Syiar
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025
Mengapa Rasulullah ﷺ menjaga pola makan? dalam pencernaan yang sehat, terdapat mental yang sehat
Hepi Wahyuningsih
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Hari ini, kita seringkali menyaksikan banyak remaja yang mengalami permasalahan kecemasan, stres, gangguan mood, dan bahkan ada yang berakhir dengan bunuh diri. Banyak orang mengira kasus-kasus tersebut disebabkan karena dampak dari akses ke sosial media yang berlebihan atau permasalahan keluarga. Mungkin baru sebagian kecil dari kita yang mulai menyadari bahwa permasalahan tersebut dapat juga berawal dari pola hidup dan pola makan yang buruk. Kemajuan teknologi telah membawa Sebagian remaja kita pada pola hidup “mager”. Bahkan sekarang ada istilah “kaum rebahan”, istilah yang digunakan untuk menggambarkan mereka yang sepanjang hari tidak melakukan aktivitas fisik, mereka rebahan tenggelam bersama gadget mereka, jika lapar mereka tinggal pencet hp, maka makanan akan datang.
Hasil-hasil penelitian yang telah dipublikasikan menunjukkan bahwa duduk yang terlalu lama berkaitan dengan kenaikan risiko kematian. Perilaku sedentari seperti duduk bekerja di depan komputer, menonton TV, bermain game, berkendara, duduk lama saat belajar/rapat, atau scrolling ponsel dalam posisi duduk/berbaring berkaitan dengan risiko depresi. Selain itu juga ada hubungan positif antara jumlah waktu duduk dan kecemasan. Berkaitan dengan pola makan yang buruk, hasil-hasil penelitian menunjukkan bahwa tingginya konsumsi ultra-processed food (UPF) menyebabkan terganggunya sistem pencernaan kita yang kemudian berdampak pada berbagai masalah kesehatan, termasuk gangguan mental secara umum seperti kecemasan dan depresi.
Berdasarkan hasil-hasil temuan penelitian di atas menunjukkan betapa buruknya dampak UPF terhadap kesehatan pencernaan kita yang pada gilirannya akan berdampak pada kesehatan mental kita. Seperti apakah UPF (Ultra-Processed Food) itu? Berdasarkan keterangan dari berbagai sumber di internet, makanan UPF (Ultra-Processed Food) adalah makanan yang diolah di pabrik dengan melalui banyak tahap proses pembuatan dan telah mendapat berbagai campuran bahan tambahan kimiawi, sehingga penampakkannya sudah berbeda jauh dari bentuk aslinya. Biasanya, berbagai bahan kimia juga ditambahkan seperti pengawet, pewarna, pemanis buatan, penstabil, dan penyedap rasa. Contoh yang sering kita temui adalah mie instan, sosis, nugget, roti kemasan, minuman kemasan, dan berbagai camilan dalam kemasan. Makanan UPF ini akan membuat sistem pencernaan kita bekerja keras, karena sistem pencernaan kita didesain oleh Allah hanya untuk mencerna makanan yang alami atau real food. Jika ini terjadi secara terus menerus, tentu saja dapat menjadikan sistem pencernaan kita menjadi tidak sehat.
Tuntunan untuk makan makanan yang baik atau berkualitas, telah lama diajarkan dalam ajaran Islam. Hal ini dapat kita lihat dalam Al-Qur’an, dimana Allah secara langsung menyuruh seluruh umat manusia untuk makan makanan yang halal dan ṭayyib. “Wahai manusia! Makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, dia musuh yang nyata bagimu.” (QS Al-Baqarah [2]:168). Ibn Katsir menjelaskan bahwa perintah ini mencakup yang halal secara syar‘ī dan yang baik (ṭayyib) adalah yang menyenangkan, tidak menjijikkan, serta tidak membahayakan tubuh maupun akal.
Berkaitan dengan ayat tersebut Rasulullah ﷺ juga bersabda: “Wahai manusia! Sesungguhnya Allah itu Ṭayyib (Maha Baik, Maha Suci) dan tidak menerima kecuali yang Ṭayyib. Allah memerintahkan orang-orang beriman sebagaimana Dia memerintahkan para rasul: ‘Wahai para rasul! Makanlah dari yang baik-baik dan beramallah saleh; sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’ (QS Al-Mu’minūn [23]:51). Dan Dia berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari yang baik-baik yang telah Kami rezekikan kepada kalian.’ (QS Al-Baqarah [2]:172).” Beliau kemudian menyebut seorang musafir yang rambutnya kusut berdebu, menengadahkan tangan seraya berdoa “Ya Rabb!”, namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi makan dari yang haram—“maka bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim no. 1015).
Para ulama seperti Imam Nawawi menjelaskan bahwa perintah makan dari makanan yang baik/bersih dan melakukan amal saleh menunjukkan adanya keterkaitan antara asal-usul rezeki dengan kualitas ibadah seseorang. Terkait dengan tema artikel ini, dapat dikatakan bahwa kualitas ibadah seseorang dapat juga menjadi cerminan kualitas diri seseorang baik fisik maupun mental spiritual.
Dalam keseharian, Rasulullah ﷺ juga mencontohkan gaya hidup yang mendukung kesehatan pencernaan, seperti makan perlahan dengan kesadaran dan rasa syukur (dalam dunia modern saat ini sering disebut mindful eating), dimulai dengan membaca basmallah atau kalau terlupa, juga diajarkan doanya, makan dari yang paling dekat dengan kita, tidak mencela makanan, makan tidak berlebihan (cukup beberapa suap atau maksimal sepertiga dari perut kita), memilih makanan yang berkualitas atau yang sekarang dikenal dengan real food seperti kurma, susu kambing, daging kambing, madu, gandum utuh, atau zaitun. Dalam keseharian, beliau juga sering berpuasa seperti puasa Senin-Kamis, puasa Daud, puasa tiga hari di setiap pertengahan bulan (ayyām al-bīḍ), dan bahkan saat di pagi hari Rasulullah ﷺ tidak mendapati makanan, maka beliau kemudian akan berpuasa. Dalam dunia kedokteran modern saat ini, ditemukan bukti bahwa puasa memiliki banyak manfaat, salah satunya adalah untuk mendukung kesehatan pencernaan kita.
Dengan demikian, secara jelas kita dapat melihat bahwa betapa pentingnya makanan bagi kita sampai ajaran Rasulullah ﷺ tentang pola makan yang begitu lengkap dan detail. Ajaran pola makan Rasulullah ﷺ bukan sekadar tuntunan agama, melainkan juga pedoman bagi kita untuk menjaga kesehatan tubuh dan kesehatan mental kita. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan saat ini, ajaran dan pola makan Rasulullah ﷺ terbukti secara ilmiah dapat menjaga kesehatan pencernaan. Dengan mengikuti sunnah atau ajaran Rasulullah ﷺ mengenai pola makan benar, maka kita akan memiliki pencernaan yang sehat, sehingga kita dapat terhindar dari kecemasan, depresi, ataupun terhindar dari brain fog. Semoga Allah mudahkan kita untuk mengikuti sunah-sunah Nabi Muhammad ﷺ, āmīn yā rabb al-’ālamīn..



