Syiar

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 22 Desember 2025

Makna syukur dan ridha dalam birrul walidain: Menemukan keseimbangan antara cinta, karir, dan doa

Nur Pratiwi Noviati
Dosen Fakultas Psikologi,  Universitas Islam Indonesia

Di tengah kesibukan dunia kerja modern saat ini yang menuntut waktu, tenaga, dan mobilitas yang tinggi, banyak anak merasa terjebak antara dua tanggung jawab besar, yaitu menjalani karir yang profesional dan tetap berbakti kepada orang tua. Pada situasi ini pemaknaan terhadap berbakti kepada orang tua (birrul walidain) seringkali dihadapkan pada dilema keseimbangan antara cinta keluarga dan tuntutan kehidupan. Kondisi ini menuntut perlu adanya adaptasi yang dilakukan secara dinamis dengan realitas sosial-ekonomi kontemporer, yang memadukan nilai-nilai tradisional dengan pendekatan modern. Masyarakat dapat mengembangkan model pengasuhan terhadap orang tua yang berkelanjutan dan suportif dengan menghargai masa lalu dan masa kini.

Islam memandang birrul walidain bukan sekedar kewajiban sosial, melainkan bentuk ibadah sepanjang hayat. Seorang anak yang telah mandiri tetap memikul amanah moral menjaga hubungan dengan kedua orangtuanya melalui kasih sayang, perhatian dan doa. Oleh karena itu, di dalam pandangan ini bekerja keras untuk mencapai keberhasilan juga dapat dimaknai sebagai jalan berbakti asalkan berdasar pada niat yang tulus dan rasa syukur atas ridha orang tua.

Birrul Walidain sebagai Kewajiban Sepanjang Hayat

Berbakti kepada kedua orang tua merupakan salah satu ajaran paling mendasar dalam Islam. Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an di surat Al-Isra ayat 23-24 yang berisi perintah untuk hanya menyembah-Nya dan juga berbuat baik pada kedua orang tua terutama jika mereka sudah lanjut usia. Selain itu juga terdapat perintah untuk selalu berkata baik dan tidak berkata kasar kepada orang tua, meskipun mengucapkan kata “ah”.  Berikutnya, dijelaskan pula bahwa seorang anak harus bersikap rendah hati dan menunjukkan kasih sayang kepada orang, serta berdoa memohon kepada Allah SWT agar mengasihi mereka.

Ayat tersebut menegaskan bahwa birrul walidain merupakan perintah Allah SWT yang menandakan betapa mulianya kedudukan orang tua. Kewajiban ini tidak pernah berakhir, meskipun anak telah menikah atau meraih kesuksesan secara finansial. Bentuk bakti yang ditunjukkan bisa saja berubah menyesuaikan kondisi yang dimiliki oleh anak, misalnya dari ketergantungan menjadi kepedulian, dari bentuk bantuan materi menjadi perhatian emosional. Namun makna dasarnya tetap sama yaitu menghadirkan kebaikan untuk kedua orang tua.

Di dalam hadits Nabi Muhammad SAW menyampaikan bahwa “Ridha Allah berada pada ridha kedua orang tua. Sedangkan murka-Nya berada pada murka keduanya” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim) (Kurniawan, 2022). Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa ridha orang tua tidak hanya sekedar restu formal, namun juga sebagai energi spiritual yang membawa keberkahan dalam mendapatkan rezeki serta ketenangan dalam menempuh karir. Seorang anak yang menjalani karir dengan niat untuk bisa turut membahagiakan orang tua maka akan merasakan rezeki itu tidak hanya berupa materi, namun juga mendapatkan kelapangan hati dan kesuksesan yang bernilai ibadah. 

Rasa Syukur dan Kesejahteraan Psikologis

Rasa syukur secara konsisten dikaitkan dengan kesejahteraan psikologis yang lebih baik di berbagai kelompok usia (Bali et al., 2022; Layous, 2020; Li et al., 2025; Măirean et al., 2019). Kondisi afektif positif yang ditimbulkan oleh rasa syukur dapat memediasi hubungan antara sifat rasa syukur dan kesejahteraan psikologis (Măirean et al., 2019). Pada konteks pembahasan ini maka dapat dikatakan bahwa individu yang bersyukur atas kesempatan berbakti sekecil apapun bentuknya, maka akan memiliki tingkat kepuasan hidup, makna karier, serta ketenangan batin yang lebih tinggi. 

Pada konteks birrul walidain, rasa syukur tidak hanya diucapkan namun dapat diwujudkan dalam tindakan seperti mendoakan orang tua setiap hari, mendengarkan cerita orang tua, ataupun memberi kabar baik secara tulus. Peran hubungan yang suportif antara orang tua dan anak dapat meningkatkan rasa syukur itu sendiri, yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan keduanya (Nourialeagha et al., 2020; Obeldobel & Kerns, 2021). Setiap wujud dari rasa syukur dapat dijadikan sumber rasa bahagia bersama.

Islam mengajarkan untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab dan kemampuan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an di surat Al-Baqarah ayat 286 yang menegaskan bahwa Allah tidak memberikan beban atau ujian pada manusia di luar batas kemampuannya. Ayat ini menyampaikan bahwa jika ingin melakukan suatu kebaikan itu sebenarnya mudah (Lubis, 2024). Maka dari itu yang perlu dipahami adalah berbakti pada orang tua tidak berarti mengorbankan kesehatan mental atau menanggung beban finansial berlebihan. Namun sebaliknya, birrul walidain yang ikhlas akan dapat menumbuhkan kedewasaan dimana anak akan belajar memberi sesuai kemampuan dan orang tua belajar untuk menerima dengan penuh kasih. Di sinilah letak keindahan spiritual yang bisa dilihat dari hubungan antara orang tua dan anak yang dewasa.

Reinterpretasi terhadap Nilai Birrul Walidain di Era Modern

Di era modern saat ini konsep boundaryless career semakin meluas penerapannya dimana seseorang dapat bekerja lintas lokasi dan waktu (Guan et al., 2019; Wiernik & Kostal, 2019), maka birrul walidain perlu dimaknai secara kontekstual. Anak yang bekerja jauh akan tetap bisa berbakti melalui komunikasi rutin baik secara langsung maupun digital untuk memastikan kesejahteraan orang tua. Bentuk bakti juga tidak hanya dalam bentuk transfer uang, namun juga dapat berupa kehadiran emosional melalui mendengarkan keluh kesah orang tua, serta mendoakan kebaikan kedua orang tua sehari-hari. Kesetian emosional ini akan menjadi nafkah batin yang sering kali lebih memberikan makna dibandingkan dengan bantuan materi. 

Setiap tindakan kebaikan seorang anak yang bersumber dari didikan orang tua merupakan bentuk amal jariyah yang berkelanjutan bagi orang tuanya. Praktik pengasuhan yang efektif, termasuk kehangatan, bimbingan, dan investasi yang tepat pada anak, sangat penting bagi perkembangan mereka menjadi manusia yang berbudi luhur (Abdullah et al., 2023; Human-Hendricks et al., 2021; Park & Walton-Moss, 2012). Ketika anak dapat bekerja dengan menjaga etika, bersikap jujur, serta memberi manfaat bagi banyak orang, maka Insya Allah pahala kebaikan akan mengalir juga kepada orang tuanya. Bekerja dengan niat lillahi ta’ala dan menjaga integritas akan menjadi bentuk nyata birrul walidain yang melampaui ruang dan waktu. 

Seorang muslim profesional akan berupaya menjaga keseimbangan antara capaian karier dan menjaga hubungan baik dengan keluarga, sebagai sumber . Hubungan orang tua-anak yang harmonis, sebagaimana dianjurkan oleh birrul walidain, berkorelasi positif dengan kesuksesan karir dan kesejahteraan secara keseluruhan. Ketika prinsip-prinsip ini diintegrasikan ke dalam tempat kerja maka akan mendukung tanggung jawab keluarga dan meningkatkan kinerja individu (Ahyani et al., 2024).

Birrul walidain merupakan cermin keseimbangan antara cinta, karir, dan doa. Bakti kepada kedua orang tua bukanlah sebagai beban, namun sebagai bentuk rasa syukur dan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Saat anak bekerja keras dengan niat baik meraih ridha Allah SWT dan tetap menjaga hubungan hangat dengan orang tua maka karirnya tidak hanya sebagai perjalanan duniawi, namun Insya Allah akan menjadi amal jariyah yang mengalirkan keberkahan. Di era modern yang serba cepat ini semoga setiap aktivitas profesional kita selalu disertai niat untuk membahagiakan orang tua, agar nantinya ridha mereka menjadi jembatan menuju ridha Allah SWT. Aamiin.

Referensi

Abdullah, N., Sabri, M. F., Suhaimi, S. S. A., Ithnin, M., & Magli, A. S. (2023). The Moderating Effect of Household Income on the Determinants of Parental Contribution to Children in Malaysia. Malaysian Journal of Consumer and Family Economics. https://www.scopus.com/pages/publications/85163586582?origin=scopusAI

Ahyani, H., Putra, H. M., & Sofanudin, A. (2024). Birrul Walidain in Political Preferences: Harmonizing Family Values and Employment Law in Indonesia. El-Usrah, 7(2), 923–945. https://doi.org/10.22373/ujhk.v7i2.22982

Bali, M., Bakhshi, A., Khajuria, A., & Anand, P. (2022). Examining the Association of Gratitude with Psychological Well-Being of Emerging Adults: The Mediating Role of Spirituality. Trends in Psychology, 30(4), 670–687. https://doi.org/10.1007/s43076-022-00153-y

Guan, Y., Arthur, M. B., Khapova, S. N., Hall, R. J., & Lord, R. G. (2019). Career boundarylessness and career success: A review, integration and guide to future research. Journal of Vocational Behavior, 110, 390–402. https://doi.org/10.1016/j.jvb.2018.05.013

Human-Hendricks, A., Schenck, C., & Roman, N. V. (2021). The Fundamentals to Understanding the Intergenerational Parent-Child Relationship and Parenting Competencies. In Child in Africa: Opportunities and Challenges. https://www.scopus.com/pages/publications/85145842238?origin=scopusAI

Kurniawan, A. (2022, May 25). 9 Hadits tentang Keutamaan Berbakti pada Orang Tua. https://www.nu.or.id/tasawuf-akhlak/9-hadits-tentang-keutamaan-berbakti-pada-orang-tua-KrRhi

Layous, K. (2020). Health Implications of Gratitude. In The Wiley Encyclopedia of Health Psychology: Biological Bases of Health Behavior: Volume 1, The Social Bases of Health Behavior: Volume 2, Clinical Health Psychology and Behavioral Medicine: Volume 3, Special Issues in Health Psychology: Volume 4 (p. V2:261-V2:268). wiley. https://doi.org/10.1002/9781119057840.ch75

Li, Q., Liu, M., Wang, H., Chen, Y., & Fu, Z. (2025). Longitudinal Associations of Gratitude with Subjective Well-Being and Psychological Well-Being: A Two-Wave Study. Applied Research in Quality of Life, 20(1), 217–233. https://doi.org/10.1007/s11482-024-10406-w

Lubis, Z. (2024, September 17). Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 286: Allah Tidak Membebani Manusia di Luar Kemampuannya. https://islam.nu.or.id/tafsir/tafsir-surat-al-baqarah-ayat-286-allah-tidak-membebani-manusia-di-luar-kemampuannya-bxtOq

Măirean, C., Turliuc, M. N., & Arghire, D. (2019). The Relationship Between Trait Gratitude and Psychological Wellbeing in University Students: The Mediating Role of Affective State and the Moderating Role of State Gratitude. Journal of Happiness Studies, 20(5), 1359–1377. https://doi.org/10.1007/s10902-018-9998-7

Nourialeagha, B., Ajilchi, B., & Kisely, S. (2020). The mediating role of gratitude in the relationship between attachment styles and psychological well-being. Australasian Psychiatry, 28(4), 426–430. https://doi.org/10.1177/1039856220930672

Obeldobel, C. A., & Kerns, K. A. (2021). A literature review of gratitude, parent–child relationships, and well-being in children. Developmental Review, 61. https://doi.org/10.1016/j.dr.2021.100948

Park, H., & Walton-Moss, B. (2012). Parenting style, parenting stress, and children’s health-related behaviors. Journal of Developmental and Behavioral Pediatrics, 33(6), 495–503. https://doi.org/10.1097/DBP.0b013e318258bdb8

Wiernik, B. M., & Kostal, J. W. (2019). Protean and boundaryless career orientations: A critical review and meta-analysis. Journal of Counseling Psychology, 66(3), 280–307. https://doi.org/10.1037/cou0000324