Syiar

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 23 Desember 2025

Mengembalikan peran laki-laki sebagai qawwam

Muhammad Novvaliant Filsuf Tasaufi
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Perubahan sosial dan budaya saat ini memberikan konsekuensi yang sangat luas, termasuk di antaranya terkait dengan peran laki-laki dan perempuan. Dahulu, laki-laki berperan sangat dominan dan menguasai, bahkan memandang rendah perempuan sehingga perempuan dilarang untuk beraktivitas di ruang publik. Seiring dengan perkembangan zaman, peran wanita saat ini semakin luas. Kemampuan perempuan dalam beradaptasi di dua dunia; baik itu di ranah domestik maupun publik, menjadi nilai tambah sehingga dapat menjalani berbagai peran dengan optimal yang bahkan mampu melebihi laki-laki. Berbagai sektor publik saat ini juga sudah didominasi oleh perempuan, seperti dunia kesehatan, pendidikan, industri terutama tekstil, bidang pelayanan dan masih banyak lagi. 

Kemampuan wanita yang multitasking ini ternyata tidak serta merta membuat laki-laki merasa tersaingi. Alih-alih merasa tersaingi, banyak laki-laki yang kemudian merasa terbuai dan mendapatkan angin segar sehingga merasa tidak perlu “berjuang” lagi dalam kehidupan. Salah satu realita yang cukup miris adalah saat penulis memberikan pertanyaan pada seorang siswa SMK/SMA terkait dengan rencananya setelah lulus sekolah. Jawabannya adalah dengan menikah, lalu menyuruh istrinya untuk menjadi TKW dan penulis tinggal menikmati uang kiriman tiap bulan dari istrinya. Ada istilah khusus untuk laki-laki dengan karakter seperti ini namun terlalu kasar untuk dituliskan, namun bermakna laki-laki yang tidak mau berusaha, berkorban dan memiliki mental gratisan. Pada level yang lain, banyak laki-laki yang mensyaratkan pasangan istrinya memiliki pekerjaan yang lebih mapan dibandingkan dirinya, seperti pekerjaan istri harus dokter atau PNS, dimana posisi laki-lakinya jauh dari pekerjaan itu.  Perilaku semacam ini dapat membuat hubungan menjadi bersifat transaksional terlebih lagi jika memiliki peran sebagai ayah dan suami. Peran laki-laki menjadi tidak bermakna, tidak signifikan dan tidak berharga.

Padahal, kegagalan laki-laki dalam menjalankan peran sebagai suami dan ayah memiliki dampak yang sangat signifikan pada kehidupan istri dan anak. Maraknya gangguan mental dan kehilangan arah pada remaja tidak bisa lepas dari hilangnya peran ayah. Banyak remaja mengalami kecemasan, depresi, perilaku bermasalah serta berisiko (seks bebas hingga bunuh diri) bahkan kebingungan identitas (sebagai laki-laki atau perempuan) yang jika ditelusuri lebih lanjut berhubungan dengan sosok ayah yang kabur atau bahkan tidak ada. Parahnya lagi, anak laki-laki dengan peran ayah yang kurang, dapat meneruskan perilaku bermasalah ini pada generasi selanjutnya sehingga menjadi lingkaran setan lintas generasi yang sulit untuk diselesaikan. Sebagai tambahan, Indonesia dianggap sebagai negara nomor tiga sebagai fatherless country.

Islam sejak awal sudah mengatur terkait dengan peran laki-laki dan perempuan sehingga memberikan perlakuan yang berbeda dengan tujuan agar laki-laki dapat menjalankan perannya dengan optimal. Laki-laki dalam Islam dituntut dengan tanggung jawab yang besar dimana perempuan merupakan tanggung jawabnya. Bahkan dosa yang dilakukan oleh perempuan dapat menjadi tanggung jawab laki-laki yang akan ditanyakan di hari akhir nanti.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (QS An Nisa 34)

Dalam tafsir Ibnu Katsir, makna “qawwam” adalah pemimpin yang bermakna bahwa laki-laki merupakan penyangga, pemimpin, sayyid serta hakim apabila wanita itu bengkok. Redaksi setelahnya menyebutkan bahwa bagi laki-laki terdapat beban finansial yang wajib karena Allah perintahkan dalam alquran maupun sunnah Rasulullah. Jelas dengan terang benderang bahwa laki-laki memiliki tanggung jawab yang sangat besar atas perempuan. Sangat berbeda dengan realita zaman sekarang dimana banyak laki-laki yang tidak bertanggung jawab karena tidak bisa menjalankan perannya sebagai laki-laki.

Lalu bagaimana agar peran laki-laki di era modern ini bisa kembali menjadi qawwam? Terlebih lagi berhadapan dengan lingkungan yang membuat peran laki-laki menjadi semakin kabur serta daya tarik untuk melepaskan tanggung jawab dengan gaya hidup sebebas-bebasnya. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar laki-laki agar tetap bisa menjalankan perannya sebagai laki-laki, antara lain :

Pertama, memahami dan menerima kembali dirinya. Laki-laki harus sudah selesai dengan identitas dirinya, tidak lagi dibuyarkan dengan pertanyaan, “aku ini laki-laki atau perempuan?” Secara fisik laki-laki, maka cukup jelas bahwa dirinya laki-laki. Jika terdapat masalah, maka dapat berkonsultasi dengan profesional yang bisa mengarahkan pada kebaikan, bukan membuat semakin bingung dengan konsep yang tidak jelas seperti spektrum gender yang bahkan dalam satu jenis kelamin, individu bisa mengidentifikasikan dengan banyak gender. Perlu profesional yang bisa memahamkan bahwa sejatinya diri ini adalah manusia, bukan siput laut yang bersifat hermafrodit. Selain itu, laki-laki perlu meningkatkan pengetahuan terutama agama yang telah banyak mengatur tentang hak dan kewajiban sebagai laki-laki dan perempuan. 

Kedua, memaknai kembali arti kata “qawwam”. Banyak laki-laki yang sering menyalahartikan makna “qawwam” sebagai pemimpin yang berarti bisa menguasai. Konsekuensinya adalah menciptakan relasi kuasa yang pada akhirnya menimbulkan peran patriarki yang beracun. Laki-laki dianggap punya kekuasaan absolut sehingga perempuan bisa diperlakukan dengan semena-mena, padahal ajaran islam jauh dari kata tersebut. Makna “qawwam” bermakna pemimpin yang memiliki konsekuensi untuk menafkahi dengan tanggung jawab untuk melindungi perempuan agar tercipta rasa aman dan nyaman serta mendidik dengan keteladanan dan kesabaran. Kata kuncinya adalah, laki-laki perlu memahami terkait dengan tanggung jawabnya sebagai laki-laki sehingga pembelajaran mengenai tanggung jawab dapat dilakukan sedini mungkin sejak masih masa kanak-kanak. 

Ketiga, meningkatkan tanggung jawab. Salah satu isu utama laki-laki adalah tanggung jawab. Maka seorang laki-laki perlu memahami apa yang menjadi tanggung jawabnya dengan berbagai macam peran yang dijalani, seperti sebagai anak, suami, ayah, mahasiswa, pekerja, hamba Allah, dan sebagainya. Memang tanggung jawab terasa berat, namun di situlah letak perjuangannya. Sejak zaman prasejarah, laki-laki diciptakan untuk berjuang dan menjadi provider. Laki-laki sejati dekat dengan yang namanya pengorbanan. Cerita epik perjuangan, pengorbanan dan kepahlawanan dekat dengan jiwa laki-laki yang tidak takut kehilangan nyawa sekalipun, apalagi hanya dengan sengatan matahari, debu jalanan, dan peluh keringat. 

Ketiga hal di atas diharapkan bisa menjadi kompas penunjuk agar kali-laki tidak kehilangan identitas dan jati dirinya di tengah tantangan perubahan zaman modern yang membuat tujuan hidup menjadi kabur dan samar. Harapannya, jika laki-laki dapat mengerti dan menjalankan perannya sebagai “qawwam”, maka sejumlah permasalahan krusial bisa terselesaikan, seperti setiap anak atau remaja sudah mengerti apa yang menjadi tujuan hidupnya, masalah kesehatan mental yang berkurang serta wanita yang bisa selalu merasa aman dan nyaman dalam menjalankan berbagai perannya. 

Wallahu a’lam bishshowab