serta dukungan lingkungan yang mempengaruhinya. Secara keseluruhan, pernyataan-pernyataan ini menilai sejauh mana sikap positif, kompetensi diri, dukungan keluarga, dan ketersediaan sumber daya berperan dalam mendorong partisipasi remaja dalam aktivitas fisik.
Beberapa riset membuktikan bahwa penggunaan waktu luang yang efektif dapat meningkatkan potensi pada remaja. Studi Ibabe et al. (2024) yang melibatkan 7.723 remaja berusia 13–18 tahun dari Chili, Spanyol, Meksiko, dan Peru menunjukkan bahwa jenis kegiatan waktu luang berperan penting dalam memprediksi penggunaan teknologi yang bermasalah. Kegiatan waktu luang yang terstruktur berkorelasi dengan tingkat penggunaan teknologi yang bermasalah lebih rendah, sedangkan kegiatan yang tidak terstruktur akan meningkatkan risiko penggunaan teknologi yang bermasalah. Caldwell dan Smith (2013) membuktikan bahwa waktu luang memiliki peran penting dalam perkembangan remaja dan pencegahan perilaku berisiko seperti kenakalan dan tindak kriminal. Hasil studi pada 628 remaja pedesaan di Amerika Serikat mengindikasikan bahwa remaja yang memiliki kegiatan waktu luang berorientasi tujuan, termotivasi secara intrinsik, mampu menolak tekanan teman sebaya, dan memiliki kesadaran terhadap pilihan waktu luang yang sehat lebih kecil kemungkinannya melakukan tindakan destruktif. Keterlibatan orang tua disebutkan menjadi protektif penting. Studi oleh Freire dan Teixeira (2018), pada 654 remaja berusia 14–19 tahun menunjukkan bahwa sikap positif terhadap waktu luang meningkatkan kepuasan dalam beraktivitas, yang berdampak pada harga diri, kepuasan hidup, dan kesejahteraan psikologis. Strategi pengaturan emosi melalui cognitive reappraisal menjadi mediator pada hubungan tersebut. Hal ini menegaskan bahwa sikap dan kepuasan terhadap waktu luang berperan penting dalam mendukung perkembangan positif remaja. Studi Badura et al. (2021) pada 55.429 remaja berusia 11, 13, dan 15 tahun di sembilan negara Eropa dan Kanada melalui survei Health Behaviour in School-aged Children menyatakan bahwa partisipasi remaja dalam kegiatan waktu luang terorganisasi berhubungan positif dengan kesejahteraan subjektif, tanpa dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, usia, atau jenis kelamin.
Berdasarkan ulasan di atas, para orang tua/guru/orang dewasa lainnya di sekitar remaja, harapannya dapat mengembangkan potensi remaja dengan memberikan pendampingan aktivitas terstruktur pada waktu luangnya. Hal ini dikarenakan remaja yang mengalami tantangan perilaku di era digital, sangat mungkin disibukkan dengan aktivitas yang tidak produktif.
Referensi
Arnold, M. E. (2017). Supporting Adolescent Exploration and Commitment: Identity Formation, Thriving, and Positive Youth Development. Journal of Youth Development, 12(4), 1–15. https://doi.org/10.5195/jyd.2017.522
Badura, P., Hamrik, Z., Dierckens, M., Gobiņa, I., Malinowska-Cieślik, M., Furstova, J., Kopcakova, J., & Pickett, W. (2021). After the bell: Adolescents’ organised leisure-time activities and well-being in the context of social and socioeconomic inequalities. Journal of Epidemiology and Community Health, 75(7), 628–636. https://doi.org/10.1136/jech-2020-215319
Caldwell, L. L., & Smith, E. A. (2013). Leisure as a context for youth development and delinquency prevention. In D. Springer & A. Roberts (Eds.), Handbook of Forensic Mental Health with Victims and Offenders: Assessment, Treatment, and Research (pp. 367–384). Springer Publishing Company.
Freire, T., & Teixeira, A. (2018). The influence of leisure attitudes and leisure satisfaction on adolescents’ positive functioning: The role of emotion regulation. Frontiers in Psychology, 9, 1349. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2018.01349
Ibabe, I., Albertos, A., & Lopez-del Burgo, C. (2024). Leisure time activities in adolescents predict problematic technology use. European Child & Adolescent Psychiatry, 33(1), 279–289. https://doi.org/10.1007/s00787-023-02152-5
Lerner, R. M., Lerner, J. V., & Benson, J. B. (2011). Positive youth development. In Advances in Child Development and Behavior (Vol. 41, pp. 1–17). Elsevier. https://doi.org/10.1016/B978-0-12-386492-5.00001-4
Nagata, J. M., Al-Shoaibi, A. A. A., Leong, A. W., Zamora, G., Testa, A., Ganson, K. T., & Baker, F. C. (2024). Screen time and mental health: A prospective analysis of the Adolescent Brain Cognitive Development (ABCD) Study. BMC Public Health, 24(1), 2686. https://doi.org/10.1186/s12889-024-20102-x
Ries, F., Granados, S. R., & Galarraga, S. A. (2009). Scale development for measuring and predicting adolescents’ leisure time physical activity behavior. Journal of Sports Science & Medicine, 8(4), 629.


