Ilmiah

Volume 1 Edisi 2, 2025
Tanggal Terbit 20 Desember 2025

Ketika perbandingan menjadi ujian: Peran rasa syukur dalam menumbuhkan kesehatan mental di era digital

Thobagus Mohammad Nu’man
Dosen Fakultas Psikologi, Universitas Islam Indonesia

Kesehatan mental menjadi isu yang sering diperbincangkan akhir-akhir ini. Berdasarkan laporan dari Indonesia, National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022 ditemukan sepertiga remaja Indonesia (34,9%) memiliki satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Prevalensi tersebut setara dengan 13 juta yang remaja memiliki masalah kesehatan mental. Masalah kesehatan mental yang paling banyak dialami oleh remaja berkaitan dengan kecemasan (26,7%), masalah yang berkaitan dengan perhatian (10,6%), depresi (5,3%), dan sisanya berkaitan dengan kesehatan mental lainnya.

Memahami faktor-faktor yang berkaitan dengan kesehatan mental diperlukan untuk mendesain intervensi yang tepat, terutama faktor risiko yang mempengaruhi kesehatan mental di kalangan remaja. Tulisan ini akan berfokus pada penggunaan media sosial sebagai faktor risiko yang berkaitan dengan kesehatan mental. Selain itu juga, menekankan bagaimana mekanisme psikologis keterkaitan antara media sosial dan kesehatan mental terutama perbandingan sosial.

Media Sosial dan Kesehatan Mental

Media sosial sudah menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari utamanya sebagai alat komunikasi dalam rutinitas keseharian. Media sosial digunakan untuk berinteraksi dengan keluarga, teman ataupun kolega, menerima undangan berbagai macam acara, bahkan undangan pernikahan saat ini marak dilakukan melalui media sosial. Selain itu, interaksi sosial di media sosial juga dapat dilakukan dengan bergabung dengan komunitas online yang memiliki minat sama.  Di Indonesia berdasarkan data yang dirilis oleh datareport, pada tahun 2025 penggunaan aktif media sosial di Indonesia mencapai 143 juta yang setara dengan 50,2% dari total populasi penduduk Indonesia (Kemp, 2025). Media sosial yang popular digunakan diantaranya YouTube, Facebook, Instagram, X, dan Snapchat. Penelitian terkini menunjukkan bahwa rata-rata waktu yang dihabiskan untuk menggunakan media sosial adalah 2 jam 21 menit (We are social, 2025). Data tersebut menunjukkan bahwa media sosial memiliki peran yang cukup besar dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Beberapa penelitian mengungkapkan keuntungan maupun kerugian penggunaan media sosial utamanya dikaitkan dengan Kesehatan mental. Penggunaan media sosial menyediakan kesempatan bagi penggunanya untuk meningkatkan Kesehatan mentalnya dengan memfasilitasi hubungan sosial dan dukungan sosial (Zsila & Reyes, 2023). Namun, penelitian juga menemukan efek merusak penggunaan media sosial terhadap kesehatan mental. Efek merusak ini diantaranya adalah ketidakpuasan terhadap tubuh, meningkatnya risiko cyberbullying, mood yang negatif, kesepian, dan menurunnya kesejahteraan subjektif dan kepuasan terhadap hidup (Zsila & Reyes, 2023). Beberapa penelitian lain menemukan bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan berkaitan dengan rendahnya kesejahteraan psikologis (Boer, et al., 2020). Studi systematic review menyebutkan bahwa penggunaan situs jejaring sosial berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, kecemasan dan distress psikologis (Keles, et al., 2020). 

Perbandingan Sosial di Media Sosial dan Kesehatan Mental

Manusia pada dasarnya memiliki dorongan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain. Leon Festinger melalui Social Comparison Theory menjelaskan bahwa individu memiliki dorongan intrinsik untuk mengevaluasi dirinya dengan membandingkan pendapat, kemampuan, dan pencapaian dengan orang lain guna memperoleh pemahaman yang lebih akurat tentang diri. Kehidupan saat ini yang didominasi oleh media sosial dalam berinteraksi, mekanisme perbandingan sosial menjadi semakin kompleks dan intens karena individu terpapar pada representasi diri orang lain yang ditampilkan secara selektif dan ideal.

Perbandingan sosial dapat berfungsi adaptif untuk memotivasi diri dan menetapkan tujuan yang realistis, namun penelitian mutakhir menunjukkan bahwa proses perbandingan sosial juga dapat menjadi sumber stres dan penurunan kesejahteraan psikologis bila disertai interpretasi negatif (Arigo et al., 2024; Le Blanc-Brillon et al., 2025).

Le Blanc-Brillon et al. (2025) menegaskan bahwa upward social comparison (membandingkan diri dengan orang yang dianggap lebih baik) merupakan mekanisme psikologis utama yang menjembatani hubungan antara penggunaan media sosial dan kesehatan mental. Ketika individu terus-menerus terpapar pada perbandingan yang tidak realistis, terutama dalam konteks digital yang menonjolkan kesempurnaan dan keberhasilan, risiko penurunan self-esteem dan peningkatan gejala depresi menjadi lebih besar. Individu yang sering terpapar pada konten ideal di platform seperti Instagram cenderung mengalami penurunan self-esteem baik secara global maupun fisik, serta peningkatan gejala depresi (Arigo et al., 2024). Individu yang sering melakukan perbandingan ke atas cenderung merasa tidak puas terhadap diri sendiri dan menilai dirinya kurang berhasil dibandingkan dengan orang lain (Le Blanc-Brillon et al., 2025). Efek negatif ini semakin kuat ketika perbandingan dilakukan terhadap figur yang dianggap sangat jauh lebih unggul (extreme upward comparison), yang menimbulkan perasaan inferior dan tidak mampu (Arigo et al., 2024).

Peran Rasa Syukur sebagai Regulator Positif 

Arigo dan koleganya (2024) menjelaskan bahwa mekanisme keterkaitan antara perbandingan sosial dan kesehatan mental tidak hanya dipengaruhi oleh arah perbandingan sosial (upward vs downward), tetapi juga melibatkan mekanisme kognitif (identifikasi dan kontras). Proses identifikasi terjadi ketika individu merasa memiliki kesamaan atau keterkaitan dengan target perbandingan sosial. Dalam kondisi ini, individu menafsirkan keberhasilan atau pengalaman orang lain sebagai sesuatu yang mungkin juga dapat dicapai oleh dirinya sendiri. Identifikasi terhadap figure yang lebih baik (upward identification) mendorong individu lebih termotivasi dan optimis karena memandang figure tersebut memberi inspirasi. Identifikasi terhadap figure yang lebih buruk (downward identification) mengarahkan individu untuk lebih berempati dan bersyukur, karena memandang ada orang lain yang lebih buruk dari dirinya.

Mekanisme kognitif lainnya adalah melalui proses kontras, yaitu individu menekankan perbedaan antara dirinya dan target perbandingan, sehingga fokus pada jarak sosial atau kesenjangan yang dirasakan. Individu yang melihat dirinya lebih rendah atau tidak mampu (upward contrast), akan memunculkan perasaan iri, kecewa, atau rendah diri. Individu menilai diri lebih unggul dari orang lain (downward contrast), dapat menimbulkan perasaan superior, juga berpotensi menurunkan empati (Arigo et al., 2024).

Dlam Surat An-Nisa ayat 32, Allah menegaskan bahwa kita dilarang untuk iri kepada karunia yang Allah berikan kepada orang lain, karena setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Allah perintahkan kepada kita untuk senantiasa memohon kepada Allah atas karunia-Nya dengan disertai usaha yang sungguh-sungguh. 

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍۗ لِلرِّجَالِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبُوْاۗ وَلِلنِّسَاۤءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا اكْتَسَبْنَۗ وَسْـَٔلُوا اللّٰهَ مِنْ فَضْلِهٖۗ اِنَّ اللّٰهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمًا

Artinya: Janganlah kamu berangan-angan (iri hati) terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa: 32)

Selain itu, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dalam kitab Shahih Al-Bukhari, Rasulullah sudah mengingatkan kepada kita untuk tidak membandingkan diri kita dengan orang yang lebih dari kita dalam hal keduniaan dan sebaliknya menganjurkan kepada kita untuk melihat orang yang memiliki kekurang dalam keduniaan dibandingkan kita. Pengingat ini supaya kita menjadi orang yang lebih bersyukur.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم انْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلَا تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لَا تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اَللَّهِ عَلَيْكُمْ )مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, Shahih Al-Bukhari nomor 6490).

Arigo et al. (2024) menyatakan bahwa rasa syukur (gratitude) berperan sebagai mekanisme emosional yang menengahi atau memoderasi efek perbandingan sosial terhadap kesehatan mental. Rasa syukur berfungsi sebagai regulator afektif positif yang membantu individu menafsirkan pengalaman sosial dengan cara yang lebih konstruktif. Dalam situasi upward comparison, rasa syukur mengarahkan perhatian individu bukan pada kekurangan diri, melainkan pada hal-hal positif yang sudah dimiliki. Individu yang bersyukur mampu mengubah perasaan iri menjadi inspirasi dan apresiasi terhadap keberhasilan orang lain (upward identification). Sebaliknya, individu tanpa rasa syukur cenderung fokus pada kesenjangan dan mengalami upward contrast, yang memicu perasaan tidak berharga dan depresi.

Dalam downward comparison, rasa syukur juga memegang peran penting. Ketika individu membandingkan diri dengan orang yang lebih tidak beruntung, rasa syukur menumbuhkan empati dan belas kasih, bukan superioritas. Dengan demikian, rasa syukur mengarahkan perbandingan sosial menjadi pengalaman reflektif yang memperkuat hubungan sosial dan kesejahteraan batin.

Referensi

Arigo, D., Bercovitz, I., Lapitan, E., & Gular, S. (2024). Social comparison and mental health. Current Treatment Options in Psychiatry, 11, 17–33. https://doi.org/10.1007/s40501-024-00313-0

Boer, M., van den Eijnden, R. J., Boniel-Nissim, M., Wong, S. L., Inchley, J. C., Badura, P., … Stevens, G. W. (2020). Adolescents’ intense and problematic social media use and their well-being in 29 countries. Journal of Adolescent Health, 66(6), S89–S99. https://doi.org/10.1016/j.jadohealth.2020.02.014

Center for Reproductive Health, University of Queensland, & Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health. (2022). Indonesia—National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Laporan penelitian. Pusat Kesehatan Reproduksi.

Keles, B., McCrae, N., & Grealish, A. (2020). A systematic review: The influence of social media on depression, anxiety and psychological distress in adolescents. International Journal of Adolescence and Youth, 25(1), 79–93. https://doi.org/10.1080/02673843.2019.1590851

Kemp, S. (2025, February 25). Digital 2025: Indonesia. DataReportal. https://datareportal.com/reports/digital-2025-indonesia

Le Blanc-Brillon, J., Fortin, J.-S., Lafrance, L., & Hétu, S. (2025). The associations between social comparison on social media and young adults’ mental health. Frontiers in Psychology, 16, Article 1597241. https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1597241

We Are Social. (2025). Digital 2025: Global overview report [Report]. https://wearesocial.com/wp-content/uploads/2025/02/GDR-2025-v2.pdf

Zsila, Á., & Reyes, M. E. S. (2023). Pros & cons: Impacts of social media on mental health. BMC Psychology, 11, Article 201. https://doi.org/10.1186/s40359-023-01243-x