Syiar
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit
Pola pikir berkembang, performansi akademik dan spirit Islam
Mira Aliza Rachmawati
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Menjadi mahasiswa tentu saja berbeda dengan siswa pada saat duduk di bangku SMA. Pada saat masih SMA, siswa berada di zona nyaman, semua hal disiapkan oleh guru, guru akan mengejar siswa ketika mereka tidak mengumpulkan tugas, bahkan ada banyak remedial yang dilakukan pada saat siswa memiliki nilai kuis atau ujian yang rendah. Pada saat SMA, guru akan aktif dalam memberikan materi serta memberikan soal-soal latihan kepada siswa sampai siswa memahami materi tersebut; sedangkan sistem pembelajaran di perguruan tinggi (PT) sangat berbeda. Mahasiswa lebih banyak melakukan pembelajaran secara mandiri dan aktif serta banyak berkolaborasi dengan teman-temannya. Pertemanan yang terjadi di lingkungan kampus lebih luas, bukan hanya sebatas teman-teman di kelasnya, namun lintas angkatan maupun lintas jurusan, sehingga lingkungan yang didapatkan lebih heterogen. Masalah keuangan juga membuat mahasiswa harus lebih mampu mengatur sendiri keuangannya jika dibandingkan pada saat SMA dulu. Perbedaan situasi dan kondisi pada saat SMA ke PT menjadikan mahasiswa perlu melakukan adaptasi dengan baik. Apa yang sebaiknya dilakukan oleh mahasiswa baru? Mahasiswa perlu melakukan perubahan dalam cara belajar dan perubahan dalam cara berpikir.
Namun demikian, tidak semua mahasiswa baru mampu melakukan adaptasi dengan cepat terhadap perubahan yang harus dihadapi di perguruan tinggi. Euforia yang terjadi pada mahasiswa baru karena transisi dari siswa menjadi mahasiswa mafhum terjadi, sebab mereka merasakan lebih bebas dibandingkan ketika SMA. Jadwal perkuliahan yang lebih fleksibel (ketika SMA, setiap hari harus masuk dari pagi hingga sore) yang pada akhirnya mahasiswa memiliki waktu luang yang lebih banyak. Namun demikian, strategi pembelajaran yang dilakukan masih persis sama dengan pada saat SMA, dimana mereka masih menggunakan sistem belajar kebut semalam, lebih banyak mengandalkan catatan dibandingkan melakukan eksplorasi materi melalui sumber atau referensi yang dapat dipercaya. Tugas-tugas kampus diselesaikan mendekati deadline yang telah ditetapkan oleh dosen atau cenderung menunda mengerjakan tugas hingga batas waktu yang telah ditentukan (prokrastinasi). Di samping itu, pola pikir yang dimiliki oleh mahasiswa cenderung menggampangkan atau tidak melakukan latihan untuk memperkuat pemahaman serta tidak berani mencoba hal-hal baru yang harus dilakukannya. Berbagai fenomena ini menyebabkan mahasiswa mengalami kesulitan dalam melakukan adaptasi dari transisi yang dialaminya. Oleh karena itu, perlu kiranya mereka melakukan perubahan dalam cara belajar serta cara berpikirnya.
Growth Mindset dan Performansi Akademik
Cara berperilaku, bersikap, maupun berpikir setiap orang berbeda. Hal ini yang menyebabkan individu dalam menghadapi permasalahan memiliki pendekatan yang berbeda pula. Ada mahasiswa yang menghadapi permasalahan cenderung menyalahkan diri karena kebodohan yang dimilikinya, namun ada juga yang menjadikannya sebagai proses untuk mencari pengalaman. Salah poin penting yang dapat membantu mahasiswa agar memiliki performansi akademik yang optimal adalah mengubah cara berpikirnya. Dalam pendekatan psikologi, hal ini disebut dengan mindset. Mindset adalah pola pikir pada seseorang yang akan banyak menentukan seorang individu dalam bersikap, berperilaku maupun dalam pengambilan keputusan. Apa yang dilakukan oleh mahasiswa pada saat menerima tantangan dari lingkungannya? Ada yang merespon bahwa ia tidak mampu melakukannya, namun ada juga yang merespon bahwa dirinya mampu untuk melakukannya. Ketika individu merespon untuk tidak mau menerima tantangan tersebut dan cenderung menghindar serta menolaknya maka ada kemungkinan ia memiliki pola pikir yang menetap (fixed mindset), namun ketika ia menerima tantangan tersebut dan mau mencoba meskipun menurutnya berat untuk dilakukan maka ia memiliki pola pikir berkembang (growth mindset). Begitulah Carol Dweck menyebutnya, yaitu growth mindset dan fixed mindset.
Penelitian yang dilakukan oleh Dweck (2006) fokus pada bagaimana pola pikir individu akan mempengaruhi persepsi dan kemampuannya sehingga berdampak pada performansi individu serta mempengaruhi motivasi dan regulasi diri dari individu tersebut. Oleh karena itu, orang dengan pola pikir berkembang cenderung memiliki persepsi yang positif atas semua hal yang terjadi pada dirinya. Ia beranggapan bahwa kapasitas kognitif dan kemampuan yang dimiliki oleh individu berkembang melalui usaha yang dilakukan maupun ketekunan yang dimilikinya. Namun sebaliknya, orang dengan pola pikir tetap beranggapan bahwa kapasitas kognitif maupun kemampuan seseorang cenderung menetap dan tidak mungkin untuk dapat dikembangkan. Individu yang memiliki pola pikir berkembang cenderung memiliki pemikiran yang positif dan memiliki usaha yang tinggi serta usaha yang efektif pada saat mengalami kegagalan atau kesulitan. Oleh karena itu, ketika ia menghadapi aktivitas yang sulit, ia akan meningkatkan usaha dan daya juangnya yang pada akhirnya akan menghasilkan prestasi yang lebih banyak (Dweck & Legget dalam Haimovitz & Dweck, 2016). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kusworo dkk. (2024) memperoleh hasil bahwa growth mindset berkorelasi secara positif dengan prestasi akademik matematika pada siswa SMA. Oleh karena itu, seorang mahasiswa perlu memiliki pola pikir berkembang karena dengan pola pikir berkembang akan menyebabkan dirinya tidak terjebak dengan pikiran bahwa dirinya tidak mampu melakukan karena ia bodoh, malas, tidak mampu melakukan dan pikiran negatif lainnya. Pola pikir berkembang akan membuat mahasiswa bukan hanya fokus pada hasil, namun lebih menghargai proses yang ia lakukan sehingga ketika ia menemui kegagalan maka ia tidak akan putus asa namun hal ini akan membuatnya lebih tangguh dalam menghadapi tantangan yang sulit sekalipun, lebih tekun dalam menghadapi hambatan, selalu berusaha untuk mencobanya meski sulit, mau menerima umpan balik serta melihat keberhasilan orang sebagai bentuk inspirasi bagi dirinya untuk lebih berkembang kembali.
Growth Mindset dan Spirit Islam
Bagaimana Islam memandang growth mindset? Dalam Al Qur’an telah disebutkan bahwa konsep growth mindset identik dengan ajaran Islam.
إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS ar-Ra’d: 11)
Ayat tersebut memiliki makna yang dalam bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum jika kaum itu tidak mengubahnya sendiri, sehingga manusia memiliki kebebasan dalam mengubahnya melalui usaha yang ia lakukan sendiri.
Selain itu. dalam QS Ali Imran ayat 139:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
“Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin.” (QS Ali Imran: 139)
Berdasarkan tafsir Wajiz dijelaskan bahwa Allah memberikan motivasi bahwa janganlah bersedih akibat kegagalan yang dialaminya, dan janganlah merasa lemah dalam menghadapi musuh serta janganlah bersedih karena kekalahan yang dialaminya karena orang-orang beriman memiliki derajat paling tinggi. Hal ini menyiratkan bahwa seorang muslim tidak boleh merasa lemah dan bersedih apabila ditimpa kegagalan, namun orang muslim wajib memiliki semangat yang tinggi pada saat menghadapi kegagalan.
وَاَنْ لَّيْسَ لِلْاِنْسَانِ اِلَّا مَا سَعٰىۙ
“Bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS an-Najm: 39)
Bahwa manusia diharapkan melakukan ikhtiar atas segala aktivitas yang dilakukannya terutama bagi mahasiswa dalam kaitannya dengan akademik maupun profesional. Usaha yang dilakukan oleh manusia merupakan jalan untuk meraih kesuksesan, bukan hanya semata karena potensi bawaan yang dimilikinya. Usaha yang dilakukan oleh manusia merupakan bagian dari proses belajar yang harus dilakukannya sebab sebetulnya Allah akan melihat apa yang diupayakan oleh manusia bukan semata hasil. Oleh karena itu, diharapkan bahwa manusia aktif dalam mengupayakan semuanya melalui usaha yang dilakukan serta tentu saja untuk mendapatkan ridho dari Allah SWT.
Oleh karena itu, kaitan growth mindset dengan spirit islam bagi mahasiswa bahwa mahasiswa yang menentukan kehidupannya dalam akademik maupun profesional sebab nasibnya ditentukan oleh usaha yang dilakukannya. Selain itu, mahasiswa tidak boleh merasa lemah serta sedih berkepanjangan pada saat menerima kegagalan namun justru kegagalan sebagai sarana baginya untuk belajar dan berkembang untuk meraih kesuksesan di kemudian hari. Sebab apa yang diusahakan olehnya sebagai sebuah proses baginya untuk mengembangkan dirinya.
Upaya-upaya apa yang dapat dilakukan oleh mahasiswa untuk memiliki growth mindset adalah sebagai berikut. Kesatu, memiliki tujuan yang kuat dalam setiap aktivitas; baik akademik maupun profesional. Kedua, fokus pada usaha bukan hanya hasil akhir, proses merupakan bagian yang penting dalam setiap aktivitas yang dilakukannya. Ketiga, terima kegagalan sebagai sebuah proses, bukan dengan keputusasaan. Keempat, apabila gagal, jangan lekas putus asa, namun pahami penyebab kegagalannya dan pantang menyerah. Kelima, memiliki resiliensi yang tinggi yaitu segera bangkit kembali pada saat mengalami keterpurukan. Terakhir, niatkan bahwa segala aktifitas yang dilakukan sebagai sarana ibadah kepada-Nya dan mencari keridhoaan-Nya.
Referensi
Dweck, C. (2006). Mindset: changing the way you think to fulfill your potential. US: Random House.
Haimovits, K., & Dweck, C., S. (2016). What predicts children’s fixed and growth intelligence mind-sets? not their parents’ views of intelligence but their parents’ views of failure. Psychological Science OnlineFirst, published on April 25, 2016 as doi:10.1177/0956797616639727.
Kusworo, G. Z., Siska Adinda Prabowo Putri, S., A., P & Permitasari, R., A. I. (2024). Grit dan growth mindset dengan prestasi akademik matematika siswa luar pulau jawa. Jurnal Sublimapsi, 5(3), 348–355. https://doi.org/10.36709/sublimapsi.v5i3.7


