Syiar

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 20 Desember 2025

Sikap terbaik ketika dipuji: Belajar dari sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq

Irwan Nuryana Kurniawan
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Sebagai Muslim yang beriman, kita diminta oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala  agar setiap hari  melakukan evaluasi diri apakah pikiran, tindakan, sikap, perilaku, keputusan, dan pilihan yang kita lakukan selama ini menguntungkan atau malah merugikan akhirat kita (QS al-Hasyr:18). Sebagai contoh, dalam kehidupan sehari apakah shalat kita sudah khusyu’, apakah masih mengalami banyak kesulitan untuk berpaling dan menjauhkan diri dalam segala perkataan dan perbuatan tidak berguna (sia-sia, senda gurau, maksiat), apakah bersegera menunaikan zakat, apakah menjaga kemaluan, apakah menjaga amanah, apakah menjaga janji dan shalat (QS al-Mu’minun: 2-9). Kita perlu memastikan bahwa setiap tindakan, sikap, pikiran, dan keputusan yang kita pilih dalam menanggapi peristiwa, kejadian yang dialami berkesesuaian, fit, cocok dengan ketentuan-Nya, kehendak-Nya dan syariat-Nya.

Termasuk saat mendapatkan pujian dan apresiasi. Kita perlu mengkaji ulang, mengevaluasi secara kritis apakah pilihan tanggapan yang selama ini kita tunjukan, kita ungkapkan sudah mengikuti kriteria yang seharusnya menurut Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Jika pilihan tanggapan kita terhadap pujian hanya mendasarkan diri apa yang umumnya dilakukan kebanyakan orang, dianggap lumrah, wajar oleh lingkungan, maka ada beberapa kemungkinan dampaknya bagi akhirat kita. Pertama, dampaknya merugikan akhirat kita ketika respon yang disetujui, disukai oleh lingkungan, oleh masyarakat kita tidak bersesuaian atau bertentangan dengan syariat-Nya. Artinya kita mengungkapkan, menunjukkan tanggapan tertentu terhadap pujian, terhadap apresiasi lebih karena ingin disukai, diterima, dianggap baik oleh lingkungan, masyarakat, meskipun hal tersebut kontradiksi dan menyelisihi Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Kedua, dampaknya menguntungkan akhirat kita karena apa yang disetujui, disukai, diterima, dianggap wajar, lumrah oleh lingkungan, oleh masyarakat berkesesuaian, cocok, fit dengan syariat-Nya.

Berangkat dari semangat mengikuti perintah-Nya untuk senantiasa setiap hari melakukan evaluasi diri terkait apa yang sudah kita lakukan untuk akhirat kita, mari kita belajar dari sahabat Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu ketika mendapatkan pujian. Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu adalah seorang manusia terbaik setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam sejak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam masih hidup ( Bukhari No. 3655, 3671). Beliau selalu menjadi orang kedua setelah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pada kesempatan-kesempatan khusus (Bukhari No 3653, 3677, dan Muslim No. 2381), beliau adalah orang yang paling dicintai oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam (Bukhari No. 3656, 3662 dan Muslim No. 2383, 2384). Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam telah menjamin ketangguhan iman Abu Bakar (Bukhari No. 3663 dan Muslim No. 2388). Ketika dipuji, Abu Bakar ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu berdoa

اللَّهُمَّ أَنْتَ أَعْلَمُ مِنِّى بِنَفْسِى وَأَنَا أَعْلَمُ بِنَفْسِى مِنْهُمْ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى خَيْرًا مِمَّا يَظُنُّوْنَ وَاغْفِرْ لِى مَا لاَ يَعْلَمُوْنَ وَلاَ تُؤَاخِذْنِى بِمَا يَقُوْلُوْنَ

Ya Allah, Engkau lebih mengetahui keadaan diriku daripada diriku sendiri dan aku lebih mengetahui keadaan diriku daripada mereka yang memujiku. Ya Allah, jadikanlah diriku lebih baik dari yang mereka sangkakan, ampunilah aku terhadap apa yang mereka tidak ketahui dariku, dan janganlah menyiksaku dengan perkataan mereka (al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 4: 228, No.4876)

Menurut hemat penulis, minimal ada pelajaran penting terkait tanggapan, sikap hati yang perlu kita kedepankan, kita biasakan, kita lazimkan sebagai seorang Muslim beriman ketika kita mendapatkan pujian dan apresiasi dari lingkungan. Pertama, langsung mengucapkan hamdalah sebagai manifestasi, wujud kongkrit, persaksian nyata, pernyataan keimanan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa yang terpuji, yang paling layak dan berhak mendapatkan pujian atas pujian yang diberikan orang-orang kepada kita adalah Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika kita dipuji atas raihan prestasi kita, maka sesungguhnya pemberian pujian tersebut didasarkan hanya pada hasil pengamatan yang sangat terbatas dalam dimensi ruang dan waktu. Jika dapat dianalogikan, pemberian pujian oleh lingkungan baru didasarkan hanya pada sepertiga hasil pengamatan atas keseluruhan kondisi objektif yang melingkupi capaian prestasi kita, sementara dua pertiga bagian lainnya tidak teramati, tidak diketahui, sehingga terabaikan, tidak menjadi bahan pertimbangan mereka dalam memberikan pujian. Dalam kondisi demikian, pemberian pujian bisa jadi berlebihan, overestimate dari apresiasi objektif yang seharusnya diberikan. 

Sebaliknya, Allah Ta’ala benar-benar mengetahui 100% secara sempurna seluruh kondisi, lahir-batin, segala sesuatu yang melingkupi, berhubungan, dan menentukan capaian prestasi yang menyebabkan kita diberikan pujian. Kesadaran demikian ini, bersebab rahmat-Nya, karunia-Nya, memudahkan kita untuk bersegera memulai, melazimkan mengucapkan tahmid ketika mendapatkan pujian. Sebagai bentuk ikhtiar maksimal, kita mencontoh ungkapan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam sebagai pilihan respon terbaik kita:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ

Segala puji hanya milik Allah yang dengan segala nikmatnya segala kebaikan menjadi sempurna.’(Ibnu Majah No. 3803)

Kedua, karena Allah lebih tahu yang sesungguhnya tentang diri kita dan kita juga lebih tahu kelebihan dan kelemahan diri kita dibandingkan orang-orang, lingkungan yang memuji kita, maka mari kita biasakan untuk bersegera berdo’a kepada-Nya agar Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengampuni dan tidak menghukum kita karena pujian yang diberikan kepada kita, pujian yang dapat membuat diri kita semakin ujub dan sombong. 

Semoga kita dimampukan Allah Ta’ala untuk terus menerus memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik dalam hal menanggapi pujian sehingga menyelamatkan akhirat kita, aamiin.