Syi’ār
Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 20 Desember 2025
Mengajari Anak Meminta Maaf
Fuad Nashori
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia
Sikap dan perilaku meminta maaf perlu dibiasakan sejak dini. Bila sudah diajarkan sejak dini, anak akan belajar dan memahami situasi yang menuntut mereka harus minta maaf. Anak juga akan belajar mengungkapkan perasaan dan tidak memendam masalah, sesuatu yang penting untuk membuat kesehatan mental mereka terjaga. “Dik, kakak minta maaf ya. Kue bolu milikmu kakak ambil. Soale tadi pas pulang dari sekolah perutku lapar banget.”
Demikian penggalan percakapan Bunda Syamila, 33 tahun, yang sedang mengajarkan cara meminta maaf kepada si sulung Fadil. Masih dalam panduan sang Bunda, Fadil pun mengulurkan tangan dan menunggu sambutan tangan adiknya. Bunda Syamila pun pun sigap menyuruh Refa untuk segera menyambut uluran tangan sang kakak meski dengan wajah cemberut.
Kebiasaan meminta maaf memang suatu hal yang perlu untuk diajarkan agar anak anak kita tumbuh sebagai individu yang menghargai orang lain, dan dapat diterima oleh lingkungannya. Mengajarkan anak meminta maaf ketika dia melakukan kesalahan adalah tindakan yang sangat penting. Dengan mengajari meminta maaf berarti mendidik mereka untuk mempunyai sikap tanggung jawab terhadap tindakan yang telah dilakukannya.
Rasulullah Mengisyaratkan Sahabat untuk Meminta Maaf
Sudah umum kita pahami bahwa orangtua yang baik adalah mereka yang terlibat langsung dalam pendidikan dan pengasuhan anak-anak mereka. Rasulullah menunjukkan peran penting pengajaran akhlak dan adab yang baikbdari orangtua kepada anak-anak. Hal ini sebagaimana dapat kita pahami dari hadis-hadis Nabi berikut ini:
عن جابر بن سمرة رضي الله عنه قال قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم لأنْ يُؤَدِّبَ الرجلُ وَلَدَه خيرٌ من أن يتصدق بصاع أخرجه الترمذي
Artinya: “Dari sahabat Jabir bin Samurah RA, Rasulullah SAW bersabda, ‘Pengajaran seseorang pada anaknya lebih baik dari (ibadah/pahala) sedekah satu sha’” (HR At-Tirmidzi).
عن أَيُّوبَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا خَيْرًا لَهُ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ
Artinya: “Dari Ayyub bin Musa, dari bapaknya, dari kakeknya, Rasulullah SAW bersabda, ‘Tiada pemberian orang tua terhadap anaknya yang lebih baik dari adab yang baik’” (HR At-Tirmidzi).
Para sahabat pun -sebagaimana manusia biasa- diajari Rasulullah untuk membersihkan dosa atas kesalahannya kepada sahabat yang lain. Dalam suatu aktivitas bersama, para sahabat Rasulullah berkumpul untuk membicarakan strategi perang, Abu Dzar al-Ghifari mengusulkan, “Menurut saya, sebaiknya pasukan Islam melakukan ini dan itu (seraya mengemukakan usulannya)”. Bilal bin Rabah menyanggah usulan itu dengan mengatakan, “Usul Anda kurang strategis.”
Abu Dzar al-Ghifari tidak terima pendapatnya disanggah Bilal karena bagaimanapun menurutnya Bilal adalah mantan budak sehingga ia marah dan berkata, “Kamu berani menyanggah usulku wahai anak budak hitam?”
Bilal tersinggung mendengar perkataan Abu Dzar. Ia berkata kepada Abu Dzar, “Sungguh, aku akan melaporkanmu pada Rasulullah.”
Bilal menemui Rasulullah dan mengadu, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mendengar apa yang dikatakan Abu Dzar kepada saya?” Rasulullah bertanya, “Apa yang dikatakan Abu Dzar kepadamu?” “Dia menyebut saya anak perempuan hitam!” kata Bilal.
Mendengar hal itu, Rasulullah marah dan memanggil Abu Dzar untuk datang ke masjid. Sampai di masjid, Abu Dzar mengucapkan salam dan dijawab oleh Rasulullah, kemudian beliau bertanya, “Wahai Abu Dzar! Benarkah kamu menghina ibu Bilal? Sungguh, dalam dirimu masih ada perilaku jahiliyah.”
Abu Dzar menyesal, menangis, dan meminta maaf pada Rasulullah SAW dan memohon pada Rasulullah agar diampuni oleh Allah SWT. Abu Dzar keluar dari masjid dalam keadaan menangis dan menemui Bilal.
Di dekat Bilal, Abu Dzar meletakkan pipinya di atas tanah seraya berkata, “Sungguh, aku tidak akan mengangkat kedua pipiku sebelum engkau menginjaknya agar kau memaafkanku.”
Bilal mendekati Abu Dzar, mengangkat kepalanya dari tanah dan memeluknya seraya berkata, “Anda lebih mulia dari saya.” Keduanya berpelukan, saling memaafkan diiringi deraian air mata.
Hadis Nabi Muhammad SAW di atas menjadi dasar bagi orangtua, baik untuk diterapkan pada diri sendiri maupun untuk diajarkan kepada anak-anaknya, untuk meminta maaf apabila melakukan pelanggaran atas hak-hak orang lain.
Bukan Tindakan yang Mudah
Bagi sebagian anak, meminta maaf bukan tindakan yang mudah untuk mereka lakukan. Terkadang anak akan merasa enggan meminta maaf, apalagi kepada teman atau adiknya. Namun demikian, orangtua harus tetap mendorong buah hatinya supaya dia tetap mau melakukannya.
Salah satu hal lazim yang dilakukan ketika hari lebaran tiba adalah meminta maaf. Anak-anak sudah dibiasakan sejak kecil oleh orangtuanya untuk bersalam-salaman saling memaafkan di antara keluarga, saudara dan teman-temannya. Tentu saja anak-anak kita juga perlu dibiasakan untuk menyampaikan permintaan maaf di luar lebaran. Dia luar lebaran, tantangannya justru lebih besar. Hal ini karena seseorang berjuang untuk minta maaf secara mandiri. Sementara di saat lebaran anak terkondisikan dengan suasana batin di mana semua orang meminta maaf dan memaafkan.
Salah satu pertanyaan yang patut diajukan: sejak kapan sebaiknya anak diajarkan untuk meminta maaf? Menurut saya, tidak ada batasan usia kapan kebiasaan meminta maaf perlu diajarkan kepada anak-anak. Bahkan, sejak dalam kandungan pun, anak dapat merasakan yang dilakukan orang tua, terutama sang ibu. Kondisi mental orangtua yang mudah memaafkan saat anak dalam kandungan, tentu akan memberi pengaruh terhadap kondisi mental anak. Bila sang ibu diliputi keinginan dan perilaku membina hubungan baik, menyesali perbuatannya yang tidak mengenakkan orang lain, dan menyampaikan permintaan maaf, maka anak dalam kandungan sudah dapat merasakan apa yang dirasakan sang bunda. Pelepasan rasa bersalah dengan meminta maaf akan menghadirkan kelegaan dalam diri sang bunda. Hal ini tentu berpengaruh terhadap kondisi mental dan moral sang ananda.
Pada usia tahun pertama, saat anak sudah dapat mendengar dan melihat yang ada di sekelilingnya, buah hati dapat melihat perilaku meminta maaf dan memaafkan yang dilakukan oleh orangtuanya. Bukan hanya orangtua, saudara-saudara dan orang lain yang ada di sekitar mereka juga turut memengaruhi bagaimana dia akan bertanggung jawab terhadap hal yang sudah dilakukannya. Orangtua perlu menyadari sepenuhnya bahwa apa yang dilakukannya akan direkam dalam ingatan anak dan akan ditiru oleh anak-anaknya. Kesadaran bahwa apa yang dilakukannya menjadi acuan bagi anak-anaknya yang sedang tumbuh kembang akan mengantarkan orangtua untuk mempraktikkan permintaan maaf apabila melakukan kesalahan atau pelanggaran.
Lepas dari masa bayi dan menginjak usia dua tahun, anak mulai berinteraksi sosial dengan teman-teman dan saudara-saudaranya. Anak- anak suka memegangi dan mempermainkan barang-barang yang bukan miliknya. Sebagai contoh, anak merebut mainan kakak atau anak lain. Dalam situasi seperti di atas, orangtua dapat mengajarkan anak untuk meminta maaf atas perilaku kurang baik itu.
Memasuki usia tiga sampai lima tahun, orangtua harus bekerja lebih keras. Pasalnya, anak memasuki fase temper tantrum, artinya anak suka berbuat seenaknya, ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah. Memasuki tahap ini, biasanya anak tidak mau meminta maaf sekalipun orangtua berkali-kali me minta kepada anak. Bahkan semakin dipaksa semakin tidak mau.
Di usia-usia selanjutnya, orangtua akan lebih mudah mengajarkan permintaan maaf bila di fase sebelumnya orangtua telah konsisten mengajarkan dan meneladankan permintaan maaf.
Perlu Empati Orangtua
Orangtua tidak boleh kehilangan akal untuk menyiasati keadaan seperti ini. Orangtua di satu sisi tidak perlu memaksakan dan di sisi lain mencoba berempati kepada anak. Pahami di balik sikap penolakan anak untuk minta maaf. Sebab, anak memang sedang berusaha menunjukkan identitas diri dengan mengatakan tidak. Anak merasa dirinya hebat dan pantas dihargai bila berani berkata tidak. Kalau akhirnya anak tidak mau meminta maaf, sebaiknya diingatkan untuk meminta maaf di lain kesempatan.
Ketika anak memasuki usia lima tahun ke atas, usaha orangtua mengajari anak memaafkan lebih mudah. Orang tua cukup menasihati untuk meminta maaf dengan tutur bahasa tidak mempermalukan.
Orangtua juga perlu mengajarkan prinsip-prinsip agama bagi orang yang beriman. Orangtua mengajarkan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk meminta maaf apabila melakukan kesalahan. Orangtua perlu membiasakan semangat agama untuk setiap hal yang mereka lakukan dan tidak mereka lakukan. Di sini orangtua mengajarkan anak bahwa kebaikan yang mereka praktikkan adalah bentuk ketaatan mereka kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Salah satunya adalah permintaan maaf, selain ajaran lain dalam agama yang mereka anut.
Demikian. Bagaimana menurut Anda?


