Ilmiah

Volume 1 Edisi 2
Tnggal terbit 24 Desember 2025

Program antenatal care dengan sentuhan Islami sebagai upaya peningkatan kesehatan holistik ibu hamil

Retno Kumolohadi
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur datang dari keluarga khususnya ibu hamil yang telah lama menantikan sang buah hati, namun keadaan yang sebaliknya terjadi pada ibu hamil yang belum siap, atau bahkan ibu hamil yang tidak menghendaki kehadiran anak. Kondisi kesehatan fisik dan emosi ibu yang baik atau buruk selama fase kehamilan dapat memengaruhi janin,. Kasus risiko obstetric seperti eklamsia dapat terjadi, begitupun depresi post partum atau kondisi psikosis. Dengan demikian, ibu hamil membutuhkan perawatan untuk memberikan perlindungan terbaik pada kehamilan dan janinnya. Intervensi kehamilan melalui program antenatal care (ANC) berdampak pada tumbuh kembang janin dan kelahiran. Program yang dirancang oleh WHO ini selain memperhatikan kondisi fisik dan psikososial, masih membutuhkan sentuhan lain yaitu pendekatan spiritual khususnya religiusitas untuk menciptakan kesehatan holistik.

Arti Penting Anak dalam Keluarga Menurut Teori Psikologi dan Islam

Menjadi orang tua merupakan proses pendewasaan diri. Individu mengalami pertumbuhan dari masa dewasa ke masa menjadi orang tua dan melaksanakan tugas perkembangan berupa menularkan pengalaman semasa hidup kepada anak. Anak dalam keluarga sesungguhnya memiliki arti sebagai berikut: (1) Membawa keuntungan emosional berupa kebahagiaan, mengurangi ketegangan dan mengikis rasa kesepian; (2) Membawa keuntungan ekonomi dan rasa aman. Anak diharapkan dapat membantu ekonomi keluarga dan dapat merawat orang tuanya (3) Memenuhi hasrat pengayaan dan pengembangan diri. Orang tua merasa ada pengalaman membesarkan anak dan menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak; (4) Melakukan identifikasi diri orang tua kepada anak. Orang tua merasa anak adalah bagian penting dari hidup mereka dan dapat menerima nilai-nilai dari orang tua; (5) Membawa kemesraan keluarga dan kelanjutan keturunan (Hurlock, 2006).  Dalam Islam setiap pasangan diperintahkan agar berdoa mendapatkan anak, seperti yang dilakukan oleh nabi zakaria dengan doa  dalam Surat berikut.

رَبِّ هَبْ لِيْ مِنْ لَّدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةًۚ اِنَّكَ سَمِيْعُ الدُّعَاۤءِ ۝٣٨

Ya Allah, karuniakanlah kami dari sisiMu keturunan yang baik.  Engkau adalah Maha Pendengar doa yang dipanjatkan.” (QS Ali Imran ayat : 38

Dikisahkan dalam al-Qur’an tentang nabi Zakaria dan nabi Ibrahim dalam upaya atau tuntunan mendapatkan keturunan dengan senantiasa berdoa, memohon kepada Tuhan agar dikabulkan permohonannya. Posisi anak dalam al-Qur’an disebutkan sebagai berikut. Pertama. Anak sebagai amanah. Orang tua yang memiliki anak berarti diberi amanah oleh Allah SWT untuk merawat dan mendidiknya. Dirawat artinya dilindungi kesejahteraannya secara fisik dan mental. Anak dilindungi dari perbuatan maksiat dan dijaga agar taat menjalankan ibadah. al-Qur’an menjelaskan sebagai berikut.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman! Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu”. (QS At-Tahrim: 6)

Di samping sebagai amanah, anak adalah sebagai penyejuk hati (qurrah a’ayun). Di kala orang tua dalam susah maupun senang, anak menjadi sumber motivasi untuk masa depan.  Tentu semua orang tua ingin memiliki anak yang taat, berakhlak karimah, serta tutur kata dan perbuatannya menyenangkan. Itulah arti kata “menjadi penyejuk hati orang tua”. Orang tua tidak berharap anaknya akan menjadi fitnah. Naudzubillahi min dzalik. al-Qur’an memberi peringatan bahwa anak dapat menjadi cobaan bagi orang tua.

وَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اَمْوَالُكُمْ وَاَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۙوَّاَنَّ اللّٰهَ عِنْدَهٗٓ اَجْرٌ عَظِيْمٌ

“Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu, itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah itu pahala yang besar.” (QS Al Anfal:28)

Kesehatan ibu hamil dan konsekuensinya bagi janin

Kondisi ibu hamil perlu dijaga agar tetap stabil, sehingga terhindar dari risiko kehamilan yang serius Dalam rangka mempertahankan kestabilan kondisi tersebut, pemeriksaan kesehatan rutin mutlak diperlukan. Kesehatan mencakup baik fisik maupun mental. Sudah menjadi protokol rutin setiap kali pemeriksaan fisik, ibu hamil selalu dipantau berat badan, tekanan darah, serta pemeriksaan pada berat janin dalam kandungan dengan USG (Kementrian Kesehatan, 2015).

Kondisi mental ibu hamil juga perlu mendapat perhatian, Ibu hamil jangan sampai mengalami stres tinggi, namun kenyataaan membuktikan sebaliknya. Ibu hamil dapat mengalami stres dan kecemasan sehubungan dengan persepsi terhadap anak itu sendiri. Satu sisi mungkin anak yang dikandung memang diharapkan atau tidak diharapkan. Pada kehamilan tidak dikehendaki, kehadiran anak di dalam kandungan bukanlah sesuatu yang diharapkan. Dapat pula terjadi kekhawatiran terhadap kondisi anak pasca kelahiran dan ketidakmampuan dalam merawat anak.  

Ibu hamil yang stabil kesehatannya memberikan banyak manfaat, yaitu: (1) Meningkatkan kesiapan ibu hamil berperan menjadi ibu; (2) Mengurangi resiko persalinan prematur, berat lahir rendah maupun kegawatan pada janin; (3) Mengurangi kejadian persalinan yang lama; (4) Mengurangi kejadian persalinan dengan tindakan; (4) Meningkatkan kelancaran produksi Air Susu Ibu; (5) Mempengaruhi kecerdasan, sikap, dan perilaku sosial setelah bayi lahir; (6) Meningkatkan keharmonisan dan kebahagiaan keluarga (Kementrian Kesehatan, 2015). 

Pembinaan stimulasi Ikatan Batin Ibu-Janin, meliputi: 1) Berpikir Positif, yaitu: perhatian yang positif pada janin, pernyataan kepada diri yang positif selama hamil, memupuk harapan positif dan afirmasi berkomunikasi dengan janin, mendengarkan suara ibu dan ayah yang sangat bermanfaat merangsang pendengaran dan ikatan ortu-anak, mendengarkan suara musik/murotal al-Qur’an; 2) Stimulasi gerakan, yaitu: mengelus, meraba, membelai janin Menghitung gerakan janin (Fatmawati, 2013).

Komunikasi dapat ditingkatkan dengan janin. Rangsangan suara dapat diberikan berupa suara Ibu dan Ayah. Mendengarkan suara musik atau Murottal Al-Quran juga sangat bermanfaat. Bacaan surah dalam al-Qur’an yang dianjurkan antara lain: Al-Mursalat, Luqman, Al-Mulk, Ar-Rahman, Maryam dan bacaan sholawat. Intensitas musik atau murottal Qur’an yang direkomendasikan yaitu antara 50-60dB dan frekuensi 7-14 Hz. Hasil Penelitian membuktikan bahwa stimulasi antara musik klasik dan murotal Quran menunjukkan adanya perbedaan terhadap denyut jantung janin dan gerakan janin ibu hamil, sehingga mendengarkan murottal Qur’an lebih menghasilkan ketenangan. Lebih spesifik, perbedaan pengaruh stimulasi musik klasik dan murotal Qur’an terhadap denyut jantung janin pada ibu hamil trimester II dan III dengan nilai signifikansi p = 0,045 (signifikan). Sementara itu, terdapat perbedaan pengaruh stimulasi musik klasik dan murotal Qur’an terhadap gerakan janin pada ibu hamil trimester II dan III dengan nilai signifikansi pada post stimulasi sebesar p = 0,00, perbedaan yang sangat signifikan (Fatmawati, 2013).

Strategi menguatkan Ibu Hamil melalui Program Antenatal Care

Program antenatal care (ANC) dari WHO (WHO, 2016) dilaksanakan dalam rangka meningkatkan kesehatan ibu dan janin dalam kandungan melalui pemeriksaan dan intervensi yang terencana.  Program tersebut terdiri dari: (1) Pemeriksaan Kesehatan rutin untuk memantau kesehatan ibu dan janin; (2) Deteksi dini masalah kesehatan, yaitu dengan mengidentifikasi risiko dan komplikasi yang mungkin terjadi, seperti hipertensi atau diabetes gestasional. Penurunan risiko komplikasi obstetric, keguguran dan prematuritas. Selain itu, terdapat risiko berkaitan dengan kesehatan mental, seperti depresi post partum (Anissa et al., n.d.) dan bahkan kondisi psikotik setelah melahirkan (Sehar & Syed, 2023).

Cek kesehatan rutin dan deteksi diri risiko dan komplikasi membutuhkan pemeriksaan fisik dan laboratorium serta imunisasi.  ANC juga bertujuan  untuk pendidikan dan konseling serta dukungan psikososial. Ibu hamil perlu mendapatkan pengetahuan mengenai kehamilan, persalinan dn perawatan bayi.  Dalam hal dukungan perlu dicari sumber dukungan seperti dari suami, sehingga suami siaga dalam membantu istri saat hamil, menyediakan nutrisi yang baik untuk ibu hamil demikian pula terkait persalinan, suami perlu dilibatkan dengan segala kemungkinan yang terjadi. Pada akhirnya dukungan psikososial membuat ibu merasa aman, nyaman, dan secara mental merasa mendapatkan dukungan nyata (Kementrian Kesehatan, 2015).

Dukungan suami dan keluarga memiliki peran penting selama kehamilan. Ada perbedaan peran dukungan suami antara kelompok ibu hamil trimester ketiga yang tinggal dengan suami dan yang tidak tinggal dengan suami. Hal ini dikarenakan suami terhalang jarak dan waktu, sehingga hanya dapat memberikan dukungan kepada istrinya melalui telepon, dan memberikan dukungan finansial saja (Diani & Susilawati, 2013). Dukungan dari suami dan keluarga lainnya yaitu dukungan instrumental. Misalnya mengantar istri ke puskesmas, klinik atau rumah sakit, membelikan susu ibu hamil, dan melakukan pijatan pada istri yang sedang hamil. Dukungan emosional juga dapat berupa pemberian kenyamanan, ketenangan, tidak memancing keributan, dan memaklumi kondisi istri. Sedangkan dukungan penghargaan bisa  dalam bentuk rasa terima kasih sudah mengandung anak mereka berdua dan pujian karena merawat janin. Dukungan informasi dapat dilakukan dengan membelikan buku tentang kehamilan dan parenting. 

Program ANC perlu dilakukan secara holistik, mencakup semua dimensi dalam diri individu, baik fisik, mental, sosial, dan ditambah dengan spiritual. Hal ini sangat masuk akal karena saat ibu mengandung, akan ada risiko yang dapat mengancam pada diri dan janin. Oleh karena itulah, program ANC perlu ditambahkan dengan pendekatan spiritualitas, khususnya  religiusitas. Dalam al-Qur’an sudah jelas sekali panduannya mengenai parenting. Jika anak dimaknai sesuai dalam tuntunan Islam, maka ibu hamil akan lebih peduli pada janin. Manfaat murotal seperti paparan sebelumnya, ternyata lebih bermakna pengaruhnya dibandingkan musik klasik untuk menghasilkan ketenangan. Ibu hamil memang dianjurkan banyak berdoa agar mendatangkan ketenangan untuk diri maupun janin, baik untuk keselamatan diri maupun kondisi janin. Dengan memperdengarkan murotal, otomatis ibu terpapar dengan doa-doa.

Anak merupakan penerus generasi yang dimaknai sebagai amanah, menjadi penyejuk hati orang tua. Perintah agama untuk menjaga keluarga dari keburukan juga dapat memotivasi untuk merawat serta menumbuhkan tanggung jawab memberikan pendidikan sebaik-baiknya agar anak dapat berguna bagi agama dan negaranya. Rasa syukur akan muncul karena tidak semua orang tua diberi amanah memiliki anak. Anak terlahir dengan segala kelebihan dan kekurangannya yang patut untuk disyukuri. Keberadaan anak membuat orang tua memiliki harapan akan ada yang mendampingi dan mengurusi di hari tua kelak, agar anak tidak kesepian. Program ANC merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan pada ibu hamil, namun hendaknya juga dapat dilengkapi aspek spiritualitas agar upaya kesehatan ibu hamil menjadi lebih holistik.

Daftar Pustaka

Anissa, M., Rahmawati, R., & Riaty, Z. (2024). Depresi paska melahirkan. Scientific Journal, 3(4), 255–262. https://doi.org/10.56260/sciena.v3i4.156 

Diani, L. P. P., & Susilawati, L. K. P. A. (2013). Pengaruh dukungan suami terhadap istri yang mengalami kecemasan pada kehamilan trimester ketiga di Kabupaten Gianyar. Jurnal Psikologi Udayana, 1(1). https://doi.org/10.24843/JPU.2013.v01.i01.p01 

Fatmawati, E. (2013). Perbedaan pengaruh pemberian stimulasi antara musik klasik dan murotal terhadap denyut jantung janin dan gerakan janin pada ibu hamil trimester II serta III (Disertasi doktoral, Universitas Sebelas Maret). https://digilib.uns.ac.id/dokumen/detail/30537 

Hurlock, E. B. (2006). Psikologi perkembangan. Erlangga. https://library.ulb.ac.id/index.php?id=20061&keywords=&p=show_detail 

Kementerian Kesehatan RI. (2015). Pedoman pelayanan antenatal terpadu (Edisi kedua). Direktorat Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak, Direktorat Bina Kesehatan Ibu. https://platform.who.int/docs/default-source/mca-documents/policy-documents/guideline/IDN-MN-21-01-GUIDELINE-2015-ind-Guideline-of-Integrated-Antenatal-Service.pdf 

Raza, S. K., & Syed, R. (2023). Postpartum psychosis. In StatPearls. StatPearls Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK544304/ 

World Health Organization. (2016). WHO recommendations on antenatal care for a positive pregnancy experience. https://iris.who.int/bitstream/handle/10665/250800/WHO.RHR-16.12-eng.pdf?sequence=1